dwihut · merenung

Dreams

Do you wanna be a poet and write
Do you wanna be an actor up in lights
Do you wanna be a soldier and fight for love
Do you wanna be travel the world
Do you wanna be a diver for pearls
Or climb a mountain and touch the clouds above
Be anyone you want to be
Bring to life your fantasies

Are you gonna be a gambler and deal
Are you gonna be a doctor and heal
Or go to heavean and touch God’s face
Are you gonna be a dreamer who sleeps
Are you gonna be a sinner who weeps
Or an angel under grace

Rangkaian kata di atas bukan puisi tapi sedikit bagian dari lirik sebuah lagu, yang pastinya bukan buatan saya. Lirik di atas diambil dari lagu “Burn” yang dinyanyikan oleh Tina Arena. Lagu yang sudah cukup lama dan bisa didengarkan di koleksi video Vodpod saya.

Lagu ini mengingatkan saya tentang mimpi-mimpi  yang pernah terlintas di masa kecil dan masa ABG saya dulu.

Saya pernah bercita-cita menjadi astronot, semenjak saya diperkenalkan dengan alam semesta yang luas dan segala misterinya.

Saya pernah bercita-cita menjadi pendeta. Itu karena saya melihat seorang pendeta perempuan berkhotbah di gereja untuk pertama kalinya. Dan menurut saya, pendeta perempuan itu luar biasa. Saya suka caranya menyampaikan khotbah dan lelucon yang dilontarkannya.

Saya pernah bermimpi suatu hari nanti bekerja di Disney Land. Saya mau melihat Mickey Mouse dan teman-temannya secara langsung. Dan supaya saya bisa bebas bermain di setiap wahana yang ada di sana. Saya mau hidup di antara dunia mimpi itu. Live in fairy tales.

Saya pernah bermimpi jadi ahli sejarah. Saya suka sekali dengan cerita-cerita tentang aaman peradaban. Mitologi Yunani, Romawi, dan Mesir. Saya juga penasaran dengan misteri matinya Marie Antoinette, yang konon katanya melalui hukuman guillotine atau dipenggal kepalanya, misteri ditembaknya John F. Kennedy dan munculnya Perang Dunia I yang hanya diakibatkan oleh dibunuhnya putra mahkota Austria-Hongaria, Francis Ferdinand, di Sarajevo. Sampai sekarang saya masih suka mengikuti cerita tentang Hitler dan kepemimpinan diktatornya. Misteri partai komunis di Indonesia bahkan cerita-cerita mistis yang berhubungan dengan zaman kerajaan di Indonesia.

Saya pernah bercita-cita menjadi dokter. Kenapa tidak? Kebanyakan dari anggota keluarga besar berprofesi sebagai dokter atau paling tidak terjun ke dunia medis. Ditambah eyang saya yang selalu mengiming-imingi dengan rayuan kalau betapa mulianya profesi dokter karena bisa melakukan banyak pekerjaan sosial tanpa harus menjadi miskin.

Saya juga pernah bercita-cita menjadi arsitek. Ini adalah cita-cita yang paling lama saya pegang. Saya suka merancang soalnya. Saya suka bermain The Sims, Roller Coaster Tycoon, SimCity, dan beberapa permainan sejenis.

Saya pernah bercita-cita menjadi wartawan. Tante dan Om saya adalah pasangan wartawan. Saya suka melihat kehidupan mereka yang sering sekali pergi ke luar kota dan luar negeri untuk mencari berita. Mulai dari sekedar wawancara ibu-ibu penghasil kerajinan tangan sampai meliput acara Olimpiade di Atlanta beberapa tahun lalu. Saya suka mendengarkan Tante saya bercerita tentang betapa bersihnya negara A, betapa uniknya kota B, dan hal-hal menakjubkan lainnya.

Saya pernah bermimpi jadi penulis puisi dan novel. Kalau ini impian sewaktu SMA. Ditambah lagi saya suka membaca dan menulis sejak kecil. Mimpi ini juga semakin mendesak saya ketika saya melihat banyak penulis wanita hebat mulai bermunculan. Puncaknya adalah ketika saya membeli buku kumpulan cerpen karya penulis-penulis wanita Indonesia. Judulnya “Perempuan Punya Cerita.” Girls, you’re all awesome!

