Menghadapi Masa Sulit

30 Nov

Beberapa waktu lalu saya membaca curhatan teman melalui blog nya tentang kehidupan pekerjaannya yang sedang berat belakangan ini. Saya juga mendengar curhatan teman yang sedang berjuang setengah mati untuk bisa melanjutkan study S2 nya ke Amerika. Ada juga teman yang cerita tentang mimpi nya untuk sekolah fashion designer dan perjuangannya menggapai mimpi tersebut yang sama sekali tidak mudah.

Seluruh manusia rasanya pernah mengalami masa-masa perjuangan, masa-masa berat, masa-masa sulit dalam hidupnya. Terkadang kita bisa keluar sebagai pemenang karena berhasil menaklukan masa-masa itu, atau justru menjadi frustrasi karena masalah dan tantangan seakan-akan terus menghimpit, tanpa jalan keluar.

Saya juga beberapa kali berada dalam masa-masa yang berat. Ada kalanya memang rasanya mau menyerah saja, semua yang saya miliki, kekuatan, kecerdasan, pengalaman, masih tidak cukup juga untuk membantu saya melewati masa-masa berat dan keluar sebagai pemenang. Untungnya, saya punya orang-orang terdekat yang selalu mendorong saya untuk kembali merenungkan Tuhan dan rencana-rencananya yang agung.

Dalam ketidakberdayaan itu, saya memang seperti dihajar habis oleh Tuhan, terutama dalam hal karakter. Dua hal yang saya perlukan yaitu kerendahan hati dan pikiran yang terbuka. Kerendahan hati untuk menyadari bahwa saya banyak sekali kesalahan, banyak sekali keegoisan yang saya manipulasi dengan hal-hal yang tampak mulia, banyak sekali kejahatan dalam hati saya yang dibalut dengan pembenaran-pembenaran berdasarkan nilai-nilai dunia yang fana, banyak sekali kebencian yang saya pertahankan, banyak sekali ketakutan yang tidak rela saya serahkan ke dalam tangan Tuhan. Kemudian dengan pikiran yang terbuka dan kekuatan dari Tuhan, bersedia membongkar itu semua dan menjadi pribadi yang baru, yang rela meninggalkan keegoisan, kebencian, kejahatan, dan ketakutan, dan dengan tangan terbuka menyambut rencana Allah dalam hidup saya, yang pastinya penuh damai sejahtera, walau tampak tidak sempurna dari sudut pandang saya.

Menghadapi masa-masa yang sulit seperti cara Tuhan untuk memaksa kita keluar dari rutinitas yang seakan-akan normal dan sudah dalam kendali kita, untuk merenungi bahwa Allah berdaulat, merenungi kelemahan-kelemahan kita, dan menikmati proses menjadi pribadi dengan karakter Ilahi yang baru.

Satu hal lagi, tanpa masa-masa berat dalam hidup, kita akan menjadi pribadi yang sulit untuk berempati dan selalu memandang segala sesuatu dari perspektif kita sendiri, bukan perspektif Tuhan. Melalui masa sulit, Tuhan akan membukakan kepada kita pengertian-pengertian baru akan hidup, hikmat-hikmat yang baru, yang tidak pernah kita ketahui sebelumnya. Mungkin pengertian tentang kerja keras. Tentang memaafkan. Tentang kemurahan dalam memberi. Tentang integritas. Tentang iman.

Sebenarnya, tidak ada satu orang pun yang mampu memahami, mampu berempati, dan memberikan encouragement yang tepat bagi mereka yang menderita kanker, selain dari orang-orang yang sedang atau pernah mengalami hal yang sama, memahami betapa putus asanya dan betapa beratnya. Atau bagi remaja yang tumbuh dalam broken home, selain dari mereka yang pernah berada di situasi tersebut. Atau bagi orang yang mengalami kebangkrutan. Putus cinta. Tidak naik kelas. Sulit mendapatkan anak. Sulit mendapatkan jodoh. Gagal dalam study. Dikucilkan dalam komunitas. Memiliki banyak hutang. Hidup dalam peperangan. Dan situasi berat lainnya.

Jadi kalau sekarang kamu merasa sedang berada dalam masa sulit dan berat, jangan lupa untuk meminta Allah menyelidiki hatimu yang terdalam untuk membongkar seluruh kelicikan di hati kita, dan bangkit menjadi pribadi dengan hati dan karakter Ilahi yang baru, untuk selanjutnya menerima dengan rendah hati rencana yang Allah tetapkan dalam hidup kita, kemudian menikmati Allah bekerja dalam hidupmu dan menantikan Allah memberikan kitaĀ kesempatan untuk menjadi tangan Tuhan dalam memberikan kekuatan bagi orang lain, semangat bagi orang lain, inspirasi bagi orang lain. Karena sesungguhnya tidak ada masalah yang terlampau berat atau mimpi yang terlalu kecil. Itu semua sudah ditetapkan Tuhan melalui kedaulatanNya dalam hidup seluruh pribadi di muka bumi. Dan masa sulit yang terjadi dalam hidup kita, tidak mungkin dibiarkan Tuhan menjadi sia-sia, tanpa ada rencana yang agung di dalamnya.

