You are currently browsing the category archive for the 'with Him' category.
Saya punya ketakutan. Everyone does. Saya takut Januari 2010 belum juga bisa sidang. Saya takut ketika harus dihadapkan kepada situasi sulitnya mendapatkan pekerjaan. Saya takut tidak bisa menikmati pekerjaan saya nantinya. Saya takut kondisi menghalangi saya untuk mengejar dan mencapai mimpi-mimpi utama saya.
Kamu juga pasti memiliki ketakutan. Entah sama dengan saya atau kamu memiliki ketakutanmu sendiri. Yang jelas, adalah sesuatu yang manusiawi untuk menjadi takut. Karena pada dasarnya kita hanyalah manusia yang terbatas. Banyak hal yang tidak bisa kita perbuat, walau kita merasa sudah berbuat banyak. Banyak hal yang tidak bisa kita mengerti, walau kita merasa sudah menjadi yang terhebat. Kita, sebagai manusia, hanyalah makhluk yang fana.
Begitulah. Kita semua pasti memiliki ketakutan. Untuk seorang atlit lari, masa ketika harus menderita kaki terkilir adalah kondisi yang cukup menakutkan. Untuk seorang yang ambisius dengan karir, masa ketika promosi sulit sekali didapatkan dan begitu banyak kompetitor dalam karir adalah masa yang menakutkan. Untuk seorang mahasiswa yang ingin cepat-cepat lulus, masa ketika dosen pembimbing sulit sekali dihubungi dan tidak menjadi koperatif adalah masa yang menakutkan. Yah akhirnya, kita menjadi takut dengan dampak yang bisa diakibatkan dari masa-masa tersebut.
Untuk sang atlit lari, dia kemungkinan besar tidak akan bisa berlari lagi. Untuk sang pengejar karir, dia kemungkinan besar tidak akan naik jabatan sampai masa pensiun. Untuk sang mahasiswa, dia kemungkinan besar akan diundur lagi kelulusannya. Manusia menjadi takut saat harapan-harapannya mulai terlihat tidak mungkin.
Manusia hanya bisa berharap dan melakukan yang terbaik.
Tapi berharap pada siapa? Berharap pada kekuatan diri sendiri hanya akan melelahkanmu. Berharap pada orang lain hanya akan mengecewakanmu. Berharap pada hal yang bersifat sementara (harta, karir, kekuasaan, kecantikan) pada akhirnya nanti akan habis dan hilang juga. Saya sedang belajar berharap pada Tuhan, sosok yang tak terbatas. Tak terbatas kuasaNya. Tak terbatas jalan pikiranNya.
Saya juga sedang belajar untuk tidak menjadi tinggi hati dengan pencapaian-pencapaian saya selama ini, karena kerja keras yang bisa mengantarkan saya sampai kepada pencapaian-pencapaian itu hanyalah anugerah dari Tuhan saja. Saya hanya mau bermegah karena saya memiliki Tuhan yang memberikan begitu banyak pertolongan setiap saat, membalut luka-luka kekecewaan saya, dan mengubah ketakutan saya menjadi pengharapan.
He is the answer!
Seperti judulnya…
Yup, saya punya RAHASIA BESAR!! Untuk sesuatu, yang saat ini, hanya saya dan Tuhan yang tahu. Disamping dua orang teman dekat saya yang sudah saya sumpah untuk tidak mengatakan ke siapa pun (cross your heart!).
Saya (dan Tuhan) akan melakukan sesuatu yang besar. Hahahhaa. Sesuatu yang saat ini masih seperti mimpi. Yang saat ini hanya seperti kapas-kapas beterbangan. Tapi sesuatu yang saya yakini (dan imani) akan terjadi.
Sesuatu yang akan membuat setiap individu semakin menghayati suatu anugerah yang bernama “relationship“. Dengan temanmu. Sahabatmu. Dengan keluargamu. Dengan ayah atau ibumu. Kakek atau nenekmu. Kakak atau adikmu. Dengan rekan kerjamu. Dengan para pengajarmu. Dengan tetanggamu. Dengan kekasihmu. Dengan tim olahragamu. Atau kelompok belajarmu. Atau geng shoppingmu. Atau hubungan yang terjalin karena belas kasihan yang muncul darimu untuk anak-anak jalanan. Para yatim piatu. Para lanjut usia. Korban bencana. Dan segala hubungan lain yang ada.
Yang saya miliki sekarang hanya semangat dan Tuhan.
Jadi.. Tetap semangat! Kamu berjalan bersama Tuhan!
Tidak ada yang bisa menjadi hal yang lebih membahagiakan selain memiliki seseorang yang bisa ikut merasakan kebahagian saat ini.
