melankolis · merenung · tertawa · travelling

Great Experience:Tangkuban Perahu

O Lord my God, when I in awesome wonder

Consider all the worlds Thy Hands have made;

I see the stars, I hear the rolling thunder,

Thy power throughout the universe displayed.

Then sings my soul, my Savior God, to Thee

How GREAT Thou Art… How GREAT Thou Art

Hatiku bersenandung penuh syukur melihat buatan tangan Tuhan yang luar biasa. Di gunung Tangkuban Perahu, Bandung, Sabtu, 7 Maret 2009, pukul 5.xx pagi.

Ini adalah pengalaman pertama naik gunung buatku. Pesimis. Perasaan pertama saat rencana ini muncul diantara teman-teman. Hati saya cuma bisa berkata, “Kalian sajalah! Kalau kegiatan yang berat di fisik kayak gitu, gw nyerah deh!” Tapi dengan kekuatan dan janji, akan tetap membantu dalam perjalanan mendaki gunung yang teman-teman berikan, akhirnya saya yang menyerah. Baiklah, saya memutuskan untuk menjadi bagian penting dari momen tersebut.

Pukul 00.00 kurang sekian menit dini hari. Kami, bersembilan dengan 4 wanita dan 5 pria, mulai melakukan perjalanan. Kondisi saya saat itu, OVER-EXCITED. Kami bersembilan berjalan dengan formasi : Octa, Saya, Rega, Sarah, Ferry, Laura, Kiki, Becca, dan David. Banyak cerita dari mereka-mereka yang sudah pernah naik gunung dan keajaiban yang diperoleh saat mencapai puncak. I want have one just like theirs.

Entah di kilometer perjalanan kami yang ke berapa saya mulai merasa lelah. Titik awal merasa jenuh dengan hanya terus berjalan di dalam kegelapan. Langkah saya melambat dan hampir mengeluh. Tapi saya sudah berjanji kepada diri sendiri untuk tidak mengeluh dan membuat orang lain disulitkan. “Keep walking girl, you are on your way now!” Saya terus berkata dalam hati untuk tidak pernah mengeluh dan terus berjalan. Itu saja. Tapi tubuh ini memang lemah sekali dan kalau sudah begitu, hati ini akan terasa sedih sekali. Akhirnya saya bergandengan tangan bersama Sarah, orang yang paling bisa saya percaya dalam kelompok ini. Entah kenapa hal ini menjadi kekuatan bagi saya. Saya jadi ingat masa-masa sulit di hidup saya. Saya selalu membutuhkan seseorang untuk berjalan bersama. Untuk bicara dari hati ke hati. Satu orang. Biasanya hanya kepada satu orang. Ketika saya memilih untu tidak bercerita kepada siapa pun, saya justru menjadi putus asa, berhenti, bahkan salah langkah.

Kami beberapa kali istirahat dalam perjalanan untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan energi lebih besar. Di perjalanan, David terjerembab. Kakinya masuk ke tanah basah. Becca bilang hampir selutut. Yah… kita memang tidak pernah tahu tanah mana yang merupakan jebakan.

Octa, Rega, dan Sarah adalah tiga orang yang berjalan paling dekat dengan saya. Mereka lah yang selalu menolong saya saat merasa tidak sanggup. Terimakasih untuk setiap bantuan yang kalian tawarkan walaupun beberapa kali saya tidak mau dibantu. Saya hanya sedang belajar untuk yakin pada diri sendiri. Tidak mau selalu mengandalkan bantuan walaupun bantuan itu ada di depan mata. Selama saya masih sanggup, saya akan berusaha sendiri. Awalnya saya berniat untuk tidak mau dibantu sama sekali, saya hanya butuh pengakuan untuk diri sendiri kalau saya mampu. Tapi sayang sekali, memang selalu ada variansi dalam setiap kejadian. Sayangnya saya tidak mempunya n kejadian yang cukup untuk bisa membuktikan, berdasarkan dalil limit sentral, bahwa frekuensi saya dibantu pada saat naik gunung berdistribusi normal :p.

Saya juga menyadari, bila kami berjalan di jalan lebar dan tidak dalam formasi, walau diawali dengan saya yang paling depan pasti saya akan berakhir di belakang. Saya memang lambat sekali. Maaf kawan.