Saya suka masa kanak-kanak saya. Saat hidup dipenuhi dengan rasa ingin tahu yang besar. Dimana hidup dibangun dari mimpi-mimpi yang, menurut saya sekarang, brilliant!!

Sekarang saya cuma bisa berpikir realistis saja. Dan meninggalkan mimpi-mimpi yang terus melambai-lambai di belakang sana. Saya kuliah di Jurusan Teknik Industri. Kerjakan dan selesaikan TA secepatnya. Lulus dan cari kerja yang memberikan gaji paling tidak cukup untuk hidup di kota besar. Cari suami. Kalau tidak dapat dengan usaha sendiri, hukum Siti Nurbaya pun berlaku, melibatkan orang tua dalam pencarian ini😉. Kemudian menikah. Dan menjalani hidup yang tipikal.

Haruskah saya hidup sesederhana ini?

Tidak! Saya mau menjalani hidup yang berbeda. Saya mau menjadi pribadi yang unik, yang berpikir out of the box, dan menjalani hidup yang luar biasa. Ada yang mau bergabung dengan saya? Mari membangun mimpi bersama🙂. Because there is no stupid or impossible dreams.

13 thoughts on “Dreams

  1. ka,,itu ngga sederhana koq,
    sebuah kegiatan sedehana untuk rencana-rencana besarNya nanti….
    ayo kak,tetap semangat…
    klo ga bisa jd arsitek,,paling ngga cari calon suami arsitek

    ahahahah…

    kak,,gimana cita2 punya salon..?
    masih terpikirkan

  2. wew,, banyak juga yah mimpi2 lo di masa kecil.. kalo gw inget2 masa kecil gw, gw dkit euy mimpinya,hehe.. cuma bermimpi jadi seorang arsitek.. dan itu juga ga kesampean,hehe.. malah terjun di dunia listrik jadinya..hoho.. dulu sekagum2nya ma david beckham juga gw tapi ga pengen jadi pemain bola.. kenapa yah!?hehe.. apa karena pemain bola dalam negri ga terjamin yah?hihihi..
    yahhh.. tapi gw yakin sekarang gw berada di dunia ini juga pasti ada suatu rencana indah yang sudah Dia siapkan buat gw.. begitu juga buat lo,wi.. semangat yow!!
    Gbu

    btw, dua kali gw ngakak di postingan lo ini,,ckkckck..

  3. Banyak juga cita-cita elo yah,,haha..
    Tapi yang beririsan ama gua cuma satu aja..
    Sepakat,,kita harus bermimpi yang besar..
    Lagian katanya,,jangan bermimpi hal-hal kecil karena hal-hal kecil gak akan ngegerakin hati kita..
    Mimpi yang besarlah yang bisa menggerakkan hati kita untuk membuat itu menjadi nyata..

    Yuk bermimpi hal yang besar bersama2..
    “When we are dreaming alone it may become a dream only. When we are dreaming with others, it may become the beginning of reality.”

  4. @keffi: iyah kef..bener juga..ga sesederhana itu..
    Tapi maksud gw disini, gw ga bisa deh kayaknya menjalani hidup dimana gw harus berangkat kerja jam 6 pagi, masuk kantor jam 8, pulang jam 5 sore, sampe rumah jam 7 malam… Gw ga bisa kef terikat jam kerja gitu.. itu maksud gw tipikal dan sederhana..hehehe..

    @david: dua kali ngakak?? dimananya vid? gw secara natural memang sudah lucu sih..hahhaa

    @rega: ada yang bilang gini rega.. bermimpilah untuk mencapai bintang, karna kalau kita tidak bisa mencapai bintang, paling tidak kita bisa mencapai langit..hahhaa.. ring a bell??

    @mikha: betul…mari kita buat anak2 indonesia punya mimpi-mimpi yang besar..
    makanya mikha..kembali ke tanah air..kita majukan bangsa ini..hhehhee

  5. Ada satu renungan yang saya kutip nih. Semoga saja nyambung dengan postingan ini..hahahahaha. Katanya sumbernya dari buku CAPTIVATING oleh John & Stasi Eldredge. Judulnya, “Mengerti Hati Wanita”.

    Setiap wanita dulunya adalah gadis kecil. Dan tiap gadis kecil menyimpan dalam hatinya mimpi-mimpi yang indah. Ia rindu mengalami romantisme, memainkan peran yang penting dalam sebuah petualangan hebat, menjadi si Cantik dalam cerita. Kerinduan ini lebih daripada sekedar permainan anak. Semua itu ada dalam hati wanita.

