You are currently browsing the category archive for the 'travelling' category.
Kamis sampai Sabtu kemarin saya menghabiskan waktu saya di kota Garut bersama teman-teman lain, Sarah, Ruth, Frida, Rega, David, Julius, Arion, dan Martin. Misi utama kami adalah untuk membantu Sarah melakukan survey di industri penyamakan kulit daerah Sukaregang, Garut. Dua hari pertama merupakan hari yang cukup melelahkan karena kami harus masuk dari satu pabrik ke pabrik lain untuk kemudian mewawancarai pemilik usahanya. Perbedaan latar belakang pendidikan dan lingkungan membuat komunikasi pada saat wawancara ini menjadi cukup sulit. The best part di dua hari ini adalah pada saat ber-delman-ria untuk mencapai daerah industri. Saya suka
Akhirnya dua hari yang berat itu dapat kami lalui. Dua puluh lima data survey yang diperlukan berhasil kami kumpulkan dalam waktu dua hari tersebut. Hari ketiga akan jadi hari yang menyenangkan karena kami akan WISATAAA!!!
Sesuai dengan rekomendasi dari dosen teman saya, maka kami memutuskan untuk ke salah satu kawah di kota ini. Namun ternyata ongkos yang diperlukan untuk bisa sampai ke kawah tidak bisa dibilang sedikit, yaitu Rp 30.000 per orang. Belum lagi ditambah tiket masuk dan pengeluaran bla bla lainnya. Akhirnya kami hanya berakhir di Resto Bungalow, Sari Papandayan.
High recommended place to refresh your mind! Restoran yang menyajikan suasana pedesaan dengan harga tidak terlalu mahal. Restoran ini menjadi sempurna karena dilengkapi dengan pemandangan yang luar biasa cantik dan kebun strawberry. Setelah sesi foto-foto selesai, kami berbincang-bincang sambil menikmati makanan yang disajikan. Sesi bebas setelahnya memberi saya waktu untuk merenung dan tidak henti-hentinya memuji pemandangan yang “keren banget” ini.
God is THE REAL ARTIST!! He is THE GREATEST ARTIST EVER!!
Rangkaian pegunungan yang angkuh, sawah yang membentang luas, pepohonan yang berbaris rapih, ditambah dengan awan bergulung seperti suasana hatiku yang galau, dan menjadi sempurna dengan bayangan gunung kelabu yang nun jauh di sana. Tidak ada cacat sama sekali. Buatan tangan Tuhan memang selalu indah dan sempurna. Begitu pula dengan saya dan kamu. Tidak ada cacat dan kesalahan dalam tiap individu. Setiap manusia diciptakan indah dan sempurna.
Saat saya melihat ke bawah, saya melihat ada tanah berlumpur yang membuat kaki saya enggan melangkah di sana. Seperti itulah hidup saya saat ini, suatu kehidupan yang sebenarnya enggan untuk saya lalui. Tapi saat saya melihat gambaran besar dunia ini, yang bisa saya lihat hanya keindahan. Itulah pemandangan yang akan saya nikmati nanti. Saat saya sudah bisa melalui waktu-waktu yang berat ini kemudian saya melihat ke belakang, yaitu rangkaian kehidupan yang sudah saya lewati, dan menghayati setiap hal yang sudah Tuhan buat dalam hidup saya. Saat itulah saya akan melihat gambaran besar kehidupan yang sudah saya lalui begitu indah dan sempurna.
Nice quote dari Sarah, “Kita hanyalah sebagian kecil dari dunia ini. Kalau Tuhan bisa mengatur semua ciptaannya ini menjadi begitu indah, kenapa kita tidak membiarkan Tuhan mengatur kehidupan kita juga?”
“Garut, I’m in love” memang tidak terdengar seromantis “Eiffel, I’m in love.” Tapi di kota ini saya bisa melihat romantisme dari Sang Pencipta.
Manglayang menyisakan kesan bagi kami.
Bagaimana bisa tidak terkesan? Kami dihadapkan dengan kondisi yang tidak terbayangkan sebelumnya.
