dwihut

Berbuat Baik

Beberapa hari ini saya merenungkan bahwa ekspektasi bisa menghancurkan persahabatan, romantisme, dan hubungan-hubungan penting dalam hidup kita. Setiap individu di jaman ini lebih mengasah kemampuannya untuk menilai dan mengkritik orang lain daripada membiasakan budaya introspeksi diri.

Subjektivitas mengenai apa yang dianggap baik oleh diri sendiri dijadikan standard agar dilakukan oleh orang lain. Jika tidak dilakukan, maka dia musuh saya, maka saya membenci dia, maka dia tidak pantas lagi mendapatkan perhatian saya, hormat saya, kasih sayang saya. Bahkan kita beranggapan orang yang tidak melakukan sesuatu yang kita anggap baik itu, berarti sudah melawan Sang Maha Kuasa dan patut dihukum. Lebih parah lagi, bahkan sebelum Sang Maha Kuasa bertindak, kita berinisiatif mengambil tindakan untuk menghukum dan beranggapan bahwa tindakan tersebut mulia.

Fenomena ini seperti chicken and egg dalam usaha menciptakan perdamaian dunia. Kita beranggapan bahwa pihak lain harus menghormati saya terlebih dahulu, maka saya akan balik menghormati. Beri saya dulu, maka saya akan balik memberi. Bantu saya dulu, maka saya akan balik membantu. Apakah kita tahu, atau pura-pura tidak tau, atau memang tidak mau tau, bahwa pada dasarnya sebagai manusia kita semua memiliki pikiran yang sama. Jadi siapa yang mau memulai berbuat baik saat semua orang menunggu dan saat semua orang membiarkan pikirannya dirasuki oleh hal-hal yang penuh prasangka?

Jika kita sebagai umat manusia tidak mengubah cara berpikir, maka segala usaha dan biaya besar dalam rangka menciptakan perdamaian dunia hanya menjadi suatu wacana saja tanpa tindak lanjut yang nyata, yang dibahas dalam forum-forum elite para pakar yang katanya berpendidikan tinggi dengan rasa kemanusiaan yang besar, karena pada akhirnya kita hanya saling serang dan menyalahkan.

Memang, berbuat baik lebih dulu saat orang-orang berbuat sebaliknya, memberi dengan kerelaan hati lebih dulu saat orang-orang berlomba-lomba mencari keuntungan yang besar untuk diri sendiri, menunjukan perhatian lebih dulu saat orang-orang tidak peduli sama sekali dengan kita, adalah perbuatan yang, hmmm, berat.

Memerlukan kerendahan hati serendah budak-budak yang tidak layak diupah. Membiarkan hati tercabik-cabik menerima respon atas ketulusan hati kita dengan caci maki, prasangka buruk, tuduhan-tuduhan. Memerlukan kebesaran hati untuk mempersilakan orang lain memperoleh kesuksesan yang seharusnya milik kita, memperoleh kebahagiaan yang seharusnya milik kita, memperoleh kenyamanan yang seharusnya milik kita.

Jika kamu berpikir bahwa hal-hal itu terlalu berat dan tidak mungkin dilakukan, maka pikiran kita sama. Jika kamu berpikir hal-hal seperti itu hanya akan sanggup dilakukan oleh orang-orang kudus macam pendeta atau ulama, maka pikiran kita persis sama. Dan jika kamu berpikir bahwa saya hanya manusia biasa yang punya kelemahan dan ego, dan bukan tugas saya untuk mengalah dan membiarkan diri saya diinjak-injak, lagi-lagi pikiran kita sama, dan kita adalah kontributor terbesar dalam menciptakan kehancuran dunia.

Perdamaian dunia seharusnya dimulai dari kebiasaan introspeksi diri. Menggali sampai hati yang terdalam, untuk mencari dan menemukan bahwa sebenarnya kita punya cukup keberanian dan kasih untuk menjadi orang yang lebih dulu berbuat baik. Dan jika dunia seakan-akan tidak berubah menjadi lebih baik, tetaplah berbuat baik.

God will never forget those times when you did a kindness when nobody care about.

IMG_9787[1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s