Kami melakukan perjalanan malam-malam untuk dapat melihat matahari terbit. Tapi Rega bilang, “Kita akan membangunkan matahari.” Cukup memotivasi. Namun setelah berjalan sekian lama, kami seperti tidak menemukan jalan mana yang harus ditempuh untuk bisa sampai di puncak. Kami sudah berdiri di suatu tempat yang cukup nyaman untuk bisa mendirikan tenda dan menunggu matahari terbit. Dari tempat itu pun kami bisa melihat puncak gunung Tangkuban Perahu. Tetapi Octa dan Rega berjalan terus untuk melihat jalan di depan dan memastikan apakah kami bisa melanjutkan perjalanan atau tidak. Rega bilang ada tanda forbidden. Kiki bilang tidak perlu dilanjutkan. Sarah bilang kita sebaiknya voting saja. Sementara saya sangat bersemangat untuk melanjutkan perjalanan karena saya sudah melihat puncak gunung itu. Memang sepertinya bukan perjalan singkat dan mudah untuk sampai ke puncak. Tapi saya sudah melihatnya dan saya tidak rela untuk membiarkan puncak itu hanya berakhir menjadi sebuah pemandangan semata. Saya senang karena akhirnya kami memutuskan untuk meneruskan perjalanan. Semangat saya memuncak. No more feeling tired. I don’t care about that heavy breath. Aku hanyalah masalah jiwaku, bukan tubuhku.

Kondisi jalan selanjutnya adalah batu-batu. Batu besar dan batu kecil. Batu-batu kasar yang cukup membuat sepatu saya tergores-gores. Akhirnya kami menemukan medan yang lebih menantang. I never imagine that I will be in this situation before. Kami harus mengambil posisi seperti memanjat untuk bisa terus naik. Laura gemetar. Hampir putus asa. Hampir menangis. Ferry menenangkan. Begitu pula Octa. Akhirnya Laura mundur dahulu dan saya maju. Saya tidak punya kekuatan apalagi skill. Saya hanya punya ambisi untuk sampai di puncak. Tangan kanan. Tangan kiri. Kaki kanan. Kaki kiri. Yup, I did it! Becca hampir terjatuh namun tertolong oleh sikap gentle David🙂. Saya terus berjalan mengikuti Octa, disusul oleh teman-teman lain sesuai dengan formasi awal. Waktu disini terasa berjalan cepat sekali, begitu pula dengan detak jantung saya. Langkah kaki dan perputaran bumi berkejar-kejaran. Siapa yang lebih cepat, langkah kaki kami atau perputaran bumi? Siapa yang akan melihat matahari pertama kali pagi itu, kami yang sudah menaklukkan gunung itu atau kami yang terlambat sekian menit?

Akhirnya kami sampai di suatu tempat yang cukup ideal untuk bisa melihat matahari terbit. Si tanah merah. Kami tidak teruskan berjalan karena kondisi jalan yang tidak memungkinkan. Padahal kami sudah sangat dekat dengan puncak. Kami duduk. Lelah. Keringat membanjiri. Basah.

Langit pagi itu berawan. No sun rise. Dan saya kedinginan. Saya sempat kecewa dan berkata pada matahari, “Kenapa harus terbit bersama dengan awan?” Dan matahari pun menjawab, “Karena bukan di gunung ini kamu akan bertemu dengan saya. Tapi gunung lain. Dan bukan di gunung ini pula kamu akan merasa puas. Saya hanya terbit pagi ini untuk membantu kamu melihat sebagian kecil dari keajaiban alam ini.

Awan tebal bergulung terhampar di hadapan saya. Di bawah sana, kawah gunung Tangkuban Perahu. Batu dimana-mana. Kokoh. Awesome!!!

Kawah itu kering tidak seperti samudera luas yang ada dalam khayalan saya setiap kali rasa sedih itu datang. Dimana air mata itu? Tidak ada. Dimana saksi bisu kesedihanku itu? Kosong. Yang tersisa hanya kekaguman akan apa yang sudah Tuhan rancang akan bumi ini dan hidupku.

Terima kasih Tuhan, walaupun aku hanyalah makhluk kecil dan lemah namun aku berharga di mataMu.

Terima kasih teman-teman untuk memberikan saya pengalaman luar biasa ini. Saya berjanji pada matahari pagi itu untuk bertemu di gunung lain. Gunung yang mana menurut kalian?

Look into your heart and you’ll find that the sky is yours. Jason Mraz-I’m Yours.