Perpustakaan Pusat ITB, titik awal perjalanan kami. Saksi bisu semangat dan sedikit keraguan saya dan Ruth, sebagai dua wanita yang tersisa. Di perpustakaan ini juga, teman-teman pria kami berjanji untuk menjagai saya dan Ruth di gunung nanti
Ada kami, tujuh orang, dalam tim pendakian kali ini. Rega, Octa, David, Ruth, Kiki, Ferry, dan saya. Dengan Kiki sebagai The Chief. Kami lah orang-orang yang memutuskan untuk mengukir perjalanan hidup kami dengan sedikit pelajaran berharga di Manglayang.
Sebelumnya kami semua pernah melakukan pendakian ke Gunung Tangkuban Perahu, sebuah pengalaman luar biasa. Bahkan sebagian dari kami pernah mendaki Gunung Lawu, gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa. “Apalah arti Manglayang?” Ketinggiannya bahkan tidak lebih dari Tangkuban Perahu. Anggaplah seperti pendakian hiburan yang sekedar mengakrabkan hubungan pertemanan yang kami jalin. Simply thing.
Banyak canda gurau yang membuat awal perjalanan ini menyenangkan. Saya sendiri tidak banyak berharap dari pendakian kali ini. Saya pikir keadaannya tidak akan jauh bebeda dari Tangkuban Perahu. jadilah saya tidak mempersiapakan diri untuk menerima sesuatu yang spesial di perjalanan nanti.
Berawal dari perjalanan Bandung-Jatinangor dengan bus Damri, nothing special. Kemudian kami naik ojek sampai ke kaki gunung. Bagian ini sudah agak menggila. Ojek yang kami naiki harus melewati jalan berbatu. Batu kecil dan batu besar. Bukan hanya itu, ojek kami melalui jalan menanjak dan menurun yang curam. Bisa bayangkan naik ojek melalui tanjakan dan turunan curam dengan batu-batu kecil dan besar itu? Kalau saya sih takuuuuuuuuuut banget!! Kami membayar ketakutan itu dengan dua belas ribu rupiah saja. Ada yang mau coba?
Di kaki gunung, kami mendapat informasi bahwa ada dua puncak di gunung ini. Sebut saja Puncak Satu dan Puncak Dua. Dengan Puncak Dua lebih tinggi dari Puncak Satu. Ada dua jalur. Jalur Satu, jalur yang sering dilalui para pendaki lain, menuju Puncak Satu kemudian Puncak Dua. Dan Jalur Dua, jalur yang lebih sulit dan langsung menuju Puncak Dua. Ibu pedagang pemilik warung kecil di kaki gunung menginfromasikan bahwa pendakian melalui Jalur Dua hanya memerlukan waktu dua jam saja.
Kami akhirnya memutuskan untuk melalui Jalur Dua, dengan Rega di posisi paling depan sebagai pembuka jalan. Saya sendiri, mencoba belajar percaya dengan Octa. Dari belakang saya terdengar banyak tawa. Cukup untuk membuat saya tetap bersemangat.
Medan yang kami lalui semakin aneh-aneh saja. Licin. Basah. Sungai. Batu. Tapi saya tetap menikmati setiap langkah kaki saya sambil membayangkan suatu puncak yang akan kami taklukan nanti. Banyak persimpangan yang kami temui. Sama seperti hidup, kita selalu dihadapkan dengan pilihan-pilihan dan kita tidak pernah tahu sebelumnya apa yang akan kita temui di pilihan yang telah kita ambil. Gambling! Untungnya bukan bagian saya yang menentukan jalan mana yang akan kami tempuh saat itu. Saya pasrah dan percaya dengan teman-teman saya
Kami sudah berjalan cukup lama sepertinya. Kami naik sekitar pukul lima sore plus beberapa menit. Detik demi detik terlalui dan hari makin gelap. Senter pun dinyalakan.
Ternyata alam di Manglayang lebih menantang dari Tangkuban Perahu. Kami terus berjalan menanjak. Tidak ada jalan datar. Tidak ada santai. Buat saya, ini menantang dan menyenangkan sekali. Inilah yang namanya kejutan. Sampai akhirnya kami berada di suatu titik balik pendakian ini.
