You are currently browsing the category archive for the 'with friends' category.

Beberapa hari ini saya terlibat pembicaraan menarik dengan teman-teman wanita saya. Tentang betapa tidak terasanya tahun-tahun yang sudah dilalui. Terutama mengingat usia kami yang semakin matang (22 tahun_red) dan dalam hitungan kurang lebih 4-5 tahun lagi, pernikahan akan menjadi topik utama kehidupan kami. Yah, semua memang terlihat alami. Mulai dari anak-anak menuju remaja kemudian dewasa. Mulai dari masuk SMA, kuliah, kerja dan menikah. Pada umumnya setiap manusia melewati masa-masa itu.

But I’m not ready yet. Being a wife. Being a mother. No! BIG NO!!

Saya masih merindukan masa lompat-lompatan sewaktu datang ke Pentas Seni SMA saya, Carasel 68. Saya masih mau mengulanginya lagi. Saya masih mau kebebasan untuk tertawa-tawa ketika menonton atau membaca komik Sinchan. Saya masih mau teriak-teriak geje waktu bermain di wahana Dunia Fantasi. Saya masih mau karaoke lagu-lagu hip-hop terbaru dan bergaya bak anak muda asyik masa kini. Saya masih mau pulang larut malam karena menghabiskan semalam suntuk bermain kartu atau sekedar ber-haha-hihi dengan teman-teman. Saya mau tetap memakai kaos oblong dan celana jeans ketika berpergian.

Masalahnya, 4 atau 5 tahun itu adalah waktu yang singkat. Seperti ketika saya pertama kali mengikuti ospek di kampus hingga saat ini, saya (hampir) lulus sebentar lagi. Empat tahun setengah hanya seperti kedipan mata saja. Dan dalam kedipan mata berikutnya, saya sudah siap dengan baju pengantin, undangan, dan perencanaan bersama dokter untuk melakukan cara KB terbaik.

Mengambil komitmen “menikah” adalah hal yang sangat krusial buat saya. Jika salah memilih pekerjaan, masih bisa mengundurkan diri dan cari pekerjaan lain. Kalau sulit mencari pekerjaan lagi, masih banyak cara lain untuk menghasilkan uang (halal). Tapi menikah adalah keputusan untuk menjadi isteri seumur hidup dan (jika Tuhan berbaik hati mengaruniakan keturunan pada saya) menjadi ibu seumur hidup. Menjadi isteri berarti tunduk dan taat pada suami. Menjadi ibu berarti menjadi teladan dan bersabar dengan anak-anak. Menyerah sebagai isteri dan sebagai ibu tidak ada dalam kamus kehidupan dan pengetahuan saya. Jadi apa pun yang terjadi, saya tidak bisa mundur dari komitmen menikah. Jadi saya harus berpikir keras dan mempertimbangkan dengan serius untuk hal yang satu ini.

Siapkah saya ketika masa-masa itu tiba? Siapkah saya melepaskan hal-hal di masa muda yang (kemungkinan besar) tidak dapat saya lakukan lagi?

Siapkah kamu?

Kawan-kawanku, saya angkat topi untuk kesuksesan yang bisa kalian raih. Saya terharu karena melihat suatu mimpi yang berubah jadi kenyataan.

Kita pernah tertawa bersama untuk humor-humor ringan dan crunchy. Kita pernah tertunduk bersama untuk renungan-renungan singkat tentang hidup ini dan tentang Tuhan. Saya pernah menangis dan itu hanya karena saya merasa aman menangis bersama kalian. Kita pernah menjadi sangat emosional saat membenturkan prinsip-prinsip hidup, saat karakter saling bergesekan.

Saya pernah merasa sangat nyaman bersama kalian. Tapi asal kalian tahu, saya juga pernah merasa sangat terganggu berada di tengah-tengah kalian. Waktu-waktu singkat bersama kalian ini terasa indah. Terimakasih pernah menjadi bagian indah dalam hidup saya. Kehadiran kalian semata-mata hanya untuk membuat saya semakin merasakan kebaikan Tuhan. Mari sama-sama terus memandang kepada Dia karena Dia tidak pernah kehabisan cara untuk membuat kamu semua merasa bahagia. Dan “Tetap Setia!”. Kalian cuma perlu tahu, ada orang-orang yang juga berjuang di tempat yang berbeda. Berjuang untuk tetap setia (Rega Kristian Sinulingga di kaki Gunung Manglayang, 25 April 2009).

