life · with family

Antara Saya Dengan Bapak, Ibu, dan Eyang

Hidup saya berwarna sekali🙂
Bagaimana tidak, saya hidup dengan seorang bapak yang sudah tidak lagi bekerja, ibu yang sudah menopause, dan eyang yang mulai kesulitan berjalan dan melihat.

Sungguh saya merasa kaya sekali dengan kondisi yang berbeda-beda dari orang-orang terdekat saya.

Bapak yang biasa bekerja di luar rumah, sekarang hampir seharian berada di rumah terus. Melihat dia canggung dengan apa yang harus dilakukan membuat saya jadi ikutan bingung.

Dan juga ibu yang unik. Menghadapi wanita yang pra atau pasca menopause ternyata tidak mudah. Emosinya sangat fluktuatif sekali. Lebih gawat dari wanita muda yang PMS. Perasaannya sangat sensitif. Harus ekstra dimengerti. Kondisi fisik yang juga tidak stabil. Sebentar-sebentar kepanasan, berkeringat, jadi merasa gerah dan akhirnya cari-cari masalah supaya dia bisa cap cip cup sambil mengerutkan dahi. Belum lagi si ibu menjadi cepat sekali sakit kepala sehingga pekerjaan rumah hampir total menjadi tanggung jawab saya.

Ditambah seorang nenek tua yang melihat sudah sulit, berjalan sudah sulit, mengingat juga sulit. Yang dia tahu hanya memerintah dan mengomel. Apalagi eyang ini seorang yang pada masa mudanya adalah wanita karir yang sukses. Jadi saya juga berhadapan dengan seseorang dengan post power syndrome. Usianya sudah 88 tahun. Dia berharap bisa hidup sampai 90 tahun. Dan itu masih 2 tahun lagi sehingga sang eyang pun merasa harus memiliki skill baru dan meminta saya mengajarkan dia cara mengoperasikan komputer dan ber-email-an dengan kawan-kawan lamanya di negeri antah berantah sana. Oh no, such a difficult task for me! Mengajarkannya menggunakan telepon selular saja saya sudah hampir menangis dan pingsan. Kali ini saya butuh buku panduan berjudul, “How to use mouse for the elderly”.

Terkadang saya ingin sekali menyewa rumah tetangga dan keluar dari kerumitan hidup di rumah ini. Atau mungkin diangkat jadi pembantu rumah tangga di rumah tetangga pun tak apa asal saya diijinkan menginap entah semalam saja untuk break sejenak dari kondisi di rumah. Hahaha.

Tapi saya merasa kaya karena dilatih sejak muda untuk menghadapi kondisi orang-orang terkasih yang mungkin saat ini tidak menguntungkan buat saya. Mereka pernah sangat berjasa membentuk saya dan mendidik saya. Mereka, orang-orang yang bisa dipastikan mengasihi saya apapun yang terjadi. Walau dengan pengekspresian yang saya tidak mengerti dimana letak kasih sayangnya.

Betapa beruntungnya saya diberikan kesempatan untuk memperlihatkan pengabdian saya kepada mereka. Saya hanya perlu terus belajar untuk bersabar dan positive thinking dengan kondisi mereka masing-masing. Saya pun akan berada di kondisi seperti itu suatu hari nanti😉

9 thoughts on “Antara Saya Dengan Bapak, Ibu, dan Eyang

  1. kita ga tahu berapa lama waktu yang kita masih punya utk ketemu keluarga kita… selama waktu itu masih ada, yuk, kita belajar mengasihi mereka dengan hal2 sederhana yang bisa kita lakukan… ngangkat telepon, just say “hi” in the morning, sms, anterin ke pasar, dll… selama kita masih punya waktu…..

  2. yup ivan, spakat..
    itu tanggung jawab yang harus kita lakukan dengan senang hati🙂

    git..you too!!
    you’ll gonna be a great mommy
    let’s find a great daddy for your children😉

  3. canggung bingung, ngung ngung ngung😀

    Mengoperasikan komputer? wih ngeri, komputernya dioperasi😛

    Memang paling sulit mengajarkan komputer kepada oma-oma sih. Saya saja bingung mau gimana. Sudah pakai papan tulis, catatan, tetap ngga ngerti ngerti😆.

    Tapi sekarang oma ku sudah tak gaptek lagiğŸ˜Ž .Bisa lah tulis email, dan punya email tentunya (mau tak mau, karena aQ nya berada di negri nun jauh). Walau menulisnya bisa 30 menit – 1 jam. Hi hi hi.

  4. sabar ya dwi sayaaang🙂 been there done that. dulu gue juga ngerasa sama kayak lo pengen jauh-jauh dari rumah. tapi sekarang gue udah litterally jauh banget dari rumah, kangennya gak pernah hilang.

  5. Like always, great post.. breathtaking article.. (sorry, istilah komentator bola kupakai disini ^^).

    “Saya pun akan berada di kondisi seperti itu suatu hari nanti ;)”

    Definitely right.. saya dan teman2 pembaca lain juga tentunya!

    So, pertanyaannya: Apa persiapan yang kita lakukan sejak kini sebelum masa itu tiba? Mari bersiap, mari memperlengkapi diri, dengan kualitas, karakter, bahkan perlengkapan tempur menghadapi masa depan. Yang dimulai dari pengenalan kita akan Sang Pemilik Hidup. Tuhan Alfa dan Omega. Oke!

    ^0^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s