life

Pengalaman Mengikuti Proses Rekrutmen

Beberapa hari ini saya dapat panggilan untuk mengikuti proses rekrutmen di tiga bank sekaligus. Hari-hari saya yang penuh dengan lamunan dan seakan-akan bergerak lambat tiba-tiba menjadi sangat sibuk dan dinamis sekali. Bangun subuh, pulang sore, tidur lebih cepat. Saya senang! Bukan karena sebentar lagi saya akan menghasilkan uang sendiri (ceileehhh, pede benerrr!! Belum tentu juga keterima :p). Saya senang karena akhirnya kehidupan saya diisi dengan kesibukan dan jadwal-jadwal padat seperti sewaktu saya masih kuliah dulu. Dan saya senang karena akhirnya dapat pengalaman interview dan mengikuti seleksi rekrutmen. Huuuff, terima kasih Tuhan!

Saya pribadi santai-santai saja menghadapi pilihan-pilihan dan seluruh proses rekrutmen ini. Bukan menyepelekan atau seolah-olah tidak membutuhkan pekerjaan. Tapi adanya panggilan untuk mengikuti seleksi ini sudah cukup membuat saya sangat bersyukur!! Karena berarti CV saya tidak salah dan yang paling penting IPK saya memenuhi standar (legaaaa!!).

Tadi pagi saya mengikuti salah satu rangkaian proses rekrutmen di salah satu bank swasta di Jakarta, sebut saja bank ABC (nama sebenarnya tinggal dibolak-balik saja :D). Sampailah pada sesi dimana kami harus mengisi data diri. Salah satu bagian yang harus diisi adalah kolom kegemaran atau hobi. Mbak-mbak HRD nya menjelaskan bahwa hobi disini adalah suatu kegiatan yang sering dilakukan dalam mengisi waktu senggang dan memberikan manfaat serta nilai tambah. Otomatis pikiran saya langsung mengarah ke “Membaca” (standar sekali!), “Menulis”, dan “Main game”. Kemudian ketika si mbak-mbak HRD tersebut berkeliling dan melihat jawaban saya, seketika dia langsung mengkoreksi.

Mbak HRD : “Perhatian ya buat semuanya! Ini ada contoh jawaban pada kolom hobi yang kurang lengkap (si mbak HRD bicara sambil menunjuk-nunjuk jari telunjuknya ke arah saya, yeahhh!!). Kalau hobinya membaca tolong dijelaskan membaca apa, bisa komik atau buku-buku motivasi dan lainnya. Kalau menulis juga begitu. Oiya, kalau main game..hmmm… Sepertinya ini bukan suatu kegiatan yang memberi manfaat dan nilai tambah karena bermain game hanya membuat orang yang melakukannya menjadi tidak produktif.”

Saya : -speechless-, dalam hati “JEPPP!!”

Akhirnya saya mengganti hobi saya dengan “Membaca novel” dan “Menulis blog”. Sementara “Main game”, saya hapus sampai bersih!

Tapi ternyata walau hobi “Main game” sudah saya hapus bersih dari lembar data diri tadi, sesampainya di rumah yang saya lakukan adalah mandi dan melakukan pemeriksaan pada progress game online facebook saya. Cafe World dan Farmville. Dan sewaktu saya memeriksa profil facebook saya, saya dibuat tercengang karena isinya mainan semua!! Saya jadi ingat kata-kata si mbak HRD tadi siang dan seketika saya merasa menyesal. Berapa banyak waktu sudah terbuang untuk bermain-main?? Saya tidak produktiiifff!! Ngapain aja sih gw slama iniiii???

14 thoughts on “Pengalaman Mengikuti Proses Rekrutmen

  1. Harusnya kak balik memprotes dong:

    1. Membuat game itu tidak mudah, perlu programmer kelas atas, bahkan untuk game-game berat, perlu suatu team developer.

    2. Memainkan game, melatih kognitif dan simulasi strategi (tergantung game nya apa)

    3. Memainkan game lebih baik daripada mencari hiburan lain yang merugikan kita (seperti night club, dll)

    4. Manusia bukan robot, manusia butuh istirahat & hiburan. Game, adalah salah satu hiburan itu.

    5. Game bisa menjadi alternatif hiburan saat kondisi tidak memungkinkan (lagi di pedalaman, atau cuaca hujan lebat sehingga tidak bisa main keluar).

    6. Game bisa membuat komunitas. Contohnya adalah pada fakultas teknologi & Informatika ANDREWS UNIVERSITY, Berrien Springs, USA. Pada jam selesai kuliah, mereka membuka laboratorium komputernya untuk dipakai bermain Counter-Strike oleh mahasiswa. Dari permainan game itu, mereka bisa mengenal satu sama lain. Sehingga keuntungannya justru ada di dunia kerja nanti. Misalnya A berkata pada perusahaannya, “saya punya teman yang ahli jaringan komputer bernama B”. A bisa kenal dekat dengan B karena sering ketemu di permainan Counter-Strike.

    Kalo kak ngga berani langsung bilang ke dia, kak tulis saja di form nya.

    Jadi, fokusnya bukan pada game nya, melainkan kepada kemampuan kita ber-counter-argumen. Saya yakin kemampuan ini juga diperhitungkan mereka. Karena, kalo dengan begitu saja mental kita sudah jatuh, bagaimana menghadapi kerja nanti?

