You are currently browsing the category archive for the 'wanita' category.
Manusia biasa menilai apa yang ada di depan matanya. Kebiasaan buruk manusia adalah menilai sesuatu hanya berdasarkan apa yang bisa dilihat saja. Lihat sebentar. Menilai kemudian. Bahkan cenderung menghakimi. Ada yang penilaian pertamanya memang benar. Tapi dalam banyak kasus, penilaian pertama tidak membuktikan kebenaran apa-apa.
Apa yang bisa dilihat mata kita? Seharusnya keindahan.
Bukan berarti tidak bersyukur dengan anugerah indra penglihatan. Tapi manusia, termasuk saya, masih sering salah dalam penggunaan mata yang seharusnya.
Saya belajar untuk memandang apapun sebagai sesuatu yang indah. Subjektif memang. Tapi apapun bentuknya. Apapun kondisinya. Apapun warnanya. Apapun rupanya. APAPUN!! Pasti mengandung keindahan di dalamnya.
Mulai saja dengan melihat dirimu di depan cermin setiap pagi. Wanita, biasanya tidak puas dengan kondisi fisiknya. Ada saja yang perlu dikeluhkan. Rambut kurang trendi. Poni kependekan :p. Pinggul kebesaran. Pipi terlalu bulat. Entah apa lagi. Kalau saya survey dan daftarkan di postingan ini, bisa jadi tulisan ini akan jadi postingan terpanjang saya. Nyatanya mengeluh tidak cukup. Aktivitas berikutnya adalah membandingkan diri dengan orang lain. Pathetic!
Sejak saya mendapat pengertian baru tentang konsep diri yang sebenarnya. Saya belajar melihat diri saya di cermin dan bersyukur untuk apapun. APAPUN!! Dan belajar meyakinkan diri saya kalau ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh saya yang terbatas ini. Saya yang terlihat sangat terbatas di depan cermin ini. Hal-hal besar yang akan jadi keindahan untuk seorang saya sendiri dan orang lain tentunya.
Tersenyum. Menyapa. Berbahagia untuk kesenangan orang lain. Tetap ceria dan hangat untuk siapa pun yang sedang bersama saya.
Dan yang terpenting, saya belajar untuk memantulkan keindahan Tuhan lewat diri saya. Saya belajar menjadi cermin bagi orang lain untuk melihat Tuhan dalam diri saya. Dan saya belajar menjadi pribadi yang indah untuk Dia.
“What matters is not your outer appearance–the styling of your hair, the jewelry you wear, the cut of your clothes– but your inner disposition. Cultivate inner beauty, the gentle, gracious kind that God delights in.”
1 Peter 3:3-4. The Message
Saya akan menampilkan puisi buatan saya lagi. Puisi ini saya buat tanggal 19 Juli 2009. Namun saat itu saya belum sempat menuliskan puisi ini dalam blog saya.
Dipersembahkan untuk seluruh wanita di seluruh dunia. Kalian indah apapun yang orang-orang katakan tentang diri kalian. Karena keindahan itu hadir dari jiwamu yang tulus. Jadi, hargailah diri kalian sendiri karena kalian memang berharga.
Langkah-langkah memutar… Menari dalam warna… Mencari keindahan diri sendiri… Kedipan mata. Lentikan jari. Gelombang helai-helai rambut. Abu-abu… Tidak menjadi hitam. Tidak menjadi putih. Berhenti saja. Abu-abu dari mu tidak membantuku. Terjebak dalam rangkaian tali-temali Kehilangan arah sang jari-jemari Kemilau dari mu pun menyesatkanku. Aku. Lelah. Kawan. Jangan. Bermain. Warna. Lagi. Warnanya. Miliknya. Warnaku. Milikku. Sendiri. Perempuan, hidupmu berwarna-warni Ada ketakutan yang menyenangkan. Ada kesenangan yang menakutkan. Tutup matamu. Hirup udara. Rasakan saja sendiri. Kau indah di dalam sana, Hai perempuan!“Most of my poems are written to women because women are most inspiring. Who are most artist? Men. Who do they get inspired by? Women. The masculinity in me gets inspired by the female… I can use her as my muse.”
Patti Smith (U.S. rock singer and songwriter)
Wanita sendiri (saya lebih tepatnya) banyak diinspirasi oleh kehidupan dan perasaan. Sementara banyak pria menjadikan wanita sebagai objek untuk menginspirasi mereka, wanita menjadikan perasaan cinta itu sendiri sebagai inspirasinya. Kami (dalam rangka penuh kebanggaan menjadi ciptaan Tuhan bernama wanita) tidak pernah menjadikan individu sebagai objek, tapi dari relasi yang tercipta.
Saat para pria dengan penuh penghayatan dan kekaguman menggambar wajah dan tubuh wanita atau menyanyikan “Your Body is a Wonderland”, kami, wanita, lebih terinspirasi karena momen. Saat dilindungi, diperhatikan, atau dijadikan spesial.
Uniknya, perbuatan manis yang kalian, pria, lakukan karena terinspirasi oleh kami, wanita, telah menginspirasi balik kami.
Inspiration Cycle.
There will never ending.
Hari ini saya membuka laptop saya, Charlotte, dan melakukan salah satu ritual di setiap pagi. Cek e-mail. Ada e-mail dari Oprah Magazine, yang memang selalu datang hampir setiap hari. Namun kali ini cukup menarik perhatian sehingga saya membiarkan tangan saya mengarahkan mouse bukan untuk men-delete-nya tapi untuk membuka e-mail tersebut. Judulnya “5 Things Every Happy Woman Does (Worrying Isn’t One of Them).”
