dwihut

Menunggu

Menunggu memang aktivitas yang membosankan. Sebagai lulusan Teknik Industri, saya tahu persis menunggu adalah aktivitas sia-sia, buang-buang waktu.

Nyatanya kita sering berada dalam tahap menunggu. Menunggu panggilan psikotest. Menunggu approval dosen. Menunggu dijemput pacar. Menunggu kereta datang. Pagi hari ada saja yang ditunggu. Di akhir pekan ada saja yang ditunggu. ATM pun berkata “Harap menunggu, transaksi anda sedang diproses”.

Yang biasanya didapatkan pada saat sedang menunggu, kalo ga bosan, ya ngantuk, dan berakhir dengan habis kesabaran. Kita berharap segala sesuatu berjalan lancar dan dimudahkan. Menunggu membuat perasaan seperti dipermainkan, perasaan tidak menentu, sampai kapan? Dan banyak orang, termasuk saya, tidak tahan dengan perasaan seperti itu.

Mereka yang jalan hidupnya lancar-lancar saja, tanpa banyak menunggu, dianggap sebagai orang yang paling dicintai dan diberkahi Tuhan. Sementara yang tahap hidupnya menemui proses menunggu terus-menerus, dianggap hidup dalam kutukan sehingga hidupnya banyak ujian. Padahal proses menunggu justru banyak melatih karakter, menjadi lebih sabar, lebih tangguh, lebih berbesar hati, lebih berlapang dada.

Menunggu adalah suatu proses, dimana hasilnya bukan sekedar berkat materi atau berkat fisik. Di dalam menunggu, manusia belajar untuk tetap punya harapan di dalam ketidakpastian. Menurut saya, kondisi ini jauh lebih spiritual daripada bentuk kegiatan ritual keagaaman apapun.

Selain kegagalan, menunggu adalah salah satu tahap yang diperlukan setiap manusia dan paling efektif untuk membuat kita merefleksikan hidup dan mengubah karakter.

Buat saya,  menunggu test pack dengan dua garis merah juga melelahkan, menghabiskan emosi. Tapi setelah melewati masa-masa mencari alasan kenapa saya dan suami dibiarkan menunggu lama, di saat pasangan lain sepertinya tidak menemui kesulitan sama sekali, bahkan ada yang memiliki anak tanpa diharapkan, kami akhirnya berdamai bahwa waktu menunggu ini pun baik untuk kami sebagai pasangan, sebagai calon orang tua, dan baik untuk pribadi kami masing-masing.

Kami menikmati menghabiskan waktu bersama dengan fleksibel, nonton bioskop, ngedate sepulang kerja, mengunjungi teman-teman dan keluarga. Lebih banyak waktu untuk betul-betul mengenal satu sama lain. Kami juga mempunyai waktu lebih untuk menabung dan mempersiapkan finansial lebih matang bagi calon bayi-bayi yang akan hadir nanti. Ikatan antara kami berdua pun jadi semakin kuat karena tetap saling menguatkan dan terus menemani dalam menghadapi waktu menunggu dan kenyataan yang sulit diterima.

Jadi bagaimana bisa saya tidak terharu mengucap syukur, ketika saat ini saya menunggu berkat tertentu, ternyata Tuhan sedang membiarkan saya menikmati berkat yang lain, membiarkan saya belajar hidup dan karakter, dan akan memberikan saya hal yang baik pada waktunya.

Side note: Draft tulisan ini sudah ada dari 6 hari yang lalu. Lalu saya belum sreg untuk posting, saya baca lagi, saya hapus sebagian, saya tambah sebagian, saya baca lagi, sampai akhirnya cukup sreg. Untuk semua orang yang sedang menunggu, menunggulah sambil menikmati hidup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s