You are currently browsing the category archive for the 'with family' category.

Postingan saya kali ini bukan tentang lasagna ataupun resep membuat lasagna yang yummy. Sebenarnya saya tidak tahu mau memberikan judul apa pada postingan kali ini. Saya hanya teringat lasagna yang akhirnya bisa saya makan dengan puas, setelah akhir-akhir ini membatasi diri untuk makan makanan dengan kadar lemak tinggi.

Langsung saja pada inti dari postingan kali ini. Saya senang sekali dengan liburan lebaran dengan keluarga besar tahun ini. Jadwal kunjungan ke rumah-rumah saudara yang padat dan bertemu lagi dengan sepupu-sepupu dan tante-tante saya untuk saling berbagi cerita.

Saya belajar bermain cubic. Permainan yang menantang!! Terimakasih untuk sepupu saya yang masih duduk di kelas 2 SMA, Andira Afiati.

cubic

Dan hari Rabu, 23 September 2009, kami berkumpul bersama untuk merayakan ulang tahun sepupu saya, Risayogi Wicaksono Sitorus, yang ke-24.  Saya senang sekali. Semata-mata karena akhirnya kami sekeluarga besar bisa berkumpul dengan lengkap! Tidak ada yang tidak datang karena alasan ujian, jaga malam, banyak tugas, paduan suara, atau pacaran.

the buffet

Kami, ber-19,  makan bersama di The Buffet, Plaza Semanggi. Dan kemudian disusul dengan berkaraoke bersama di Inul Vizta selama 2 jam. Keluarga besar kami memang suka bernyanyi. Dan karaoke kali ini merupakan karaokean ketiga kami :) . Sebelumnya kami memang sering berkaraokean, tapi dengan sederhana di rumah :D .

Pada kesempatan kali ini, saya akan coba tampilkan list lagu yang cukup heboh kami nyanyikan sekeluarga. Padahal gap umur keluarga kami berbeda cukup jauh. Ada Eyang saya yang berusia 87 tahun sampai keponakan saya, Jhovancka, yang masih berusia 10 tahun.

  1. Twist and Shout – The Beatles
  2. Jai Ho – The Pussycat Dolls
  3. Cari Jodoh – Wali
  4. I Don’t Want To Miss A Thing – Aerosmith
  5. Obladi Oblada – The Beatles
  6. Alusi Au – Eddy Silitonga
  7. Setangkai Anggrek Bulan – Rani
  8. Goyang Duyu – Project Pop
  9. Tak Gendong – Mbah Surip
  10. Medley Selamat Ulang Tahun

karokean keluarga

They are my treasure. Keluarga yang hangat. Keluarga yang gila! Keluarga yang heboh. I am lucky to have them in my life. Terimakasih Tuhan :) .

Saya akhirnya mengikuti acara wisudaan dari himpunan mahasiswa Teknik Industri (MTI), Sabtu (18 Juli 2009), dari awal sampai akhir. Biasanya saya hanya sekedar menonton performance dari tiap angkatan dan pulang saat mulai renungan. Tapi kemarin, saya memutuskan untuk tinggal sampai renungan berakhir. Walau jam sudah menunjukkan pukul 11.28 malam dan renungan berakhir hampir pukul satu dini hari, saya merasa tidak rugi sama sekali mendengar renungan yang diucapkan oleh mereka, para wisudawan dan wisudawati, teman-teman saya sendiri.

Renungan juga diisi dengan banyak ucapan terima kasih untuk orang-orang yang sudah banyak memberikan kesan dalam melalui masa-masa di kampus ini.

Saya jadi sedikit merenung. Tuhan memang memberikan orang-orang tertentu, di waktu tertentu, di tempat tertentu, dengan tepat.

