life · merenung

Sedikit Bicara Banyak Mendengar

Katanya alasan Tuhan menciptakan manusia dengan dua telinga dan satu mulut adalah supaya manusia mendengar dua kali lebih banyak dibandingkan berbicara. Nyatanya begitu banyak manusia lebih banyak bicara dibandingkan dengan mendengar.

Saya?
Saya adalah salah satu manusia yang lebih banyak bicara dibandingkan mendengar. Terutama untuk hal-hal yang diluar akal sehat saya. Hal-hal yang tidak bisa saya terima. Hal-hal, yang buat saya, adalah sesuatu yang aneh!

Baru-baru ini saya terlibat dalam suatu perdebatan. Adu argumen. Masing-masing pihak merasa paling benar. Tidak sabar menanti giliran berbicara dan akhirnya memutuskan untuk memotong perkataan lawan bicara. Begitu pula si lawan bicara. Sepertinya dia memiliki pikiran yang sama karena dia pun memotong perkataan saya.

Dalam perdebatan yang tidak sehat, atau yang biasa disebut dengan pertengkaran sengit, kedua pihak hanya mau mengutarakan pendapatnya tanpa mau mendengar pendapat yang lain. Kedua pihak hanya mau dimengerti tanpa mau berusaha mengerti. Kedua pihak merasa paling benar dan paling berhak untuk berbicara. Kedua pihak tidak mau mendengar dan tidak peduli dengan apapun yang dibicarakan si lawannya tersebut.

Tanpa solusi. Tanpa kedamaian saat akhirnya kedua pihak memutuskan untuk diam. Lelah. Sakit hati.

Beginilah kondisinya kalau kedua pihak mengeraskan hatinya. Tidak mau dikritik. Tidak mau dinasehati. Tidak mau menghargai opini orang lain. Tidak mau mengalah. Egois.

Seandainya salah satu pihak memilih untuk berdiam dan mau mendengar, maka pasti akan ada jalan keluar. Seandainya salah satu pihak memilih untuk tetap berkepala dingin dan mau mendengar, maka pasti akan tercipta kedamaian.

Seandainya…
Ada yang mau…
Mendengarkan…
Saya!

Malam itu, dalam suatu perdebatan, hati saya berkompromi dengan bibir saya. Hati saya memilih diam untuk mendengar. Tapi bibir saya, yang dibantu otak saya, tidak mau berhenti bicara. Namun akhirnya saya memutuskan untuk diam dan memilih untuk mendengar. Saat yang lain sudah terdiam, saya cuma bisa berkata, “Terimakasih. Aku sangat menghargainya.”

Bukan karena bibir hanya satu. Telinga ada dua. Mata ada dua (belum dihitung mata hati dan mati kaki :p). Bahkan jari tangan berjumlah sepuluh.

Karena pada dasarnya, bibir bisa salah. Telinga bisa salah. Mata bisa salah. Tangan pun bisa salah.

Itulah mengapa Tuhan menciptakan “hati”. Sesuatu yang tersembunyi dengan kuasa yang paling besar. Dan itulah mengapa Tuhan hanya menciptakan “satu” hati. Supaya hati yang punya kuasa besar itu tidak saling berdebat😛

“If you have good sense, you will listen and obey; if all you do is talk, you will destroy yourself.” Proverbs 10:8

2 thoughts on “Sedikit Bicara Banyak Mendengar

  1. ada orang bilang, Tuhan memberikan manusia dengan 2 mata dan 2 lutut menghadap ke depan agar manusia dapat terus melangkah maju dan tidak pernah melihat ke belakang.
    karena semua bagian dari diri kita bisa salah. tapi yang paling penting adalah bagaimana kita bisa belajar dari kesalahan tersebut ^_^

  2. betul banget…seni komunikasi terletak pada “mendengar”. Karena kalo sudah debat kusir, sebagus dan sebenar apapun yang kita sampaikan, tapi kalo orang lain tak mau dengar..yah percuma😀

    Mungkin harus dibuat etika berdebat nih. Misalnya, yang ditonjolkan adalah kekuatan argumentasi, bukan kekuatan penghakiman (kamu sesat, kamu ngaco, kamu mengada-ada, saya yang paling benar, saya yang paling hebat, dsb).

    Dengan begitu, debat akan menjadi lebih sehat. Karena yang diadu adalah argumen, bukan penghakiman. Yang diadu adalah akal, bukan emosi.

    Tapi, entah kenapa, sulit sekali menghilangkan kebiasaan penghakiman dan adu emosi ini dalam debat apapun, terutama (menurut pengalaman saya) dalam debat intern & antar agama. Dan kalo boleh jujur, itu alasan saya keluar dari banyak milis dan forum kristen, karena isinya kebanyakan hanya debat-debat yang hanya adu emosi dan penghakiman.

    Sejauh ini, hanya sedikit sekali teman saya (mungkin hanya 1 orang) yang bisa menganut prinsip di atas dalam debat (mendengarkan lawan debat, mengedepankan argumentasi yang sangat kuat TANPA penghakiman, dan adu akal bukan adu emosi).

    Duh maaf, jadi curhat panjang lebar berputar-putar😀 .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s