Saya masih berjuang, meskipun terus jatuh bangun. Kamu?

bible-quotes-about-strength-in-hard-times-hd-christian-counseling-wallpaper

 

Keputusan di Masa Lalu

27 Nov

Pagi ini seperti biasa dimulai dengan perjuangan naik commuter line dari stasiun Kalibata menuju stasiun Gondangdia. Syukur sekali kondisi commuter tidak sepadat biasa sehingga perjalanan 20 menit bisa dinikmati sambil mendengar musik dari aplikasi baru di handphone, namanya JOOX. Playlist di musim hujan cocoknya memang Owl City, bikin suasana kayak melayang-layang dan semakin adem.

Di dalam kereta saya berdiri dekat dengan beberapa pria yang kelihatannya masih mahasiswa, gaya berpakaian yang casual dengan celana jeans, kemeja kotak-kotak, topi, dan pembicaraan ringan ala anak kost. They look nice and educated, saya semakin optimis dengan masa depan bangsa ini. Cukup sampai situ saja bicara soal masa depan bangsa, karena kalau terus dibiarkan bisa panjang lebar dan tulisan ini jadi sangat emosional, apalagi dengan adanya kasus Freeport, dan isu-isu strategis lain di negeri ini, dalam aspek pertambangan, migas, dan sebagainya.

Oke ini sudah agak panjang dan penuh emosi pembahasan tentang kebangsaan, jadi mari kita kembali ke beberapa mahasiswa tadi.

Suhu di commuter line yang cukup dingin karena air conditioner plus adanya kipas angin, memperhatikan mahasiswa dan bagaimana mereka terlihat sangat menikmati hidupnya, dan playlist Owl City, membuat saya terbang kembali ke masa-masa saat di kampus dulu dan mengingat keputusan-keputusan penting yang pernah saya buat ketika masih mahasiswa.

Pada saat masih mahasiswa, pada dasarnya itulah momen kita menentukan akan kemana jalan hidup kita digiring. Saat itu, kamu bisa jadi apapun. Aktivis kampus yang idealis, kemudian mengabdikan diri pada hal-hal kemanusiaan, pergi ke pelosok-pelosok untuk membantu pendidikan atau perekonomian desa terpencil. Atau aktivis kampus yang idealis, kemudian mengabdikan diri pada perpolitikan dan belajar lebih jauh mengenai pemerintahan, isu-isu kebangsaan (kembali ke pembahasan ini lagi :p), belajar jadi anggota partai, dan sebagainya. Kamu bisa jadi mahasiswa yang fokus pada study dan pandangan yang lurus-lurus saja, kuliah ya yang utama IPK cum laude, kemudian target lulus langsung S2, bahkan S3, dan mengabdikan diri dalam keilmuan sebagai dosen. Kamu bisa jadi yang biasa-biasa saja, cari banyak teman, kuliah yang penting lulus, setelah lulus diterima kerja. Kamu bisa jadi mahasiswa yang sambil cari tambahan uang saku, melatih insting berbisnis, dan keluar sebagai entrepreneur pemula.

Saat mahasiswa, kamu punya banyak waktu untuk mengeksplore segala sesuatu, dari ilmu sampai skill dan kompetensi tertentu. Banyak tawaran dan kesempatan untuk mencoba hal-hal baru dan unik. Saya membayangkan siapa saya waktu mahasiswa dulu, saya tidak terlalu unggul di kelas, walau sudah belajar sungguh-sungguh dan berusaha menyelesaikan tugas dengan baik. Saya mahasiswa yang gampang ngantuk, apalagi kalau tidak tertarik dengan topik yang dibahas dosen, dan kalau belajar bersama teman-teman, saya akan jadi yang pertama kali tidur. Saya mengikuti kegiatan standard, majalah kampus dan komunitas mahasiswa Kristen, dipercaya sebagai pemimpin perusahaan di majalah kampus yang kurang lebihnya mengajarkan saya mencari uang supaya majalah ini bisa tetap terbit walau kami tidak menerima bantuan dana dari kampus dan bagaimana supaya nantinya produk kami bisa habis terjual, disamping tentunya belajar cari berita, menentukan angle, wawancara dan menulis. Saya bukan orang yang popular, teman saya itu-itu saja, dan mereka teman baik sampai sekarangšŸ™‚. Saya bukan olahragawan yang diunggulkan teman-teman kalau ada olimpiade atau pertandingan, saya cuma berusaha rutin jogging keliling lapangan Sabuga paling tidak seminggu sekali. Saya tidak punya kemampuan bermusik, apalagi kemampuan menari, untuk bisa dielu-elukan kalau ada momen untuk tampil di panggung. Basically I’m just an ordinary people.