Rega mulai tidak yakin dengan pilihannya. Medan yang kami hadapi semakin sulit dan berbahaya. Beberapa opsi dihadapkan. Turun dan melalui jalur satu lagi atau terus ke atas. Octa tetap mencoba mendaki dengan posisi merayap. Dia mencoba terus untuk bisa naik dan kemudian merosot. Octa, yang ambisius, trus naik dan lagi-lagi merosot, berkali-kali. Entah apa yang dia rasakan. Kalau saya mungkin sudah frustrasi. Saya sendiri merasa sedih karena tidak tahu harus bantu apa selain memberikan dukungan dan semangat. Tempat saya berdiri pun sebenarnya tidak terlalu aman. Fortunately, ada batang pohon tempat saya bisa melingkarkan tangan saya di sana. Akhirnya Octa memutuskan untuk melepaskan carrier bag nya dan dia berhasil naik tanpa merosot. Rega dan Octa bertukar peran. Octa mencari jalan di depan. Kami, sisanya, menunggu!
Penantian kami diisi dengan sedikit gurauan. Kiki, The Chief, yang paling banyak melontarkan kata-kata lucu. Sangat membantu mengurangi ketegangan saat itu. Tiba-tiba.. Duk… duk…
Batu-batu mulai meluncur dari atas. Rega berteriak, “AWAS BATU!!”
Ini titik awal perasaan saya, akan keoptimisan berada di puncak, mulai luntur. Harap-harap cemas apakah masih memungkinkan untuk berdiri di atas puncak. Ini yang saya sebut dengan “Kesedihan.” Sedih karena kehilangan harapan.
Batu-batu terus meluncur ke bawah seperti sedang berlomba-lomba siapa yang akan sampai di bawah terlebih dahulu. Mereka masuk jurang dan entah kemana perginya. Meninggalkan kami di sini. Semakin Tegang. Dan terus menanti.
Saya berdoa. Seorang diri. Dalam hati saja. Semoga tidak ada yang terluka. Semoga ada jalan keluar. Siapa lagi yang bisa saya harapkan saat ini kalau bukan Sang Empunya Gunung ini?
Duk.. duk.. duk… Gerombolan batu itu datang lagi menyerang. TAK!! Senter saya dihantamnya. TAK!! Lutut saya pun diserangnya. OUUUCH!! Sakit. Dan hampir saja batu-batu itu mengenai kepala Ferry. Untung saja ada kayu yang menghalangi.
Kiki mulai terlihat panik. Dia tidak mau mengambil resiko ada nyawa yang hilang di tempat ini. Kiki mulai menegaskan kalau kembali turun adalah pilihan terbaik yang seharusnya kami ambil, walaupun Octa berkata kira-kira lima meter lagi dia akan mencapai puncak. Perkataan Octa cukup menggiurkan memang. Saya maunya sampai ke puncak. Dan puncak itu tidak jauh lagi. Tapi apa saya yakin mau mempertaruhkan nyawa teman saya atau mungkin nyawa saya sendiri? Saya berperang dengan diri sendir sampai akhirnya diputuskan untuk turun. Yaah.. mau apa lagi? Saya harus ikut turun dengan terpaksa.
Perjalanan turun pun bukan hal yang mudah. Kondisi sudah gelap. Jalanan licin. Dan saya TIDAK SUKA MAIN PEROSOTAN!!
