dwihut · life · merenung · with Him

Menghadapi Batu Besar

Ibarat roller coaster, ketika sedang di puncak teratas, kemudian kamu melaju kencang dan curam ke bawah, sampai keluar jalur dan terus turun ke bawah dan entah kapan akan melandai atau berhenti. Begitulah hidup saya selama enam bulan terakhir ini. Apa yang terlintas dalam benak saya selama enam bulan ini? HOPELESS. Secara beruntutan persoalan-persoalan seperti bertubi-tubi datang masuk dalam hidup saya, tanpa diundang, tanpa menunggu antrian.

Pertanyaan-pertanyaan lebay yang selama ini cuma ada di sinetron Indosiar, akhirnya terucapkan juga dalam hati saya.

Mengapa Tuhan membiarkan saya mengalami ini?

Mengapa dari begitu banyak manusia di muka bumi, Tuhan memilih saya untuk mengalami ini?

Mengapa melalui persoalan seperti ini, yang tidak bisa saya atasi?

Mengapa rasanya begitu sesak, dan perih, dan sakit, seperti tercabik-cabik?

Mengapa sekarang?

Bahkan ketika optimisme dalam diri saya akhirnya mencoba bangkit, gravitasi bumi seperti sekuat tenaga terus menarik saya ke bawah. Sampai titik terendah harapan. Titik terendah iman. Titik terendah sukacita. Berjuta-juta liter air mata terbuang percuma. Sampai hati terasa kering dan hampa. Otot leher menegang dan otot lutut melemah, bukan karena kolesterol atau asam urat.

Jika kamu pernah berada di situasi seperti ini, batu-batu besar membentang di hadapan, tidak ada jalan keluar, orang-orang terkasih sudah tak berdaya untuk menolong, dan hidup di jaman keberadaan tukang batu hanya mitos belaka. Apa yang akan kamu perbuat?

Mengutuki kondisi tidak akan membuat persoalan terselesaikan. Apalagi menyalahkan orang lain. Berakhir dengan putus asa juga bukan pilihan yang menyenangkan. Apalagi mencoba melompat dari jendela apartemen di lantai 16.

Bersyukur saya bisa mengingat pengalaman hidup yang pernah terjadi dengan tantangan dan kesesakan yang sama, kemudian menyadari kebangkitan dan sukacita yang menyusul kemudian. Puluhan pesta pora tidak cukup menggambarkan rasa syukur saya atas campur tangan Tuhan dalam masa-masa sulit itu.

Dan saat ini, saya menikmati karya Tuhan yang nyata itu dan betapa menyegarkan mengetahui bahwa Tuhan yang waktu dulu menolong saya adalah Tuhan yang sama yang saat ini pun akan berkarya dalam hidup saya, melalui hal-hal yang saya pikir adalah bencana.

Well, batu-batu besar masih tegak membentang, jalan keluar pun belum terlihat, tapi saya percaya kekuatan dari Tuhan akan menjadi penghiburan bagi saya dan pengharapan untuk orang-orang terkasih, sampai akhirnya tukang batu menjadi profesi idaman.

quote CS Lewis

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s