Let’s Heal the World

8 Oct

Hello readers, I’m back with lots of thoughts and dreams. At this time, I’m full of spirit and desire to write because I’m craving for it.

Pertama saya ingin bercerita bahwa akhir-akhir ini saya menempuh beberapa perjalanan domestik. Tiring yet exciting. Saya bertemu orang-orang baru dengan pengalaman hidup yang unik dan juga menikmati atmosfer berbeda dari setiap daerah.

Masing-masing daerah punya ceritanya sendiri, dan saya paling tertarik dengan kisah-kisah yang terjadi seputar kejadian dimana GAM cukup memberikan teror bagi seluruh masyarakat di Aceh. Perenungan mengenai beberapa cerita yang berdampak pada timbulnya sakit hati dan trauma kepada orang-orang yang menjadi korban membawa pikiran saya terbang ke tragedi-tragedi serupa yang endingnya adalah rasa takut, trauma, sakit hati, dan dendam.

Kita sebut saya tragedi Gerakan 30 September dan pembohongan massal yang akhirnya menimbulkan rasa benci dan sakit hati baik kepada pihak yang dituduh sebagai pelaku maupun orang-orang korban yang dibohongi yaitu seluruh masyarakat Indonesia.

Mari mengingat kembali peristiwa berdarah konflik di Ambon dimana terjadi kerusuhan yang mengakibatkan banyak jiwa melayang.

Bergerak sedikit ke Kamboja, dimana salah satu teman dekat saya pernah memiliki pengalaman hidup di negeri itu selama setahun. Ada tragedi dimana Pol Pot berkuasa dan menghabisi kaum intelektual di negara tersebut. Seluruh rakyat merasakan teror setiap hari.

Agak jauh kita ke Jerman dengan peristiwa holocaust yaitu pada saat Hitler mencoba menghabisi seluruh etnis Yahudi. Sekitar 6000 jiwa tewas dalam peristiwa ini.

Sedih sekali. Warga dunia sepertinya sudah penuh dengan luka dan dendam. Cerita masa lalu secara tidak langsung diwariskan kepada keturunan ke keturunan dan menimbun luka serta dendam terus-menerus. Energi habis untuk menangisi nasib dan bagaimana membalaskan dendam. Namun apa yang sebenarnya terjadi? Banyak orang yang tidak tahu apa-apa menjadi korban. Perang dan konflik hanya membawa kepada kebodohan dan kemiskinan.

Sayangnya, kita pun ikut berkontribusi membuat luka-luka semakin dalam. Tawuran antar pelajar. Teror dengan kedok agama. Konflik antar etnis. Gosip ringan yang menyinggung teman. Sementara di luar sana banyak orang yang terluka dan perlu dibantu. They are craving for foods, for love, for books, for shelter, for water, for family. They are craving for ideal life but it’s just impossibe for them.

How can we contribute to bring peace on earth?

Focus to other’s needs not to other’s sin. God is the only one Individual who has right to judge people’s sin. Man is commanded to love.

Jadi bawalah hati yang penuh kasih kemanapun kita berada. Saya yakin dengan kapasitas kasih yang besar, kita akan berkontribusi lebih untuk dunia. Our world need recovery so bad.

Daripada menciptakan luka-luka baru, sebaiknya kita membantu memulihkan luka turun-temurun dengan segala daya upaya yang dimiliki. Daripada memanas-manasi oknum-oknum tertentu, sebaiknya kita membantu mengobati sakit hati dan trauma yang semakin dalam.

Note:
Latihan pribadi saya akan dimulai dengan berhenti membicarakan perilaku orang lain yang menyebalkan dan mencoba menghindar untuk terlibat dalam pembicaraan serupa.

Tolong Jangan Bicara “Efisiensi”

16 Mar

Ini postingan yang bisa anda abaikan saja karena hanya merupakan teriakan kecil dari hati nurani saya.

Cukup! Persetan dengan efisiensi yang kalian bicarakan!  Terus saja berusaha bagaimana bisa cut biaya supaya lebih efisien. Cut proses supaya lebih efisien. Cut pekerja supaya lebih efisien.

