merenung

Demokrasi yang Dilematis

Apa yang ada di pikiran kita masing-masing bila kita mendengar kata demokrasi?

Suatu ideologi dimana setiap individu bebas berkata dan berbuat sesuatu sesuai kehendak hatinya.

Sebagai contoh tidak adanya demokrasi adalah pada saat para anggota Gerwani dianggap terlibat dalam kudeta dan pembunuhan para jenderal Angkatan Darat tahun 1965. Para wanita ini ditangkap dan diinterogasi. Mereka hanya boleh menjawab ya atau tidak. Jika menjawab tidak, tidak tahu, atau ber-GTM (Gerakan Tutup Mulut) maka mereka telah membuat sang interogator marah dan mereka akan menerima siksaan yang menyisakan trauma dan juga cacat fisik.

Bukan hanya itu, zaman pemerintahan Hitler pun bukti nyata tidak adanya demokrasi.

Seorang cendekiawan, Sami al-Jundi, yang menuangkan kekecewaannya terhadap dunia Arab dalam sebuah buku, menulis bahwa dunia Arab adalah dunia yang kalah. Dunia yang tak pernah berhasil membawa Palestina ke tanah airnya sendiri. Dunia yang justru dalam beberapa hal seringkali merusak dan saling menghancurkan. Kekecewaan al-Juni adalah kekecewaan seorang idealis. Ia adala anggota pemula partai Ba’th. Seluruh tulisan dan buku al-Jundi baik yang progresif maupun yang reaksioner dilarang di kebanyakan negeri Arab dan menurut al-Jundi hal ini membuktikan bahwa pikiran memberontak adalah musuh yang paling ditakuti oleh orang-orang paling berkuasa di negeri ini.

Tapi Socrates berkata bahwa dalam demokrasi, setiap orang berhak untuk menampik untuk diperintah atau memerintah. Segala aturan menjadi terbalik dan kacau. Anak mengambil peran seorang ayah, guru bertingkah seakan-akan ia seorang murid, dan si murid tak mengacuhkan si guru. Socrates pun berkata, “Bahkan keledai dan kuda pun tak mau minggir bila ketemu manusia.”

Jadi bagaimana? Menjadi demokrasi atau anti-demokrasi?

Oh, masih ada jalan. Aristokrasi. Suatu ideologi yang diarahkan kepada kebijakan dan kebaikan. Yang berkuasa bukan sembarang orang melainkan para filosof. Dan dengan hadirnya para filosof sebagai penguasa, bisa dijamin bahwa kebebasan tidak akan diumbar begitu saja (hal ini hanya berakhir sebagai sebuah teori semata karena tidak ada sejarah yang membuktikannya).

Sayangnya setiap individu punya definisi sendiri-sendiri akan apa itu “kebijakan” dan “kebaikan”.

Masyarakat hanya butuh suatu sistem yang dapat menertibkan tanpa harus memojokkan mereka yang berbeda pendapat. Tanpa harus ditahan, atau kehilangan rumah dan harta benda dan sanak saudara, atau diancam hukuman mati. Kalau begitu apakah teroris dan pelaku kriminal lain tidak perlu diberikan pelajaran?

Demokrasi memang dilematis.

“The fear of the Lord is the instruction of wisdom, and before honor is humility.” Proverb 15:33, KJV.

Terinspirasi setelah membaca kumpulan Catatan Pinggir dalam majalah Tempo karangan Goenawan Mohamad dan sebuah buku berjudul “Suara Perempuan Korban Tragedi ’65”.

10 thoughts on “Demokrasi yang Dilematis

  1. blum ada ray yang merumuskan dengan benar apa itu demokrasi dan aturan2nya.
    tapi dengan opini tiap orang masing-masing, demokrasi dengan sembarangan sudah diterapkan dimana-mana.
    spertinya masyarakat perlu bersepakat tentang yang namanya demokrasi dan batasan2nya.

  2. kan ada kan yia tersirat makna demokrasi di pembukaan UUD 1945 oleh para founding fathers, mungkin mnjadi dilematis krn byk faktor, sistemnya,”oknumnya”, truz kesadaran masyarakat…

  3. Selama kita hidup di dalam dunia yang penuh dosa ini, sistem apapun tampak nya tidak ada yang sempurna. Baik theokrasi, demokrasi, diktator, sosialis, pancasilais, liberalis, dan sebagainya.

    Contoh seperti bangsa Israel dulu di PL sebelum ada raja. Walau Tuhan memerintah langsung, salah sedikit mati, tapi tetap saja bangsa Israel berdosa lagi berdosa lagi berdosa lagi😀

    Sehingga, kembali lagi ke manusia nya masing-masing. Sehebat-hebatnya sistemnya, sebagus-bagus sistemnya, kalo manusia nya “ngga bagus” ya sama aja boong😀

    Bukan berarti saya menyerukan supaya kita tidak peduli sistem atau politik atau ideologi. Tapi, contoh sederhana saja: Pernah saya lihat di Indonesia, ada pelang “bagi yang buang sampah sembarangan didenda 2 juta rupiah”. Ironisnya, di depan pelang tersebut, banyak sekali sampah bertumpuk.

    ada hukum nya? ada!
    ada peraturannya? ada!
    apakah peraturannya jelas? tentu saja! pelangnya besar kok. Dan dari TK sampai SMA, selalu di PPKN diajarkan buang sampah pada tempatnya.

    Jadi yang salah di mana nya? hukumnya? peraturannya? publikasi peraturannya? ideologi nya? sistem nya? kurikulumnya? Jawab: Bukan semua.

    yang salah manusia nya kan?
    1. Aparat penegak hukum kurang tegas
    2. Tidak ada kesadaran masyarakat untuk buang sampah pada tempatnya
    😀

  4. kembali. kemarin baru diskusi ma arfah buat tulisan tugas daku. ada pendapat yang mengatakan bahwa demokrasi hanya terbatas pada teori. praktiknya blm ada negara yang sepenuhnya menggunakan demokrasi sebagai asas bernegaranya. bahkan ada pendapat yang mengatakan bahwa demokrasi justru berbanding terbalik dengan kemakmuran dan keamanan negara.

    1. ampun ray…diskusi lo sama arfah berat banget yaa…
      lain kali ajak2 gw lah kalo mau diskusi..apalagi kalo arfah lagi berbaik hati mau menraktir lagi..hehehe

  5. lucu juga yah..
    bahkan sampe ada yang pernah bilang kalo demokrasi itu hanya angan-angan belaka,,sama kayak Santa Claus,,dll..

    dilema mah emang konsekuensi logisnya..bayangin aja kalo misalnya 50 orang aja harus terpenuhi semua keinginannya..gak mungkin kan?apalagi satu negara..
    dan yang dipakai itu adalah ide demokrasi “kekuatan rakyat” yang bentuknya bisa macem2 kayak adanya hukum,,dll..

  6. Waaah…ga nyangka juga..postingan yang uda hampir 6 bulan ini mengundang banyak komen juga ternyata…
    Kirain pada ga suka dengan tulisan macam ini..hhohoo…
    Trimakasi buat semua yang uda komen…

    Kita lihat saja bagaimana demokrasi memperoleh perannya..apa akan menjadi peran utama atau (lagi-lagi) hanya peran figuran. Yaah..kalau kata Rega, hanya jadi angan-angan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s