Kami harus turun dengan cara merosot. OH NOO!! Jurang entah di kiri atau kanan. Ketakutan saya memuncak. Saya takut merosot dan salah jalan. Entah logis atau tidak pikiran saya saat itu. Yang pasti saya harus akui bahwa pikiran saya sudah tidak sehat lagi. Perasaan saya berkecamuk. Hasrat untuk berdiri di puncak masih besar. Dan saya bukannya berjalan ke atas menuju puncak itu tapi justru terus merosot ke bawah. OUT OF OUR PLAN! Menjauh dari bayangan pertama akan gunung ini. NO SUNRISE ANYMORE! Saya kecewa dalam hati sambil terus mengikuti instruksi untuk tetap merosot. Saya juga menyesal karena tidak pamit ke orang tua sebelum naik gunung ini. Maaf teman-teman, saya cuma pamit ke kakak saya. Menurut saya itu sama saja. Tapi saya menyesal sekali. Saya membayangkan kejadian terburuk yang bisa saya alami di gunung ini. Di kegelapan malam di dalam hutan ini, hati saya pun meredup semakin kelam. Saya ingin di tempat ini saja sampai matahari datang. Kegelapan saat itu sungguh membuat saya takut. Saya ingin mengatakan hal ini kepada teman-teman yang lain. Saya ingin jujur tentang perasaan saya saat ini. Tapi di lain pihak, saya tidak mau menjadi orang yang merepotkan. Saya tetap ikuti semua instruksi sementara hati saya masih kacau balau. Entah bagaimana mencurahkan kegalauan hati saya ini. Saya mau menangis. Tapi tidak bisa. Saya tidak mau diberi cap “si cengeng.” Saya mulai bertengkar dengan air mata saya, “Tolong ditahan dulu. Jangan sekarang!”
David berteriak dari bawah, “Ayo Dwi! Merosot lagi! Perosotannya panjang lho!” Kemudian saya berkata, “Emang harus merosot ya?” Dan teman-teman menyemangati, “Iya Dwi! Ayo!” Lalu saya merosot. Sampai di bawah, saya sudah di tahan oleh David. Ada Ruth disana. Dan saya berkata, “Gw boleh nangis ga?” Dan bendungan yang saya tahan-tahan itu pun pecah. Ya.. Saya akhirnya membuang air mata itu. Hati ini lega. Serangkaian pemikiran dan kegalauan hati saya itu selesai hanya lewat air mata.
Ruth memeluk saya. David membesarkan hati saya. Saya merasa dibangun kembali semangatnya. Kiki memimpin dan kami berdoa bersama. Ok! Saya siap melanjutkan perjalanan ini. Saya pun sudah mendapatkan kerelaan hati karena sudah tidak mungkin bisa sampai puncak.
Kami terus berjalan turun hingga berada di daerah yang lapang dan datar. Dan tiba-tiba, Rega mengalami keseleo. Lengkap sudah pelajaran untuk kami semua.
Beberapa mulai membangun tenda. Saya membersihkan diri kemudian membantu Ruth dan Rega memasak. Saat itu sudah hampir pukul sebelas malam. Kami bersyukur bisa makan sarden, nasi, indomie telur, tempe goreng, dan timun malam itu. Saya bersyukur bisa melihat wajah teman-teman saya. Mereka semua bernyawa. Kami cerita-cerita hingga larut malam tentang harapan kami sepuluh tahun ke depan.
Malam itu ditutup dengan harapan-harapan baru. Harapan besar tentang diri kami sendiri sepuluh tahun ke depan. Tapi saya pribadi mulai mempersiapkan diri akan kondisi apa pun yang mungkin akan saya temui dalam perjalanan mencapai harapan saya itu. Entah akan tercapai atau tidak. Sama persis dengan pengalaman kami dalam pendakian Manglayang ini.
Kami bermalam dan tidur di tenda malam itu. Kami bangun setelah matahari bersinar terang.
Entah kenapa, saya sangat bersyukur pagi itu dengan apa pun kondisi saya dan teman-teman dan apa pun yang sudah kami capai. Kami menghabiskan sisa-sisa waktu yang ada dengan saling membagikan pelajaran yang kami peroleh dari pendakian kali ini. Tentang kesombongan. Keangkuhan. Sok jago. Kerendahan hati. Kepercayaan. Kerelaan. Kesetiaan. Saling mendukung. Saling menjaga. Dan harapan.
Saya belajar untuk meletakkan mereka semua di hati saya. Di dalam kotak berlabel, “SAHABAT.” Saya tidak akan pernah tahu apa yang akan saya temui nanti. Mereka bisa saja akan mengecewakan saya di kemudian hari. Mereka bisa saya membuat saya sedih. Akan ada banyak kejadian di antara mereka dan saya. Tapi saya mau belajar BERANI untuk PERCAYA.
