You are currently browsing the category archive for the 'with family' category.
Natal kali ini saya akan tetap di Bandung untuk berjuang bersama Tugas Akhir saya. Dulu saya bilang, “Saya tidak akan pulang ke rumah kalau TA saya belum selesai.” Jadilah seperti yang saya katakan. Untuk menghapus kesedihan saya karena akan sendirian di hari Natal tahun ini tanpa keluarga, berikut akan saya tampilkan cerita saya mengenai adik sepupu saya, Dio dan abang sepupu saya, Risayogi.
Saya beri kalian hak untuk menentukan sendiri ending dari masing-masing cerita. Enjoy!
Adik sepupu saya, Dio, adalah anak yang sangat lucu waktu masih kecil dulu. Saat ini dia sudah tumbuh besar dan duduk di bangku kuliah tahun kedua. Dio akan menjadi tokoh utama di dua cerita saya berikut. Dan cerita ketiga diperankan oleh Risayogi.
1. Suatu hari Dio (yang masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak), abang, dan juga kedua orang tuanya pergi ke Kramat Jati Indah. Suatu pertokoan di daerah Kramat Jati, Jakarta Timur. Kondisi jalan di daerah tersebut terkenal padat. Sementara ayah mereka dikenal sebagai seorang ayah yang cukup keras dan galak. Ayah mereka itu datang langsung dari Tanah Batak di Sumatera Utara. Ternyata malam itu sedang ada pasar malam yang biasanya menghadirkan permainan seperti Merry Go Round, Cincin Raksasa, Bom Bom Car, dan sebagainya. Pasar malam diadakan di arena parkir mobil sehingga jalanan yang sudah padat semakin padat saja. Alhasil sang ayah otomatis menjadi sangat kesal dan dia berkata sambil mengomel, “Ahhh, ini dia biang keroknya!!” Akhirnya mereka harus mencari tempat parkir yang agak jauh dari pertokoan. Tiba saatnya mereka akan pulang dan harus kembali ke mobil yang diparkir jauh itu. Kemudian spontan saja adik sepupu saya, Dio, merengek. Kedua orang tua pun menjadi bingung, “Kenapa Dek?” Tapi tetap saja Dio tidak berhenti merengek. Kemudian Dio berkata, “Kita udah mau pulang ya? Kenapa sih buru-buru? Aku kan mau main biang kerok duluuu!!” ~~~~
2. Suatu malam Dio merengek dan ketakutan karena harus tidur sendiri. Dio yang kesal ini berjalan ke kamar kedua orang tuanya dan mengetuk pintunya. Tok. Tok. “Ibuuu! Bukain pintunya dong!” Pintu pun terbuka dan sang ibu keluar, “Ada apa Dek?” Si Dio menjawab, “Adek kan takut tidur sendiri!! Bapak kan udah gede kok masih ditemenin sih? Adek kan masih kecil, temenin dong!” Sang ayah yang mendengar percakapan ibu dan anak itu pun akhirnya memutuskan untuk ikut campur, “Yah memang begitu, Dek. Itu namanya suami isteri!!” Si Dio kecil pun menjawab sang ayah dengan tegas, “Kalau gitu, Dio mau punya isteri ajaaa!!” ~~~~
3. Malam ini, saya dan abang sepupu saya, Risayogi terlibat suatu percakapan unik yang mengakibatkan saya harus berkata, “Terus kenapa? Lo ga suka? Utarakan dong!!” Seketika saya merasa ada yang janggal dengan kata-kata saya barusan. Saya pun bertanya kepada si abang sepupu, “Risa, kenapa dalam bahasa kita, kita bilangnya ‘utarakan’ bukan ‘baratkan’ aja atau apalah?” Risa pun menjawab, “Karena dalam bahasa Inggris begini ‘Why?? You don’t like it?! Then north it!!” ~~~~
These three stories worked for me. LOL. I hope it works for you too
Happy Holliday!!