Kesenangan dan segala kebersamaan itu berakhir juga. Untuk sementara waktu. Hingga 10 tahun lagi, bersama keluarga tercinta :)

Cheers!!

Untuk kesuksesan kita bersama!!

Ditulis dengan rasa haru yang besar untuk Ruth Naibaho dan Rebecca Carolina. Juga untuk Ferry Martho Pangaribuan. Serta Kiki Fernando Saragih, Sarah Rainy, dan Laura Sihaloho, yang sudah lebih dulu pergi berkelana.

Tidak ada yang bisa menjadi hal yang lebih membahagiakan selain memiliki seseorang yang bisa ikut merasakan kebahagian saat ini.

Beberapa hari ini saya belajar untuk memperhatikan setiap orang yang hadir dalam kehidupan saya sebagai makhluk yang spesial. Dia yang galak. Dia yang well organized. Dia yang banyak curhat. Dia yang banyak tertawa. Dia yang super pendiam. Dia yang terlampau serius. Dia yang otomatis romantis. Dia yang jutek parah. Dia yang hobi menelepon. Dia yang rajin berdoa. Dia yang fashionable. Dia yang cuek. Dia yang sering overconfidence. Dia yang memang cerdas. Dia yang kreatif. Dia yang kuno. Dia. Dia. Dia. Mereka semua buat saya adalah makhluk-makhluk yang extra ordinary.

Satu dari mereka tidak akan selalu punya waktu untuk selalu bersama saya melalui tawa dan tangis. Tapi saya punya banyak persediaan. Ketika yang satu berhalangan, ternyata saya punya yang lain. Saya tidak mau lagi menggolong-golongkan si dia adalah “sahabat baik”, si dia hanya “teman bersenang-senang”, si dia cukup seorang “acquaintance”, si dia “teman hidup dan matiku”, dan julukan-julukan lainnya. Setiap orang yang hadir dalam hidupku, baik sesaat maupun seabad, adalah temanku.

Mereka yang hadir sesaat ataupun seabad itu bisa membawa dampak besar dalam hidupku yang singkat ini. Dan besarnya dampak yang diberikan tidak berbanding lurus dengan satuan waktu yang mereka habiskan bersama saya. Tapi dengan kualitas hubungan yang terjalin.

Kalian memiliki peran untuk membentuk saya menjadi pribadi yang seperti saat ini. Lewat karaktermu. Kata-katamu. Cara pandangmu. Kesenanganmu. Humormu. Kebiasaanmu. Kerja kerasmu.

Kembali ke statement pertama saya pada postingan kali ini. Sampai saat ini, saya tidak pernah kehabisan teman untuk bersama-sama mengarungi kehidupan baik dalam senyum penuh kegembiraan maupun perihnya hati. Saat ini saya gembira sekali. Disamping karena playlist yang memang saya atur berisi lagu-lagu ceria dan penuh semangat, saya juga semakin menyadari bahwa saya merasakan kehadiran kasih Tuhan melalui tiap-tiap individu yang mampir dalam hidup saya. Dan saya tidak pernah dibiarkan seorang diri melalui batu-batu besar dan kecil ini.

I’m so blessed. Thank You, Lord!

Bandung hujan sore ini. Entah kenapa, ternyata kondisi cuaca di luar sana begitu mempengaruhi suasana hati saya saat ini. Saat langit semakin mendung, suasana hati pun demikian.

Perkenalkan, saya Dwi, makhluk paling melankolis yang pernah ada!

Saya menangis saat mengekspresikan segala sesuatu. Saat senang. Putus asa. Sedih. Mencapai kesuksesan. Marah. Untungnya saya tidak menangis saat lapar. Hahahaha.. (emang masih bayi!).

Ralat! Perkenalkan, saya Dwi, makhluk paling cengeng yang pernah ada!!

Masih berhubungan dengan postingan terakhir saya tentang beberapa orang yang mulai ditarik dari kehidupan saya, sekarang mereka benar-benar sudah mulai pergi. Satu per satu. Akhirnya hilang. Kosong.

Sindy Allrani. Gitaditya Witono. Dwi Arryma Niza. Retno Isnarwati. Tigor Boraspati. Kiki Fernando. Sarah Rainy.

Who’s next?

