dwihut · with family

perbedaan membuat sempurna (betulkah??)

18 September 2007

7:52:19

“…kau adalah darahku…kau adalah jantungku..kau adalah hidupku..lengkapi diriku…o sayangku, kau begitu sempurna..”

Lirik yang begitu indah dari Andra and the Backbone. Sesuatu yang, menurut saya, jauh dari kehidupan nyata. Apa benar ada seseorang yang begitu sempurna? Impossible. Peluangnya nol. Jujur saja, setiap manusia punya kelemahan. Punya titik minimum. Saya sendiri seringkali kesal dengan diri saya. Fisik yang lemah. Kecerdasan yang pas-pas an. Talenta yang tidak seberapa. Ceroboh. Panikan. Banyak sekali.

Setiap manusia punya variansi dari kesempurnaan. Lalu kalau pasangan hidup menuntut sempurna, pasti maksudnya sempurna sesuai dengan kriteria-kriteria tertentu. Kalaupun ada pasti mendekati sempurna. Selalu ada variansi. Lelah berusaha menjadi sempurna. Sempurna yang dituntut orang-orang disekitar kita. Orang tua. Teman. Pacar. Bos. Atau klien-klien. Kenapa tidak saling menerima kelemahan saja? Apa dong artinya kasih sayang kalau hanya mau menyayangi kelebihannya saja? Itu bukan hal yang sulit. Yang sulit adalah menerima kelemahan dengan sempurna. Hm..pasti tetap ada variansi disini.

Mari kita lihat dari latar belakang keluarga saya. Bapak orang Batak Kristen. Ibu orang Jawa Islam. Eyang orang Jawa Kristen yang menikah dengan Ompung saya, seorang aktivis PKI. Bapak saya memiliki kembaran. Tante saya itu Batak Islam. Percampuran budaya yang ekstrem. Dua prinsip yang dipaksa untuk dipersatukan. Lalu bagaimana dengan saya? Saya orang Batak Jawa Kristen dan tau banyak tentang ajaran-ajaran Islam. Lepas dari itu semua, kami keluarga yang kompleks. Prinsip. Keyakinan. Kepribadian. Budaya. Pendidikan. Visi. Bahkan sampai hobi dan selera. Kalau dicari-cari, saya juga bingung apa persamaan kami semua. Selain saya dan ibu saya sama-sama memiliki tahi lalat di belakang leher dan tangan kiri.

Saya bertumbuh di lingkungan yang begitu majemuk. Tetangga kiri Padang Pariaman. Tetangga kanan Betawi asli. Di kota Depok. Dari saya bermain lari-larian di antara pohon-pohon besar sampai saat ini sudah menjadi kota yang crowded. Pusat perbelanjaan dimana-mana. Perguruan tinggi dimana-mana. Saya jadi bingung, memang pembangunan merata itu dengan didirikannya pusat perbelanjaan? Kenapa tidak dibangun gelanggang olah raga atau perpustakaan saja? Masyarakat kita memang dididik untuk hanya menjadi konsumen. Terlihat dengan “sedikit sekali” fasilitas yang disediakan untuk ilmu pengetahuan. Kapan anak Indonesia jadi inovator? Seperti Jepang. Kita tunggu sepuluh tahun lagi. Hm..saya tidak yakin. Bagaimana kalau 20 tahun lagi. Saya juga tidak yakin. Hm..baiklah 50 tahun lagi saja. Saya belum juga yakin. Entah kapan…

Kita kembali lagi kepada kemajemukan keluarga saya. Bapak saya hobi film action. Ibu saya sinetron tentu saja. Kakak saya suka yang fiktif, seperti Harry Potter, The Lord of The Ring, Narnia. Dan saya suka film kartun. Kami berempat baru 4 kali nonton bioskop bersama. Home Alone. Jurassic Park. Spiderman. Harry Potter. Oh salah, waktu saya dan kakak saya nonton Harry Potter, kedua orang tua kami tidak berminat. Mereka lebih memilih nonton Jelangkung waktu itu. Jadi baru 3 kali kami nonton bersama.

Apa kami keluarga bahagia? Ya, dalam beberapa hal. Apa kami sering bertengkar? Pasti. Tiada hari tanpa perbedaan pendapat. Lalu bagaimana kami mempertahankannya? Dengan melewati sesuatu yang seharusnya dapat menghancurkan kami. Apa kami berhasil? Saya tidak dapat pastikan. Yang saya tau, keluarga kami masih eksis sampai sekarang.

Sebelum saya tutup. Saya akhirnya menemukan persamaan kami. Kami semua memiliki kepribadian sanguinis. Rumah kami ramai sekali. Dengan tawa. Dan pertengkaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s