Jika bisa kembali ke masa-masa sewaktu mahasiswa, mungkin saya mau mencoba hal-hal lain. Saya mau tau rasanya jadi aktivis di himpunan atau semacam badan eksekutif mahasiswa, kemudian diberikan kepercayaan di posisi yang cukup tinggi. Saya mau coba ikut kegiatan-kegiatan ekstrem macam pencinta alam. Saya mau lebih supel daripada saya seharusnya, bagaimana mengenal banyak orang dan disapa dimana-mana. Apa yang akan terjadi pada saya saat ini kalau saya mengambil keputusan lain pada saat mahasiswa, bagaimana kalau saya lebih supel waktu itu, bagaimana kalau saya lebih keras belajar, bagaimana kalau saya lebih aktif ikut kegiatan-kegiatan kemahasiswaan. Apakah saya akan jadi seseorang yang berbeda dengan siapa saya saat ini? Bukan Dwi yang berdiri di commuter line, dengan rambut berantakan dan rempong banyak bawaan. Mungkin saya bisa jadi Dwi yang sedang membantu penduduk lokal di daerah Kupang, atau Dwi yang sedang mempersiapkan presentasi untuk dibawakan di forum internasional di London, atau Dwi yang mengerjakan disertasi demi menyelesaikan program doktor di Jepang.

Saya sadar bahwa apapun keputusan dalam hati yang saya tetapkan akan berdampak sangat luas bagi saya, masa depan saya, dan orang-orang di sekitar saya. Saya seperti mau bicara dengan para mahasiswa itu, “hey orang muda (saya bukan tua, hanya lebih senior sedikit), berhati-hatilah menentukan setiap langkah di masa mahasiswa ini, terutama dengan banyaknya tawaran dan kesempatan yang ada.”

Saya pribadi tidak pernah menyesali dengan kondisi saya saat ini, walau saya hanyalah Dwi yang berdiri di commuter line, rambut berantakan, dan rempong karena banyak bawaan. I’m fully grateful for what I’ve been through this far. Tuhan tidak berhenti melindungi saya dari keputusan-keputusan buruk yang seharusnya bisa saya ambil di masa lalu. Tuhan tidak henti-hentinya melimpahkan kasih karuniaNya pada saya, yang sebenarnya, hanya manusia biasa.

Perenungan 20 menit pagi ini membuat saya semakin bersyukur dengan siapa saya saat ini. Dan kalau Tuhan memberi kesempatan saya untuk mundur kembali ke masa lalu dan mengambil keputusan lain, satu hal yang tidak akan saya ubah, yaitu say yes to my husband. Partner yang membuat saya semakin menikmati Tuhan dan menjadikan perenungan dengan deep conversation suatu habit dalam keluarga kecil kami.

past-time-quotes-1

Menghadapi Batu Besar

19 Nov

Ibarat roller coaster, ketika sedang di puncak teratas, kemudian kamu melaju kencang dan curam ke bawah, sampai keluar jalur dan terus turun ke bawah dan entah kapan akan melandai atau berhenti. Begitulah hidup saya selama enam bulan terakhir ini. Apa yang terlintas dalam benak saya selama enam bulan ini? HOPELESS. Secara beruntutan persoalan-persoalan seperti bertubi-tubi datang masuk dalam hidup saya, tanpa diundang, tanpa menunggu antrian.

Pertanyaan-pertanyaan lebay yang selama ini cuma ada di sinetron Indosiar, akhirnya terucapkan juga dalam hati saya.

Mengapa Tuhan membiarkan saya mengalami ini?

Mengapa dari begitu banyak manusia di muka bumi, Tuhan memilih saya untuk mengalami ini?

Mengapa melalui persoalan seperti ini, yang tidak bisa saya atasi?

Mengapa rasanya begitu sesak, dan perih, dan sakit, seperti tercabik-cabik?

Mengapa sekarang?

Bahkan ketika optimisme dalam diri saya akhirnya mencoba bangkit, gravitasi bumi seperti sekuat tenaga terus menarik saya ke bawah. Sampai titik terendah harapan. Titik terendah iman. Titik terendah sukacita. Berjuta-juta liter air mata terbuang percuma. Sampai hati terasa kering dan hampa. Otot leher menegang dan otot lutut melemah, bukan karena kolesterol atau asam urat.

Jika kamu pernah berada di situasi seperti ini, batu-batu besar membentang di hadapan, tidak ada jalan keluar, orang-orang terkasih sudah tak berdaya untuk menolong, dan hidup di jaman keberadaan tukang batu hanya mitos belaka. Apa yang akan kamu perbuat?

