life · merenung

Waktu dan Janji

Hari-hari saya dipenuhi dengan berbagai jadwal dan janji ini-itu. Janji atau kesepakatan pastinya dibuat oleh dua orang atau lebih secara bersama-sama. Saat segalanya berjalan harmonis, tentu hari-hari akan semakin mudah dijalani. Setiap pagi terbangun, segalanya terlihat cerah. Istirahat malam hari pun menjadi berkualitas karena tidak banyak pikiran.

Tapi kenyataannya waktu yang kita miliki memang terbatas dan hal ini menyebabkan terjadinya benturan antara jadwal yang satu dengan yang lain atau janji yang satu dengan yang lain. Konflik kepentingan pun mulai bermunculan. Prioritas mulai dibutuhkan oleh setiap orang. Hal-hal yang dirasa lebih penting akan diutamakan. Dan sebaliknya, yang tidak terlalu mendesak untuk sementara waktu akan dipending dulu. Kemudian muncul pihak-pihak yang terpaksa harus kita korbankan untuk sesuatu yang kita anggap lebih penting itu. Akhirnya konflik batin pun terjadi.

Saya adalah tipe orang yang people-focused, relationship-focused. Saya akan mendahulukan hal-hal yang berhubungan dengan orang lain. Atau mendahulukan sesuatu yang berkaitan dengan keberlangsungan suatu hubungan. Sedihnya, seringkali orang-orang yang membuat kesepakatan tersebut tidak berpikir seperti saya berpikir. Beberapa orang tipe goal-oriented atau task-oriented akan lebih mengutamakan target-targetnya atau pekerjaannya. Maka sering sekali janji yang menurut saya berada dalam kelompok high-priority, dibatalkan oleh pihak lain terutama dari orang-orang dengan tipe tersebut. Saya pun jadi kecewa. Satu kali. Dua kali. Cukup sudah. Akhirnya saya pun belajar untuk mulai membongkar prioritas saya.

Alasan utama saya kecewa adalah karena saya tidak suka jadwal yang sudah saya buat dengan berbagai pertimbangan itu, menjadi berantakan. Saya adalah tipe orang yang well-planned sehingga segala sesuatu yang tidak sesuai dengan jadwal akan membuat saya frustrasi. Saya sangat menghargai waktu dan janji. Menurut saya, kedua hal tersebut adalah sesuatu yang sakral. Kenyataannya banyak orang disekitar saya yang tidak terlalu menganggap hal tersebut penting.

Akhirnya saya lah yang perlahan-lahan belajar untuk menjadi fleksibel dengan waktu dan janji. Belajar untuk tidak menjadi kecewa dengan janji-janji yang dibatalkan. Padahal beberapa janji sudah saya highlight karena merupakan hal yang penting buat saya. Sudahlah. Saya juga tidak bisa memaksakan orang lain untuk mempunyai persepsi terhadap waktu dan janji seperti saya.

They have their own life. And I have my own. Atau perlukah saya berubah menjadi seseorang yang self-focused saja? So I will be in the right place of not getting hurt or upset.

….completely confused….

4 thoughts on “Waktu dan Janji

  1. Waduh gawat nih, saya soalnya termasuk orang yang “fleksibel” dengan janji dan waktu. Haha😀

    Hmm saran saya, kalo kak yakin sudah well-planned, ya ada baik nya membuat plan B juga. Sehingga apabila rencana utama gagal atau berantakan, masih ada “jalan keluar” ke plan B, C, D.

    Yang kedua, kalo memang lingkungan di sekitar kita “fleksibel” dengan janji dan waktu, sebaiknya kita yang membuat semacam margin.

    Sebagai contoh, kita harus ada di Airport pukul 09.00. Tapi, kita sudah datang pukul 08.00. Artinya, kita memiliki margin satu jam. Atau, deadline tugas tanggal 15, kita sudah mengumpulkan tanggal 14. Artinya, kita memiliki margin 1 hari.

    Begitu juga dengan menghadapi orang lain yang sering ngaret. Apabila kita membuat janji untuk bertemu jam 15.00, jangan katakan kepada mereka kalau kita ingin bertemu jam 15.00. Melainkan, misalnya pukul 14.15 atau 14.09. Sehingga, kita punya margin dalam menunggu kehadiran mereka.

    Yaa fungsi margin ini bukanlah untuk mengkompromikan waktu dan janji yang sakral itu, melainkan supaya kita sendiri yang santai, tidak terlalu stress dalam menjalani janji dan waktu yang strict.

  2. hm…. menurutku buat siapapun, pembentukan karakter butuh proses… proses butuh waktu…. yang paling penting, kita ngerti kapan harus berubah… gmn bisa ngerti? ya lewat komunikasi… =) jgn sungkan tunjukkin ke orang lain kalo lo emang tipe menghargai waktu… they should know about it… skali lagi, proses butuh waktu, jangan menyerah!! =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s