Beberapa hari ini saya belajar untuk memperhatikan setiap orang yang hadir dalam kehidupan saya sebagai makhluk yang spesial. Dia yang galak. Dia yang well organized. Dia yang banyak curhat. Dia yang banyak tertawa. Dia yang super pendiam. Dia yang terlampau serius. Dia yang otomatis romantis. Dia yang jutek parah. Dia yang hobi menelepon. Dia yang rajin berdoa. Dia yang fashionable. Dia yang cuek. Dia yang sering overconfidence. Dia yang memang cerdas. Dia yang kreatif. Dia yang kuno. Dia. Dia. Dia. Mereka semua buat saya adalah makhluk-makhluk yang extra ordinary.
Satu dari mereka tidak akan selalu punya waktu untuk selalu bersama saya melalui tawa dan tangis. Tapi saya punya banyak persediaan. Ketika yang satu berhalangan, ternyata saya punya yang lain. Saya tidak mau lagi menggolong-golongkan si dia adalah “sahabat baik”, si dia hanya “teman bersenang-senang”, si dia cukup seorang “acquaintance”, si dia “teman hidup dan matiku”, dan julukan-julukan lainnya. Setiap orang yang hadir dalam hidupku, baik sesaat maupun seabad, adalah temanku.
Mereka yang hadir sesaat ataupun seabad itu bisa membawa dampak besar dalam hidupku yang singkat ini. Dan besarnya dampak yang diberikan tidak berbanding lurus dengan satuan waktu yang mereka habiskan bersama saya. Tapi dengan kualitas hubungan yang terjalin.
Kalian memiliki peran untuk membentuk saya menjadi pribadi yang seperti saat ini. Lewat karaktermu. Kata-katamu. Cara pandangmu. Kesenanganmu. Humormu. Kebiasaanmu. Kerja kerasmu.
Kembali ke statement pertama saya pada postingan kali ini. Sampai saat ini, saya tidak pernah kehabisan teman untuk bersama-sama mengarungi kehidupan baik dalam senyum penuh kegembiraan maupun perihnya hati. Saat ini saya gembira sekali. Disamping karena playlist yang memang saya atur berisi lagu-lagu ceria dan penuh semangat, saya juga semakin menyadari bahwa saya merasakan kehadiran kasih Tuhan melalui tiap-tiap individu yang mampir dalam hidup saya. Dan saya tidak pernah dibiarkan seorang diri melalui batu-batu besar dan kecil ini.
I’m so blessed. Thank You, Lord!
Bandung hujan sore ini. Entah kenapa, ternyata kondisi cuaca di luar sana begitu mempengaruhi suasana hati saya saat ini. Saat langit semakin mendung, suasana hati pun demikian.
Perkenalkan, saya Dwi, makhluk paling melankolis yang pernah ada!
Saya menangis saat mengekspresikan segala sesuatu. Saat senang. Putus asa. Sedih. Mencapai kesuksesan. Marah. Untungnya saya tidak menangis saat lapar. Hahahaha.. (emang masih bayi!).
Ralat! Perkenalkan, saya Dwi, makhluk paling cengeng yang pernah ada!!
Masih berhubungan dengan postingan terakhir saya tentang beberapa orang yang mulai ditarik dari kehidupan saya, sekarang mereka benar-benar sudah mulai pergi. Satu per satu. Akhirnya hilang. Kosong.
Sindy Allrani. Gitaditya Witono. Dwi Arryma Niza. Retno Isnarwati. Tigor Boraspati. Kiki Fernando. Sarah Rainy.
Who’s next?
Hidup memang sebuah misteri. Terlalu banyak hal yang tidak dimengerti, datang. Terlalu banyak hal yang tidak diharapkan, terjadi. Dan Tuhan memang tidak pernah terselami jalan pikiranNya. Saat segala sesuatu tampak baik, ternyata Dia berencana lain. Saat segala sesuatu tampak berat, Dia membiarkannya.
Sebagai manusia, saya masih terus menyusun puzzle kehidupan yang berantakan. Sempat tersusun suatu gambaran masa depan yang terlihat indah. Tapi lagi-lagi, Sang Pemilik Kehidupan ini membongkarnya. Hancur. Dan saat ini, saya kembali terduduk lemah menyusun keping-keping kehidupan untuk suatu masa depan yang penuh damai sejahtera.