Hidup memang sebuah misteri. Terlalu banyak hal yang tidak dimengerti, datang. Terlalu banyak hal yang tidak diharapkan, terjadi. Dan Tuhan memang tidak pernah terselami jalan pikiranNya. Saat segala sesuatu tampak baik, ternyata Dia berencana lain. Saat segala sesuatu tampak berat, Dia membiarkannya.

Sebagai manusia, saya masih terus menyusun puzzle kehidupan yang berantakan. Sempat tersusun suatu gambaran masa depan yang terlihat indah. Tapi lagi-lagi, Sang Pemilik Kehidupan ini membongkarnya. Hancur. Dan saat ini, saya kembali terduduk lemah menyusun keping-keping kehidupan untuk suatu masa depan yang penuh damai sejahtera.

Tapi saya hampir putus asa. Pandangan saya kabur. Air mata sudah tak terbendung lagi. Tangan saya terlalu lemas. Kaki saya pun terlalu lelah untuk berjalan mencari kepingan lain yang terbang berhamburan. Ya Bapa, aku perlu pelitaMu. Berikan aku mataMu. Berikan aku tanganMu. Berikan aku kakiMu. Sesungguhnya, hanya kekuatan dariMu saja yang bisa kuandalkan saat ini.

Tuhan, berikan aku hatiMu. Untuk dapat memahami rencanaMu. Paling tidak, untuk dapat memahami kalau setiap apa yang pernah, sedang, dan akan terjadi, adalah baik buatku.

“there are things we don’t want to happen but have to accept, things we don’t want to know but have to learn, and people we cannot live without but have to let go..”

Aku baru saja menyadari kalau menulis itu memang harus berasal dari hati. Menulis ternyata sulit sekali ketika harus dengan sengaja dikarang-karang. Aku baru menyadari kalau setiap kata demi kata dalam tulisan seharusnya mengandung kejujuran di dalamnya.

Akhir-akhir ini aku sudah jarang meng-update tulisan di blog ini. Bukan karena keproduktifanku dalam menulis berkurang. Percayalah aku tetap menulis! Tapi aku tidak bisa mempublish tulisan-tulisanku ketika terlalu banyak hal-hal yang cukup pribadi di sana.

Baiklah, mari kita jujur saja! Aku memang sudah jarang menulis. Karena aku tidak berani jujur dengan diri sendiri! Dan aku takut tulisan-tulisanku pada akhirnya nanti mengumbar dengan jelas ketakutan-ketakutanku selama ini. Aku membayangkan betapa mengerikannya aku membaca sendiri ketakutan-ketakutan itu.

Kondisiku saat ini, baik! Hanya saja aku masih terus belajar untuk kuat berdiri dengan kaki sendiri. Saat ini satu per satu orang-orang yang membantu untuk menopangku mulai ditarik dari kehidupanku. Tak mengapa! Karena aku pun sangat sadar kalau jalan hidup setiap orang berbeda dan tidak bisa dipaksakan untuk kepentinganku seorang. Jadi kondisiku saat ini, baik sekali! Karena aku dalam proses belajar menjadi wanita yang lebih tangguh lagi.

Menulis ini saja sudah membuatku berkaca-kaca. Hampir saja ketakutan-ketakutanku dibuka sedikit demi sedikit. Tapi lewat tulisan ini, aku belajar bagaimana mentransfer setiap ketakutan menjadi motivasi untuk diri sendiri.

Sesungguhnya penopang sejati itu hanyalah Tuhan. Jangan pernah meletakkan pengharapanmu pada manusia yang fana. Saat segala sesuatu yang baik seperti hilang dari hidupmu, percayalah Tuhan menunggumu untuk kembali memandang hanya kepada Dia saja. Dan Dia, satu-satunya pribadi, yang tidak akan pernah meninggalkanmu.

Untuk teman-teman yang mengasihiku, kali ini aku tidak perlu bantuan kalian. Ini saat yang tepat untuk aku merasa sangat lemah, supaya aku bisa merasakan kekuatan dari-Nya. Huff, tapi saat aku tidak kuat lagi, tolong datang untuk sekedar memelukku. Di waktu-waktu tertentu, aku akan sangat membutuhkannya. Hanya jika kalian punya waktu dan bersedia, aku tidak memaksa.

