merenung · with family · with Him

Pelajaran Mempertahankan Hidup

12 Oktober 2007
22:02:28

Sekilas percakapan…
Di suatu siang hari…
Kak Vani : Halo… apa kabar??
Ibu : Baik..baik.. tapi agak batuk-batuk nih..
Kemudian ibu saya menceritakan bagaimana beliau jatuh sakit dan bagaimana saya juga jatuh sakit. Ada juga cerita tentang saudara yang baru saja meninggal di RS Boromeus sekitar 2 bulan lalu.
Ibu : Iya jadi ya orang sakit ngurus orang sakit. (maksudnya ibu saya mengurus saya)
Kak Vani : tapi ga sempet meninggal ya bu? (menurut saya, ini pertanyaan yang bodoh)
Dwi : ai oto ma ho!!!

Kemudian di suatu sore…
Ibu : (bernyanyi)…bila ku tahu kapan tiba ajalku
Namboru : duh…itu lagu gw…kapan ya gw mati??
Bapak : hus!! omongan lo tuh. Kalo lo mati kan lo yang enak, siapa yang repot? Ya kita-kita yang masih pada hidup ini. Lo sih tinggal dikubur aja, yang ngurusin peti lo siapa? Ya kita!
Saya : iya nih namboru ngaco. Sukur-sukur dikasih kesempatan buat hidup malah pengen cepet-cepet mati.

Sekilas percakapan yang membuat saya merenung. Hidup bukan hanya bicara tentang bernafas, tidur, dan makan. Tapi hidup adalah tentang bagaimana untuk tetap BERNAFAS, bagaimana untuk tetap bisa TIDUR, dan bagaimana untuk tetap MAKAN setiap hari. Intinya hidup adalah bagaimana mempertahankan hidup itu sendiri. Saya suka The Pursuit of Happyness. Film yang secara gamblang menceritakan bahwa materi sangat memberikan kebahagiaan. Bagaimana materi menghancurkan sebuah keluarga, bahkan kepercayaan dan merusak suatu hubungan. Seorang ayah dan anak yang berjuang untuk mengejar suatu kebahagiaan. Diusir dari apartemen berkali-kali. Harus tidur di tempat para tuna wisma. Suatu perjuangan mengejar kebahagiaan dan diakhiri dengan suatu kebahagiaan. Yaitu sang ayah diterima sebagai broker di suatu perusahaan yang bergerak untuk mengurusi saham-saham (pialang saham). Mungkin intinya di film ini bukan bagaimana ending-nya tapi perjuangannya. Satu hal lagi yang saya perhatikan dan saya sadari dari film ini adalah bagaimana untuk meraih suatu kebahagiaan (atau entah apa tujuan dalam hidup anda), ada banyak hal yang harus kita korbankan. Kita akan kehilangan banyak hal tapi kita akan dapatkan satu hal yang sangat bermakna.

Kembali ke percakapan di atas. Namboru merupakan kakak perempuan dari bapak saya. Ia adalah seseorang yang menderita kanker payudara stadium 4 dan stroke (bagian badan sebelah kiri lumpuh total). Beliau divonis dokter mengidap penyakit itu waktu saya kelas 3 SMP. Saat itu baru di awal tahun dan dokter bilang namboru saya bisa bertahan hidup sampai bulan Desember. Menurut saya ini anugerah Tuhan kalau dia bisa bertahan sampai sekarang, suatu angka yang cukup besar untuk dilalui bersama penyakitnya dan dia bertahan, 6 tahun. Tapi akhir-akhir ini namboru saya itu ingin cepat-cepat menyelesaikan hidupnya. Entahlah lelah dengan hidupnya. Penyakitnya. Kondisinya. Saya sendiri sering pusing dan sedikit stres dengan tekanan dari kuliah, pergaulan, kegiatan organisasi, keluarga, bahkan pelayanan di Gereja. Tapi saya tidak pernah berpikir untuk mati saya agar semua ini selesai. Apa mungkin penyakit lebih membebani dari segala masalah lain? Sama saja, saya rasa. Saya percaya Tuhan dan keadilanNya. Dia tidak mungkin memberikan cobaan yang melebihi kekuatan tiap manusia. Suatu ungkapan yang sering terdengar. Bahkan di dalam kitab saya ada ungkapan, “…kamu telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara kecil, maka Aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang lebih besar.” (Matius 25:23). Saya juga mau mengutip ucapan teman saya yang berkata, “Kalau Tuhan melarang homosexual, Dia tidak mungkin dengan kejam menciptakan manusia dengan gen untuk hidup dalam homosexual. Jadi homosexual itu bukan karena gen.” Saya setuju.

Kalau begitu untuk apa kuatir akan hidup ini kalau kita tahu Tuhan akan memenuhi semuanya? Saya pribadi takut kalau Tuhan terlalu mempercayakan saya, sehingga Ia akan terus memberikan saya perkara yang lebih besar. Kalau sudah begitu, saya hanya bisa berdoa saja.

2 thoughts on “Pelajaran Mempertahankan Hidup

  1. Huoi dwi, yeee diisi sekarang….
    daku link dari blog daku yap…

    eh iya, klo daku kadang merasa kayaknya enak banget tanpa beban klo mati,,, dasar
    but sayang ah, masak selama hidup daku cuma ngerasain pacaran selama dua bulan dan langsung putus. daku akan bertahan mengecap garam demi bisa merasakan manisnya gula… cie keren kan quotenya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s