merenung

Pelajaran Dari Ritme Berlari

Sasana Olahraga Ganesha, 10 Juni 2009, 7.30 pagi

Pukul 6.10 pagi ini saya sudah sampai di track berlari SORGA. Suasana masih sepi. Sambil tengok kanan kiri mencari teman atau siapapun yang saya kenal, saya melakukan pemanasan. Ternyata tidak ada seorang pun yang saya kenal. Hanya ada beberapa wajah yang sudah familiar saya lihat setiap saya ke tempat ini.

Hari ini saya dapat pelajaran lagi dari tempat berlari ini. Saya tiba-tiba memperhatikan bila ada orang-orang yang berlari mendahului saya. Satu orang. Dua orang. Tiga orang. AAARRRGHH..!!! Saya merasa lambat sekali. Tapi kemudia saya berhasil lari mendahului beberapa orang. Ternyata ada juga ritme berlari orang lain yang lebih lambat dari saya. Hoho..

Setiap individu pasti berbeda. Ditinjau dari sisi manapun pasti ada saja yang berbeda dari masing-masing individu. Termasuk kondisi fisik dan motivasi berlari yang berakibat pada ritme berlari yang berbeda-beda. Bukan hal yang tidak sopan jika ada seseorang yang berlari mendahuluimu. Mereka hanya memiliki sesuatu yang berbeda untuk dikejar. Ada yang mengejar kesehatan dan kebugaran, seperti segerombolan bapak-bapak yang sepertinya selalu ada setiap pagi untuk berlari. Ada yang mengejar untuk menjalin pertemanan, seperti sekumpulan ibu-ibu bertopi lebar yang hanya berjalan cepat sambil mengobrol ketawa-ketiwi. Ada juga yang sepertinya mencari pelarian dari masalahnya, seperti seorang wanita yang hanya berjalan sambil menunduk. (Saya sudah mendahului wanita ini 3 kali dan dia tetap berjalan sambil menunduk. Bahkan ketika saya sudah selesai berlari dan menulis hal ini.)

Saya jadi berpikir suatu kehidupan berumah tangga. Kehidupan antara sang suami dan sang istri. Kedua sejoli ini merupakan individu yang berbeda. Masa lalunya. Kelebihan dan kekurangannya. Hobinya. Seleranya. Bahkan ada rumah tangga yang dibangun dengan mimpi-mimpi yang berbeda dari keduanya. Lalu bagaimana agar rumah tangga ini tetap utuh? Jawabannya adalah komitmen untuk berjalan bersama.

Selama ini jika berlari, saya hanya berlari seorang diri saja. Tapi pernah suatu ketika, teman saya, Octa, berjanji untuk menemani saya berlari. Semata-mata hanya supaya saya bisa berlari maksimal sampai betul-betul lelah bukan bergantung pada jumlah putaran yang sudah dilalui. Dia menepati janjinya dan menyesuaikan ritme berlarinya dengan ritme berlari saya. Walau saya sebenarnya paham betul, ritme berlari saya terlalu lambat untuknya. Namun selama berlari, dia selalu memberikan semangat dan bercerita hal ini-itu untuk membuat saya tidak fokus pada berapa jumlah putaran yang sudah saya lalui.

Begitu pula dalam rumah tangga. Jika seorang melambat, maka yang seorang harus menyesuaikan diri sambil tetap memberikan semangat agar tidak berhenti berlari. Jangan sampai pada akhirnya yang seorang tetap berlari dengan ritmenya sendiri dan meninggalkan seorang lagi di belakang. Walalupun mungkin saja, ada hal yang lebih menarik untuk dikejar dan hal tersebut hanya bisa dicapai dengan ritme berlari yang cepat. Kesetiaan akan komitmen untuk tetap bersama, apa pun yang terjadi. Itulah mengapa dalam pemberkatan pernikahan selalu ditanyakan, “Saudara X, apakah anda bersedia menerima Saudari Y sebagai istri anda dan berjanji untuk setia disaat sehat maupun sakit, kaya ataupun miskin, suka maupun duka?”

Saya dan Octa akhirnya bercerai. Hehehe.. Maksudnya adalah akhirnya Octa gagal menyemangati saya karena saya memutuskan untuk berhenti berlari di putaran ke-lima dan dia tetap berlari entah sampai putaran ke sekian belas.

Bapak dan Ibu…

Ayo samakan ritme berlari kalian.. Kalau berlari membuat kalian cek-cok.. Cukup kok hanya dengan berjalan saja… Perlahan-lahan menuju track terluar dan bicara dari hati-ke-hati… Jangan lupa sambil bergandengan tangan ya! I’ll always pray for you🙂

Note: Tulisan ini dibuat (lagi-lagi) dengan meminjam pulpen dan kertas dari ibu yang menjual minuman di Sorga ini. Jika tiba-tiba kalian memiliki inspirasi untuk menulis, jangan ditunda-tunda! Inspirasi itu seperti istana pasir di pinggir pantai. Jika didiamkan saja maka perlahan-lahan hanya akan jadi pasir yang berserakan. Jadi, langsung saja abadikan dengan kamera tersayang😀 hehehee…

8 thoughts on “Pelajaran Dari Ritme Berlari

  1. Another great post,Dwi!!!
    Hehe..memang sangat benar demikian!Inspirasi bisa datang dari mana saja,baik atau tidak baik waktunya (seperti familiar dgn kalimat ini,,hehe),maka sangat tepat utk bersiap menyimpannya dlm ingatan kita,dan kalau ternyata memory kita tdk ckp baik dlm mengingat,maka langkah Dwi bisa kita contoh!

    Hehe..Octa memang mantap!
    Awak aja masih terus salut dgn apa yg Tuhan kerjakan dlm hidupnya..jgn salah,walo sodara PA ku ini tmpk tidak terlalu sering senyum,tp hatinya baik ^^

  2. ada namaku disebut…
    jadi bangga awak, hahahaha….
    saya juga banyak belajar kok di setiap perjalanan,
    mau lari, mau ngobrol, mau menghibur, dll

    oya,kemaren tuh kita 8 keliling dwi,
    kapan2 kita lari bareng lagi yak.
    Ama yang laen juga biar rame.
    hehehehe.

    @beca : true gossipper
    @tigor : emang aku jarang senyum ya?weleh2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s