Postingan saya kali ini bukan tentang lasagna ataupun resep membuat lasagna yang yummy. Sebenarnya saya tidak tahu mau memberikan judul apa pada postingan kali ini. Saya hanya teringat lasagna yang akhirnya bisa saya makan dengan puas, setelah akhir-akhir ini membatasi diri untuk makan makanan dengan kadar lemak tinggi.
Langsung saja pada inti dari postingan kali ini. Saya senang sekali dengan liburan lebaran dengan keluarga besar tahun ini. Jadwal kunjungan ke rumah-rumah saudara yang padat dan bertemu lagi dengan sepupu-sepupu dan tante-tante saya untuk saling berbagi cerita.
Saya belajar bermain cubic. Permainan yang menantang!! Terimakasih untuk sepupu saya yang masih duduk di kelas 2 SMA, Andira Afiati.

Dan hari Rabu, 23 September 2009, kami berkumpul bersama untuk merayakan ulang tahun sepupu saya, Risayogi Wicaksono Sitorus, yang ke-24. Saya senang sekali. Semata-mata karena akhirnya kami sekeluarga besar bisa berkumpul dengan lengkap! Tidak ada yang tidak datang karena alasan ujian, jaga malam, banyak tugas, paduan suara, atau pacaran.

Kami, ber-19, makan bersama di The Buffet, Plaza Semanggi. Dan kemudian disusul dengan berkaraoke bersama di Inul Vizta selama 2 jam. Keluarga besar kami memang suka bernyanyi. Dan karaoke kali ini merupakan karaokean ketiga kami
. Sebelumnya kami memang sering berkaraokean, tapi dengan sederhana di rumah
.
Pada kesempatan kali ini, saya akan coba tampilkan list lagu yang cukup heboh kami nyanyikan sekeluarga. Padahal gap umur keluarga kami berbeda cukup jauh. Ada Eyang saya yang berusia 87 tahun sampai keponakan saya, Jhovancka, yang masih berusia 10 tahun.
- Twist and Shout – The Beatles
- Jai Ho – The Pussycat Dolls
- Cari Jodoh – Wali
- I Don’t Want To Miss A Thing – Aerosmith
- Obladi Oblada – The Beatles
- Alusi Au – Eddy Silitonga
- Setangkai Anggrek Bulan – Rani
- Goyang Duyu – Project Pop
- Tak Gendong – Mbah Surip
- Medley Selamat Ulang Tahun

They are my treasure. Keluarga yang hangat. Keluarga yang gila! Keluarga yang heboh. I am lucky to have them in my life. Terimakasih Tuhan
.
Saya akhirnya mengikuti acara wisudaan dari himpunan mahasiswa Teknik Industri (MTI), Sabtu (18 Juli 2009), dari awal sampai akhir. Biasanya saya hanya sekedar menonton performance dari tiap angkatan dan pulang saat mulai renungan. Tapi kemarin, saya memutuskan untuk tinggal sampai renungan berakhir. Walau jam sudah menunjukkan pukul 11.28 malam dan renungan berakhir hampir pukul satu dini hari, saya merasa tidak rugi sama sekali mendengar renungan yang diucapkan oleh mereka, para wisudawan dan wisudawati, teman-teman saya sendiri.
Renungan juga diisi dengan banyak ucapan terima kasih untuk orang-orang yang sudah banyak memberikan kesan dalam melalui masa-masa di kampus ini.
Saya jadi sedikit merenung. Tuhan memang memberikan orang-orang tertentu, di waktu tertentu, di tempat tertentu, dengan tepat.
Beberapa orang pernah mampir sesaat dalam hidup kita dan kemudian pergi, sekedar untuk menghibur atau menguatkan. Ada juga orang-orang yang memang diletakkan Tuhan untuk menemani kita dalam jangka waktu yang cukup panjang, untuk mengerti apa itu komitmen dan kesetiaan. Ada yang hadir untuk menceriakan hari-hari. Ada yang hadir untuk mengajak berpikir. Ada orang-orang yang dihadirkan untuk bersama-sama melalui suatu perjuangan tertentu dan berakhir dengan perpisahan untuk menempuh perjalanan hidup yang berbeda. Ada juga yang menolong. Ada yang menempa mental kita.