20 thoughts on “Great Experience:Tangkuban Perahu

  1. @gita:hahahaa..guide?? yakin lo git? baiklah…bisa dicoba.
    apa perlu kita buat naik gunung seangkatan anak2 ti…siapa tau yang ulang taun bulan maret mau menanggung perlengkapannya..hahahhaaa

  2. @iet:gw anak bapak gw…dan nama bapak gw bukan gunung..
    thx for comment. daku kecewa berat lah yet…cuma segini ternyata apresiasi lo sama temen serumah lo ini

  3. hahaha
    dwi, ternyata dirimu pintar sekali menulis.

    iya, gunung mahameru menunggu mu untuk melihat matahari selanjutnya.

    hahahaha

    klw gw, mahameru??

    MB..

    hahaha
    tidak dianjurkan, kata mas dimos, to dangerous.

  4. tak kusangka dan tak kuduga, ternyata dirimu menyimpan bakat yg luar biasa, tulisanmu sungguh2 original lah..ditambah dengan bumbu2 bahasa lucu..saludz buatmu dwi…terus tingkatkan yah…

  5. “Karena bukan di gunung ini kamu akan bertemu dengan saya. Tapi gunung lain. Dan bukan di gunung ini pula kamu akan merasa puas. Saya hanya terbit pagi ini untuk membantu kamu melihat sebagian kecil dari keajaiban alam ini.“

    wew.. nice quote..
    ini berarti kta akan naik gunung lagi kan?
    memang benar, 1 janji yang pasti: matahari pasti akan selalu terbit esok pagi, tetapi belom tentu kita dapat melihat sunrise-nya..hoho..
    mungkin gunung itu berbisik: “tunggu teman2nya yang lain dulu yah yang belom pada ikutan, kan kalo lebih rame lebih asik..”
    hehhe..

    keep writing,sist! your article is very awesome..
    Gbu

  6. ka dwiiii,,,,
    tulisan kakak baguuuus…
    kurang lebih pengalaman itulah yang aku alami di lawu,,,
    emang ngga akan bisa sampe ke puncak tanpa dorongan semangat teman2…
    semangat,kaaa…

    salut buat smuanya..

  7. dwi,, sorry yah.. kali ini track nya sangat berlebihan..
    gw akuin itu dah berlebihan banget.. gw sendiri mendaki lawu kemaren gada mpe segitunya..
    padahal kan gw dah janjiin kalo track di tangkuban ga bakal parah, dan jalannya landai..
    gw sendiri kaget kemaren ngeliat medannya separah itu..
    itu mah bukan mendaki, tapi manjat tebing..

    but, overall Puji Tuhan kita semua gada yang kenapa2 n cidera yah..
    praise the Lord..
    jangan kapok yah..hehe
    Gbu

  8. “Becca hampir terjatuh namun tertolong oleh sikap gentle David”
    iye iye..itu emg panjat tebing vid..ampe g hrs pake kaki lo jadi tebing buatan,bwt diinjek…hahaha..makasih mamen!abis susah sih naek gunung pk jeans..sempit!haha

    duwiii kmu emg jagoan dehhh…

    sekali lagi akuh mendaki tanpa melihat sunrise..tp ga papa..klo pk bahasanya rega…”bangunin matahari” di gunung laen aja yookkk..hehe.liat sunrise ama bintang jatoh..2 keinginan terbesar g tuh,haha..

  9. gw kok ngeliat ada tulisan distribusi normal wi??
    naik gunung masih aja kepikiran distribusi normal, kebanyakan walpole kau,,,
    asik bgt ye udah pernah naik gunung…saya belum, takut ga ada toilet…:))
    anyway busway, gw udah pernah coment di postingan lu yang bikin rumah2an sama AngTn pas natal, tapi kayanya ga kekirim gara2 M2 gw yang lemot…
    hehehehe…

  10. @kiki:ah cemen lah abang awak ini…masa cuma segitu aja siih??
    *belagunya gueeee…halah halah

    @mas dimos:makanya sering2 lah mampir ke blog ku ya mas..thx anyway🙂

    @david:you’re good in writing too,bro..tunggu comment gw di blog lo yaaa. Soal track yang kemaren..i’m fine,really!

    @keffi:no comment deh…cepet tentuin kapan kita PA!!