“Stop trusting the power of humans. They are all going to die, so how can they help?” Isaiah 2:22

“Christ living in you, giving you the hope of glory.” Colossians 1:27.

Melalui masa-masa perkuliahan memang bukan hal yang mudah. Tugas demi tugas. Ujian demi ujian. Presentasi demi presentasi. Sampai akhirnya di puncak ada yang namanya Tugas Akhir. Tidak semua orang melewati tahap Tugas Akhir ini dengan lancar. Ada saja yang menjadi penghambat sehingga segala rencana tentang kelulusan pun jadi berantakan.

Pada postingan kali ini, saya mau memberikan apresiasi saya sebesar-besarnya untuk teman-teman yang sudah dengan berhasil melewati tahap Tugas Akhir dan akhirnya bisa sidang sehingga memperoleh gelar Sarjana.

iet

Elisa Julietta Magdalena Sirait, S.T.
Walau tidak jadi wisuda Juli tapi akhirnya semua permasalahan tugas Sistem Logistik, dengan dosen SNB, terselesaikan juga. Wisuda Oktober, Iet!!

sindySindy Allrani, S.T.
Triple A!! Maaf di saat-saat terakhir itu gw tidak bersama lo, but you did it!

ivanIvan Kristianto Singgih, S.T.
Maaf gw ga dateng sidang lo, Van. Walau lagi di Depok, tapi gw mengirimkan malaikat-malaikat untuk melindungi lo dari serangan para dosen penguji, hehehe.

ruthSotardodo Lambok Ruth Naibaho, S.T.
TA+Sidang+Revisi yang kejar-kejaran sama jadwal pulang ke Bali. Akhirnya semuanya selesai, Spa :) . Tinggal berenang-berenang aja kan di sana, hahhaha.

anggiPutri Rine Anggreini, S.T.
Maaf Anggi, gw ga bisa dateng sidang lo :( . Ada tante gw waktu itu. Terimakasih juga untuk dukungan lo di wall facebook gw :) . Jadi gimana Total?

silvySilvia Rahmawati, S.T.
Silvi.. No more menginap di LSP ya. Tapi tetep semangat, Sil. Kejar S2 lo. Sekarang bikin tesis deh.

beccaRebecca Carolina Simanjuntak, S.T.
Gagal sidang? Hahahha.. Udah lah ya, Bek. Gelar S.T. udah ditangan sekarang. Tinggal cari calon suami gubernur aja :)

danielDaniel Sanjaya, S.T.
Teman PTI (nol) gw. Teman jogging. Teman yang sangat perfeksionis. Akhirnya sidang juga ya, Dan. You deserve the best. Doakan saya menyusul.

daudMuhamad Daud Fahreza, S.T.
Sang pembuka kunci pertama LIPO. Selamat ya, Daud :)

arrumSekar Arrum, S.T.
Ibu Kordas udah lulus duluan, huhuhuu. Selamat ya Arrum. Hidup Single But Not Available!!

bebelIsabelle Aranditha, S.T.
Shireen, poni sensasional dan fenomenal. Selamat, Bel :) Ga ada lagi temen poni-poni-an gw, hiks.

karinKarinidya Ristiniati, S.T.
Rin, employee engagement akhirnya tamat juga ya. Doakan saya masih berjuang dengan corporate identity, hehhehe. Jadi sarjana jangan jadi penulis puisi ya, Rin. Hehhehe.

noviNovi Kumala Sari, S.T.
Nov, beres Nov kuliah. Akhirnya lulus juga. Ditunggu undangannya buat yang di bulan Februari. Salamku buat yayang lo ;)

agungAgung Hikmat, S.T.
Siaware membawa lo jadi sarjana, Gung? Ah tau gitu gw ikutan Siaware :D

danishAndhika Puji Daniswara, S.T.
Danis, sarjana nih. Jangan lupa printer LIPO dikembalikan ke tempatnya semula ya. Hahahha..

wilsonWilson Eddi Wijaya, S.T.
Jagoan finance kita akhirnya lulus juga. Kerjasama lo dengan Pak Pamoedji baik juga ternyata, Son. Makasi buat nasihat-nasihat bisnisnya, Bos.

aliaAlia Fariza, S.T.
Alia sidang juga. Akhirnya sarjana juga. Selamat ya, Al!

nawafNawaf Abdullah, S.T.
Waf, bawa pulang kebanggaan gelar sarjana ITB mu ke Bangil ya.