Saya mau mengutip sebaris lirik dari lagu berjudul Surrender yang dipopulerkan oleh Float. Suatu grup musik dalam negeri sendiri.
“Chi trova un amico, trova un tesoro.”
Diambil dari pepatah Italia yang artinya, “One who finds a friend, finds a treasure.”
O Lord my God, when I in awesome wonder
Consider all the worlds Thy Hands have made;
I see the stars, I hear the rolling thunder,
Thy power throughout the universe displayed.
Then sings my soul, my Savior God, to Thee
How GREAT Thou Art… How GREAT Thou Art
Hatiku bersenandung penuh syukur melihat buatan tangan Tuhan yang luar biasa. Di gunung Tangkuban Perahu, Bandung, Sabtu, 7 Maret 2009, pukul 5.xx pagi.
Ini adalah pengalaman pertama naik gunung buatku. Pesimis. Perasaan pertama saat rencana ini muncul diantara teman-teman. Hati saya cuma bisa berkata, “Kalian sajalah! Kalau kegiatan yang berat di fisik kayak gitu, gw nyerah deh!” Tapi dengan kekuatan dan janji, akan tetap membantu dalam perjalanan mendaki gunung yang teman-teman berikan, akhirnya saya yang menyerah. Baiklah, saya memutuskan untuk menjadi bagian penting dari momen tersebut.
Pukul 00.00 kurang sekian menit dini hari. Kami, bersembilan dengan 4 wanita dan 5 pria, mulai melakukan perjalanan. Kondisi saya saat itu, OVER-EXCITED. Kami bersembilan berjalan dengan formasi : Octa, Saya, Rega, Sarah, Ferry, Laura, Kiki, Becca, dan David. Banyak cerita dari mereka-mereka yang sudah pernah naik gunung dan keajaiban yang diperoleh saat mencapai puncak. I want have one just like theirs.
Entah di kilometer perjalanan kami yang ke berapa saya mulai merasa lelah. Titik awal merasa jenuh dengan hanya terus berjalan di dalam kegelapan. Langkah saya melambat dan hampir mengeluh. Tapi saya sudah berjanji kepada diri sendiri untuk tidak mengeluh dan membuat orang lain disulitkan. “Keep walking girl, you are on your way now!” Saya terus berkata dalam hati untuk tidak pernah mengeluh dan terus berjalan. Itu saja. Tapi tubuh ini memang lemah sekali dan kalau sudah begitu, hati ini akan terasa sedih sekali. Akhirnya saya bergandengan tangan bersama Sarah, orang yang paling bisa saya percaya dalam kelompok ini. Entah kenapa hal ini menjadi kekuatan bagi saya. Saya jadi ingat masa-masa sulit di hidup saya. Saya selalu membutuhkan seseorang untuk berjalan bersama. Untuk bicara dari hati ke hati. Satu orang. Biasanya hanya kepada satu orang. Ketika saya memilih untu tidak bercerita kepada siapa pun, saya justru menjadi putus asa, berhenti, bahkan salah langkah.
Kami beberapa kali istirahat dalam perjalanan untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan energi lebih besar. Di perjalanan, David terjerembab. Kakinya masuk ke tanah basah. Becca bilang hampir selutut. Yah… kita memang tidak pernah tahu tanah mana yang merupakan jebakan.
Octa, Rega, dan Sarah adalah tiga orang yang berjalan paling dekat dengan saya. Mereka lah yang selalu menolong saya saat merasa tidak sanggup. Terimakasih untuk setiap bantuan yang kalian tawarkan walaupun beberapa kali saya tidak mau dibantu. Saya hanya sedang belajar untuk yakin pada diri sendiri. Tidak mau selalu mengandalkan bantuan walaupun bantuan itu ada di depan mata. Selama saya masih sanggup, saya akan berusaha sendiri. Awalnya saya berniat untuk tidak mau dibantu sama sekali, saya hanya butuh pengakuan untuk diri sendiri kalau saya mampu. Tapi sayang sekali, memang selalu ada variansi dalam setiap kejadian. Sayangnya saya tidak mempunya n kejadian yang cukup untuk bisa membuktikan, berdasarkan dalil limit sentral, bahwa frekuensi saya dibantu pada saat naik gunung berdistribusi normal :p.