    @rebecca:yuk hayuuukk…akuh jadi ketagihan niiiih

    @karin:bahkan saat digunung pun gw masih bisa menghitung bahwa z=miu kurang eks bar bagi sigma…haghaghag…
    wahhh..bisa buat peluang bisnis tuh rin…bikin toilet di gunung..kadang2 lo emang cerdas,parah!!!

  11. another great post, Dwi! Sangat memberkati!
    Sangat setuju!!
    Pengalaman naik gunung sebenarnya klo ditelusuri, bukan tentang capeknya saja, lelahnya saja, terjal jalannya saja, ato lain hal.. tetapi kita bisa belajar satu kebenaran ini :

    “Keindahan alam ciptaan-Nya seharusnya bisa membuat kita terus memuji Dia!”
    (walau tidak harus sampai di puncak, setidaknya, berbagai pemandangan selama di gunung, menyadarkan hal ini pada kita semua).

    Salut pada 2005! Walau cuma 9 orang, tidak mengurangi niat kalian untuk mendaki gunung.. salut!
    Salut buat kekompakan, salut buat kerjasama, salut buat rasa saling mengasihi dan menopang yang kuliat dari ceritamu..

    Buat para saudaraku di dlm Kristus yg ikut naik gunung ini :
    “Kalian memang gentleman.. tetap menjadi pria-pria yg dapat diandalkan, dipercaya, dan takut akan Tuhan ya..”

    Buat para saudariku di dlm Kristus yg ikut naik gunung :
    “Jangan terhenti mengejar hal2 baru krn alasan fisik.. banyak cerita yg sudah membuktikan bahwa kerjasama, dan semangat satu dengan yg lain cukup untuk mengalahkan sgala keterbatasan.. dan kami para pria, yakin dengan pribadi dan kekuatan para wanita!”

    Generasi muda kita harus terus seperti ini.. bersemangat, bergairah untuk mencoba hal baru.. dan akhirnya, bersama melalui rintangan2 dengan satu kata sepakat : “How great is our God”.

    Terus menulisss.. sekian banyak pembaca di sana harus diberkati dengan tulisan2mu.. Heavenly Father bless u!

  12. o, iya..

    cuma mau menuangkan apa yg baru saja kupikir beberapa detik stlh commentku yg sblmnya..

    aku pikir, saat kamu terus menulis seperti ini, memberkati banyak orang, menguatkan, memberi semangat..

    saat itu, Bapa kita pasti sedang tersenyum melihat dengan bangga salah satu puteri-Nya memakai talentanya untuk memuliakan Dia.. so, jangan pernah berhenti memakai talentamu bagi kesenangan-Nya ya!

  13. @bang tigor:whoooaaa…terimakasih sekali. Bang tigor emang paling tau gimana harus membesarkan hati. Tapi aku juga masih terus belajar kok. Yuk sama2 blajar..
    Iya bang, aku bangga dijagai para pria yang bertumbuh. Salut buat pria2 nav!!

  14. mantap dwi,
    gw tau lo bisa,
    bisa berbuat apa ajah yang lo mau…
    kenapa lo ga langsung nerima pertolongan juga,
    gw tau karena lo pengen bilang dan buktiin lo bisa…
    dan gw pribadi percaya hal itu…
    bahwa manusia tuh bisa ngalahin apa yang dia anggap batasan dirinya…

    hasil akhir bukan segalanya,
    tapi gimana proses itu berjalan.
    GImana kita tau sifat2 temen seperjalanan ktia,
    gimana kita tau bahwa kita bisa ngalahin ketakutan kita,
    gimana kita bisa lihat kebesaran Tuhan dalam perjalanan kita,
    dan gimana kita bisa lebih menghargai HIDUP yang diberikan oleh Tuhan yang terus mengasihi kita…

    Ayo, kita sama2 bangunin sang mentari, dan buat dia tersenyum di perjalanan kita selanjutnya.

    @ team NAV’05 : mudah2an selanjutnya kita bisa lebih banyak lagi dan lebih lengkap…
    God Bless U…

  15. Dwi,,
    berarti siap yah untuk perjalanan ngebangunin matahari berikutnya,,
    hehe..
    Lagian,,elo kuat kok..

    Oiya,,
    walopun kemaren kita gak bisa liat proses matahari bangun gara2 awan,,
    tapi matahari bakal tetap ada kok..
    Matahari akan tetep nunggu kita buat ngebangunin dia..
    Hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s