merenung · with friends

Belajar di Taboo Bukan Hal yang Tabu

Berat badan rama sama dengan 45 batu bata

Berat badan andi sama dengan 40 batu bata

Siapakah yang lebih berat?

diketahui….

ditanyakan….

jawab….

Pertanyaan di atas adalah satu dari 8 soal cerita matematika yang harus diselesaikan oleh seorang Bagus, siswa kelas 1 SD.

Ini adalah pengalaman pertama saya ikut mengajar di Taboo. Sebuah taman buku dan tempat belajar untuk anak-anak sekolah yang membutuhkan bimbingan. Tidak dipungut biaya sama sekali. Saya kebetulan saja sedang bermain ke kost teman saya, Gita dan Novi. Mereka berdua biasa mengajar di sana setiap hari Selasa malam dan Minggu siang. Saya, Gita, Novi, dan Diddo berangkat bersama ke Taboo di daerah Dago pojok. Sampai di sana ada beberapa teman dari ITB juga, khususnya dari unit kegiatan mahasiswa PSIK (Pusat Studi Ilmu Kemasyarakatan). Ada Dikdik (Teknik Elektro 2006), Kun (Fisika 2006), Riris (FTTM 2008), dan Tari (SITH 2008).

Pertama datang saya harus membantu Bunga dan Ririn menyelesaikan PR mereka. Hari ini adalah hari matematika sehingga kami semua akan membantu anak-anak ini belajar matematika. Kali ini saya akan membantu Bunga dan Ririn menyederhanakan pecahan. Ternyata tidak semudah itu mengajar kepada anak yang bahkan 70 dibagi 7 pun harus berpikir dalam waktu 20 detik. Kuncinya sabar. Huh.. sulit sekali.

Selesai dengan Bunga dan Ririn, saya dihadapkan kepada Bagus, yang harus menyelesaikan 8 soal cerita matematika. Pertama saya baca soalnya, saya optimis bisa menyelesaikannya dalam waktu singkat. Ternyata saya salah. Mirisnya, bahkan Bagus belum lancar membaca sehingga saya harus mengajar dia membaca bukan berhitung.

ka-e-KE-er-a-RA-eN-je-a-JA-eNG. Aku mengajarkannya mengeja satu demi satu kata yang ada.

Akhirnya satu soal dapat diselesaikan. Perjuangan yang cukup keras karena untuk menjawabnya, saya harus mengajar Bagus menulis. Fiiuuuh. Lanjut ke nomor dua dan kesabaran saya hampir habis. Bagus sulit sekali mengeja kata ‘BERAT’. Padahal kata itu sudah muncul berulang kali. Saya hanya ingin segera mengakhiri soal-soal ini. Syukurlah waktu sudah semakin malam dan Bagus pun akan segera pulang. Ketika saya bertanya, “Bagus ga pulang? Ini sudah malam lho.” Bagus pun menjawab, “Ga apa-apa kak, ini PR nya diselesaiin dulu aja.” Saya malu, bahkan Bagus, yang sulit sekali membaca dan kebingungan dengan apa yang dipandanginya di atas kertas itu, masih memiliki semangat untuk bisa menyelesaikan pekerjaan yang diberikan untuknya. Lalu apakah saya akan menyerah? Tentu saja tidak!

Akhirnya kami melanjutkan sampai soal nomor 4 tepat ketika teman Bagus, yaitu Elis, tiba-tiba pulang duluan dan membuat Bagus menangis karena ditinggalkan. Saya bingung harus diapakan anak yang menangis ini. Akhirnya kami membujuk Bagus untuk berhenti menangis dan melanjutkan PR atau pulang ke rumah dengan diantar oleh kami. Bagus sulit sekali untuk dibujuk berhenti menangis. Segala bujuk rayu sudah dilakukan dan Bagus tetap menutup mukanya sambil menggosok-gosok matanya. Pada akhirnya Bagus pun memilih untuk pulang saja.

Saya, Gita, dan Novi mengantarkan Bagus pulang ke rumahnya. Rumahnya itu cukup jauh dari rumah belajar Taboo dan juga gelap, sehingga kalau saya yang dibiarkan pulang sendiri pun pasti akan ketakutan. Kami masuk gang kecil yang becek. Sampai akhirnya tiba di gang dengan jalanan tanah blok, sepertinya karena hujan baru saja turun. Spontan saya, yang saat itu menggunakan sepatu cantik, pun enggan melangkahkan kaki. Untungnya rumah Bagus tinggal beberapa langkah lagi sehingga saya memutuskan untuk menunggu di ujung gang saja. Tapi ada yang indah, di daerah rumah Bagus itu kami bisa melihat city light kota Bandung.

Lalu kami kembali ke Taboo, menunggu Diddo yang sedang menjelaskan pelajaran matematika untuk kelas 3 SMP. Saya dan beberapa teman justru bergosip ria. Tiba-tiba listrik padam dan kami melanjutkan malam itu dengan lilin sambil dikelilingi lukisan-lukisan wajah yang mengerikan dan buku-buku luar biasa, mulai dari majalah Bobo, Mickey Mouse, Seri Tokoh Dunia Marie Curie, sampai buku cerita anak-anak dalam bahasa Jerman berjudul Aschenputter, dan ada juga buku filsafat karangan Michel Foucault dan Fritjof Capra.

Malam ini luar biasa buat saya. Pengalaman pertama yang menyenangkan bersama teman-teman PSIK di Taboo.

7 thoughts on “Belajar di Taboo Bukan Hal yang Tabu

  1. Hmm, kadwi.. Jd ingat rutinitas saya di hari minggu J10 pagi setelah gereja .. KK ASUH PMK ITB.. demikian kk blajar sesuatu disana, aku pun jg telah mendapatkn bnyk plajaran dr pgalamanku dg mrka.. Yg paling kudapatkan adalah belajar u/ bersabar.. Yap, bersabr u/ mengajarkan seorang murid kelas 6 sd perkalian 7×9, dan lain2.. Teringat kembali seorang temanku yg mundur dr pelayanan ini dgn berkata “gw gak bisa The, gw emosian n gak sabaran ngajarin mereka..” hoho,, senangnya bisa belajar bnyk dr mereka.. Kalo ad wktu, mampir ya ka..

  2. akhirnya gw muncul dengan nama asli..hehe..
    mendengar cerita lo semalem jadi pengen ikutan juga…
    hehehehe….
    nyari pengalaman baru,
    mau mencoba lebih sabar…hehehe..
    biar kaga emosian..

  3. belajar adalah proses seumur hidup. tiap hari kita belajar sesuatu. Bagus sedang memulai tahapan ini dan dia patut bersyukur ada seorang Dwi Hutapea yang membimbingnya..

    keep the spirit ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s