Beberapa orang pernah mampir sesaat dalam hidup kita dan kemudian pergi, sekedar untuk menghibur atau menguatkan. Ada juga orang-orang yang memang diletakkan Tuhan untuk menemani kita dalam jangka waktu yang cukup panjang, untuk mengerti apa itu komitmen dan kesetiaan. Ada yang hadir untuk menceriakan hari-hari. Ada yang hadir untuk mengajak berpikir. Ada orang-orang yang dihadirkan untuk bersama-sama melalui suatu perjuangan tertentu dan berakhir dengan perpisahan untuk menempuh perjalanan hidup yang berbeda. Ada juga yang menolong. Ada yang menempa mental kita.

Yang pasti saya tahu, Tuhan meletakkan orang-orang yang sungguh-sungguh mengasihi saya dan bisa saya kasihi, untuk bersama-sama menikmati hidup dan belajar. Belajar bahwa hidup adalah anugerah. Bahwa hidup adalah tentang Sang Pemberi Hidup itu sendiri, yang dengan kebaikanNya mengijinkan mereka-mereka hadir dalam hidup saya.

Buat saya sendiri ini merupakan pelajaran untuk selalu memberi diri kepada siapapun, acquaintance, friends, best friends, family, class mate, house mate, yang memang membutuhkan kehadiran saya. Terkadang untuk memberi pertolongan. Terkadang memeluk. Terkadang untuk mengingatkan dengan keras dan menasehati. Terkadang untuk hanya sekedar bercanda.

Kita tidak pernah tahu kapan mereka akan diambil dari hidup kita untuk mengisi hidup orang lain. Jadi bersikap manis lah untuk siapa pun yang kamu temui hari ini. Percayalah, walau hanya untuk sekedar tersenyum dan menyapa, mereka punya arti dalam hidup kita.

Akhirnya saya kesampaian juga pulang ke Depok. Kembali kepada kedua orang tua saya di rumah. Di tengah aktivitas di kampus yang akhir-akhir ini membuat saya sakit kepala dan mual-mual, pulang ke rumah adalah hiburan yang sangat membantu meringankan beban selama ini.

Saya sendiri mendefinisikan rumah sesederhana ini saja. Tempat dimana saya akan kembali setelah pergi kemana pun. Tempat ngeteh sore sambil bicara ringan tentang hidup yang kami alami masing-masing. Tempat dimana kasih sayang berlabuh. Tempat dimana masing-masing kami adalah diri kami sendiri. Tempat dimana memori suka paling membahagiakan dan duka terhebat, terjadi.

Rumah saya tidak semegah istana Buckingham. Taman disekelilingnya tidak seindah Andalasia. Tapi rumah yang saya maksud di sini adalah orang-orangnya. Bapak. Ibu. Kakak. Mereka adalah orang-orang yang membuat saya jatuh hati. Sekeras apa pun saya berusaha untuk kecewa terhadap mereka, saya tetap kembali dengan menyesal untuk berkata, “Aku sayang kalian.” Sekeras apa pun saya tidak peduli terhadap mereka, saya tetap kembali (lagi-lagi) dengan menyesal untuk sekedar berkata, “Apa kabar?

Mereka lah orang-orang yang membuat saya memahami pengorbanan dan perjuangan. Mereka lah orang-orang yang paling saya sayangi. Walau (seandainya) tidak ada alasan yang masuk akal sekali pun. Sayangnya, mereka punya sejuta alasan untuk membuat saya tunduk akan perasaan ini.

I love being around them :)

Kalender menunjukkan tanggal 21 Februari 2007. Dua tahun lebih 18 hari yang lalu. Waktu itu adalah ulang tahun saya dimana saya merasa sangat sendiri. Saya menerima banyak ucapan selamat dan hadiah namun hati saya merasa sepi. Saya menghabiskan sore di hari itu dengan berjalan menyusuri jalan manapun ke mana kaki saya mau melangkah.

Saya memperhatikan kehidupan dan kesibukan yang terjadi. Hilir mudik. Hingar bingar. Lalu lalang. Saya sempat menyimpulkan bahwa pengisi kehidupan ini adalah kesibukan. Ambisi. Saya juga melihat ada ambisi di sana. Jauh di dalam pikiran setiap orang. Target jangka pendek. Target jangka panjang. Dan cinta semata-mata hanya menjadi suatu target entah jangka pendek atau panjang. Keindahan hubungan karena cinta dijalin hanya karena garis-mati itu hampir tiba. Sayang sekali.

