life · merenung

Kita Cuma Manusia

Manusia adalah unik. Kita semua sudah mengetahui kalau tidak ada seorang pun yang serupa di dunia ini. Saya tidak bicara tentang fisik kali ini, tapi tentang kepribadian, karakter, paradigma, dan emosinya.

Manusia adalah makhluk sosial. Kita juga sudah sama-sama mengetahui kalau manusia satu pasti membutuhkan bantuan dari manusia lainnya. Maka ada yang namanya persahabatan, keluarga, kekasih, geng, komunitas, tim, bahkan negara.

Saya jadi mengerti kenapa Tuhan menciptakan setiap manusia berbeda satu sama lain. Yah kalau setiap manusia sama, dunia ini akan berjalan seperti perusahaan manufaktur saja, monoton. Tidak ada “gereget“-nya kalau kata Ibu saya. Jika setiap manusia diciptakan dengan karakter dan pemikiran yang sama, kita masing-masing sudah saling mengetahui apa yang ada di pikiran si orang itu, apa yang akan dilakukan si orang itu. Sayang sekali, tidak lagi ada misteri dalam hubungan antar manusia.

Tapi perbedaan antara manusia ini seringkali menghasilkan konflik. Terutama, menurut saya, diakibatkan karena miskomunikasi. Itu adalah penyebab utama gesekan-gesekan yang terjadi diantara hubungan.

Saya punya contoh. Orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Orang tua mana yang tidak seperti itu? Tapi maksud baik orang tua tidak pernah bisa dimengerti oleh anak-anaknya. Anak mana yang selalu dapat mengerti? Yang saya tahu, dari pengalaman saya sendiri dan pengalaman orang lain, selalu terjadi salah pengertian antara dua pihak ini. Misal, orang tua selalu mengeluh karena anaknya tidak mau disuruh belajar. “Kan demi kebaikan dia, demi masa depannya.” Orang tua memikirkan sedemikian apik bagaimana agar anaknya memiliki masa depan yang baik. Mulia bukan? Namun si anak selalu mengeluh, “Ah, saya tertekan hidup dengan orang tua seperti itu. Saya selalu dipaksa untuk belajar. Mereka tidak pernah paham kalau saya stres karena kesulitan menghadapi pelajaran-pelajaran ini. Saya pasti akan membuat mereka senang dan bangga kok. Tapi dengan menjadi atlet sepak bola, bukan ilmuwan.” Dua-duanya punya maksud yang baik. Tapi tidak dikomunikasikan dengan seharusnya. Dua-duanya merasa benar dengan pendapatnya. Sehingga konflik itu muncul. Orang tua marah dengan anaknya. Anak sakit hati dengan orang tuanya.

Contoh lain (Semoga anda masih betah membaca). Ada sepasang kekasih yang membuat janji untuk kencan di waktu tertentu. Tidak jarang salah satu pihak akan terlambat beberapa menit. Dalam kasus ini, biasanya si wanita selalu memberi kabar jika akan terlambat walau pun dia tahu hanya akan terlambat satu menit. Selalu terulang hal yang sama. Si pria selalu datang tepat waktu dan harus mendapatkan sms pemberitahuan dari si wanita karena dia akan terlambat sekian menit. Suatu saat si pria ada acara tertentu yang membuatnya terlambat untuk datang kencan. Namun si pria tidak melakukan seperti yang wanita itu biasa lakukan, memberi kabar tentang keterlambatannya. Si pria, setelah selesai dari acara tersebut, terburu-buru ke lokasi tempat mereka janjian. Dia sudah cukup merasa bersalah karena keterlambatannya itu. Dan ketika sampai, tetap saja, si wanita cemberut. Kecewa karena si pria tidak memberi kabar tentang keterlambatannya. Marah atau yang orang-orang sering bilang ngambek atau pundung.

