melankolis · merenung · share house · with friends

Share House

Tahun ajaran baru 2008/2009 merupakan tahun ajaran terakhir saya di kampus tercinta ITB. Yah..semoga saja!!! Akan banyak tugas menanti, deadline, dan dikejar-kejar perasaan (dan tentunya pertanyaan dari orang-orang di sekitar saya, terutama orang tua) untuk cepat-cepat beres Tugas Akhir dan akhirnya bisa sidang. Namun di tahun terakhir ini, saya memutuskan untuk pindah dari kost saya yang lama di Jalan Pelesiran untuk mengontrak rumah di Dago bersama sahabat-sahabat saya (Sindy dan Iet). Alasan utamanya karena saya adalah seseorang yang tidak bisa merasa sendirian dan kesepian. Hanya karena masalah itu saja, saya merasa menjadi orang paling malang yang pernah ada. Dengan mengontrak rumah bersama saya harap bisa mendapat banyak hiburan dari sahabat-sahabat saya itu. Rumah kontrakan kami itu terdiri dari ruang depan, kamar mandi, dapur, gudang, dan satu kamar yang akan kami jadikan tempat sakral nantinya. Jadi kami akan tidur bersama di ruang depan. Seru sekali, sleepover party every night!!!

Waktu di kost yang lama, saya tidak punya televisi. Awalnya memang saya tidak suka nonton TV. Saya lebih memilih baca buku (biasanya sih novel) daripada nonton TV. Ternyata beban kuliah dan segala kegiatan di kampus membuat saya hampir tidak punya waktu untuk membaca novel dan menonton TV adalah aktivitas menghibur paling praktis yang akhirnya saya sadari. Jadi karena saya tidak punya TV di kost, saya senang karena salah satu sahabat saya yang mengontrak bersama ada yang membawa TV. Akhirnya bisa update soal gosip dan berita kriminal terbaru. Bicara soal fasilitas bukan hanya TV saja, sahabat saya yang satu lagi punya hobi memasak. Tidak heran kalau dia punya peralatan masak yang lengkap, sebut saja kompor, blender, mixer, dan pernak-pernik kecil lain. Saya jadi tidak perlu beli makan di luar dan kemilan. Sahabat saya itu pasti akan menyediakannya, hehehee.

Tapi dibalik semua kesenangan yang nampaknya akan mengubah hidup saya lebih ceria, saya menyadari ada satu hal yang selama ini mengusik saya. Saya tidak akan punya privasi lagi. Waktu masih kost dulu, saat saya sedang cek-cok dengan sahabat-sahabat saya itu atau dengan orang lain, saya masih punya kamar pribadi tempat saya menyendiri dan mencurahkan seluruh perasaan saya. Nah…sekarang, saya sadar saya akan kehilangan hal tersebut.

Namun setelah saya pikir matang-matang, saya justru merasa tertantang untuk tinggal bersama. Bukan lagi karena kesenangannya, tapi karena pelajaran berharga yang akan saya dapatkan nantinya. Contohnya, kalau saya sedang emosi (atau biasa disebut marahan) dengan salah seorang dari sahabat saya, saya harus berani menghadapi kondisi tersebut, tidak lagi dengan melarikan diri ke kamar dan menangis atau marah sendirian. Paling tidak saya akan belajar untuk menghadapi emosi saya dan berpikir dengan bijaksana apakah emosi ini harus dikendalikan atau diperlihatkan.

Satu kenyataan lagi yang saya sadari yaitu bahwa rumah ternyaman bukanlah bangunan dengan segala fasilitas atau kondisi yang serba menyenangkan. Tapi rumah ternyaman adalah hati kita masing-masing. Apabila kita bisa mengendalikan emosi kita dan tahu harus berbuat yang benar dengan bijaksana, maka kembali ke hati sendiri adalah hal paling nyaman. Jadi saya harap saya akan sampai ke titik tidak lagi butuh kamar untuk alasan privasi, karena saya punya hati yang memiliki ruang lebih besar untuk mencurahkan dan menyimpan segala bentuk kesenangan, kesedihan, kemarahan, dan kepuasan saya. Terimakasih Tuhan untuk anugerah hati yang telah Kau berikan.

Jadi saya akan namakan rumah kontrakan kami itu dengan “Share House”, karena kami akan saling membagi apapun yang kami miliki, terutama pelajaran berharga dalam hidup. Pelajaran tentang mengendalikan diri dan emosi, menghargai orang lain lebih lagi, kebijaksanaan kapan harus mengalah dan memaksa, dan yang paling penting berpikir untuk mencari setiap solusi untuk kepentingan bersama.

5 thoughts on “Share House

  1. yah yah,, setuju sih kalo tinggal bareng2, palagi kalo temennya yang tinggal bareng kita punya fasilitas lengkap, trus ntar gw zolimi deh tu orang,, gw pinjem barang2nya n ntar kalo uda lulus baru gw balikin,,”itu juga kalo inget!!! wkwkw,,

    tapi sih,,menurutku tinggal bareng tuh gak selalu enaklah,, tergantung karakter,sifat,keadaan jiwa,keadaan emosi qta…
    gak semua orang kok kalo lagi emosi dan punya masalah gak suka membeberkan(baca:curhat) ke orang2, yah kaya aku ini, paling sering cuman meratap di kostan,, hehe..

    kesimpulan,, semua ad enak n ngaknya lah ,, tergantung masing2..

    -salam ganteng dan tampan-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s