Yang pasti saya tahu, Tuhan meletakkan orang-orang yang sungguh-sungguh mengasihi saya dan bisa saya kasihi, untuk bersama-sama menikmati hidup dan belajar. Belajar bahwa hidup adalah anugerah. Bahwa hidup adalah tentang Sang Pemberi Hidup itu sendiri, yang dengan kebaikanNya mengijinkan mereka-mereka hadir dalam hidup saya.
Buat saya sendiri ini merupakan pelajaran untuk selalu memberi diri kepada siapapun, acquaintance, friends, best friends, family, class mate, house mate, yang memang membutuhkan kehadiran saya. Terkadang untuk memberi pertolongan. Terkadang memeluk. Terkadang untuk mengingatkan dengan keras dan menasehati. Terkadang untuk hanya sekedar bercanda.
Kita tidak pernah tahu kapan mereka akan diambil dari hidup kita untuk mengisi hidup orang lain. Jadi bersikap manis lah untuk siapa pun yang kamu temui hari ini. Percayalah, walau hanya untuk sekedar tersenyum dan menyapa, mereka punya arti dalam hidup kita.
Akhirnya saya kesampaian juga pulang ke Depok. Kembali kepada kedua orang tua saya di rumah. Di tengah aktivitas di kampus yang akhir-akhir ini membuat saya sakit kepala dan mual-mual, pulang ke rumah adalah hiburan yang sangat membantu meringankan beban selama ini.
Saya sendiri mendefinisikan rumah sesederhana ini saja. Tempat dimana saya akan kembali setelah pergi kemana pun. Tempat ngeteh sore sambil bicara ringan tentang hidup yang kami alami masing-masing. Tempat dimana kasih sayang berlabuh. Tempat dimana masing-masing kami adalah diri kami sendiri. Tempat dimana memori suka paling membahagiakan dan duka terhebat, terjadi.
Rumah saya tidak semegah istana Buckingham. Taman disekelilingnya tidak seindah Andalasia. Tapi rumah yang saya maksud di sini adalah orang-orangnya. Bapak. Ibu. Kakak. Mereka adalah orang-orang yang membuat saya jatuh hati. Sekeras apa pun saya berusaha untuk kecewa terhadap mereka, saya tetap kembali dengan menyesal untuk berkata, “Aku sayang kalian.” Sekeras apa pun saya tidak peduli terhadap mereka, saya tetap kembali (lagi-lagi) dengan menyesal untuk sekedar berkata, “Apa kabar?“
Mereka lah orang-orang yang membuat saya memahami pengorbanan dan perjuangan. Mereka lah orang-orang yang paling saya sayangi. Walau (seandainya) tidak ada alasan yang masuk akal sekali pun. Sayangnya, mereka punya sejuta alasan untuk membuat saya tunduk akan perasaan ini.
I love being around them
Kalender menunjukkan tanggal 21 Februari 2007. Dua tahun lebih 18 hari yang lalu. Waktu itu adalah ulang tahun saya dimana saya merasa sangat sendiri. Saya menerima banyak ucapan selamat dan hadiah namun hati saya merasa sepi. Saya menghabiskan sore di hari itu dengan berjalan menyusuri jalan manapun ke mana kaki saya mau melangkah.
Saya memperhatikan kehidupan dan kesibukan yang terjadi. Hilir mudik. Hingar bingar. Lalu lalang. Saya sempat menyimpulkan bahwa pengisi kehidupan ini adalah kesibukan. Ambisi. Saya juga melihat ada ambisi di sana. Jauh di dalam pikiran setiap orang. Target jangka pendek. Target jangka panjang. Dan cinta semata-mata hanya menjadi suatu target entah jangka pendek atau panjang. Keindahan hubungan karena cinta dijalin hanya karena garis-mati itu hampir tiba. Sayang sekali.