Anda benar sekali! Saya juga lulusan Teknik Industri, dimana yang kami bicarakan selalu mengenai efektivitas dan efisiensi. Empat setengah tahun saya duduk di bangku kuliah hanya untuk mengerti dan mendalami bagaimana caranya mencapai angka efektivitas dan efisiensi yang maksimal.

Tapi kita kan manusia. Dan kita punya hati nurani. Apa angka efisiensi yang besar itu lebih penting dari nilai-nilai empati yang kita miliki?

Notes :Tulisan ini dibuat setelah saya menyaksikan video yang menceritakan bagaimana pabrik-pabrik memperlakukan ayam-ayam dengan sangat tidak berperasaan. Mereka adalah ayam-ayam yang sering kita makan di restoran cepat saji dan kita beli sebagai makanan beku di supermarket. Mereka dilempar dan dipotong dalam keadaan setengah hidup dan sudah dikuliti. Memang sih cuma ayam..tapi..dimana hati nurani anda?

Saya tidak tega! Saya tidak sanggup!

Kecerdasan

14 Mar

Sedari kecil kita diajarkan oleh orang tua untuk menjadi anak yang cerdas dan berprestasi. Entah dengan meraih ranking tiga besar di kelas, juara karate di tingkat kabupaten, sampai juara menghafal ayat Alkitab di sekolah minggu.

Sedari kecil kita diajar untuk mengejar pencapaian-pencapaian dengan gelar-gelar sederhana untuk membuktikan kecerdasan di beberapa bidang dan kemampuan intelektual yang tinggi.

Hal tersebut terus berakar di dalam diri dan mengendalikan perjalanan hidup untuk mengejar pencapaian-pencapaian dan gelar yang lebih hebat lagi, karena memang setiap manusia perlu untuk mengaktualisasikan dirinya. Akhirnya kita akan merasa puas, ketika ada puluhan piala, sertifikat pengakuan dan trofi-trofi yang diukirkan dengan cantik atas nama diri kita sendiri, di saat ajal menjemput. Ya, dunia telah memperoleh bukti atas kecerdasan saya yang spektakuler.

Tapi apakah ada orang tua yang mengajarkan anak-anaknya sedari kecil bahwa kecerdasan pada dasarnya merupakan kemampuan dalam mengendalikan diri sendiri. Bahwa kemenangan tidak melulu adalah suatu pencapaian yang diperoleh ketika telah berhasil menaklukkan orang lain yang menjadi lawan atau musuh kita. Bahwa pada dasarnya diri sendirilah yang paling sulit ditaklukan bahkan oleh orang yang dikenal piawai sekalipun.

Bahwa kecerdasan adalah kemampuan untuk mengalahkan ego dan pemikiran tentang AKU yang adalah pusat dari segala sesuatu. Tentang AKU yang berhak atas kebahagiaan dan kenyamanan itu. Tentang AKU yang layak menerima semua hormat dan keramahan itu. Bahwa kecerdasan adalah kemampuan untuk memindahkan fokus hidup tentang memikirkan (lagi-lagi) diri sendiri menjadi berfokus pada kondisi orang lain.

Kecerdasan adalah tindakan berani yang kita ambil ketika memberikan hasil tabungan untuk membeli Blackberry baru kepada seorang tetangga yang sakit tapi tidak bisa berobat karena tidak punya biaya. Kecerdasan dalam wujud kemurahan hati.

Kecerdasan adalah kemampuan untuk tetap memegang prinsip tidak terlibat korupsi dan tindakan kecurangan sedikit pun di saat lingkungan ingin menggiring kepada gaya hidup yang licik dan menggerogoti rakyat. Kecerdasan dalam wujud keteguhan.

Kecerdasan adalah kemampuan menyesuaikan diri di lingkungan kantor sehingga bisa diterima, disenangi, dan diandalkan walau harus dengan pedih bersedia mengikis kebiasaan-kebiasaan buruk yang sudah berubah menjadi karakter selama bertahun-tahun. Kecerdasan dalam wujud kerendahan hati.

