dwihut

Keputusan di Masa Lalu

Pagi ini seperti biasa dimulai dengan perjuangan naik commuter line dari stasiun Kalibata menuju stasiun Gondangdia. Syukur sekali kondisi commuter tidak sepadat biasa sehingga perjalanan 20 menit bisa dinikmati sambil mendengar musik dari aplikasi baru di handphone, namanya JOOX. Playlist di musim hujan cocoknya memang Owl City, bikin suasana kayak melayang-layang dan semakin adem.

Di dalam kereta saya berdiri dekat dengan beberapa pria yang kelihatannya masih mahasiswa, gaya berpakaian yang casual dengan celana jeans, kemeja kotak-kotak, topi, dan pembicaraan ringan ala anak kost. They look nice and educated, saya semakin optimis dengan masa depan bangsa ini. Cukup sampai situ saja bicara soal masa depan bangsa, karena kalau terus dibiarkan bisa panjang lebar dan tulisan ini jadi sangat emosional, apalagi dengan adanya kasus Freeport, dan isu-isu strategis lain di negeri ini, dalam aspek pertambangan, migas, dan sebagainya.

Oke ini sudah agak panjang dan penuh emosi pembahasan tentang kebangsaan, jadi mari kita kembali ke beberapa mahasiswa tadi.

Suhu di commuter line yang cukup dingin karena air conditioner plus adanya kipas angin, memperhatikan mahasiswa dan bagaimana mereka terlihat sangat menikmati hidupnya, dan playlist Owl City, membuat saya terbang kembali ke masa-masa saat di kampus dulu dan mengingat keputusan-keputusan penting yang pernah saya buat ketika masih mahasiswa.

Pada saat masih mahasiswa, pada dasarnya itulah momen kita menentukan akan kemana jalan hidup kita digiring. Saat itu, kamu bisa jadi apapun. Aktivis kampus yang idealis, kemudian mengabdikan diri pada hal-hal kemanusiaan, pergi ke pelosok-pelosok untuk membantu pendidikan atau perekonomian desa terpencil. Atau aktivis kampus yang idealis, kemudian mengabdikan diri pada perpolitikan dan belajar lebih jauh mengenai pemerintahan, isu-isu kebangsaan (kembali ke pembahasan ini lagi :p), belajar jadi anggota partai, dan sebagainya. Kamu bisa jadi mahasiswa yang fokus pada study dan pandangan yang lurus-lurus saja, kuliah ya yang utama IPK cum laude, kemudian target lulus langsung S2, bahkan S3, dan mengabdikan diri dalam keilmuan sebagai dosen. Kamu bisa jadi yang biasa-biasa saja, cari banyak teman, kuliah yang penting lulus, setelah lulus diterima kerja. Kamu bisa jadi mahasiswa yang sambil cari tambahan uang saku, melatih insting berbisnis, dan keluar sebagai entrepreneur pemula.

Saat mahasiswa, kamu punya banyak waktu untuk mengeksplore segala sesuatu, dari ilmu sampai skill dan kompetensi tertentu. Banyak tawaran dan kesempatan untuk mencoba hal-hal baru dan unik. Saya membayangkan siapa saya waktu mahasiswa dulu, saya tidak terlalu unggul di kelas, walau sudah belajar sungguh-sungguh dan berusaha menyelesaikan tugas dengan baik. Saya mahasiswa yang gampang ngantuk, apalagi kalau tidak tertarik dengan topik yang dibahas dosen, dan kalau belajar bersama teman-teman, saya akan jadi yang pertama kali tidur. Saya mengikuti kegiatan standard, majalah kampus dan komunitas mahasiswa Kristen, dipercaya sebagai pemimpin perusahaan di majalah kampus yang kurang lebihnya mengajarkan saya mencari uang supaya majalah ini bisa tetap terbit walau kami tidak menerima bantuan dana dari kampus dan bagaimana supaya nantinya produk kami bisa habis terjual, disamping tentunya belajar cari berita, menentukan angle, wawancara dan menulis. Saya bukan orang yang popular, teman saya itu-itu saja, dan mereka teman baik sampai sekarang🙂. Saya bukan olahragawan yang diunggulkan teman-teman kalau ada olimpiade atau pertandingan, saya cuma berusaha rutin jogging keliling lapangan Sabuga paling tidak seminggu sekali. Saya tidak punya kemampuan bermusik, apalagi kemampuan menari, untuk bisa dielu-elukan kalau ada momen untuk tampil di panggung. Basically I’m just an ordinary people.

Jika bisa kembali ke masa-masa sewaktu mahasiswa, mungkin saya mau mencoba hal-hal lain. Saya mau tau rasanya jadi aktivis di himpunan atau semacam badan eksekutif mahasiswa, kemudian diberikan kepercayaan di posisi yang cukup tinggi. Saya mau coba ikut kegiatan-kegiatan ekstrem macam pencinta alam. Saya mau lebih supel daripada saya seharusnya, bagaimana mengenal banyak orang dan disapa dimana-mana. Apa yang akan terjadi pada saya saat ini kalau saya mengambil keputusan lain pada saat mahasiswa, bagaimana kalau saya lebih supel waktu itu, bagaimana kalau saya lebih keras belajar, bagaimana kalau saya lebih aktif ikut kegiatan-kegiatan kemahasiswaan. Apakah saya akan jadi seseorang yang berbeda dengan siapa saya saat ini? Bukan Dwi yang berdiri di commuter line, dengan rambut berantakan dan rempong banyak bawaan. Mungkin saya bisa jadi Dwi yang sedang membantu penduduk lokal di daerah Kupang, atau Dwi yang sedang mempersiapkan presentasi untuk dibawakan di forum internasional di London, atau Dwi yang mengerjakan disertasi demi menyelesaikan program doktor di Jepang.

Saya sadar bahwa apapun keputusan dalam hati yang saya tetapkan akan berdampak sangat luas bagi saya, masa depan saya, dan orang-orang di sekitar saya. Saya seperti mau bicara dengan para mahasiswa itu, “hey orang muda (saya bukan tua, hanya lebih senior sedikit), berhati-hatilah menentukan setiap langkah di masa mahasiswa ini, terutama dengan banyaknya tawaran dan kesempatan yang ada.”

Saya pribadi tidak pernah menyesali dengan kondisi saya saat ini, walau saya hanyalah Dwi yang berdiri di commuter line, rambut berantakan, dan rempong karena banyak bawaan. I’m fully grateful for what I’ve been through this far. Tuhan tidak berhenti melindungi saya dari keputusan-keputusan buruk yang seharusnya bisa saya ambil di masa lalu. Tuhan tidak henti-hentinya melimpahkan kasih karuniaNya pada saya, yang sebenarnya, hanya manusia biasa.

Perenungan 20 menit pagi ini membuat saya semakin bersyukur dengan siapa saya saat ini. Dan kalau Tuhan memberi kesempatan saya untuk mundur kembali ke masa lalu dan mengambil keputusan lain, satu hal yang tidak akan saya ubah, yaitu say yes to my husband. Partner yang membuat saya semakin menikmati Tuhan dan menjadikan perenungan dengan deep conversation suatu habit dalam keluarga kecil kami.

past-time-quotes-1

One thought on “Keputusan di Masa Lalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s