Minggu ini minggu penuh senyum dan perenungan buat saya. Senyum saya beralasan, karena begitu banyak kejadian yang menyenangkan. Perenungan saya pun beralasan, karena aktivitas ini memang selalu datang sebulan sekali saat emosi sedang berfluktuasi.
Perenungan saya datang setiap kali sisi melankolis saya ini mendominasi. Berpikir hal-hal terlalu terperinci. Bahkan yang tidak perlu saya pikirkan pun, jadi saya pikirkan dengan serius. Kali ini perenungan saya membawa saya kepada perasaan kehilangan. Kenapa bisa pikiran ini yang tiba-tiba muncul? Karena lagu yang saya dengar bolak-balik selama tiga hari ini adalah Time To Say Goodbye, yang dipopulerkan oleh Andrea Bocelli. A great song, I love it!
Kehilangan, buat saya, adalah kondisi ditinggal pergi. Bisa tiba-tiba atau telah direncanakan. Bisa karena suatu hubungan yang rusak, pergi ke tempat yang jauh, atau meninggal dunia.
Kalau karena ditinggal pergi ke tempat yang jauh, masih ada kemungkinan untuk bisa bertemu lagi. Entah bulan depan, tahun depan, atau sepuluh tahun lagi, pasti masih ada kesempatan untuk bertemu lagi. Apalagi di zaman modern seperti sekarang. Internet bisa didapatkan di mana pun. Jadi berpisah karena jarak tidak lagi menjadi masalah besar. Walau tetap saja, interaksi secara langsung pasti lebih berkesan dan menyenangkan.
Kehilangan seseorang karena suatu hubungan yang rusak adalah kejadian yang cukup menyedihkan. Bisa karena putus dengan kekasih. Perceraian suami dan istri. Bertengkar dengan sahabat. Atau meninggalkan rumah orang tua karena mau kawin lari dengan pria dari suku seberang
Awalnya hari-hari diwarnai dengan senyumnya (bisa kekasih, sahabat, suami, istri, atau orang tua). Dengan amarahnya. Dengan nasihatnya. Dengan semangatnya. Jam-jam dilalui bersama orang yang dikasihi itu melalui interaksi yang penuh kehangatan. Tapi siapa yang tahu kalau hubungan yang paling mesra sekali pun bisa rusak kalau tidak ada yang mau mengalah dan merendahkan diri. Kehilangan orang yang biasanya mengisi hari-hari karena kekerasan hati sendiri adalah hal yang menyakitkan buat saya. Makanya saya berusaha keras untuk menjaga setiap hubungan yang pernah saya jalin. Saya takut sekali kalau ada hubungan yang rusak karena keegoisan saya.
Terakhir adalah kehilangan karena orang tersebut meninggal dunia. Meninggalkan dunia ini. Tidak ada lagi untuk selamanya. Bahkan berharap dia akan kembali pun hanya akan membuatmu gila. Kehilangan tipe ini bukan karena kesalahan dia. Atau kesalahan saya. Atau anda. Atau siapa pun. Ini kedaulatan Tuhan (kecuali bunuh diri pastinya). Jadi memang tidak ada yang bisa disalahkan. Tapi membayangkan kondisi ini menimpa saya suatu hari nanti, cukup membuat saya membiarkan air mata ini mengalir bebas. Jika orang-orang terdekat saya harus pergi untuk selamanya. Tidak bisa disentuh lagi. Tidak bisa dipeluk. Atau dicium lagi. Tidak bisa berbincang lagi. Tidak bisa tertawa bersama. Dan bercanda bersama. Ini akan menjadi salah satu titik paling menyedihkan buat saya. Jika harus kehilangan Bapak, Ibu, atau Kakak saya. Keluarga terdekat. Atau anggota keluarga lain. Atau saat kehilangan sahabat-sahabat saya. Orang-orang yang pernah membantu saya melalui hari-hari yang berat dan menikmat kesenangan bersama.
Atau, apabila di masa depan nanti, jika saya tidak punya orang tua lagi dan sahabat-sahabat saya sudah pergi ke negeri antah berantah. Dan ketika itu, saya harus kehilangan suam isaya (Halaah!! Menikah saja belum. Tapi seriusan, hal ini saya pikirkan sampai mendalam sekali), pasti saya tidak tau lagi mau hidup seperti apa. Saya tidak sanggup kehilangan suami, saya pikir. Lebih baik dia yang kehilangan saya nanti (Ini pikiran yang super duper egois memang, tapi saya cuma berpikir sepertinya saya tidak sanggup kalau harus hidup tanpa orang yang bisa memanjakan
).
Yah, apapun kondisi kehilangan yang akan saya hadapi nanti, saya masih punya Tuhan, yang akan hadir melalui orang-orang lain yang akan Dia tempatkan di sisi saya untuk menggantikan mereka-mereka yang telah pergi. Jadi kalau saya kehilangan suami pertama, apakah Tuhan akan menempatkan seorang suami kedua buat saya? Hahahaa…
Yang pasti Tuhan akan menggantikan sang suami tercinta dengan kehadiran anak-anak yang lucu
(Tulisan ini dibuat dengan penuh penyesalan. Penyesalan kenapa saya bisa sampai memikirkan hal yang begitu menyedihkan ini.)
Comment