dwihut

Hujan Jangan Turun

Awal tahun ini saya dan suami mulai menempati rumah baru di Serpong. Salah satu kota satelit penopang ibu kota Jakarta.

Sejak itu setiap hari saya menggunakan sarana transportasi umum Commuter Line jalur Serpong-Tanah Abang. Sejak itu pula saya menjadi pengguna setia Gojek, untuk mengantarkan saya setiap hari dari kantor di bilangan Thamrin menuju stasiun Tanah Abang.

Enaknya naik ojek pastinya karena kemampuannya berkelok-kelok di tengah padatnya lalu lintas sehingga bisa sampai lebih cepat daripada naik metromini atau taksi.

Ga enaknya ya kalau sudah hujan. Pastinya akan basah kuyup, angin kencang berhembus tanpa filter. Lalu masih akan naik Commuter Line sekitar 35 menit. Apalagi sambil bawa laptop. Rempong bingit dan sampai rumah bisa-bisa masuk angin.

Jadilah kalau langit sudah gelap dan berawan, saya mulai komat kamit mengucapkan mantra, alias berdoa memohon supaya hujan tidak turun selama saya di ojek.

Suatu ketika saya menyadari kalau pada saat saya berdoa, saya tidak betul-betul yakin Tuhan mampu mengendalikan hujan. Saya berdoa kepada Tuhan tapi lupa kalau Dia adalah pemilik dan penguasa alam semesta. Saya berdoa sambil harap-harap cemas, meragukan Sosok Pribadi yang sering saya panggil dengan sebutan Yang Maha Kuasa, Yang Maha Besar, Yang Maha Pengasih, Penguasa Langit dan Bumi.

Logika saya bicara lebih keras dan seakan-akan saya yang lebih tahu apa yang akan terjadi kemudian. Langit mulai gelap dan angin mulai berhembus, sudah pasti hujan akan turun sebentar lagi, habislah saya.

Sepanjang perjalanan di ojek, suara gemuruh mulai terdengar, kilatan petir sesekali terlihat. Dan saya sampai di Stasiun Tanah Abang dalam keadaan kering.

Sungguh saya adalah ciptaan Tuhan yang sombong.

One thought on “Hujan Jangan Turun

  1. Gw suka kalimat penutupnya

    “Sungguh saya adalah ciptaan Tuhan yang sombong”

    Secara rasa, kalimat ini merangkum secara makna dari tulisan kakak.

    Salut.

    Secara makna, ini adalah kenyataan yang memang akan dan selalu terjadi. Baik masa lampau, masa kini dan paling mungkin lagi masa depan dengan anggapan kemajuan teknologi dan seni sudah pada level tak terpikirkan lagi oleh manusia

    “Dan jangan bersandar kepada pengertianmu sendiri”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s