Pelajaran apa yang didapatkan dari cerita sepasang kekasih ini?
Kita seringkali menuntut orang lain melakukan hal yang sama dengan apa yang sudah kita lakukan. Kita seringkali menuntut orang lain memikirkan hal yang sama dengan apa yang kita pikirkan. Padahal setiap manusia punya pikiran dan gayanya masing-masing. Dan kita masing-masing tidak bisa menyelami apa yang ada di hati dan pikiran orang lain.

Ini yang selalu terjadi antara saya dan kakak saya. Setiap dia memerlukan bantuan dalam tugas-tugasnya, saya selalu siap sedia membantu. Tapi kenapa setiap saya yang memerlukan bantuan, dia tidak pernah bisa membantu? Apa saya berhak marah dengan kakak saya itu? Adilkah saya berlaku seperti itu? Tidak, saya pikir. Dia punya cara sendiri menunjukkan rasa sayangnya pada saya. Mungkin dengan menraktir saya makan, nonton, belanja, dan sebagainya. Atau melakukan hal lain yang tidak saya sadari merupakan wujud kasih sayangnya pada saya, yaitu sesuatu yang tidak bisa saya lakukan untuknya.

Apakah anda mendapatkan benang merahnya? Saya sendiri jadi bingung kemana arah tulisan ini mau saya bawa. Tapi yang saya mau tekankan, kita sebagai manusia, yang unik dan cuma satu-satunya di dunia ini, harus mengerti kalau kita semua diciptakan berbeda. Menurut saya, ini akan membuat kita lebih rileks menjalin hubungan dengan siapapun. Jika kita merasa tersakiti atau kecewa karena perbuatan orang lain, ingat saja belum tentu kita sudah sempurna memperlakukan orang lain juga. Karena pada dasarnya, tidak ada niat jahat dalam hati setiap manusia. Hanya seringkali caranya saja yang tidak dapat dimengerti oleh pihak lain. Dan diperlukan kerendahan hati dan tidak merasa benar sendiri, untuk mau memahami perasaan dan cara pandang orang lain dalam rangka meminimasi miskomunikasi yang terjadi. Hanya meminimasi saja, karena tidak mungkin tidak ada miskomunikasi.

Well, ini hanya pemikiran saya. Dan sebagai wujud kalau saya sudah cukup paham dengan perbedaan yang terjadi diantara manusia, saya sama sekali tidak memaksa anda memiliki pemikiran yang sama dengan saya😉 hehehe…

6 thoughts on “Kita Cuma Manusia

  1. (maaf kalo komentar saya menyinggung sara hihihi…)

    Yah mirip-mirip gereja-gereja juga sih pada masa kini. Yang tua ingin syahdu, khidmat, tenang. Yang muda ingin radikal, semangat, heboh, aktif. Yang muda mengajukan proposal untuk membeli perlengkapan tertentu dan aktifitas tertentu, yang tua menolak atau tidak menanggapi dengan serius. Akibatnya yang muda merasa ke gereja hanya menjadi suatu rutinitas dan liturgi yang membosankan. Atau malah ngga mau ke gereja lagi.

    Saya tidak bermaksud berdebat atau membela pihak manapun. Tapi, memang saya sedih karena beberapa teman saya memiliki pergumulan di atas.

  2. Maha Sempurnanya Tuhan menciptakan manusia berbeda2 utk saling mengenal satu sama lain dan utk saling mengasihi. Dalam penciptaannya memang berbeda, tapi tak lupa Tuhan mengenalkan bahasa yang sama ‘bahasa cinta’. Bahasa yg mampu mengeratkan perbedaan menjadi kekuatan dalam mewujudkan visi hidup damai di tengah perbedaan.

  3. @mikha: iya mik..gereja pun harus belajar berkomunikasi lebih lagi ya..kan semuanya juga punya tujuan agar Allah yang dimuliakan..kenapa jadi cekcok?

    @petra: iya itu dia pet..toleransi maksud gw..halah.halah…

    @gio: masa ga dapet siih gio?? gimana kalo kita loncat sama-sama aja?hehehe..

    @hanicong: makasiiii🙂

    @dias: dias..makin bijaaak… :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s