merenung · with family · with friends

Jangan Salahkan Saya!!

Seluruh makhluk hidup sepertinya diberi perlengkapan untuk mempertahankan dirinya. Contohnya, cicak dengan teknik defensifnya yang dikenal dengan autotomi, atau landak dengan duri-duri disekujur tubuhnya yang digunakan sebagai pertahanan diri terutama pada saat tidur.

Manusia pun diberikan kemampuan untuk mempertahankan diri. Bisa dengan keahlian bela diri atau menciptakan teknologi yang bernama senjata. Tapi kali ini saya akan berbicara tentang kemampuan mempertahankan diri manusia dari serangan kritik.

Pada umumnya kita tidak suka jika kebiasaan atau kepribadian kita diserang secara terbuka oleh orang lain. Kritik menjadi sesuatu yang bersifat menyakitkan bagi kita. Kita menjadi seseorang yang beranggapan bahwa orang lain tidak pernah mengerti berada di posisi seperti saya. Kemudian dengan kemampuan berpikir yang canggih disempurnakan dengan kemampuan berbicara yang lihai, terjadilah pembelaan dan pembenaran diri untuk melindungi kita dari serangan kritik tersebut.

Intinya kita hanya ingin mengatakan, “Tolong jangan salahkan saya kalau saya menjadi seperti ini, atau kalau kondisi menjadi seperti saat ini! Ini bukan tanggung jawab saya!”

Kalalu begitu, siapa yang mau disalahkan???!!

Baiklah, saya akan membuat tulisan ini dengan lebih santai.
Huff, maksud saya begini. Apa yang akan terjadi jika setiap manusia terus membangun tembok dari besi baja sehingga tidak bisa diserang panah kritik? Manusia-manusia hanya akan berakhir sebagai suatu bangunan yang berdiri sendiri. Dan itu berarti manusia hanya mengingkari kodratnya yang diciptakan sebagai makhluk sosial. Makhluk yang seharusnya menyatu dengan sesamanya. Dengan lingkungannya.

Lebih baik masing-masing kita berbesar hati menerima setiap kritik. Bukan berkeras hati. Saya pikir kritik itu diberikan untuk membuat kita lebih bisa diterima oleh lingkungan. Menyempurnakan kodrat kita sebagai makhluk sosial yang memberi dan menerima. Mengasihi dan dikasihi. Berbicara dan mendengarkan.

Jangan bangun tembokmu dengan menutup mata, telinga, dan hati. Kesediaan untuk terus berubah dan belajar akan membuat kita lebih diterima oleh lingkungan sekitar kita, terutama untuk orang-orang yang mengasihi kita.

Ayo terus belajar dan berubah untuk memperbaiki diri.

3 thoughts on “Jangan Salahkan Saya!!

  1. Gw jadi ingat dengan komentar Arfah dan Ikram ketika masih Redaktur Artistik. Ketika itu “jangan salahkan saya” masih melekat apalagi mendapat kritik tentang artistik yang memang tidak bagus.

    Komentar mereka, “sudah jangan ngeles lagi gio, kalau jelek ya jelek aja. Ada saatnya orang melihat apa yang ada bukan bagaimana prosesnya.

    Disitu ada kontradiktif, Gue belajar sesuatu dan bilang. “Ayo salahkan saja saya.”

    Yah benar, disalahkan orang lain, entah itu didepan umum atau tidak, baik kok..

  2. tulisan ini menarik sekali. tapi disisi lain saya sedang diajar oleh atasan saya untuk tidak menyalahkan orang lain. belajar untuk menerima dan menghargai kemampuan dan keterbatasan orang lain, sama sulitnya dengan menerima kritikan. ini untuk menghindari konflik yang berkepanjangan karena menjatuhkan konsep diri dan kepercayaan diri orang yang bersangkutan juga untuk membuat diri kita sadar bahwa kita berharga dimata orang lain dan tidak menjadi sombong. menyadarkan juga bahwa kita masing2 punya kelemahan. tidak terus berputar dan bertahan dalam masalah menyalahkan tapi terus maju mencari solusi yang tepat untuk melangkah mencapai kemajuan mencapai tujuan. selamat bertumbuh dalam karakter ilahi!!!

  3. yang dipersoalkan di sini terlebih pada gaya penyampaian kritiknya. Ada yang blak-blakkan (yang tidak disukai orang pada umumnya), ada juga yang baik-baik tapi dalam maknanya dan justru mengubah kita.

    Gaya penyampaian kritik ini juga tergantung konteks & situasi yang dihadapi oleh penyampai kritik. Pada kondisi yang darurat atau kritis, biasanya mereka akan memakai gaya blak-blakkan. Tapi pada kondisi yang lebih santai dan bersifat jangka panjang, barulah mereka bisa sampaikan baik-baik.

    Jadi memang “dunia kritik” tidak sederhana ya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s