life · melankolis · merenung · quotation · with friends · with Him

My Surrender

Bandung hujan sore ini. Entah kenapa, ternyata kondisi cuaca di luar sana begitu mempengaruhi suasana hati saya saat ini. Saat langit semakin mendung, suasana hati pun demikian.

Perkenalkan, saya Dwi, makhluk paling melankolis yang pernah ada!

Saya menangis saat mengekspresikan segala sesuatu. Saat senang. Putus asa. Sedih. Mencapai kesuksesan. Marah. Untungnya saya tidak menangis saat lapar. Hahahaha.. (emang masih bayi!).

Ralat! Perkenalkan, saya Dwi, makhluk paling cengeng yang pernah ada!!

Masih berhubungan dengan postingan terakhir saya tentang beberapa orang yang mulai ditarik dari kehidupan saya, sekarang mereka benar-benar sudah mulai pergi. Satu per satu. Akhirnya hilang. Kosong.

Sindy Allrani. Gitaditya Witono. Dwi Arryma Niza. Retno Isnarwati. Tigor Boraspati. Kiki Fernando. Sarah Rainy.

Who’s next?

Hidup memang sebuah misteri. Terlalu banyak hal yang tidak dimengerti, datang. Terlalu banyak hal yang tidak diharapkan, terjadi. Dan Tuhan memang tidak pernah terselami jalan pikiranNya. Saat segala sesuatu tampak baik, ternyata Dia berencana lain. Saat segala sesuatu tampak berat, Dia membiarkannya.

Sebagai manusia, saya masih terus menyusun puzzle kehidupan yang berantakan. Sempat tersusun suatu gambaran masa depan yang terlihat indah. Tapi lagi-lagi, Sang Pemilik Kehidupan ini membongkarnya. Hancur. Dan saat ini, saya kembali terduduk lemah menyusun keping-keping kehidupan untuk suatu masa depan yang penuh damai sejahtera.

Tapi saya hampir putus asa. Pandangan saya kabur. Air mata sudah tak terbendung lagi. Tangan saya terlalu lemas. Kaki saya pun terlalu lelah untuk berjalan mencari kepingan lain yang terbang berhamburan. Ya Bapa, aku perlu pelitaMu. Berikan aku mataMu. Berikan aku tanganMu. Berikan aku kakiMu. Sesungguhnya, hanya kekuatan dariMu saja yang bisa kuandalkan saat ini.

Tuhan, berikan aku hatiMu. Untuk dapat memahami rencanaMu. Paling tidak, untuk dapat memahami kalau setiap apa yang pernah, sedang, dan akan terjadi, adalah baik buatku.

“there are things we don’t want to happen but have to accept, things we don’t want to know but have to learn, and people we cannot live without but have to let go..”

4 thoughts on “My Surrender

  1. berlebihan..

    cem tak ada teknologi aja..

    u know times like that would come.. gak mungkin kan kita serumah terus sampe nikah dan punya anak? ga mungkin kan jadi mahasiswa abadi, ga lulus2 hanya supaya tetap bersama ama teman..
    life goes on, man..
    satu2nya yg ga akan pernah pergi dari hidupmu cuma suami.. ortu, teman, anak,, semua akan ‘pergi’ dengan makan ‘pergi’ masing2..

    ck ck..🙂

  2. “Tuhan memang tidak pernah terselami jalan pikiranNya..”

    Betul, jalan pikiran Tuhan bukanlah irasional (tidak masuk akal), melainkan trans-rasional (melampaui akal manusia).

    “Saat segala sesuatu tampak baik, ternyata Dia berencana lain..”

    itu berarti Tuhan ingin kita mendapatkan yang lebih baik daripada sekarang. Walau berarti harus lewat beberapa ujian dan cobaan.

    “Sebagai manusia, saya masih terus menyusun puzzle kehidupan yang berantakan.”