Saya berhenti sesaat untuk makan sore sambil mengingat setiap hubungan yang pernah saya jalin dengan siapa pun.

Keluarga.Keluarga besar. Teman masa kecil. Teman mencari jati diri. Teman bergosip. Pacar pertama. Teman “tapi mesra”. Bos. Anak buah. Teman belajar. Teman gereja. Teman bicara.

Setelah itu saya melewati sebuah toko buku sederhana di depan supermarket di Kota Bandung. Saya berencana mencari sebuah buku untuk bisa saya renungkan sehingga saya lebih mengerti makna kehidupan. Tapi kemudian tangan saya meraih kotak kecil bunga-bunga itu. Hanya sekeping CD instrumen. Our Daily Bread edisi spesial ulang tahun. Hadiah untuk saya sendiri. Saya terenyuh ketika membaca tulisan di depannya.

“Some people have a way of setting up residence in us. They march into some barren room of our heart and hang cheery curtains, scatter soft rugs, dot the walls with framed prints of tender and whimsical moments, then set about building a cozy fire beside two sink-back-and-stay-awhile-chairs.”

Di tengah masalah dan pergumulan yang merisaukan hati saya, saya menyadari bahwa hubungan adalah segalanya. Kita menjadi senang karena suatu hubungan. Kita pun menjadi marah karena suatu hubungan. Kita menjadi kecewa karena suatu hubungan. Kita juga menjadi bijaksana karena suatu hubungan.

Di ulang tahunku yang ke-20, saya berterima kasih kepada Tuhan untuk setiap orang yang sudah Dia letakkan dalam kehidupanku. Saya berterima kasih untuk setiap emosi yang pernah aku rasakan dikarenakan suatu hubungan. Saya menyadari bahwa hidupku sempurna dengan orang-orang yang hadir sesuai dengan peran mereka masing-masing. Dan hal itu yang membuatku semakin mencintai hidup ini dan semakin bersyukur dari hari ke hari.

Ya, kamu-lah orang yang membuatku bersyukur hari ini! Terima kasih.

Hari ini saya pergi ke Career Days 2009, suatu acara yang diadakan oleh Fakultas Ekonomi UI dan bekerja sama dengan AIESEC, bersama abang sepupu saya bernama Wahyu. Kami berdua naik motor ke Istora Senayan. Sedihnya, perjalanan kesana dan dari sana agak terhambat diterjang badai hujan hampir di seluruh pelosok Jakarta sampai Depok. Kami harus berhenti mencari tempat berteduh selagi hujan. Tapi sial bagi si motor karena jalanan menjadi licin dan banyak genangan air. Alhasil jadilah motor kembali ke rumah dengan kondisi kotor parah.

Sesampai di rumah kami berdua harus bertanggung jawab membersihkan motor. Saya sendiri belum pernah cuci motor sebelumnya. Jadilah si abang sepupu ini mendikte apa-apa saja yang harus saya kerjakan.

Abang Wahyu : Begini Dwi, tinggal di lap seperti ini aja. Ga usah lama-lama. Ga usah sampe ngos-ngos-an juga (si abang kemudian mengilustrasikan orang yang ngos-ngos-an).

Logat si abang Wahyu ini seperti logat orang-orang batak yang sudah lama di perantauan. Seperti apa ya menggambarkannya?? Yah…pokoknya seperti itu lah.

Abang Wahyu : Sini Dwi, lihat sini! bla… bla…. Tolong ambilkan dulu airnya. Bla… bla… Iya, itu bagian depan sudah bisa dikeringkan. Bla… bla… Kalau bersihkan barang sendiri pasti lebih senang mengerjakannya. Ga usah lah dikasih ke tukang cuci motor itu. Dia main-main nanti sama motor kita karna dia ga hargai barang ini. Bla… bla… Kalau sudah bersih nanti, senang kita lihatnya, usaha kita sendiri soalnya. Bla… bla…

Saya sih sabar-sabar saja sementara pekerjaan saya selalu dikritiknya. Tapi ketika mendengar semua perkataan si abang itu, saya teringat sesuatu. Ya… saya teringat bapaknya si abang Wahyu. Amang boru saya. Suami dari saudara kembar bapak saya. Amang boru saya itu tidak mau dipanggil “Amang boru” atau “Om” atau “Bapak” atau sejenisnya. Jadi sejak kecil saya panggil dia “Temen Gede“. Bahkan sampai saat ini saya (dan anak-anaknya juga) masih memanggil dia “Temen Gede.”