Saya berhenti sesaat untuk makan sore sambil mengingat setiap hubungan yang pernah saya jalin dengan siapa pun.
Keluarga.Keluarga besar. Teman masa kecil. Teman mencari jati diri. Teman bergosip. Pacar pertama. Teman “tapi mesra”. Bos. Anak buah. Teman belajar. Teman gereja. Teman bicara.
Setelah itu saya melewati sebuah toko buku sederhana di depan supermarket di Kota Bandung. Saya berencana mencari sebuah buku untuk bisa saya renungkan sehingga saya lebih mengerti makna kehidupan. Tapi kemudian tangan saya meraih kotak kecil bunga-bunga itu. Hanya sekeping CD instrumen. Our Daily Bread edisi spesial ulang tahun. Hadiah untuk saya sendiri. Saya terenyuh ketika membaca tulisan di depannya.
“Some people have a way of setting up residence in us. They march into some barren room of our heart and hang cheery curtains, scatter soft rugs, dot the walls with framed prints of tender and whimsical moments, then set about building a cozy fire beside two sink-back-and-stay-awhile-chairs.”
Di tengah masalah dan pergumulan yang merisaukan hati saya, saya menyadari bahwa hubungan adalah segalanya. Kita menjadi senang karena suatu hubungan. Kita pun menjadi marah karena suatu hubungan. Kita menjadi kecewa karena suatu hubungan. Kita juga menjadi bijaksana karena suatu hubungan.
Di ulang tahunku yang ke-20, saya berterima kasih kepada Tuhan untuk setiap orang yang sudah Dia letakkan dalam kehidupanku. Saya berterima kasih untuk setiap emosi yang pernah aku rasakan dikarenakan suatu hubungan. Saya menyadari bahwa hidupku sempurna dengan orang-orang yang hadir sesuai dengan peran mereka masing-masing. Dan hal itu yang membuatku semakin mencintai hidup ini dan semakin bersyukur dari hari ke hari.
Ya, kamu-lah orang yang membuatku bersyukur hari ini! Terima kasih.
Hari ini saya pergi ke Career Days 2009, suatu acara yang diadakan oleh Fakultas Ekonomi UI dan bekerja sama dengan AIESEC, bersama abang sepupu saya bernama Wahyu. Kami berdua naik motor ke Istora Senayan. Sedihnya, perjalanan kesana dan dari sana agak terhambat diterjang badai hujan hampir di seluruh pelosok Jakarta sampai Depok. Kami harus berhenti mencari tempat berteduh selagi hujan. Tapi sial bagi si motor karena jalanan menjadi licin dan banyak genangan air. Alhasil jadilah motor kembali ke rumah dengan kondisi kotor parah.
Sesampai di rumah kami berdua harus bertanggung jawab membersihkan motor. Saya sendiri belum pernah cuci motor sebelumnya. Jadilah si abang sepupu ini mendikte apa-apa saja yang harus saya kerjakan.
Abang Wahyu : Begini Dwi, tinggal di lap seperti ini aja. Ga usah lama-lama. Ga usah sampe ngos-ngos-an juga (si abang kemudian mengilustrasikan orang yang ngos-ngos-an).
Logat si abang Wahyu ini seperti logat orang-orang batak yang sudah lama di perantauan. Seperti apa ya menggambarkannya?? Yah…pokoknya seperti itu lah.
Abang Wahyu : Sini Dwi, lihat sini! bla… bla…. Tolong ambilkan dulu airnya. Bla… bla… Iya, itu bagian depan sudah bisa dikeringkan. Bla… bla… Kalau bersihkan barang sendiri pasti lebih senang mengerjakannya. Ga usah lah dikasih ke tukang cuci motor itu. Dia main-main nanti sama motor kita karna dia ga hargai barang ini. Bla… bla… Kalau sudah bersih nanti, senang kita lihatnya, usaha kita sendiri soalnya. Bla… bla…
Saya sih sabar-sabar saja sementara pekerjaan saya selalu dikritiknya. Tapi ketika mendengar semua perkataan si abang itu, saya teringat sesuatu. Ya… saya teringat bapaknya si abang Wahyu. Amang boru saya. Suami dari saudara kembar bapak saya. Amang boru saya itu tidak mau dipanggil “Amang boru” atau “Om” atau “Bapak” atau sejenisnya. Jadi sejak kecil saya panggil dia “Temen Gede“. Bahkan sampai saat ini saya (dan anak-anaknya juga) masih memanggil dia “Temen Gede.”
