dwihut · melankolis · merenung · with Him

Sekilas Masa Lalu

Sewaktu kecil dulu, ayah saya sering memberikan contoh orang-orang yang telah berhasil meraih kesuksesannya. Dalam bidang musik, olahraga, akademis, politik, maupun kemanusiaan. Saya pun terdorong untuk menjadi orang yang bisa menginspirasi orang lain. Kemudian saya mulai merancang masa depan saya. Masuk ke SMP 1. Dilanjutkan ke SMA 8 Jakarta. Terus Universitas Indonesia. Ambil jurusan filsafat atau arsitektur. Membuat tulisan hasil pemikiran sendiri yang dikagumi orang-orang. Atau merancang bangunan megah dan tinggi yang dipuja orang-orang.

Sewaktu SD dulu, saya suka sekali menulis. Berawal dari geng-gong masa kecil bersama 4 orang teman perempuan lain. Evi, Rizka, Lydia, dan Anggi. Kami menulis cerita bersama. Tentang kami. Seperti halnya cerita dari novel STOP, Girls Talk, bahkan Goosebumps. Mulai dari cerita-cerita cinta sampai horor. Kami sering bersepeda, main teater bersama di perpisahan sekolah, ikut kegiatan pramuka, dan ngobrol-ngobrol. Hidup indah sebagaimana adanya.

Sewaktu SMP dulu, saya mulai menjadi anak yang bandel. Sering main ke rumah teman hingga maghrib tanpa pamit dulu ke ibu. Saat itu, saya mulai menyadari kalau saya suka hal-hal baru. Berpetualang. Jalan-jalan. Uji nyali. Walaupun saat pulang ke rumah, ibu sudah menanti dengan mata melotot dan omelan yang tiada henti. Besoknya, saya melakukannya lagi. Di masa ini pula saya mengenal “ketertarikan” dengan lawan jenis. Saya mulai mengenal ada yang namanya rokok, ganja, alkohol, dan sexual addiction. Semuanya menghancurkan teman-teman saya yang terus berkompromi dengan racun dunia itu. As I wish, saya mendapatkannya di SMP 1.

Sewaktu SMA dulu, saya mulai dihadapkan kepada kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan yang keras. Kehidupan yang tidak ramah. Kehidupan yang harus selalu waspada. Saya mengenal dibohongi, dikhianati, kegagalan. Saya belajar berbuat curang dan berbuat manis. Saya belajar memahami bahwa manusia bukan hanya berbeda dari penampilan fisiknya, tapi pikiran dan karakternya. Dan saya belajar bahwa yang terlihat di luar belum tentu berasal dari dalam. Saya merayu. Saya menolak. Saya tertawa dan menangis dengan keras. Saya berdebat, bersilat lidah, marah, dan menuduh. Saya belajar bagaimana menjadi wanita yang tangguh. Dan saya memutuskan untuk berjuang menjadi wanita yang tangguh. Tapi saya mendapatkannya di SMA 68 Jakarta. Terletak di pusat kota Jakarta. Seberang Rumah Sakit Carolus. Dekat dengan Perpustakaan Nasional, Lembaga Alkitab Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dan kedua universitas yang terkenal sering tawuran, UKI dan YAI.

Sekarang saya di ITB, bukan universitas yang saya rencanakan saat kecil dulu. Dan saya belajar keilmuan teknik industri, bukan filsafat atau arsitektur seperti yang saya idam-idamkan. Disini, saya belajar hidup. Belajar percaya. Belajar ketulusan. Di sini lah Tuhan meletakkan saya untuk dibentuk menjadi individu yang utuh. Di sini lah saya belajar bersyukur untuk setiap menit yang pernah saya lalui sebelumnya. Untuk setiap momen indah dan gelap. Untuk masa lalu yang membentuk saya seperti ini. Saya belajar untuk merelakan segala sakit hati dan kepahitan dari masa lalu saya. Kemudian bangkit menjadi manusia baru yang optimis dan tulus. Saya belajar tersenyum dan mendengarkan. Saya belajar menjadi seorang teman.

Jika saja saat ini saya berada di kondisi sebagaimana saya pernah merencanakan masa depan saya dahulu, duduk di bangku kuliah Universitas Indonesia, belajar entah filsafat atau arsitektur, lulusan dari SMA terfavorit di Jakarta, SMA 8, mungkin saya tidak memperoleh pelajaran seperti yang pernah saya peroleh.

Sekarang saya masih memiliki rencana untuk masa depan saya, tapi saat ini saya memilih untuk meletakkannya ke dalam tangan Tuhan yang Maha Kasih. Kenapa? Karena saya belajar dari hidup. Dan hidup saya membuktikan bahwa rancanganNya adalah rancangan damai sejahtera. Jadi bagian saya hanyalah kerja keras dan berserah. Apakah saya sudah cukup menginspirasi anda?

I know the plans that I have for you, declares the Lord. They are plans for peace and not disaster, plans to give you a future filled with hope. Jeremiah 29:11

6 thoughts on “Sekilas Masa Lalu

  1. behh,,cerita lo..
    btw,,ayat tu salah satu janji pegangan hidup gua..
    ngingetin kalo gua lagi sombong dan nguatin kalo gua lagi jatuh..

  2. Hua.. Berarti qta satu sma ka..satu universitas juga.. N mungkin yg kk rasakan hmpir mirip dgn aku, pada akhirnya aku bljr untuk berserah kpd Tangan Tuhan saja.. Gak tau jadinya kalo saya gak sekolah di 68 jkt yg bukan angan2 sy jg, trus masuk itb dan dijangkau oleh kk2 yg baik, apa jadinya saya sekarang?, mungkin bisa lebih baik, atau bahkan ttp begajulan,, tp belajar bhw yg kuhidupi skrg adalah yg tbaik yg Tuhan brikan kpd saya, dan kmbali lg berserah penuh..
    -masa depan sungguh ada dan harapan tidak pernah hilang-

  3. semoga kasih Tuhan juga melimpah kepada teman2 SMP anda.. racun dunia menghancurkan mereka,, terus lo nyelonong sendiri !! Dasar OPOR !! hehe..

    jadi inget 68 gw dwi..

    SMA 68 wibawa serta mulia dg pedoman pancasila UUD 45.. SMA 68 wadah penuntut ilmu.. SMA 68 pemandu kreasi pelajar..
    bangunlah pelajar untuk mewujudkan cita guru nan mulia.. bangunlah pelajar untuk keagungan nusa bangsa indonesia..

    secara alumni 68, lo tau cita-cita guru 68 yg nan mulia itu ga? gw koq ga tau yah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s