    (hahaha saya sok tahu banget ya, pengalaman kerja ajah belum punya😛 )

  2. Haha,,, gw jg selama ini cuma nulis membaca dan menulis… harus jelas ya ternyata… dwi, dwi.. pas bener lo yg kena sih… hahahaha… sukses ya say, semoga ada yg nyangkut tuh pekerjaan…. :*

  3. aihahahahaha..dwi..dwi..tetap semangat!
    ada gunanya juga gw ga hobi nge-game.
    tapi ngomong2 gw jadi pengen ikutan gita ke rawa2. hahaha

  4. saya sangat setuju dengan sdr mikha_v tentang game.. ^_^

    Maaf kalau saya jadi menimpali artikel tentang game, hehe.. *saya yang gamer freak, tak bisa tinggal diam melihat kondisi ini..

    sepenuhnya salah jika ‘game’ langsung dicap tak bisa produktif! Bahkan tidak bermanfaat!

    Tak bisa dipungkiri, saya jadi lebih sering memakai kamus bahasa inggris-indonesia saya sewaktu bermain Role Playing Game beberapa tahun lalu! Saya melakukan kesenangan saya yaitu bermain game tapi sambil memperkaya kosakata bahasa inggris saya juga! Dan saya menyadarinya manfaat nya hingga kini!

    Produktif bisa berarti menghasilkan sesuatu kan? Dan salah satunya uang. Benar sekali, dunia game = industri game seringkali dicap hanya menghasilkan dampak yang tidak baik. Khususnya jika para konsumennya adalah orang-orang yang tidak tahu bagaimana mengambil hal positif dari game itu sendiri.

    Sebuah judul game sesungguhnya dibuat oleh sekelompok tim multi-talenta, cerdas, kreatif, dan kuat dalam kerjasama. Itu saja sebenarnya menjadi alasan mengapa kita tidak bisa secepatnya menilai dunia game ‘sebelah mata’. Hehe, memang, saya adalah game freak. Tapi, sesungguhnya, baik buruknya game, tergantung orang yang memainkannya.

    Kalau mau bicara tentang produktifitas (khususnya uang ni ya), game saya percaya tidak kalah dengan pekerjaan lain. Mengikuti banyak lomba game bahkan bisa menembus dunia internasional. Membawa nama baik negara! Bagi para seniman / orang yang terlibat dalam dunia kreatif, kadang mereka mendapat banyak ide yang ‘out of the box’ dari dunia game. Itu pun malah memperkaya orang itu sendiri di kemudian hari. So, akhirnya, gunakan hikmat dalam menikmati game itu sendiri.

    Semoga sedikit memberi info. Ok! Adios! Peace bagi yang anti-game!

  5. “Saya pikir Mbak salah, atau mungkin Mbak tidak tahu bagaimana caranya menyenangkan diri di waktu senggang dan menganggap apa yang Mbak lakukan, mungkin hanya membaca, adalah sesuatu yang tepat dan bermanfaat sekali pun itu tidak menyenangkan. Saya memilih jujur, Mbak. Meski saya tahu buku Mario Teguh bermanfaat, tapi jika jumlah halamannya melebihi Harry Potter dan Relikui Kematian, saya akan memilih bermain game ketimbang membacanya. Coba lah jujur, Mbak. Jelas Mbak, yang lulusan psikologi barangkali, belajar di bangku kuliah bahwa berbohong membuat seseorang menjadi begitu palsu, dan bisa saja was-was, seperti perempuan yang sedang selingkuh. Atau Mbak lahir dan tumbuh di keluarga jenderal kaya raya yang tidak tahu bagaimana caranya bersenang-senang dengan ongkos murah. Itu artinya Mbak tidak pernah kanak dan muda. Saya sarankan Mbak mati saja.”

  6. @mikha, bang tigor, dan arfah : sabarrr..sabar…hahahaha…

    @ernest : kita harus tetep nge-game, nes..tar resto kita bangkrut lagi..

    @keffi : aih..aih…gawat juga kalo pake liat2 profil fesbuk gw..bisa langsung di-kick iniiii…

    @gita dan sindy : apaan sih ke rawa2??? ga paham gw..

    @hanicong : amin..cong…hehehhee..

    @ray : hobi duooong…

    @petra : yaudah kalo gitu, gausah ngelamar kerja, ngelamar cewe aja..hahahhaa…

  7. hehe… emang susah sih kalo udah terbiasa spend waktu banyak buat hal yang kita anggep ga produktif… sementara sebenernya banyak hal lain yang bisa kita kerjakan…. =) untuk kasusku sih seringkali aku ga punya prioritas yang tepat…. salah juga sih… tapi kalo msh bisa tau batesan waktu, ya pasti gpp lah… hm… kalo mau lebih aman sih, dulu pernah iseng buang cd2 gameku, krn takut nyita waktu, toh kalo lagi cape n butuh refreshing, bisa dialihkan ke hal “positif” lainnya, misal main musik, ngobrol/sharing ama orang lain…. hehe…

  8. like thisss…iya,,, maen lah,, tar restonya bangkrut ga ada biaya hiduup lagi,, wakakakakaak,,, apesss apees kamu dwi,,, :p… pas kenaaa jadi contoh… :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s