dwihut

Terlalu Banyak Informasi

Saya belakangan ini belajar, menjadi orang yang serba tahu lebih banyak ga enaknya daripada enaknya. Kamu harus pintar-pintar memilih informasi mana yang bisa disampaikan ke orang lain, dan mana yang harus kamu simpan untuk diri sendiri saja, atau informasi mana yang hanya orang tertentu yang boleh mengetahuinya.

Beban hidup jadi berat karena kita ikut bertanggung jawab atas informasi tersebut supaya tidak jadi bola liar panas yang terbang dan menghantam kemana-mana. Menimbulkan kerusuhan dan kegelisahan. Kewaspadaan terhadap mulut kita harus super ketat, karena sekali keywords terucap, biasanya sulit untuk tidak dilanjutkan, dan akhirnya informasi diterima orang yang tidak semestinya, yang mungkin sebenarnya tidak punya kepentingan. Dan kamu cuma bisa bilang, “Ups, keceplosan”. Namun sudah terlambat untuk menghentikan respon dan opini orang-orang, yang sebenarnya tidak punya kepentingan. Seriously, “Ups, keceplosan” itu ga lucu.

Makanya saya jadi belajar untuk menjadi orang yang tidak perlu tahu banyak hal. Saya belajar menyaring informasi apa yang cukup kuat untuk saya dengarkan dan diolah pikiran saya, dengan mempertimbangkan kedewasaan saya sendiri, pengetahuan saya, dan kapasitas emosi saya.

Untuk hal-hal yang saya tidak punya kepentingan di dalamnya, saya memilih mundur pelan-pelan dan fokus dulu kepada apa yang sudah menjadi kewajiban saya, daripada menambah beban lain karena mengetahui informasi tertentu yang sensitif dan rahasia.

Selain cape jadi orang yang tahu banyak hal, lama-lama cape juga jadi orang yang mengerti banyak hal. Jadi kadang-kadang saya berharap bisa jadi orang yang naif saja, pura-pura tidak tahu, pura-pura tidak paham.

Apalagi dengan banyaknya informasi yang semrawut bermunculan di media sosial dan televisi akhir-akhir ini. Walaupun misalnya yang disampaikan adalah fakta, tapi apa yang membuat hati saya panas, lebih baik tidak saya dengarkan atau baca. Apa yang membuat saya membenci orang lain , lebih baik tidak saya gubris. Lebih baik saya tutup mata dan tutup telinga, daripada mendapat informasi yang membuat saya mempunyai penilaian buruk tentang orang lain. Sekalipun informasi itu datangnya dari pejabat, atau orang penting, atau orang suci, atau orang yang saya idolakan sekali pun.

Kadang saya berharap bohongi saja saya, daripada harus mendapatkan fakta yang membuat saya menilai orang lain dengan cara yang berbeda, apalagi dengan sudut pandang kebencian. Fakta memang pahit, tapi harapan tetap ada toh.

Lebih enak jadi lugu, dilihat orang juga lucu. Bisa hidup lebih damai, paling buruk dicap ga peduli.

Notes:
Tulisan ini muncul di saat berusaha memahami fenomena yang terjadi di media sosial dalam waktu belakangan. Saya penasaran dan baca (hampir) semua artikel yang dibagi teman-teman di facebook, teman kecil, teman kampus, teman kantor, teman suami saya, teman orang tua saya, temannya teman saya. Kadang senyum-senyum geli. Kadang jadi panas. Kadang ga sengaja ke klik like. Sampai akhirnya menyadari, menjadi panas atau adem ayem saja adalah hasil dari keputusan saya sendiri yang berbuah pada tindakan. Dan dalam kasus ini, jadi super kepo pantengin timeline medsos adalah tindakan yang tidak banyak manfaatnya bagi saya. Bukannya jadi pintar, kebanyakan malah jadi gemes. Saya tidak unfollow apalagi unfriend, saya cuma skip sebagian update saja dan jika diperlukan, puasa fesbukan.

Tapi tulisan ini bukan tentang isu media sosial saja. Kadang tau banyak informasi, entah isu persoalan pribadi, persoalan keluarga, persoalan di kantor, atau kehidupan bertetangga, bikin hidup terasa lebih rumit dari seharusnya. Mungkin karena saya tipe lebay, baperan, plus extrovert yang ngomong dulu baru mikir.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s