Oke kembali ke topik sebelumnya. Jadi suara, logat, gaya bicara, dan kata-kata abang Wahyu mirip dengan bapaknya. Saya pernah mendengar kata-kata ini diucapkan si bapak kepada si abang. Jangan-jangan waktu si abang lagi diajari cara cuci motor oleh sang bapak. Mirip betul.

Jadi ingat kata pepatah negeri seberang, “Like father like son.

Perayaan tahun baru-an sudah lewat hampir satu bulan. Tidak seperti masa kecil dulu dimana melangkahi tahun baru merupakan hari yang cukup penting bagi saya, saat sudah besar saya merasa tidak ada yang spesial dari tanggal 1 Januari. Seperti kata-kata yang selalu diucapkan pendeta di gereja saya dalam kotbah ibadah awal tahun selama empat tahun terakhir (sekali lagi pak pendeta berkata hal serupa, saya akan berikan parsel buah dengan karangan bunga), “Apa yang spesial dari tahun baru? Bulan Desember menjadi bulan Januari, tanggal 31 menjadi tanggal 1, tahun 200(x) menjadi tahun 200(x+1). Tidak ada yang aneh.”

Keluarga saya pun merayakannya seperti tahun-tahun sebelumnya. Berhubung pada hari yang sama eyang saya berulang tahun, jadi seluruh keluarga besar pun berkumpul. Dalam tahun baru kemarin, saya bikin dessert. Puding roti keju blueberry (resep lama yang dibuat bersama Sindy) dan puding choco vanilla saus karamel. Kali ini saya membuatnya karena ada pesanan khusus dari tante saya dan sepupu saya (Ibu Rini dan Ade) yang menyukai puding saus karamel buatan saya yang saya buat dalam perayaan lebaran tahun 2008 kemarin.

puding-rotibluebrery

Pengambilan foto dilakukan oleh sepupu saya, Dio dan Ade. Tapi sayangnya, kami tidak berhasil mendapatkan foto puding saus karamel yang cukup baik untuk ditampilkan di blog ini.

puding-karamel

Gambar puding saus karamel diperoleh dari situs dimana saya mendapatkan resep dasarnya. Tapi hasilnya tidak jauh beda kok, hehehe kecuali ceri hijau merah di atas puding dan sedikit modifikasi campuran dalam adonannya. Bagian paling sulit adalah pada saat membuat karamelnya, harus pada api dengan panas yang pas dengan durasi waktu penggosongan yang tepat pula.

Saya suka membuat dessert, tapi tidak dengan masakan yang bumbunya ini-itu-ribet-dan-rumit. Pusiiing. Sekali saya pernah mencoba bersama teman saya, Elisa, mencampurkan telur puyuh dengan sambel terasi kemudian masukkan pasta fusili yang sudah direbus. Tinggal diaduk-aduk agar merata dan siap dimakan. Awalnya kami ragu memang walau pun penampakkan akhirnya terlihat lezat (sayang tidak difoto). Namun ketika kami mencoba, kami tidak percaya rasanya unik dan lezat. Bisa dijadikan resep baru, Pasta ala Indonesie. Beginilah kalau tangan saya lagi gatel mau coba-coba dan kangen dapur.