Oke kembali ke topik sebelumnya. Jadi suara, logat, gaya bicara, dan kata-kata abang Wahyu mirip dengan bapaknya. Saya pernah mendengar kata-kata ini diucapkan si bapak kepada si abang. Jangan-jangan waktu si abang lagi diajari cara cuci motor oleh sang bapak. Mirip betul.
Jadi ingat kata pepatah negeri seberang, “Like father like son.“
Perayaan tahun baru-an sudah lewat hampir satu bulan. Tidak seperti masa kecil dulu dimana melangkahi tahun baru merupakan hari yang cukup penting bagi saya, saat sudah besar saya merasa tidak ada yang spesial dari tanggal 1 Januari. Seperti kata-kata yang selalu diucapkan pendeta di gereja saya dalam kotbah ibadah awal tahun selama empat tahun terakhir (sekali lagi pak pendeta berkata hal serupa, saya akan berikan parsel buah dengan karangan bunga), “Apa yang spesial dari tahun baru? Bulan Desember menjadi bulan Januari, tanggal 31 menjadi tanggal 1, tahun 200(x) menjadi tahun 200(x+1). Tidak ada yang aneh.”
Keluarga saya pun merayakannya seperti tahun-tahun sebelumnya. Berhubung pada hari yang sama eyang saya berulang tahun, jadi seluruh keluarga besar pun berkumpul. Dalam tahun baru kemarin, saya bikin dessert. Puding roti keju blueberry (resep lama yang dibuat bersama Sindy) dan puding choco vanilla saus karamel. Kali ini saya membuatnya karena ada pesanan khusus dari tante saya dan sepupu saya (Ibu Rini dan Ade) yang menyukai puding saus karamel buatan saya yang saya buat dalam perayaan lebaran tahun 2008 kemarin.


Pengambilan foto dilakukan oleh sepupu saya, Dio dan Ade. Tapi sayangnya, kami tidak berhasil mendapatkan foto puding saus karamel yang cukup baik untuk ditampilkan di blog ini.

Gambar puding saus karamel diperoleh dari situs dimana saya mendapatkan resep dasarnya. Tapi hasilnya tidak jauh beda kok, hehehe kecuali ceri hijau merah di atas puding dan sedikit modifikasi campuran dalam adonannya. Bagian paling sulit adalah pada saat membuat karamelnya, harus pada api dengan panas yang pas dengan durasi waktu penggosongan yang tepat pula.
Saya suka membuat dessert, tapi tidak dengan masakan yang bumbunya ini-itu-ribet-dan-rumit. Pusiiing. Sekali saya pernah mencoba bersama teman saya, Elisa, mencampurkan telur puyuh dengan sambel terasi kemudian masukkan pasta fusili yang sudah direbus. Tinggal diaduk-aduk agar merata dan siap dimakan. Awalnya kami ragu memang walau pun penampakkan akhirnya terlihat lezat (sayang tidak difoto). Namun ketika kami mencoba, kami tidak percaya rasanya unik dan lezat. Bisa dijadikan resep baru, Pasta ala Indonesie. Beginilah kalau tangan saya lagi gatel mau coba-coba dan kangen dapur.
Resep puding roti keju blueberry pernah saya tampilkan dalam postingan berjudul “Apple Choco Yummy Pudding”, yang berubah hanya toppingnya saja. Cokelat ditukar dengan selai blueberry dan potongan apel dengan keju. Rasanya lebih mendekati Cheese Cake lhoo. Resep puding saus karamel masih saya rahasiakan. Hehehe, ini rahasia dapur saya







Comment