Saya juga menyadari, bila kami berjalan di jalan lebar dan tidak dalam formasi, walau diawali dengan saya yang paling depan pasti saya akan berakhir di belakang. Saya memang lambat sekali. Maaf kawan.
Kami melakukan perjalanan malam-malam untuk dapat melihat matahari terbit. Tapi Rega bilang, “Kita akan membangunkan matahari.” Cukup memotivasi. Namun setelah berjalan sekian lama, kami seperti tidak menemukan jalan mana yang harus ditempuh untuk bisa sampai di puncak. Kami sudah berdiri di suatu tempat yang cukup nyaman untuk bisa mendirikan tenda dan menunggu matahari terbit. Dari tempat itu pun kami bisa melihat puncak gunung Tangkuban Perahu. Tetapi Octa dan Rega berjalan terus untuk melihat jalan di depan dan memastikan apakah kami bisa melanjutkan perjalanan atau tidak. Rega bilang ada tanda forbidden. Kiki bilang tidak perlu dilanjutkan. Sarah bilang kita sebaiknya voting saja. Sementara saya sangat bersemangat untuk melanjutkan perjalanan karena saya sudah melihat puncak gunung itu. Memang sepertinya bukan perjalan singkat dan mudah untuk sampai ke puncak. Tapi saya sudah melihatnya dan saya tidak rela untuk membiarkan puncak itu hanya berakhir menjadi sebuah pemandangan semata. Saya senang karena akhirnya kami memutuskan untuk meneruskan perjalanan. Semangat saya memuncak. No more feeling tired. I don’t care about that heavy breath. Aku hanyalah masalah jiwaku, bukan tubuhku.
Kondisi jalan selanjutnya adalah batu-batu. Batu besar dan batu kecil. Batu-batu kasar yang cukup membuat sepatu saya tergores-gores. Akhirnya kami menemukan medan yang lebih menantang. I never imagine that I will be in this situation before. Kami harus mengambil posisi seperti memanjat untuk bisa terus naik. Laura gemetar. Hampir putus asa. Hampir menangis. Ferry menenangkan. Begitu pula Octa. Akhirnya Laura mundur dahulu dan saya maju. Saya tidak punya kekuatan apalagi skill. Saya hanya punya ambisi untuk sampai di puncak. Tangan kanan. Tangan kiri. Kaki kanan. Kaki kiri. Yup, I did it! Becca hampir terjatuh namun tertolong oleh sikap gentle David
. Saya terus berjalan mengikuti Octa, disusul oleh teman-teman lain sesuai dengan formasi awal. Waktu disini terasa berjalan cepat sekali, begitu pula dengan detak jantung saya. Langkah kaki dan perputaran bumi berkejar-kejaran. Siapa yang lebih cepat, langkah kaki kami atau perputaran bumi? Siapa yang akan melihat matahari pertama kali pagi itu, kami yang sudah menaklukkan gunung itu atau kami yang terlambat sekian menit?
Akhirnya kami sampai di suatu tempat yang cukup ideal untuk bisa melihat matahari terbit. Si tanah merah. Kami tidak teruskan berjalan karena kondisi jalan yang tidak memungkinkan. Padahal kami sudah sangat dekat dengan puncak. Kami duduk. Lelah. Keringat membanjiri. Basah.
Langit pagi itu berawan. No sun rise. Dan saya kedinginan. Saya sempat kecewa dan berkata pada matahari, “Kenapa harus terbit bersama dengan awan?” Dan matahari pun menjawab, “Karena bukan di gunung ini kamu akan bertemu dengan saya. Tapi gunung lain. Dan bukan di gunung ini pula kamu akan merasa puas. Saya hanya terbit pagi ini untuk membantu kamu melihat sebagian kecil dari keajaiban alam ini.“
Awan tebal bergulung terhampar di hadapan saya. Di bawah sana, kawah gunung Tangkuban Perahu. Batu dimana-mana. Kokoh. Awesome!!!
