with family

Pelajaran dari Mencuci Motor

Hari ini saya pergi ke Career Days 2009, suatu acara yang diadakan oleh Fakultas Ekonomi UI dan bekerja sama dengan AIESEC, bersama abang sepupu saya bernama Wahyu. Kami berdua naik motor ke Istora Senayan. Sedihnya, perjalanan kesana dan dari sana agak terhambat diterjang badai hujan hampir di seluruh pelosok Jakarta sampai Depok. Kami harus berhenti mencari tempat berteduh selagi hujan. Tapi sial bagi si motor karena jalanan menjadi licin dan banyak genangan air. Alhasil jadilah motor kembali ke rumah dengan kondisi kotor parah.

Sesampai di rumah kami berdua harus bertanggung jawab membersihkan motor. Saya sendiri belum pernah cuci motor sebelumnya. Jadilah si abang sepupu ini mendikte apa-apa saja yang harus saya kerjakan.

Abang Wahyu : Begini Dwi, tinggal di lap seperti ini aja. Ga usah lama-lama. Ga usah sampe ngos-ngos-an juga (si abang kemudian mengilustrasikan orang yang ngos-ngos-an).

Logat si abang Wahyu ini seperti logat orang-orang batak yang sudah lama di perantauan. Seperti apa ya menggambarkannya?? Yah…pokoknya seperti itu lah.

Abang Wahyu : Sini Dwi, lihat sini! bla… bla…. Tolong ambilkan dulu airnya. Bla… bla… Iya, itu bagian depan sudah bisa dikeringkan. Bla… bla… Kalau bersihkan barang sendiri pasti lebih senang mengerjakannya. Ga usah lah dikasih ke tukang cuci motor itu. Dia main-main nanti sama motor kita karna dia ga hargai barang ini. Bla… bla… Kalau sudah bersih nanti, senang kita lihatnya, usaha kita sendiri soalnya. Bla… bla…

Saya sih sabar-sabar saja sementara pekerjaan saya selalu dikritiknya. Tapi ketika mendengar semua perkataan si abang itu, saya teringat sesuatu. Ya… saya teringat bapaknya si abang Wahyu. Amang boru saya. Suami dari saudara kembar bapak saya. Amang boru saya itu tidak mau dipanggil “Amang boru” atau “Om” atau “Bapak” atau sejenisnya. Jadi sejak kecil saya panggil dia “Temen Gede“. Bahkan sampai saat ini saya (dan anak-anaknya juga) masih memanggil dia “Temen Gede.”

Oke kembali ke topik sebelumnya. Jadi suara, logat, gaya bicara, dan kata-kata abang Wahyu mirip dengan bapaknya. Saya pernah mendengar kata-kata ini diucapkan si bapak kepada si abang. Jangan-jangan waktu si abang lagi diajari cara cuci motor oleh sang bapak. Mirip betul.

Jadi ingat kata pepatah negeri seberang, “Like father like son.

One thought on “Pelajaran dari Mencuci Motor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s