merenung

Let’s Heal the World

Hello readers, I’m back with lots of thoughts and dreams. At this time, I’m full of spirit and desire to write because I’m craving for it.

Pertama saya ingin bercerita bahwa akhir-akhir ini saya menempuh beberapa perjalanan domestik. Tiring yet exciting. Saya bertemu orang-orang baru dengan pengalaman hidup yang unik dan juga menikmati atmosfer berbeda dari setiap daerah.

Masing-masing daerah punya ceritanya sendiri, dan saya paling tertarik dengan kisah-kisah yang terjadi seputar kejadian dimana GAM cukup memberikan teror bagi seluruh masyarakat di Aceh. Perenungan mengenai beberapa cerita yang berdampak pada timbulnya sakit hati dan trauma kepada orang-orang yang menjadi korban membawa pikiran saya terbang ke tragedi-tragedi serupa yang endingnya adalah rasa takut, trauma, sakit hati, dan dendam.

Kita sebut saya tragedi Gerakan 30 September dan pembohongan massal yang akhirnya menimbulkan rasa benci dan sakit hati baik kepada pihak yang dituduh sebagai pelaku maupun orang-orang korban yang dibohongi yaitu seluruh masyarakat Indonesia.

Mari mengingat kembali peristiwa berdarah konflik di Ambon dimana terjadi kerusuhan yang mengakibatkan banyak jiwa melayang.

Bergerak sedikit ke Kamboja, dimana salah satu teman dekat saya pernah memiliki pengalaman hidup di negeri itu selama setahun. Ada tragedi dimana Pol Pot berkuasa dan menghabisi kaum intelektual di negara tersebut. Seluruh rakyat merasakan teror setiap hari.

Agak jauh kita ke Jerman dengan peristiwa holocaust yaitu pada saat Hitler mencoba menghabisi seluruh etnis Yahudi. Sekitar 6000 jiwa tewas dalam peristiwa ini.

Sedih sekali. Warga dunia sepertinya sudah penuh dengan luka dan dendam. Cerita masa lalu secara tidak langsung diwariskan kepada keturunan ke keturunan dan menimbun luka serta dendam terus-menerus. Energi habis untuk menangisi nasib dan bagaimana membalaskan dendam. Namun apa yang sebenarnya terjadi? Banyak orang yang tidak tahu apa-apa menjadi korban. Perang dan konflik hanya membawa kepada kebodohan dan kemiskinan.

Sayangnya, kita pun ikut berkontribusi membuat luka-luka semakin dalam. Tawuran antar pelajar. Teror dengan kedok agama. Konflik antar etnis. Gosip ringan yang menyinggung teman. Sementara di luar sana banyak orang yang terluka dan perlu dibantu. They are craving for foods, for love, for books, for shelter, for water, for family. They are craving for ideal life but it’s just impossibe for them.

How can we contribute to bring peace on earth?

Focus to other’s needs not to other’s sin. God is the only one Individual who has right to judge people’s sin. Man is commanded to love.

Jadi bawalah hati yang penuh kasih kemanapun kita berada. Saya yakin dengan kapasitas kasih yang besar, kita akan berkontribusi lebih untuk dunia. Our world need recovery so bad.

Daripada menciptakan luka-luka baru, sebaiknya kita membantu memulihkan luka turun-temurun dengan segala daya upaya yang dimiliki. Daripada memanas-manasi oknum-oknum tertentu, sebaiknya kita membantu mengobati sakit hati dan trauma yang semakin dalam.

Note:
Latihan pribadi saya akan dimulai dengan berhenti membicarakan perilaku orang lain yang menyebalkan dan mencoba menghindar untuk terlibat dalam pembicaraan serupa.

5 thoughts on “Let’s Heal the World

  1. Senang rasanya membaca update terbarumu di blog ini setelah vakum sekian lama. Setuju ya Dwi. Kita harus memiliki hikmat, khususnya dalam memberikan energi kita untuk apa?
    Untuk ikut “panas” karena dunia. Atau meredakan temperamen dunia yang memang penuh dendam, kekerasan, dan luka di sana-sini. Menjadi pribadi yang lebih peka, lebih berbelas-kasihan, dan mampu memberi warna kasih di komunitas, harusnya menjadi prioritas kita sekarang.

    Mari hidup bagi Tuhan dan sesama.

  2. like this too…🙂 mari menjadi pribadi yang berbeda.. sedikit demi sedikit “mempengaruhi” orang lain untuk mau belajar mengasihi juga… ^^ nice share…

  3. Dimulai dari diri sendiri. Ini cukup bijaksana. Karena, kadang-kala kita merasa membela bendera tertentu itu akan membuat kita aman dan nyaman. Padahal, kita sama saja merusak rasa aman dan nyaman yang seharusnya kita miliki bersama.

    So, jaga diri sendiri saja!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s