    Tahun-tahun berlalu, ada berapa banyak wanita yang menemukan kehidupan seperti yang didambakannya? Banyak hati wanita dikesampingkan, dilukai, dan impiannya terkubur. Ia tidak menemukan romantisme kecuali dalam novel, tidak ada petualangan kecuali di TV, dan ia tidak yakin lagi apakah dia bisa menjadi si Cantik dalam dongeng manapun.

    Banyak wanita berpikir kalau mereka harus membangun hidup penuh efisiensi dan tugas, pekerjaan rumah tangga, pekerjaan kantor, urusan sehari-hari, pelayanan kepada Tuhan dan sesama… Wanita berjuang menjadi wanita yang “seharusnya”.. Wanita yang taat beragama mendapat tekanan untuk melakukan kewajiban ini dan itu:”Lakukan sepuluh hal ini, dan engkau akan dapat dikatakan sebagai wanita saleh”. Tekanan dan tuntutan yang berlebihan tidak membawa kebaikan bagi jiwa seorang wanita. Ia merasa gagal dan bersalah, ketika ia tidak dapat memenuhi semua tuntutan kewajiban yang diberikan kepadanya.. Padahal, ia wanita normal yang juga punya keterbatasan..

    Gereja kadang menjadi bagian dari masalah. Pesan yang disampaikan kepada wanita ialah: “Engkau di sini untuk melayani. Allah menciptakan engkau untuk melayani.. anak-anak, suami, di rumah, di dapur, dalam komunitasmu.”
    Wanita dalam gereja kebanyakan seperti ini: Mereka manis, suka menolong, rambut tertata rapi, sibuk, disiplin, tenang dan…LELAH.. Wanita Kristen banyak yang hidup dalam bayang-bayang model “Wanita Amsal 31” yang terkenal itu, yang menurut penulis hidupnya begitu sibuk, kapankah ia punya waktu untuk menjalin persahabatan, untuk berjalan-jalan, membaca buku-buku bagus? Kata ayat, Pelitanya tidak pernah padam di malam hari? Lalu, kapan ia berhubungan intim? Entah bagaimana, ia telah membuat gereja menetapkan standar-standar yang begitu tinggi untuk wanita, yang nyaris mustahil dicapai oleh wanita normal.

    Hati wanita tetap merindukan impian masa kecilnya menjadi kenyataan..Kadang-kadang, ketika ia menonton film, kadang-kadang pada malam hari, hatinya mulai berbicara lagi.. Suatu kehausan muncul dalam dirinya untuk menemukan kehidupan yang ditetapkan baginya – kehidupan yang ia impikan saat ia masih kecil.

    Kerinduan hati wanita – adalah tanda yang mengingatkan dia akan kehidupan seperti apa yang Allah ingin ia alami. Ia masih boleh bermimpi, dan masih boleh berharap bahwa impiannya akan menjadi kenyataan. Ia boleh kembali kepada Allah, Pahlawannya, Ksatria Penyelamatnya, berlindung kepada Allah dan minta kepada Allah untuk mewujudkan impian yang indah itu dalam hidupnya.
    Wanita, selalu ada harapan untuk bahagia dan menjadi puas.

    1. Mikha…trimakasiiii banyaak!!
      Pagi ini langsung baca komen dari kamu…waaaa…jadi bahan perenungan juga…
      Mikha….makasi makasi makasi makasiiii bangeeet..(haduuh mulai berlebihan juga), tapi beneran aku bener2 bertrimakasi🙂

      Iya..terlalu banyak hal yang membuat wanita lelah sebenarnya..tapi Tuhan kasih kapasitas kok buat tiap wanita supaya kuat mengerjakan setiap bagiannya..