    Pada saat puzzle itu tersusun semua..barulah kita akan bisa mengatakan ‘oooooohhh ini ya maksud Tuhan mengapa saya harus melewati A B C dulu??’😀

    “Saat segala sesuatu tampak berat, Dia membiarkannya…”

    ~~He works in way we cannot see~~

    berikut sedikit email-2an saya dengan teman saya, mbak Stenia:

    Mbak Stenia: Seringkali ketika kita dalam suatu pergumulan, kita mencoba share dengan orang-orang terdekat kita, mereka akan menyampaikan “mari…berdoalah dan berharaplah pada Tuhan” dan ketika kita mendengarnya tak jarang kita akan berpikir “berdoa dan berharap terus tetapi tidak mendapatkan jawaban…..ughhh…cape deh…kemana dan kapankah jawaban Tuhan…apakah Tuhan tidak mendengar doa saya!!!” bener atau benar??? well jawab dalam hati saja yah…

    Saya: Saya sudah membaca buku “Too Busy Not to Pray” karangan “Bill Hybels”. Yah sebenarnya sih belum selesai bacanya, tapi lama belum diteruskan hahaha (yah kebiasaan buruk, baca buku selalu setengah selesai). Ada beberapa hal yang saya mau bagikan:

    Apabila melihat struktur doa bapa kami, bagian awal doa itu adalah pujian kepada Tuhan. Dan yang uniknya, bagian permintaannya justru pendek (berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya).

    Bagian pujian kepada Tuhan ini yang mungkin sering kita lupakan, atau kita anggap sebagai formalitas saja. Kita langsung buru-buru ke bagian permintaan dan mengungkapkan ribuan keluh kesah serta masalah-masalah yang kita hadapi.

    Padahal, dengan memuji Tuhan terlebih dahulu; misalnya dengan menyebutkan sifat-sifatnya (Allah yang Maha besar, maha berdaulat, maha kuasa, maha pengasih, maha adil, maha kudus), maka fokus kita akan beralih kepada sifat-sifat Allah, kepada segala ke-MAHA-an Allah dan luar biasanya Allah kita. Sehingga fokus kita bukan lagi kepada masalah yang kita hadapi, melainkan kepada Allah.

    Memuji Tuhan bisa juga dengan menyanyi menyembah Tuhan sebelum berdoa.

    Yang kedua. apabila kita merasa doa tidak dijawab-jawab, ya memang jawaban Tuhan tidak pernah terlambat, tapi tidak pernah juga terlalu cepat. Melainkan tepat waktu (http://www.upperroom.org/devotional/default.asp?x=111&y=7&month=9&day=29&year=2009)

    Jadi buat apa dong berdoa? Ada satu ilustrasi begini. Misalnya, keluarga saya di kota lain datang ke tempat saya, dan mereka menginap di satu hotel bertingkat. Saya datang ke hotel itu untuk bertemu mereka. Karena sangking kangennya, saya menekan tombol lift berkali-kali. Itu tidak akan membuat lift lebih cepat, tapi itu membuat saya nyaman. Begitu juga saat kita berdoa, kita tidak bisa mempercepat maupun memperlambat jawaban Tuhan, karena jawaban Dia selalu tepat waktu. Tapi dengan berdoa, kita akan merasa nyaman dan semakin dekat dengan Tuhan selama penungguan jawaban dari Tuhan.

    “Tapi saya hampir putus asa. Pandangan saya kabur. Air mata sudah tak terbendung lagi. Tangan saya terlalu lemas….”

    Komentar saya, saya maksudkan untuk point yang ini. Hal-hal seperti itu memang manusiawi dan justru membuktikan kita tidak bisa bergantung pada seorangpun kecuali Tuhan. Tidak ada yang melarang kok, dan tidak berdosa😛

    Tapi di sisi lain, sedih, kecewa, putus asa, tidak bisa mengubah sesuatu toh? Daripada buang-buang energi untuk hal tersebut, lebih baik nyanyi-nyanyi memuji Tuhan, baca alkitab, baca renungan, sharing Firman Tuhan dengan orang2 yang bisa diajak share, yah dan inilah prinsip saya menjalani tahun 2007 sampai sekarang🙂

    OK semoga membantu ya kak😀 Tuhan Menyertai🙂

  3. @cyndi : iya ciiin…aku lagi berusaha scepatnya!!uuuhhh..cape nih ama TA..bosaaann!!

    @iyet : ah kamyuu..ngerusak flow ajah!! kayak ga kenal aku ajah…

    @mikha : makasiii mikha🙂 sangat menguatkan sekali lho komen dari kamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s