ajengAjeng Dwi Intan, S.T.
Ajeng, selamat ya!! Maaf ga bisa dateng sidangnya.

arfahM. Arfah D, S.T.
Sebelas semester akhirnya dilalui, Arf. Sarjana, Fah, dari teknik lingkungan. Jangan jadi wartawan ya. Hahahha..

kikiKiki Fernando Saragih, S.T.
Tragedi kemalingan di H-1 sidang ga membuat lo patah semangat ya, Bang. Udah sarjana. Gih pulang ke Siantar, bawa oleh-oleh gelar sarjana buat keluarga :)

Tidak lupa untuk teman dan sepupuku dari Universitas lain.

vini

ade

Vini Ratnasari, S.Ked. dan Ade Sari Nauli Sitorus, S.Ked.
Teruskan perjuangan koas kalian. Raih profesi dokter secepatnya. Jadi dokter yang baik. Jangan money-oriented :D

teman-teman

Untuk teman-teman yang masih berjuang.. Tetap Semangat!! Waktunya akan tiba kalian bergelar sarjana juga.

Dan untuk saya juga!!

dwi

Saya akhirnya mengikuti acara wisudaan dari himpunan mahasiswa Teknik Industri (MTI), Sabtu (18 Juli 2009), dari awal sampai akhir. Biasanya saya hanya sekedar menonton performance dari tiap angkatan dan pulang saat mulai renungan. Tapi kemarin, saya memutuskan untuk tinggal sampai renungan berakhir. Walau jam sudah menunjukkan pukul 11.28 malam dan renungan berakhir hampir pukul satu dini hari, saya merasa tidak rugi sama sekali mendengar renungan yang diucapkan oleh mereka, para wisudawan dan wisudawati, teman-teman saya sendiri.

Renungan juga diisi dengan banyak ucapan terima kasih untuk orang-orang yang sudah banyak memberikan kesan dalam melalui masa-masa di kampus ini.

Saya jadi sedikit merenung. Tuhan memang memberikan orang-orang tertentu, di waktu tertentu, di tempat tertentu, dengan tepat.

Beberapa orang pernah mampir sesaat dalam hidup kita dan kemudian pergi, sekedar untuk menghibur atau menguatkan. Ada juga orang-orang yang memang diletakkan Tuhan untuk menemani kita dalam jangka waktu yang cukup panjang, untuk mengerti apa itu komitmen dan kesetiaan. Ada yang hadir untuk menceriakan hari-hari. Ada yang hadir untuk mengajak berpikir. Ada orang-orang yang dihadirkan untuk bersama-sama melalui suatu perjuangan tertentu dan berakhir dengan perpisahan untuk menempuh perjalanan hidup yang berbeda. Ada juga yang menolong. Ada yang menempa mental kita.

Yang pasti saya tahu, Tuhan meletakkan orang-orang yang sungguh-sungguh mengasihi saya dan bisa saya kasihi, untuk bersama-sama menikmati hidup dan belajar. Belajar bahwa hidup adalah anugerah. Bahwa hidup adalah tentang Sang Pemberi Hidup itu sendiri, yang dengan kebaikanNya mengijinkan mereka-mereka hadir dalam hidup saya.

Buat saya sendiri ini merupakan pelajaran untuk selalu memberi diri kepada siapapun, acquaintance, friends, best friends, family, class mate, house mate, yang memang membutuhkan kehadiran saya. Terkadang untuk memberi pertolongan. Terkadang memeluk. Terkadang untuk mengingatkan dengan keras dan menasehati. Terkadang untuk hanya sekedar bercanda.

Kita tidak pernah tahu kapan mereka akan diambil dari hidup kita untuk mengisi hidup orang lain. Jadi bersikap manis lah untuk siapa pun yang kamu temui hari ini. Percayalah, walau hanya untuk sekedar tersenyum dan menyapa, mereka punya arti dalam hidup kita.

But I am like an olive tree flourishing in the house of God; I trust in God’s unfailing love for ever and ever. I will be like a well-watered garden, like a spring whose waters never fail.

Blog Stats

  • 13,916 hits

My Mood

My Unkymood Punkymood (Unkymoods)

Flowers

sunflower

passion flower

red flower

hand flower

bucket flower

More Photos

Calendar

December 2009
M T W T F S S
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.

Pages