      Bantu dan doakan kami para wanita yaa

  6. @mikha : salam kenal yah!
    saya sangat terkesan dgn apa yg dibagikan mngnai apa yg dibagikan dari buku ‘captivating’.. terimakasih utk sharingnya!

    mau menambahi dikit, mengenai wanita diciptakan Tuhan utk melayani.. mgkn ada benarnya.. tetapi, tiap pria juga tentu hrs mengambil bagian itu juga kan?

    melayani Pencipta, melayani istri, anak, rekan, orang-orang yg membutuhkan, negara, dll.. keduanya diciptakan dgn ‘DNA’ melayani (sadar atau tidak sadar).. krn hidup ternyata bukan tentang ‘me, me, n me’.. jadi, setelah mengerti bahwa melayani adlh slh satu tujuan manusia di bumi, adalah lbh ringan saat kedua insan (pria dan wanita) bertemu dan bersepakat utk melakukannya bersama. Partnership. Teamwork. Commitment ^__^

    mengenai mimpi Dwi..
    masih sangat mungkin bisa dicapai..
    tp menurutku, sebenarnya, bukan menjadi A atau B nya yg terpenting,
    tetapi, saat kita sdh memutuskan utk hidup sbg pribadi yg berguna bagi orang, menginspirasi, memberi teladan, membagikan kasih Pencipta, dgn karakter yg kian dipertajam..

    sesungguhnya, kita sdh menjadi bagian dr penggenapan mimpi Sang Pencipta! ^0^
    mimpi-Nya nyata melalui diri kita!
    keep dreamin’ through these days, ok!

  7. (ahahahaha….) sorry wi… karena baru awal2 comment, jadi salah comment deh…🙂 – salah tempat – hehehehe…

  8. perbedaan manusia pada umumnya saat kecil, dewasa, dan lanjut usia:

    1. Pada saat kecil, biasanya kita memiliki sangat banyak mimpi (MEMANDANG KE DEPAN), seperti yang sudah dibahas ka dwi di posting ini.

    2. Pada saat kita sudah dewasa, biasanya kita tidak mempunyai banyak mimpi lagi. Bisa jadi karena kita sudah mulai berpikir realistis (juga seperti yang dikatakan di postingan ini), atau bisa jadi karena mimpi-mimpi kita sudah tercapai alias hidup mapan/golden age lah (sudah lulus kuliah dari univ terkenal, sudah kerja, uang banyak, istri cantik, keluarga sehat, rumah mewah, dll.), sehingga tidak perlu lagi memimpikan apapun.

    3. Pada saat kita sudah tua, justru kita MEMANDANG KE BELAKANG.
    “dulu kakek paling ganteng di kelas…”
    “dulu kakek selalu ranking satu…”
    “dulu kakek sudah berbisnis sejak pemuda…”
    “dulu kakek begini, dulu kakek begitu, dulu kakek begini, dulu kakek begitu…”

    atau yang lebih parah nya lagi, kita “men-transfer” mimpi kita yang tidak tercapai kepada keturunan kita. “Kamu harus lebih baik daripada papa” “kamu harus jadi ini, itu, ini, itu”

  9. mimpimimpi.. klo mnrt gw mimpi gw mala aneh.. gw bermimpi jadi jadi penari. pdhl goyang aj gw ga bs.. hhaha.. yang lainnya.. gw pgn jd dokter..

    gw yakin lo pasti kaya dgn mimpi2 bsr. mgkn sbgn kcl adlh ap yg lo bgikan di gng manglayang tempo doloe. hati-hati dengan mimpi wii.. apalagi mimpi + kesempatan.. mgkn bs jadi ‘cara’ untk tau panggilan hidup kita. mimpi harus realistis? mnrt gw ga perlu.. sejak mengenal Dia gw belajar untuk percaya, tidak ada sedikitpunyang mustahil.

  10. @ivan : ga pa2 van..uda saya delete komen kamu yang ada ditempat yang tidak seharusnya itu..hehehe…thx for visiting yaa🙂

    @mikha : iya, pada dasarnya setiap manusia memang melalui beberapa fase dalam hidupnya. Tapi tahap kedua itu menyedihkan juga ya..menurut gw seharusnya kita tidak pernah berhenti bermimpi. Mimpi dan target itu kan beda. Mimpi itu harus sesuatu yang besar mungkin bahkan impossible…tapi justru itu yang buat kita mengeluarkan seluruh daya dan upaya…
    Apalagi mentransfer mimpi…harusnya bukan mentransfer mimpi kali ya..tapi mentransfer gairah untuk terus bermimpi besar…

    @ruth : ah si penari bali masa ga bisa goyang siiih?hahhaa…
    iya mimpi kita 10 tahun ke depan ya ruth, gw waktu itu mau punya sekolah dan rumah sakit…
    Doakan ya ruth…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s