Tapi saya hampir putus asa. Pandangan saya kabur. Air mata sudah tak terbendung lagi. Tangan saya terlalu lemas. Kaki saya pun terlalu lelah untuk berjalan mencari kepingan lain yang terbang berhamburan. Ya Bapa, aku perlu pelitaMu. Berikan aku mataMu. Berikan aku tanganMu. Berikan aku kakiMu. Sesungguhnya, hanya kekuatan dariMu saja yang bisa kuandalkan saat ini.
Tuhan, berikan aku hatiMu. Untuk dapat memahami rencanaMu. Paling tidak, untuk dapat memahami kalau setiap apa yang pernah, sedang, dan akan terjadi, adalah baik buatku.
“there are things we don’t want to happen but have to accept, things we don’t want to know but have to learn, and people we cannot live without but have to let go..”
Aku baru saja menyadari kalau menulis itu memang harus berasal dari hati. Menulis ternyata sulit sekali ketika harus dengan sengaja dikarang-karang. Aku baru menyadari kalau setiap kata demi kata dalam tulisan seharusnya mengandung kejujuran di dalamnya.
Akhir-akhir ini aku sudah jarang meng-update tulisan di blog ini. Bukan karena keproduktifanku dalam menulis berkurang. Percayalah aku tetap menulis! Tapi aku tidak bisa mempublish tulisan-tulisanku ketika terlalu banyak hal-hal yang cukup pribadi di sana.
Baiklah, mari kita jujur saja! Aku memang sudah jarang menulis. Karena aku tidak berani jujur dengan diri sendiri! Dan aku takut tulisan-tulisanku pada akhirnya nanti mengumbar dengan jelas ketakutan-ketakutanku selama ini. Aku membayangkan betapa mengerikannya aku membaca sendiri ketakutan-ketakutan itu.
Kondisiku saat ini, baik! Hanya saja aku masih terus belajar untuk kuat berdiri dengan kaki sendiri. Saat ini satu per satu orang-orang yang membantu untuk menopangku mulai ditarik dari kehidupanku. Tak mengapa! Karena aku pun sangat sadar kalau jalan hidup setiap orang berbeda dan tidak bisa dipaksakan untuk kepentinganku seorang. Jadi kondisiku saat ini, baik sekali! Karena aku dalam proses belajar menjadi wanita yang lebih tangguh lagi.
Menulis ini saja sudah membuatku berkaca-kaca. Hampir saja ketakutan-ketakutanku dibuka sedikit demi sedikit. Tapi lewat tulisan ini, aku belajar bagaimana mentransfer setiap ketakutan menjadi motivasi untuk diri sendiri.
Sesungguhnya penopang sejati itu hanyalah Tuhan. Jangan pernah meletakkan pengharapanmu pada manusia yang fana. Saat segala sesuatu yang baik seperti hilang dari hidupmu, percayalah Tuhan menunggumu untuk kembali memandang hanya kepada Dia saja. Dan Dia, satu-satunya pribadi, yang tidak akan pernah meninggalkanmu.
Untuk teman-teman yang mengasihiku, kali ini aku tidak perlu bantuan kalian. Ini saat yang tepat untuk aku merasa sangat lemah, supaya aku bisa merasakan kekuatan dari-Nya. Huff, tapi saat aku tidak kuat lagi, tolong datang untuk sekedar memelukku. Di waktu-waktu tertentu, aku akan sangat membutuhkannya. Hanya jika kalian punya waktu dan bersedia, aku tidak memaksa.
“Stop trusting the power of humans. They are all going to die, so how can they help?” Isaiah 2:22
“Christ living in you, giving you the hope of glory.” Colossians 1:27.
Saya terbangun pagi ini, pukul 03.30, dengan Sindy, sahabat saya di kampus, terbaring di sebelah saya di rumah kontrakan bersama kami, share house.
Saya terbangun pagi itu, tahun lalu, dengan buku-buku bergeletakan dan laptop masih menyala. Ampun!
Saya terbangun pagi itu, 4 tahun lalu, seorang diri di kamar kost yang terasa asing buat saya. Tanpa ibu yang menyiapkan sarapan atau bapak yang mengelus-elus kepala atau seorang kakak untuk dicium.
Saya terbangun pagi itu, 5 tahun lalu, dengan ambisi. Atau obsesi, saya tidak tahu. Dengan cita-cita yang tidak bisa ditampung pikiran sendiri dan membuat saya berenergi besar.
Saya terbangun pagi itu, 6 tahun lalu, dengan air mata. Sembab. Bengkak. Tanpa gairah.
Saya terbangun pagi itu, 9 tahun lalu, namun masih sempat berguling-guling malas di atas tempat tidur. Dengan gejolak-gejolak aneh dalam diri saat memikirkan apa yang akan terjadi sore nanti.
Saya terbangun pagi itu, 10 tahun lalu, dengan status baru. Monkey in love!