Kecerdasan adalah bangkit dari kegagalan dan rasa duka yang besar untuk tetap mampu menjalani hari-hari dengan riang dan optimis. Kecerdasan dalam wujud kebesaran jiwa.

Kecerdasan adalah mampu bertahan hidup di dalam kondisi yang tidak nyaman, tanpa mengeluh. Kecerdasan dalam wujud kesabaran.

Kecerdasan adalah memaafkan dan memaafkan lagi hingga sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Kecerdasan adalah sabar, murah hati, tidak iri dengki, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah, tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.

Kecerdasan adalah kemampuan untuk mengasihi. Tropinya adalah kebahagiaan dan wajah-wajah penuh sukacita di sekitar kita.

“Kasih menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna.” 1 Korintus 13:7-9

Kecerdasan bukan hanya tentang intelektualitas.

Tidak Perlu Pusing dan Marah-Marah

4 Mar

Beberapa hari ini saya banyak berurusan dengan Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri, dan kitab-kitab peraturan lainnya. Saya bingung dan dibuat pusing dengan peraturan yang berputar-putar dan mengandung banyak sekali persyaratan yang berputar-putar.

Jika ingin begini maka harus seperti ini dan itu.
Kalau tidak begitu maka bisa menjadi ini dan itu.

Sama seperti saya dan hidup ini. Secara tidak sadar saya menetapkan aturan yang berupa standar-standar baik bagi diri saya sendiri maupun bagi orang lain.

Jika saya begini maka seharusnya kondisi menjadi ini dan itu.
Kalau tidak begitu maka seharusnya mereka seperti ini dan itu.

Setiap orang berhak punya standar. Setiap orang boleh punya ekspektasi. Tapi setelah saya pikirkan lagi, saya bukan Tuhan. Saya bukan raja. Saya hanya orang biasa yang selalu dijadikan alas kaki para sang raja (a song by Rif – just joking). Intinya saya manusia normal yang tidak punya kuasa untuk mengatur segala sesuatu di alam semesta ini sehingga menjadi tepat seperti keinginan saya, yaitu apa yang ada dalam rancangan dan angan-angan saya.

Lalu ketika saya berharap hari akan cerah dan kenyataannya tidak. Malah terjadi badai typhoon atau tsunami hebat, apa saya mau marah-marah?

Atau ketika saya merasa sudah bersikap ramah dengan orang-orang dan mereka sebaliknya, justru cuek dan mencibir terhadap saya. Apa saya harus marah?

Satu lagi, jika saya berharap ada BBM atau SMS “selamat pagi” masuk ke telepon selular saya di saat hari masih subuh dan ternyata tidak ada apa-apa sampai hari sudah akan berganti, apa sebaiknya saya marah?

Daripada marah dan bikin kulit keriput serta perut berlipat (akibat bermaksud menghibur diri dengan banyak ngemil), lebih baik segera menyadari bahwa rancangan saya tidak sehebat rancangan Tuhan. Dan jika rancangan dan ekspektasi berlebihan saya tidak terjadi, saya percaya saya sedang berada dalam rancangan Tuhan.

Jadi lebih baik senyum dan menikmati kitab yang isinya tidak banyak ini itu nya.

“Whoever has the Son has life; whoever does not have the Son of God does not have life.” 1 John 5:12

Sangat jelas. Tidak perlu pusing. Tidak pakai marah-marah.

Woman’s Life

9 Feb

…Para wanita di jaman modern ini bermimpi untuk menjadi mandiri dan dapat hidup berkelimpahan dengan uang hasil keringat mereka sendiri. Hidup mereka dipicu dengan menjadikan Louis Vitton, Gucci, Hermes, dan teman-temannya sebagai motivasi. Mereka ingin terlihat mapan dan trendy…

If you wanna read more about Woman’s Life (the collaboration between me and my boyfriend), go to Lovetodraw’s Passion (click here!). You can also enjoy the illustration about Woman’s Life!

