dwihut · merenung

Seorang Pendidik adalah Seorang Teladan

Langit pagi hari ini cukup cerah untuk memulai hari Senin yang padat dengan semangat yang baru. Saya pun teringat masa-masa kecil dahulu saat masih duduk di bangku sekolah, ketika hari Senin selalu dimulai dengan memikirkan target baru yang ingin dicapai di minggu tersebut. Hal-hal kecil seperti membantu Ibu menyiapkan makan malam, menyelesaikan komik Conan, atau bangun pagi tanpa dipaksa oleh Ibu.

Saya dibesarkan oleh seorang Ayah yang berprofesi sebagai guru. Beliau memiliki metode sendiri untuk memotivasi saya dan kakak saya dalam mencapai potensi kami masing-masing sehingga kami dilatih untuk mencoba banyak hal, mulai dari kemampuan berbahasa hingga keterampilan dalam kesenian. Alhasil saat ini saya dan kakak saya menempuh jalan hidup dengan profesi masing-masing yang jauh berbeda.

Sewaktu kuliah, saya juga pernah terlibat dalam kegiatan sukarela untuk mengajar anak-anak kampung di pinggiran kota Bandung. Menyedihkan sekali menyadari bahwa anak-anak itu tidak mendapatkan pendidikan yang layak di sekolahnya masing-masing. Saya tidak bicara tentang kepintaran atau daya tangkap mereka akan suatu pelajaran tertentu yang diharapkan luar biasa brilian. Saya bicara tentang mental putus asa yang saya temukan pada bibit-bibit bangsa yang seharusnya unggul, pada bibit-bibit bangsa yang seharusnya memiliki mental sekeras baja dan motivasi yang tidak tergoyahkan untuk terus maju. Inilah kewajiban utama seorang pendidik, terutama di tengah bangsa kita yang saat ini penuh dengan gejolak, baik politik, ekonomi, maupun sosial.

Satu hal penting yang saya rasa merupakan esensi seorang pendidik adalah kemampuan menjadi teladan dan kemampuan mendengarkan. Seharusnya profesi guru tidak lagi hanya mengejar target-target kurikulum dan hasil ujian anak didik yang di atas rata-rata. Profesi sebagai seorang pendidik bukan hanya sekedar menguasai materi yang harus dia ajarkan pada murid-muridnya, namun lebih dari itu apakah dia juga menghidupi apa yang diajarkan tersebut sehingga peran sebagai seorang teladan bukan karena label guru. Profesi seorang pendidik seharusnya lebih kepada membantu setiap anak didik mencapai potensi terbesarnya dalam hal skill juga knowledge dan terutama attitude.

Saya sendiri semakin menyadari bahwa kecerdasan yang menjadi tolak ukur anak didik semata-mata bukan hanya pencapaian nilai-nilai namun lebih kepada mental yang sehat dimana seorang anak didik belajar dengan rendah hati untuk berkata maaf atas kesalahan yang dilakukannya terhadap teman ataupun orang tua, belajar berani mengutarakan pendapat yang benar bahkan kepada orang yang lebih tua dengan sopan dan penuh hormat, belajar menerima kondisi diri sendiri dan tidak menjadi rendah diri ketika melihat teman yang kondisi fisik atau ekonominya lebih baik. Kebesaran jiwa dan kerendahan hati merupakan modal yang penting untuk generasi muda bangsa kita agar tidak mudah goyah oleh provokasi-provokasi yang menuntun pada konflik dan pertengkaran.

Bangsa kita berkali-kali mengalami suatu krisis. Krisis ekonomi. Krisis kepercayaan. Krisis pangan. Krisis air bersih. Bahkan krisis kedelai. Saya kuatir di hari depan nanti bahkan bangsa kita akan mengalami krisis teladan. Ketika kita tidak mempunyai lagi tokoh-tokoh yang dapat dijadikan contoh dalam bersikap, berjiwa besar, dan passionate. Inilah peran para pendidik-pendidik yang berkomitmen untuk mengabdi pada masa depan bangsa melalui anak-anak. Kesuksesan dalam berprofesi sebagai guru atau pendidik bukan sekedar diukur dari nominal gaji bulanan yang diperoleh atau berapa sekolah yang akhirnya nanti bisa dibangun di bawah yayasan yang dibentuk atas nama diri sendiri. Namun kepuasan dalam mendidik adalah ketika anak didik menjadi dewasa dalam pikiran dan tindakan sehingga dapat menjadi contoh dan teladan pada masyarakat dan generasi bangsa selanjutnya. Mungkin nama para pendidik ini tidak akan sebesar nama murid-muridnya kelak, itulah mengapa kita menyebut mereka dengan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”.

4 thoughts on “Seorang Pendidik adalah Seorang Teladan

  1. Sudah lama menantikan karya tulisan-tulisanmu lagi. Dan akhirnya muncul kembali. Semoga lomba blog ini kembali membangkitkan antusiasme mu akan dunia tulis menulis. Karena aku dan begitu banyak pembaca di luar sana menantikan pemikiran, ide, dan karya hebatmu. Tetap menulis dek!
    I always support you.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s