dwihut

Kisah Para Ibu

Akhir-akhir ini media sosial ramai sekali membahas mengenai baby blues syndrome atau post partum depression.

Saya, walau belum dikaruniai anak dan masih dalam perjuangan, tidak bisa tidak ikut hancur hati mendengar kisah-kisah seperti itu dan sangat prihatin dengan kondisi si ibu.

Tulisan ini saya dedikasikan khusus untuk seluruh wanita, ibu dan calon ibu, yang bagaimanapun bentuknya mengalami perjuangannya masing-masing baik soal kandungannya sendiri maupun soal anak.

Empati saya yang besar untuk para ibu yang dengan kasih luar biasa besar menjaga dan merawat bayinya sejak di dalam kandungan. Entah melahirkan dengan normal atau operasi caesar, hal tersebut tidak menjadi tolak ukur kemuliaan seorang ibu. Entah full ASI ataupun sufor, tidak juga menjadi tolak ukur kemuliaan ibu. Entah ibu rumah tangga atau ibu bekerja, tidak menggambarkan dan menjadi parameter tingkat kasih sayang yang lebih besar antara satu dan yang lain. Percayalah orang-orang di sekitar anda pada dasarnya peduli, saya mewakili mereka meminta maaf kalau cara kami justru menjadi tekanan bagi kalian. Bagi saya, menyaksikan hubungan tulus dan murni antara seorang ibu dan bayinya, siapapun dia, entah saya kenal secara langsung atau tidak, pasti berhasil melukiskan senyum di wajah saya.

Untuk para ibu yang diberi keistimewaan khusus oleh Tuhan merawat bayi dengan kebutuhan khusus, karena adanya kelainan tertentu atau untuk mereka yang berjuang di NICU. Doa saya untuk kalian, Tuhan berikan ketegaran sekokoh gunung-gunung yang menjulang tinggi dan kesabaran seluasa samudera untuk tetap berjuang dan tidak putus asa. Ini pelukan hangat virtual untuk memberikan kalian semangat.

Untuk para ibu terpilih, yang harus belajar kerelaan hati karena kehilangan buah hatinya sejak di masa awal-awal paska melahirkan, meninggalkan dada yang sesak dan penuh ASI. Mungkin empati saya tidak akan pernah cukup untuk menggambarkan betapa ikut hancur hati saya, karena saya memang tidak merasakan seberapa dalam sakitnya, kecewanya, dan perjuangan yang harus dihadapi untuk mengatasi kesedihan yang mendalam dan hati yang kosong. Doa saya, Tuhan tetap memegang tangan kalian, tidak akan dilepaskan, dan Dia akan memberi kelegaan pada akhirnya.

Untuk para calon ibu, teman-teman seperjuangan, yang tidak berhenti berharap akan datangnya anugerah Tuhan berupa makhluk kecil berupa bayi, we never know how long we will fight for it, we never know whether it will succeed or not, we never know how many pills remain, how many injections remain, how many surgery room we will face, how many obgyn visit we will have on the weekend and the trans v USG for sure. Saya sendiri menikmati waktu-waktu ini sebagai masa dalam kehidupan dimana hubungan saya dengan Tuhan semakin akrab. Setiap kegagalan membuat saya kembali datang kepada Tuhan membawa persembahan air mata. Setiap bagian yang bisa saya lakukan, saya serahkan kepada Tuhan dan memohon kiranya Tuhan berkenan dan memberkati segala usaha.

Setiap wanita, ibu, dan calon ibu, punya cerita hidupnya masing-masing yang tidak lepas dari perjuangan soal kandungan dan anak. Tidak untuk dibanding-bandingkan. Tidak untuk dihakimi. Kalian semua pejuang-pejuang hebat. Dont let anyone or anything make you stop fighting. Dan jangan lupa bahagia🙂

One thought on “Kisah Para Ibu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s