Mengutuki kondisi tidak akan membuat persoalan terselesaikan. Apalagi menyalahkan orang lain. Berakhir dengan putus asa juga bukan pilihan yang menyenangkan. Apalagi mencoba melompat dari jendela apartemen di lantai 16.

Bersyukur saya bisa mengingat pengalaman hidup yang pernah terjadi dengan tantangan dan kesesakan yang sama, kemudian menyadari kebangkitan dan sukacita yang menyusul kemudian. Puluhan pesta pora tidak cukup menggambarkan rasa syukur saya atas campur tangan Tuhan dalam masa-masa sulit itu.

Dan saat ini, saya menikmati karya Tuhan yang nyata itu dan betapa menyegarkan mengetahui bahwa Tuhan yang waktu dulu menolong saya adalah Tuhan yang sama yang saat ini pun akan berkarya dalam hidup saya, melalui hal-hal yang saya pikir adalah bencana.

Well, batu-batu besar masih tegak membentang, jalan keluar pun belum terlihat, tapi saya percaya kekuatan dari Tuhan akan menjadi penghiburan bagi saya dan pengharapan untuk orang-orang terkasih, sampai akhirnya tukang batu menjadi profesi idaman.

quote CS Lewis

 

Harapan dalam Penantian

18 Nov

Setiap harinya, kehidupan dilalui seperti berlari mengejar sesuatu. Mulai bekerja pukul 7 pagi dan stopwatch mulai menghitung, pengejaran pun dimulai untuk mencapai garis finish yaitu jam pulang kantor pukul 4 sore. Begitu pula setiap hari Senin, orang-orang mulai berlari melalui rutinitas, tanggung jawab, pertemuan-pertemuan penting dan tidak penting, percakapan-percakapan basa-basi atau senda gurau, untuk mencapai garis finish, yaitu friday night. Kita berharap waktu berhenti di Jumat malam dan tidak perlu berjalan lagi, tapi apa daya, hari terus bergulir dan tanpa kita berlari pun, waktu mendahului kita dan mengantarkan pada Senin pagi kembali.

Ada masa-masa dimana saya pun berharap waktu berhenti, biasanya karena ada sesuatu yang saya tunggu. Saya tidak siap melihat pagi berganti malam, halaman kalendar berganti lembar demi lembar, dan kulit mulai mengerut. Saya tidak rela waktu terus bergulir sementara apa yang saya nanti-nantikan itu belum kunjung datang juga.

Banyak alasan mengapa banyak orang tidak siap mental menyambut hari esok, menyambut masa depan.

Apa yang akan terjadi esok hari, jika penyakit saya belum sembuh juga, apakah saya akan terus menjadi beban bagi keluarga saya.

Apa yang akan terjadi esok hari, jika saya tidak juga dapat pekerjaan, apakah isteri saya masih percaya pada saya.

Apa yang akan terjadi esok hari, jika saya belum juga punya pacar dan punya rencana menikah, apakah saya akan membuat orang tua saya bersedih.

Apa yang akan terjadi esok hari, jika saya belum hamil juga, apakah suami saya akan tetap mengasihi saya.

Apa yang akan terjadi esok hari, jika cicilan hutang saya tidak selesai juga, apakah anak-anak bisa melanjutkan sekolahnya dengan baik.

Kenyataan yang harus kita terima yaitu waktu tidak pernah berhenti, bahkan tidak melambat, jadi berdamailah dengan kenyataan ini. Lalu apakah kita akan terus mengisi waktu-waktu dengan ketakutan dan kekuatiran? Karena tanpa disadari masa-masa hidup kita terus berkurang dan tak lama akan habis, menguap dan sebentar saja dilupakan orang-orang.

Jika tercapainya harapan-harapan itu menjadi tolak ukur yang kita tetapkan untuk suatu kebahagiaan dan kepuasan hidup, apa yang terjadi jika sampai akhir hayat penantian itu tidak kunjung berakhir. Apakah berarti anda tidak layak merasakan kebahagiaan dan menikmati kehidupan dengan damai.

Sama sekali tidak benar.

Sesulit apapun kondisi anda saat ini, sepudar apapun lampu harapan anda, anda tetap layak menikmati kehidupan yang adalah anugerah dari Sang Pencipta. Bagaimana agar waktu-waktu penantian menjadi bermakna untuk diri sendiri dan orang lain, adalah keputusan kita untuk memilih mengisi kehidupan dengan optimisme dan rasa syukur, juga menjadikan pengharapan sebagai kekuatan untuk mantap memandang hari esok.

JanjiNya, hari esok yang penuh damai sejahtera, so no worries. Seduh cammomile tea, pilih novel/komik favorit, nikmati berkat Tuhan dengan iringan suara hujan. Life is beautiful indeed.