melankolis · with family · with friends · with Him

Terima Kasih untuk Kalian Semua

Kalender menunjukkan tanggal 21 Februari 2007. Dua tahun lebih 18 hari yang lalu. Waktu itu adalah ulang tahun saya dimana saya merasa sangat sendiri. Saya menerima banyak ucapan selamat dan hadiah namun hati saya merasa sepi. Saya menghabiskan sore di hari itu dengan berjalan menyusuri jalan manapun ke mana kaki saya mau melangkah.

Saya memperhatikan kehidupan dan kesibukan yang terjadi. Hilir mudik. Hingar bingar. Lalu lalang. Saya sempat menyimpulkan bahwa pengisi kehidupan ini adalah kesibukan. Ambisi. Saya juga melihat ada ambisi di sana. Jauh di dalam pikiran setiap orang. Target jangka pendek. Target jangka panjang. Dan cinta semata-mata hanya menjadi suatu target entah jangka pendek atau panjang. Keindahan hubungan karena cinta dijalin hanya karena garis-mati itu hampir tiba. Sayang sekali.

Saya berhenti sesaat untuk makan sore sambil mengingat setiap hubungan yang pernah saya jalin dengan siapa pun.

Keluarga.Keluarga besar. Teman masa kecil. Teman mencari jati diri. Teman bergosip. Pacar pertama. Teman “tapi mesra”. Bos. Anak buah. Teman belajar. Teman gereja. Teman bicara.

Setelah itu saya melewati sebuah toko buku sederhana di depan supermarket di Kota Bandung. Saya berencana mencari sebuah buku untuk bisa saya renungkan sehingga saya lebih mengerti makna kehidupan. Tapi kemudian tangan saya meraih kotak kecil bunga-bunga itu. Hanya sekeping CD instrumen. Our Daily Bread edisi spesial ulang tahun. Hadiah untuk saya sendiri. Saya terenyuh ketika membaca tulisan di depannya.

“Some people have a way of setting up residence in us. They march into some barren room of our heart and hang cheery curtains, scatter soft rugs, dot the walls with framed prints of tender and whimsical moments, then set about building a cozy fire beside two sink-back-and-stay-awhile-chairs.”

Di tengah masalah dan pergumulan yang merisaukan hati saya, saya menyadari bahwa hubungan adalah segalanya. Kita menjadi senang karena suatu hubungan. Kita pun menjadi marah karena suatu hubungan. Kita menjadi kecewa karena suatu hubungan. Kita juga menjadi bijaksana karena suatu hubungan.

Di ulang tahunku yang ke-20, saya berterima kasih kepada Tuhan untuk setiap orang yang sudah Dia letakkan dalam kehidupanku. Saya berterima kasih untuk setiap emosi yang pernah aku rasakan dikarenakan suatu hubungan. Saya menyadari bahwa hidupku sempurna dengan orang-orang yang hadir sesuai dengan peran mereka masing-masing. Dan hal itu yang membuatku semakin mencintai hidup ini dan semakin bersyukur dari hari ke hari.

Ya, kamu-lah orang yang membuatku bersyukur hari ini! Terima kasih.

3 thoughts on “Terima Kasih untuk Kalian Semua

  1. sama2 dwi…
    ah gw jadi ga enak..:))
    cie dwi, ada apa tuh 2 tahun yang lalu.
    jadi pengen tau deh.
    nanti saya korek2 ah kalo ketemu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s