Time : The Unstoppable Creature

9 Feb

Seperti kita tahu, berbagai budaya di atas bumi ini memiliki caranya sendiri dalam menentukan waktu. Kita punya kalender masehi, ada juga kalender Jawa, belum lagi penanggalan Cina, dan lain sebagainya.

Meski tampilannya yang berbeda-beda, kita perlu belajar salah satu sifat “waktu” yaitu konsisten. “Waktu” konsisten berjalan maju. Dia tidak pernah mundur barang sedikit pun. “Waktu” selalu berjalan dengan ritme yang sama. Tidak pernah plin-plan apalagi berubah pikiran.

Eksistensi “waktu” dalam hidup kita seperti kutuk yang menyeramkan. “Waktu” tidak kenal kompromi, apalagi empati, bahkan walaupun kamu berada di kondisi paling terjepit sekalipun. Dia tidak akan berhenti dan menunggumu keluar dari kondisi tersebut. “Waktu” tidak perduli. Satu hal yang dia ketahui adalah berjalan maju dengan ritme yang teratur.

Manusia seberkuasa apapun. Sekaya apapun. Secerdas apapun. Tidak bisa berkutik jika sudah berhadapan dengan waktu. Karena mereka tidak bisa bermain-main dengan waktu. Bagaimanapun mereka berusaha untuk memanipulasi dan mengecoh waktu, pada akhirnya mereka semua tidak berdaya untuk melakukannya. Justru pada akhirnya, waktu lah yang dijadikan sebagai datum dalam keseharian manusia.

Jika kamu mau jadi pemenang dalam hidup ini, taklukkan lah waktu. Bertemanlah dengannya. Manfaatkan setiap detik yang ada dengan sesuatu yang bernilai. That is why people say that time is more precious than money.

Find the truth and live in valuable life, while there is a time!

P.S. : You can also see the illustration about “Time : The Unstoppable Creature” drawn by Tigor Boraspati in Lovetodraw’s Passion

Time : The Unstoppable Creature

Kolaborasi

9 Feb

Masa saling mengenal yang dilakukan sepasang kekasih adalah waktu-waktu yang dihabiskan bersama untuk sekedar bicara berdua, makan berdua, jalan berdua, main berdua, dan kegiatan lainnya. Apapun jenis kegiatannya, yang terpenting adalah kebersamaan dan momen untuk lebih saling mengenal satu dengan yang lain.

Saya dan kekasih saya, Tigor Boraspati, juga senang melakukan hal-hal normal yang dilakukan pasangan-pasangan lain. Tapi disamping itu semua, kami ingin masa mengenal dan pelajaran-pelajaran yang kami berdua lalui ini, bisa dinikmati oleh banyak orang juga. Maka kami menciptakan semacam KOLABORASI. Kekasih saya menggambar dan saya menulis. Kami memilih kolaborasi dengan aktivitas yang masing-masing kami sukai. We do it because we love to do it.

Kolaborasi ini tidak bisa terjadi tanpa perenungan bersama. Maka melalui kolaborasi ini, kami mengangkat satu tema dan menjadikannya perenungan. Kami bisa beda perspektif, mungkin terkadang berdebat. Dan dalam beberapa kasus, terjadi “miskom”. Tapi tujuan kami, saat ini, adalah menghasilkan satu kolaborasi yang harmonis, melalui gambar dan tulisan. Maka kami menggunakan kesempatan ini untuk belajar berkomunikasi dan menghasilkan karya atas nama berdua.

Selamat menikmati perjalanan cinta kami lewat postingan-postingan, yang terkadang bicara tentang hidup, aktivitas sehari-hari, bahkan tentang cinta itu sendiri dan Tuhan, sumber cinta yang abadi.

Anda juga bisa membaca kolaborasi ini di blog Lovetodraw’s Passion (click here!). He is such a talented artist. Don’t forget to see all his drawings. You gotta love them!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.