Saya terbangun pagi itu, 11 tahun lalu, dengan kesadaran bahwa I’m one of the best 3 student in this school. I made you proud, Dad! Did you expect me more?
Saya terbangun pagi itu, 13 tahun lalu, dengan penyesalan besar. Kenapa aku harus memiliki rambut keriting? Kenapa aku berkacamata? Kenapa aku berkulit hitam? Krisis identitas!
Saya terbangun pagi itu, 16 tahun lalu, dengan gairah besar bersama seragam merah putih baru.
Saya terbangun pagi itu, 18 tahun lalu, dengan keceriaan seorang anak yang lugu. Hari ini ikut karnaval, Yeyyy!!
Entah bagaimana kondisi saya ketika bangun pagi di esok hari.
Atau bulan depan, saat tinggal sedikit teman yang tersisa di kota Bandung tercinta ini.
Atau tahun depan, saat saya sudah menjadi karyawan entah di perusahaan apa.
Atau lima tahun ke depan, saat saya mengandung seorang bayi atau sepasang bayi kembar :p.
Atau sepuluh tahun ke depan, saat saya harus memikirkan sarapan apa yang akan saya berikan kepada suami dan anak-anak.
Atau lima puluh tahun ke depan, saat bahkan saya sudah lupa siapa saya.
Saya pernah terbangun dengan kondisi ceria, bersemangat, bergairah, sedih, sibuk, penuh penyesalan, merasa dicintai, dikuasai kemalasan, seorang diri, dan banyak lagi. Pagi yang saya lalui berwarna. Terkadang indah. Terkadang suram.
Saya membuka mata untuk pertama kali, siang itu, 21 Februari 1987, dengan kasih setia dari Bapa dan janji dari-Nya bahwa rahmat-Nya tidak akan habis, selalu baru setiap pagi.
GOD’s loyal love couldn’t have run out, his merciful love couldn’t have dried up. They’re created new every morning. How great your faithfulness!
Lamentations 3:22-23
Manusia biasa menilai apa yang ada di depan matanya. Kebiasaan buruk manusia adalah menilai sesuatu hanya berdasarkan apa yang bisa dilihat saja. Lihat sebentar. Menilai kemudian. Bahkan cenderung menghakimi. Ada yang penilaian pertamanya memang benar. Tapi dalam banyak kasus, penilaian pertama tidak membuktikan kebenaran apa-apa.
Apa yang bisa dilihat mata kita? Seharusnya keindahan.
Bukan berarti tidak bersyukur dengan anugerah indra penglihatan. Tapi manusia, termasuk saya, masih sering salah dalam penggunaan mata yang seharusnya.
Saya belajar untuk memandang apapun sebagai sesuatu yang indah. Subjektif memang. Tapi apapun bentuknya. Apapun kondisinya. Apapun warnanya. Apapun rupanya. APAPUN!! Pasti mengandung keindahan di dalamnya.
Mulai saja dengan melihat dirimu di depan cermin setiap pagi. Wanita, biasanya tidak puas dengan kondisi fisiknya. Ada saja yang perlu dikeluhkan. Rambut kurang trendi. Poni kependekan :p. Pinggul kebesaran. Pipi terlalu bulat. Entah apa lagi. Kalau saya survey dan daftarkan di postingan ini, bisa jadi tulisan ini akan jadi postingan terpanjang saya. Nyatanya mengeluh tidak cukup. Aktivitas berikutnya adalah membandingkan diri dengan orang lain. Pathetic!
Sejak saya mendapat pengertian baru tentang konsep diri yang sebenarnya. Saya belajar melihat diri saya di cermin dan bersyukur untuk apapun. APAPUN!! Dan belajar meyakinkan diri saya kalau ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh saya yang terbatas ini. Saya yang terlihat sangat terbatas di depan cermin ini. Hal-hal besar yang akan jadi keindahan untuk seorang saya sendiri dan orang lain tentunya.
Tersenyum. Menyapa. Berbahagia untuk kesenangan orang lain. Tetap ceria dan hangat untuk siapa pun yang sedang bersama saya.
Dan yang terpenting, saya belajar untuk memantulkan keindahan Tuhan lewat diri saya. Saya belajar menjadi cermin bagi orang lain untuk melihat Tuhan dalam diri saya. Dan saya belajar menjadi pribadi yang indah untuk Dia.
“What matters is not your outer appearance–the styling of your hair, the jewelry you wear, the cut of your clothes– but your inner disposition. Cultivate inner beauty, the gentle, gracious kind that God delights in.”
1 Peter 3:3-4. The Message







Comment