Kawah itu kering tidak seperti samudera luas yang ada dalam khayalan saya setiap kali rasa sedih itu datang. Dimana air mata itu? Tidak ada. Dimana saksi bisu kesedihanku itu? Kosong. Yang tersisa hanya kekaguman akan apa yang sudah Tuhan rancang akan bumi ini dan hidupku.
Terima kasih Tuhan, walaupun aku hanyalah makhluk kecil dan lemah namun aku berharga di mataMu.
Terima kasih teman-teman untuk memberikan saya pengalaman luar biasa ini. Saya berjanji pada matahari pagi itu untuk bertemu di gunung lain. Gunung yang mana menurut kalian?
Look into your heart and you’ll find that the sky is yours. Jason Mraz-I’m Yours.
Liburan memang manfaatnya untuk menghilangkan kepenatan dari semua kesibukan sehari-hari. Gw berlibur ke rumah orang tua di Depok pada Natal kali ini. Rencananya mau pulang tanggal 23, sehari setelah Natal PMK di kampus diadakan. Malam itu cukup menyenangkan buat gw, perayaan Natal yang cukup berkesan. Karena sahabat saya (Kiki) memberikan semacam surprise untuk saya dan Ivan. Padahal beliau sedang ada di Siantar. Setelah Natalan gw berencana untuk segera packing dan rapi2 kamar karena besok pagi jam setengah delapan udah booking travel untuk ke Depok. Tapi apa daya, saya memang dilahirkan sebagai individu yang kebutuhan akan “affiliation”-nya tinggi (tes dilakukan berdasarkan personality assesment di kuliah psikologi industri). Jadilah saya ikut teman2 2006 untuk nonton midnight di Blitz PVJ. Sialnya, mereka semua mau nonton I am Legend. Film terbaru Will Smith yang udah gw tonton sebelumnya bersama Kiki dan Ivan. Apa boleh buat? Sedikit merugi karena sempat tertidur di dalam. Pulang sampai di kos jam setengah tiga. Huahhh..cape. Besoknya terbangun jam tujuh. Gaswat!!! Travel berangkat jam setengah 8. Ga pake mandi cuma gosok gigi. Ngepack baju seadanya. Dan ga pake rapi2in kamar lagi. Langsung cabut ke Dago, pool nya si travel. Hampir terlambat, karena si mbak2 travel udah telpon berkali-kali. Duduk dengan tenang di travel dan ga bisa tidur lagi.
Gw baru kali ini benar2 menikmati perjalanan pulang ke Depok. Melihat pemandangan sepanjang Cipularang. Masih ada bukit hijau. Rel kereta api. Awan masih terlihat. Indah. Teringat dengan kampanya “global warming” yang akhir2 ini sedang nge-top. Hmmm…entah berapa lama lagi pemandangan seperti yang di Cipularang itu masih bisa dinikmati. Karena gw juga melihat proyek-proyek yang sedang dikerjakan. Entah akan jadi pabrik, kantor, apartemen, atau universitas. Semuanya akan menggantikan tempat bukit-bukit dan semua pemandangan indah itu.
Jadi berpikir kalau hidup itu memang keras. Terkadang ada keputusan-keputusan yang harus diambil namun dirasa terlalu kejam. Banyak opini. Banyak kontroversi. Setiap manusia punya versinya sendiri-sendiri. Saya teringat perkataan seorang wanita pada film I am Legend. Intinya cobalah dengar suara Tuhan, terutama di saat-saat sepi seperti ini.
Kembali kepada liburan Natal saya…hm…gw sampe rumah. Tiba2..GUBRAKK!!! Langkah pertama gw di rumah langsung jatuh. Gw tersandung batu2an ibu ku sayang. Ibu saya lagi suka berkebun. Bunga2 dan daun2an dimana2. Rumah saya hijau sekali. Semoga Natalan di rumah lebih berkesan lagi.







Comment