dwihut

Harapan dalam Penantian

Setiap harinya, kehidupan dilalui seperti berlari mengejar sesuatu. Mulai bekerja pukul 7 pagi dan stopwatch mulai menghitung, pengejaran pun dimulai untuk mencapai garis finish yaitu jam pulang kantor pukul 4 sore. Begitu pula setiap hari Senin, orang-orang mulai berlari melalui rutinitas, tanggung jawab, pertemuan-pertemuan penting dan tidak penting, percakapan-percakapan basa-basi atau senda gurau, untuk mencapai garis finish, yaitu friday night. Kita berharap waktu berhenti di Jumat malam dan tidak perlu berjalan lagi, tapi apa daya, hari terus bergulir dan tanpa kita berlari pun, waktu mendahului kita dan mengantarkan pada Senin pagi kembali.

Ada masa-masa dimana saya pun berharap waktu berhenti, biasanya karena ada sesuatu yang saya tunggu. Saya tidak siap melihat pagi berganti malam, halaman kalendar berganti lembar demi lembar, dan kulit mulai mengerut. Saya tidak rela waktu terus bergulir sementara apa yang saya nanti-nantikan itu belum kunjung datang juga.

Banyak alasan mengapa banyak orang tidak siap mental menyambut hari esok, menyambut masa depan.

Apa yang akan terjadi esok hari, jika penyakit saya belum sembuh juga, apakah saya akan terus menjadi beban bagi keluarga saya.

Apa yang akan terjadi esok hari, jika saya tidak juga dapat pekerjaan, apakah isteri saya masih percaya pada saya.

Apa yang akan terjadi esok hari, jika saya belum juga punya pacar dan punya rencana menikah, apakah saya akan membuat orang tua saya bersedih.

Apa yang akan terjadi esok hari, jika saya belum hamil juga, apakah suami saya akan tetap mengasihi saya.

Apa yang akan terjadi esok hari, jika cicilan hutang saya tidak selesai juga, apakah anak-anak bisa melanjutkan sekolahnya dengan baik.

Kenyataan yang harus kita terima yaitu waktu tidak pernah berhenti, bahkan tidak melambat, jadi berdamailah dengan kenyataan ini. Lalu apakah kita akan terus mengisi waktu-waktu dengan ketakutan dan kekuatiran? Karena tanpa disadari masa-masa hidup kita terus berkurang dan tak lama akan habis, menguap dan sebentar saja dilupakan orang-orang.

Jika tercapainya harapan-harapan itu menjadi tolak ukur yang kita tetapkan untuk suatu kebahagiaan dan kepuasan hidup, apa yang terjadi jika sampai akhir hayat penantian itu tidak kunjung berakhir. Apakah berarti anda tidak layak merasakan kebahagiaan dan menikmati kehidupan dengan damai.

Sama sekali tidak benar.

Sesulit apapun kondisi anda saat ini, sepudar apapun lampu harapan anda, anda tetap layak menikmati kehidupan yang adalah anugerah dari Sang Pencipta. Bagaimana agar waktu-waktu penantian menjadi bermakna untuk diri sendiri dan orang lain, adalah keputusan kita untuk memilih mengisi kehidupan dengan optimisme dan rasa syukur, juga menjadikan pengharapan sebagai kekuatan untuk mantap memandang hari esok.

JanjiNya, hari esok yang penuh damai sejahtera, so no worries. Seduh cammomile tea, pilih novel/komik favorit, nikmati berkat Tuhan dengan iringan suara hujan. Life is beautiful indeed.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s