Lagi-lagi wanita. Saya sendiri selalu tertarik dengan hal-hal yang memiliki relasi dengan wanita. Kebiasaannya. Emosinya. Hobinya. Pikirannya. Temperamennya. Kecantikannya. Ambisinya. Impiannya. Sifatnya. Aktivitasnya. Perannya.
Jika saya melihat suatu kejadian dimana wanita diperlakukan tidak adil, darah saya ini langsung mendidih, berbuih, dan meledak. Jika saya melihat seorang wanita diperlakukan manis, my heart will melt automatically.
Sekarang saya akan bicara tentang kekuatiran seorang wanita. Di bawah ini adalah lima hal yang menurut saya menjadi kekuatiran seorang wanita. Setiap orang boleh punya pendapat yang berbeda karena setiap wanita memang memiliki kekuatirannya masing-masing. 5 Things What Woman Worrying About, versi saya adalah sebagai berikut :
- Direndahkan (dipermalukan, diolok-olok, dihakimi)
- Dikhianati (dibohongi, tidak memegang janji)
- Tidak diterima (ditolak keberadaannya)
- Tidak diacuhkan (dicuekin, tidak didengarkan, tidak dihargai)
- Dibanding-bandingkan
Kenapa saya tidak menyebutkan “Takut Gagal”? Karena wanita tidak takut gagal sebenarnya. Mereka hanya takut karena kegagalan, maka mereka akan direndahkan, menjadi tidak diterima, menjadi tidak diacuhkan, dan kemudian saat dibanding-bandingkan, mereka berada di bawah rata-rata.
Wanita masa kini, disebut sukses, jika memiliki kecantikan luar biasa dan karir yang melesat maju. Begitu banyak usaha yang dilakukan wanita untuk memperoleh keduanya. Perawatan dengan biaya seabrek-abrek dan mengorbankan jam-jam istirahatnya untuk lembur. Usaha gila-gila-an yang dilakukan para wanita ini, saya lihat hanya sebagai kompensasi dari kekuatirannya tersebut.
Tidak salah memang jika pada akhirnya ada wanita yang memiliki keduanya. Lakukanlah jika hal itu sungguh-sungguh menjadi cita-citanya. Tapi yang menyedihkan adalah ketika wanita berusaha keras untuk mencapai hal itu hanya untuk menutupi kekuatirannya tersebut.
Apa yang bisa dilakukan dunia terhadap mereka jika, kecantikan saya miliki, karir yang baik saya miliki, uang saya miliki. Di titik ini, wanita akan merasa sempurna, mandiri, dan utuh. Mereka pikir dunia tidak akan merendahkannya lagi, tidak akan mengkhianatinya, mereka akan diterima dimanapun, dan jika harus dibanding-bandingkan, maka mereka berada di tempat yang agung.
Orang-orang bilang, big girls don’t cry. Wanita, semakin dewasa, semakin dituntut untuk terus tegar dan menjadi ciptaan yang teguh hati. Tapi akan buruk akibatnya jika wanita justru menjadi ciptaan yang keras hati. Wanita tetap akan menjadi wanita. Feminin. Lemah lembut. Perhatian. Peduli. Penolong.
Big girls must cry. Air mata, baik saat berbahagia atau pun saat terpuruk, bukan kelemahan wanita tapi kekuatannya. Jadi para wanita, jangan malu untuk menangis. Itu sisi yang indah dari kewanitaan anda. Temukan kekuatan bersama dengan mengalirnya air mata anda. *Sedikit pembenaran untuk saya yang memang banyak menangis
Satu lagi, untuk para wanita yang membaca postingan ini. Singkirkan kekuatiran kalian! Mari menjadi wanita yang maju dan mandiri tanpa dikuasai rasa kuatir. Itulah kesuksesan kita sebagai wanita yang sempurna.
Dan tetap tersenyum
. Simple. Cheap. Easy way. To be beautiful.
“Manohara dan Eksploitasi Tubuh” (www.antaranews.com, 5 Juni 2009)
“Suami Pedangdut Cici Paramida Tersangka KDRT” (www.kompas-tv.com, 16 Juni 2009)
“Ada KDRT pada Perkawinan Pasha dan Oki” (www.entertainment.kompas.com, 20 Januari 2009)
“Burned Alive: A Victim of the Law of Men,” karangan Souad. Sebuah buku yang menelanjangkan perilaku para pria di suatu desa di daerah Timur Tengah.
Saya bosan dan marah dengan berita akhir-akhir ini. Belum lagi beberapa buku yang menceritakan perilaku pria yang menjadikan perempuan sebagai korban.
Menurut kalian, apakah kami, para kaum Hawa, ini?
Objek saja kah? Boneka ventriloquist kah? Yang bisa kalian atur seenaknya mau bicara apa atau berbuat apa.
Kalian boleh punya otot dan logika. Tapi kami punya rasa. Sesuatu yang tidak pernah bisa kalian hargai.
Kami tidak minta disembah. Apalagi diagung-agungkan. Kami hanya minta cinta dan ketulusan. Karena kami datang untuk menolong kalian.
Kami tidak minta kedudukan di atas kalian. Tapi tolong pandang mata kami sejajar dengan mata kalian.
Kami tidak minta kekayaan dari kalian. Kami juga tidak minta kekuasaan. Kami cuma memohon berikan kami perlindungan dan rasa aman.
Jadi tolong jangan sakiti kami! Jangan tambahkan luka lagi! Jangan biarkan air mata ini kembali mengalir!
Saya yang sedang menyesali kejadian yang akhir-akhir ini banyak menjadikan perempuan sebagai korban. Saya yang sedang geram dengan perilaku kalian, kaum Adam yang selalu menjadikan diri kalian fokus utama. Enough, please!!







Comment