dwihut · merenung

hanya sekedar ngobrol-ngobrol

16 September 2007

 

17:33

 

 

Gw suka mengobrol. Ini itu ga masalah. Dari hal-hal yang sepele hingga sesuatu yang serius. Yang gw tau, banyak orang suka ngobrol sama gw. Gw tau bagaimana harus memperlakukan lawan bicara gw. Kapan harus menunjukkan dukungan gw atas opini mereka atau sebaliknya justru menjadi rival dalam suatu diskusi. Tentu saja, faktor lain yang mempengaruhi adalah seberapa dekat hubungan gw dengan lawan bicara gw itu. Kenyataannya gw bukanlah orang yang dapat menjadi diri sendiri kalo belum benar-benar mengenali lawan bicara gw. Ada dorongan yang besar, yaitu tidak ingin menyakiti atau menyinggung orang lain. Dan dorongan itu lebih besar daripada dorongan untuk mempertahankan rasa egois gw atau argumen gw. Tidak seperti yang dilakukan orang-orang dengan tipe kepribadian kolerik.

 

Gw sendiri melankolis sanguinis. Entah ditinjau dari sisi mana. Perfeksionis? Tentu tidak. Yang pasti gw bukan orang yang rapih, teliti, atau pun primpen (kalo kata Ika, pemimpin umum Boulevard). Gw suka yang langsung-langsung aja. Gw ga suka melakukan penyelidikan yang terlalu mendalam. Itulah kenapa, gw kurang pintar menganalisis. Empati? Bisa jadi. Gw memang sering kali tidak kuat kalo melihat suatu penderitaan atau kesedihan. Tapi itu dulu. Waktu hidup gw belum diguyur hujan deras. Setelah gw mengalami banyak hal dan dihadapkan oleh yang namanya kehidupan, gw menjadi lebih keras sama hati gw. No more tears. No more cengeng. Harus tetap optimis dalam hidup. Dan menjalankan semuanya pake akal sehat. Tapi emang kepribadian ga bisa berubah se-express itu. Gw tetap sering menangis di tengah-tengah kesendirian gw. Bahkan atas masalah teman-teman gw yang ga bisa gw bantu. Merasa tidak berarti.

 

Kembali ke ngobrol-ngobrol. Banyak hal yang didapatkan dari sekedar mengobrol. Minimal kenal satu kepribadian baru. Dan menurut gw, orang yang sama dengan topik yang berbeda akan melahirkan pribadi yang berbeda juga. Saat bicara tentang hedonisme, dia begitu mendukung, hobi clubbing, martini, melantai. Namun bicara tentang keyakinan pun dia tetap bersemangat. Setiap minggu rutin ke gereja misalnya. Pelayan panggung, penyambut jemaat, diakonia. Sesuatu yang berjalan tidak searah. Terdapat banyak sekali inkonsistensi. Gw percaya setiap orang punya opini dan idealisme nya sendiri akan “sesuatu”. Tapi fakta yang ada, idealisme pun bisa hancur berantakan kalo kebutuhan akan “sesuatu” itu tiba-tiba datang mendesak.

 

“Gw ga suka kecurangan, korupsi, nyontek“. Begitu terhormat dan mulia. Tapi begitu tugas kuliah datang menderu. Deadline tinggal sehari lagi. “Master” pun menjadi jawaban dan jalan keluar atas segalanya. Hahahahaa… Gw cuma bisa tertawa. Atas kelemahan diri gw sendiri. Not action talk only. Atau idealisme tinggi tapi mental ga kuat.

 

Curhat. Level yang lebih rendah dari ngobrol-ngobrol kalo dibandingin sama diskusi. Ngobrol yang penuh emosi. Gw suka banget. Menurut gw di bagian inilah, orang tidak menggunakan akal sehat lagi. Apalagi kalo diselingi dengan amarah, caci maki, atau derai airmata. Inilah manusia dibalik idealisme nya. Saat jiwa memberontak melawan otak sendiri dan “takdir”. Perasaan tidak terima. Menyesal. Sedih. Titik dimana idealisme tinggal kata-kata belaka. Memang setiap manusia mencari “bahagia”. Itulah kenapa idealisme ga ada artinya lagi kalo manusia dihadapkan kepada pilihan, pertahankan idealisme dan bersedih-sedih, atau lawan idealisme dan live happily ever after.

 

Gw sendiri akan bingung pastinya. Walau keluarga gw mengajarkan “pertahankan idealisme dan harga diri”. Gw tetep punya proyek yang namanya kehidupan. Dan gw punya modal buat proyek gw itu. Otak gw. Jiwa gw. Raga gw. Gw ga mau sok idealis disini. Kita lihat saja bagaimana ke depannya. Yang jelas, gw punya prinsip. Dan gw sedang terus belajar untuk menjadi konsisten. Doakan saya lulus mata kuliah ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s