Resep puding roti keju blueberry pernah saya tampilkan dalam postingan berjudul “Apple Choco Yummy Pudding”, yang berubah hanya toppingnya saja. Cokelat ditukar dengan selai blueberry dan potongan apel dengan keju. Rasanya lebih mendekati Cheese Cake lhoo. Resep puding saus karamel masih saya rahasiakan. Hehehe, ini rahasia dapur saya :)

Akhir-akhir ini emosi saya sedang tidak stabil. Disamping baru saja “datang bulan”, saya agak sedikit riweuh dengan tugas-tugas revisi laporan kerja praktek. Setelah lelah mengurus segala tetekbengek di Astra Honda Motor tadi pagi, saya pulang dan langsung tidur siang.

Ternyata saya mengalami mimpi di siang bolong. Latar belakang mimpi saya seperti ketika Hitler dan pasukan Nazi-nya berusaha memusnahkan orang-orang Yahudi. Tentara dimana-mana. Asap dan bangunan runtuh layaknya kota-kota zaman peradaban di Yunani yang sudah jatuh. Namun ada banyak orang disana dan jiwa saya sedih ketika itu. Ternyata itu semua terjadi di Indonesia dan saya serta keluarga saya ada di dalamnya. Saya tidak tahu ada apa, tapi ternyata sedang terjadi pembunuhan besar-besaran di Indonesia. Setiap orang dipisahkan berdasarkan agamanya masing-masing karena setelah dikumpulkan mereka akan dibunuh dan dikubur sesuai dengan agama masing-masing. Karena ibu saya Muslim, namun ayah, kakak, dan saya sendiri Kristen, maka kami dipisahkan. Saya luar biasa menderita akan perasaan itu. Setelah itu, tinggal kami bertiga (saya, kakak, dan bapak). Kami berjalan sambil bergandengan tangan dan bernyanyi…

Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku
Dia membaringkan aku di ladang yang berumput hijau
Dia membimbingku ke air yang tenang
Dia menyegarkan jiwaku
Dia menuntunku ke jalan yang benar
Oleh karena namaNya
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman

Setelah itu kami berpelukan bersama dan dalam mimpi saya, kami bertiga tewas ditembak.
Saya terbangun dengan gelisah. Air mata. Keringat dingin. Saya minum air putih sebanyak-banyaknya untuk menenangkan diri.

Kemudian saya menyalakan televisi dan saya menjadi sadar kenapa saya punya mimpi seburuk itu. Jadi selama liburan ini, saya cukup sering menonton televisi, entah berita ataupun infotainment. Berita yang sering saya dengar akhir-akhir ini adalah :
1. Eksekusi mati
2. Pembunuhan berantai
3. Mutilasi
Bukan itu saja, bahkan berita yang cukup hot di infotainment adalah :
“Lagu misterius Gaby, yang konon katanya mati bunuh diri karena putus cinta.”

Tanpa disadari, itu semua ternyata sudah mengusik alam bawah sadar saya dan terkuak ketika saya tidur. Saya cukup penasaran memang dengan cerita eksekusi mati dan frekuensi saya menontonnya bisa dibilang cukup sering. Saya pernah baca di milis atau blog (saya lupa), isinya mengenai bagaimana setiap orang harus mendapat berita buruk 20% dan berita baik 80% setiap harinya. Tujuannya untuk menjaga kesehatan jiwa.

Wah…dengan banyaknya kejadian-kejadian mengerikan seperti ini, apa jiwa rakyat Indonesia akan semakin baik? Saya beropini bahwa akan semakin banyak kasus serupa. Mari untuk seluruh masyarakat, terutama pihak aparat keamanan, hukum, dan media khususnya, kita jaga masing-masing kualitas pemberitaan di negara kita tanpa mengurangi realitanya.

Loh…spertinya tulisan saya sudah lari kemana-mana nih….

Bunga adalah gambaran wanita. Itulah mengapa bunga memiliki relasi yang dekat dengan wanita. Dan itulah mengapa bunga merupakan ciptaan yang indah. Karena bunga bisa bercerita banyak hal.

Blog Stats

  • 11,956 hits

My Mood

My Unkymood Punkymood (Unkymoods)

Flowers

sunflower

passion flower

red flower

hand flower

bucket flower

More Photos

Calendar

November 2009
M T W T F S S
« Oct    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.

Pages