dwihut

Tanpa Judul

Saya rasa setiap orang pastinya punya kebiasaan aneh yang seringkali dilakukan secara otomatis, tanpa disengaja.

Kalau saya, sering buat semacam sinetron sendiri, percakapan antara dua orang, yang satu sosok pribadi yang penuh pertanyaan serta kebingungan dan satu lagi sosok pribadi yang lebih bijak yang menghibur, memberi nasehat dan pertimbangan-pertimbangan kepada si pribadi yang kebingungan tadi.

Percakapan-percakapan itu seringkali terjadi kalau saya habis melakukan suatu tindakan bodoh dan menyesali perbuatan itu, kalau saya sedang memarahi diri sendiri karena berbuat sesuatu yang kemudian ingin saya anulir, atau kalau saya dalam keadaan super bingung dalam memutuskan sesuatu, atau jika ada pertanyaan yang sudah sampai putus asa tidak ditemukan jawabannya. Percakapan ini seringnya berlangsung di kamar mandi waktu sedang (maaf) buang air sambil ngomong sendiri atau paling banyak terjadi ya di dalam pikiran sendiri saat sedang bengong di dalam transportasi umum (commuter line,
kopaja, metromini) sambil memandang ke luar jendela, saat sebelum tidur sambil menatap langit-langit, atau sedang duduk sendiri menunggu sesuatu sambil memandang orang lalu lalang.

Saya tidak tahu bagaimana dengan anda, apakah kita memiliki mekanisme yang sama untuk membuat pikiran tetap waras. Saya sendiri tidak yakin apakah saya masih waras dengan punya kebiasaan seperti ini.

Tapi hal ini membuat saya menyadari bahwa dalam segala kondisi, sesungguhnya manusia memiliki cara pandang dari dua sisi yang berbeda. Dan manusia memiliki hak untuk memilih lebih percaya pada cara pandang yang mana. Yang pastinya kita anggap merupakan cara pandang yang akan membawa kita pada kehidupan yang lebih baik. Pilihan itulah yang terwujud dalam tampak luar kita, melalui tindakan, kata-kata, nada bicara, bahasa tubuh, lirikan mata, dan sebagainya.

Tapi mekanisme ini memerlukan waktu sedikit lebih lama dari sekedar mengandalkan insting untuk merespon sesuatu. Saya percaya insting kita sudah dibentuk oleh memori sejak lahir dan pengalaman hidup yang terjadi, yang membuat kita belajar dan menilai suatu hal. Pengalaman hidup bisa saja dari yang baik atau yang tidak menyenangkan, sehingga insting setiap manusia pun akan berbeda-beda.

Oleh sebab itu, saya rasa saya perlu waktu lebih banyak dalam merespon sesuatu, apalagi yang sifatnya mengusik hati, emosi, ego dan kemanusiaan saya, karena insting seringkali menjebak saya dan menggiring saya melakukan sesuatu yang agak seperti binatang. Dengan bicara sendiri dalam ketenangan, si pribadi yang kebingungan melakukan percakapan dengan pribadi yang lebih bijak untuk mendapatkan pertimbangan. Tujuannya supaya dapat memberikan respon dengan benar.

Belakangan saya tau, satu kata biasa yang menggambarkan kebiasaan aneh ini. Namanya BERDOA.

pray

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s