life · merenung · with Him

Konsistensi

Suatu hari aku bilang kepada kedua orang tuaku untuk membelikan sebuah piano karena aku ingin jadi pianis ternama. Piano sudah di depan mata dan aku pun dengan bersemangat bermain piano. Waktu berlalu dan aku mulai bosan dengan pianoku. Kemudian aku bilang kepada orang tuaku untuk memberikanku hadiah bola basket. Melihat si atlet jagoanku itu, aku pun jadi termotivasi untuk mengikuti jejak sang idola. Waktu berjalan dan aku pun semakin besar. Teman-teman di sekitarku pun mulai berganti. Dan aku mulai meninggalkan bola basketku di gudang. Dengan yakin aku memberanikan diri bicara dengan kedua orang tuaku. Aku memohon mereka membelikanku sebuah kamera. Ya, aku yakin sekarang bahwa aku akan jadi fotografer yang handal.

Kamu dan saya pasti pernah melalui masa-masa dimana keinginan terus berubah-ubah. Saat ini mau yang itu, tak berapa lama kemudian mau yang lain. Saat ini berpendapat A, sesaat saja sudah berpendapat anti-A. Everybody changes. Waktu dan kondisi mampu merubah manusia bahkan merubah kekerasan hatinya yang seperti batu. Lalu apakah menjadi manusia yang terus berubah-ubah adalah sesuatu yang buruk? Tentu saja tidak. Setiap kita belajar dari kesalahan dan berubah untuk menjadi semakin baik. Adalah salah apabila kesalahan atau kegagalan tidak membuat kita berubah dan belajar sesuatu. Dan menjadi keras kepala hanya akan memperkokoh tembok diantara kita dan kedewasaan.Dari kecil sampai dewasa, kita akan terus belajar dan berubah untuk menjadi manusia yang terus berkembang.

Bedanya, manusia dewasa adalah dia yang bisa mempertanggungjawabkan perkataan, perbuatan, keputusan, dan komitmennya walau kondisi berubah dan waktu tak dapat dihentikan. Manusia dewasa adalah dia yang tidak berkata, tidak berbuat, tidak mengambil keputusan dan komitmen hanya dikarenakan kondisi yang kelihatannya sedang cerah dan berpihak padanya. Manusia dewasa adalah dia yang berkata, berbuat, mengambil keputusan dan komitmen dengan pertimbangan yang matang, sehingga jika pun segala sesuatu telah berubah lusuh dan menua oleh waktu, keputusan dan komitmennya tidak akan menjadi lemah dan pudar.

Impian untuk meraih sesuatu. Kecintaan terhadap kekasih. Kegemaran akan sesuatu. Bahkan selera makan bisa berubah. Banyak hal berubah karena pengaruh kondisi dan masa. Dan menurut saya pribadi, itu hal yang normal. Sangat normal.

Hanya satu yang tidak boleh berubah. Dan konsistensi kita di area ini akan mempengaruhi keputusan-keputusan kita untuk tetap konsisten di area-area kehidupan yang lainnya. Yaitu keputusan dan komitmen untuk setia mengikut Tuhan. Perbuatan yang mendemonstrasikan kasih Tuhan. Dan perkataan yang menceritakan kebaikan-kebaikan Tuhan. Karena Dia setia dan abadi. Dengan begitu manusia menjadi tahu kapan harus melakukan perubahan dan kapan harus bertahan.

 

…this writing is dedicated to Tigor Boraspati Sidauruk (thanks for the idea Photobucket)

4 thoughts on “Konsistensi

  1. aku ga melakukan apa2..
    tapi kamu memang jgn pernah berhenti menulis..
    oke oke, lagi sibuk ya..
    tp dengan kualitas seperti itu, kalau tidak dijaga konsistensi latihan tulisnya, akan pudar juga..

    “keep creating, keep producing, keep writing… keep loving God”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s