merenung · with family · with Him

Kasihilah Musuhmu

Malam yang menyenangkan ini saya habiskan bersama kakak saya tercinta. Dia menraktir saya nonton film di bioskop. Judul filmnya Karate Kid. Jackie Chan dan seorang anak kecil kulit hitam bernama Jaden Smith, yang memerankan tokoh utama sebagai Dre Parker.

Teman saya pernah mengajarkan untuk selalu mengambil pelajaran dari setiap film yang kita tonton. Perlahan-lahan hal tersebut menjadi kebiasaan buat saya Photobucket.

Di postingan kali ini saya akan menuliskan satu refleksi diri yang saya dapatkan setelah menonton film ini. Filmnya sendiri bercerita tentang kung fu Photobucket. Berarti identik dengan berantem Photobucket. Tonjok-tonjokan Photobucket. Tendang-tendangan. Hantam-menghantam. Lompat sana. Lompat sini. Hajar sana. Hajar sini. Hahaha. Tentu saja kita semua sebagai penonton akan memihak pada tokoh utama di film ini. Di sinilah letak perenungan saya.

Seketika saya merasa ada perasaan “seharusnya tidak begitu”. Ketika saya menyaksikan jagoan saya, sang tokoh utama, ditonjok habis-habisan, diambang kekalahan, maka saya akan sedih sekali. “Duh, kasian. Duh, ga tega. Ya ampun, sakit banget.” Photobucket Sambil sedikit tutup mata karena ga tega melihatnya 109. Badan pun serba salah karena tidak terima dengan takdir si jagoan yang ditetapkan oleh sang sutradara. Hati saya langsung ikut-ikutan sedih Photobucket. FYI, saya memang tipe wanita yang cepat terbawa emosi Photobucket. TAPI.. ketika sang jagoan kita berhasil menghabisi si musuh, dengan pukulan yang keren, tendangan yang spektakuler, sehingga si musuh harus menerima kekalahan dan kesakitan, apa respon saya? “Yeeeyyy… Akhirnya jagoan saya menang juga (applause and yelling). Photobucket Emang enak! 69Makanya jangan jahat-jahat jadi orang!” Kasarnya saya bilang gini ke si musuh, yang sudah jatuh tertimpa tangga itu, “Rasain lo! Sukurin lo!”

So, I want to ask you, “is that normal? Is that the right response?”

Apakah ini sesuatu yang manusiawi? Atau kesalahan yang coba dipahami sehingga dianggap “manusiawi”?

Kenapa saya, yang katanya orang baik dan bertuhan ini (kata siapa??!!Photobucket), masih tega bersorak-sorai dan berpesta pora di atas kesedihan dan penderitaan orang lain? Walaupun orang lain itu adalah “musuh” saya!

Perintah untuk “kasihilah musuhmu” semakin sulit untuk saya. Karena bukan lagi hanya tentang mengasihi melalui sesuatu yang terlihat yaitu tindakan, karena tindakan bisa dimanipulasi, dibuat-buat, dipaksakan. Tapi lebih ke memeriksa hati sendiri, apakah kasih itu sungguh-sungguh datang dengan ketulusan hati, sesuatu yang tidak terlihat. (Bukan berarti tidak memerlukan tindakan ya, mohon jangan disalahartikan 4)

O God, please help me! Such a difficult task for me!

5 thoughts on “Kasihilah Musuhmu

  1. @mezo : hehehe..iya sih kalo diliat dari sisi sinematografi-nya😀

    @alice in wonderland : absolutely! but we have to live in obedient, no more option except to follow this rule..

    @ray : ah ray, ga kalah kok.. sbelas-duablas lah lo sama si anaknya will smith itu.. nyengirnya sama kok😀

    @jaja bink : trimakasi🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s