You are currently browsing the category archive for the 'tertawa' category.

Postingan saya kali ini bukan tentang lasagna ataupun resep membuat lasagna yang yummy. Sebenarnya saya tidak tahu mau memberikan judul apa pada postingan kali ini. Saya hanya teringat lasagna yang akhirnya bisa saya makan dengan puas, setelah akhir-akhir ini membatasi diri untuk makan makanan dengan kadar lemak tinggi.

Langsung saja pada inti dari postingan kali ini. Saya senang sekali dengan liburan lebaran dengan keluarga besar tahun ini. Jadwal kunjungan ke rumah-rumah saudara yang padat dan bertemu lagi dengan sepupu-sepupu dan tante-tante saya untuk saling berbagi cerita.

Saya belajar bermain cubic. Permainan yang menantang!! Terimakasih untuk sepupu saya yang masih duduk di kelas 2 SMA, Andira Afiati.

cubic

Dan hari Rabu, 23 September 2009, kami berkumpul bersama untuk merayakan ulang tahun sepupu saya, Risayogi Wicaksono Sitorus, yang ke-24.  Saya senang sekali. Semata-mata karena akhirnya kami sekeluarga besar bisa berkumpul dengan lengkap! Tidak ada yang tidak datang karena alasan ujian, jaga malam, banyak tugas, paduan suara, atau pacaran.

the buffet

Kami, ber-19,  makan bersama di The Buffet, Plaza Semanggi. Dan kemudian disusul dengan berkaraoke bersama di Inul Vizta selama 2 jam. Keluarga besar kami memang suka bernyanyi. Dan karaoke kali ini merupakan karaokean ketiga kami :) . Sebelumnya kami memang sering berkaraokean, tapi dengan sederhana di rumah :D .

Pada kesempatan kali ini, saya akan coba tampilkan list lagu yang cukup heboh kami nyanyikan sekeluarga. Padahal gap umur keluarga kami berbeda cukup jauh. Ada Eyang saya yang berusia 87 tahun sampai keponakan saya, Jhovancka, yang masih berusia 10 tahun.

  1. Twist and Shout – The Beatles
  2. Jai Ho – The Pussycat Dolls
  3. Cari Jodoh – Wali
  4. I Don’t Want To Miss A Thing – Aerosmith
  5. Obladi Oblada – The Beatles
  6. Alusi Au – Eddy Silitonga
  7. Setangkai Anggrek Bulan – Rani
  8. Goyang Duyu – Project Pop
  9. Tak Gendong – Mbah Surip
  10. Medley Selamat Ulang Tahun

karokean keluarga

They are my treasure. Keluarga yang hangat. Keluarga yang gila! Keluarga yang heboh. I am lucky to have them in my life. Terimakasih Tuhan :) .

Yup! Kata-kata yang saya jadikan judul pada postingan kali ini adalah nama sebuah acara di salah satu televisi swasta, Take Me Out Indonesia. Sebuah acara pencarian jodoh seperti acara MTV Single Day’s Out, acara yang cukup nge-trend waktu saya masih muda dulu.

take me out indonesia

Pada acara ini, 30 wanita berdiri di balik podiumnya masing-masing. Wanita yang berpartisipasi di acara ini menurut saya bukan wanita sembarangan. Mereka cukup berkualitas. Terlihat cantik dan cerdas juga memiliki karir yang baik. Namun ada yang sudah mengalami kegagalan dalam pernikahan dan berstatus janda. Bahkan beberapa sudah memiliki anak. Ada juga yang memang masih muda.

Kemudian satu per satu pria keluar untuk memperkenalkan diri dan menunjukkan kemampuannya. Jatah pria dalam satu episode berjumlah 7 orang. Jika sang wanita mematikan lampu podiumnya maka wanita itu menunjukkan ketidaktertarikannya pada pria tersebut. Jika lampu tetap menyala maka si pria masih punya kesempatan untuk pulang dari acara ini dengan menggandeng pasangan. Dari beberapa wanita yang masih menyalakan lampu podiumnya, si pria akan mengajukan pertanyaan dan kemudian memilih satu wanita yang menurut dia memberikan jawaban yang paling memuaskan.

Tidak semua pria keluar dengan status baru lewat acara ini. Ada juga yang gagal karena tidak berhasil membuat seorang wanita pun tertarik. Dari sisi wanita sendiri, jika mereka tidak mendapatkan pasangan pada episode ini, mereka bisa mencoba lagi di episode berikutnya dan berikutnya dan berikutnya sampai akhirnya mereka memperoleh pria yang klop!

Saya sendiri lebih banyak tertawanya saat menonton acara ini. Lebih banyak bertanya-tanya. Apa sih esensi dari suatu hubungan? Sekedar status kah? Lalu kenapa banyak orang begitu panik jika tidak memiliki pasangan? Apa mereka merasa tidak utuh jika tidak memiliki pasangan?

Apa benar semudah itu memilih pasangan? Bayangkan, bahkan si pria tidak memerlukan lebih dari setengah jam untuk memilih wanita yang akan mendampinginya. Padahal sebelumnya mereka bisa jadi hanya orang asing yang sama sekali tidak saling mengenal karakter masing-masing. Bagaimana bisa kedua pihak mengambil keputusan sebodoh itu dalam waktu secepat itu?

Entah berakhir seperti apa hubungan yang dimulai dari acara seperti ini. Saya tetap berharap mereka semua berbahagia pada akhirnya. Bisa berakhir di pelaminan. Bisa juga akhirnya menemukan kebahagiaannya masing-masing. Dan yang paling penting, saya berharap masyarakat Indonesia tidak kehilangan makna dari hidup berpasangan. Terutama para ABG yang masih sangat terpengaruh oleh tayangan semacam ini.

Tapi kalau untuk sekedar hiburan, silakan. Bisa dicoba lho!! :D

Tidak direkomendasikan untuk ABG-ABG yang masih labil :P

Luar biasa, saya menulis tiga postingan dalam satu hari. Terlalu banyak cerita manis pada hari ini yang tidak kuat saya tahan sendiri. Selamat menikmati cerita dan pelajaran di hidup saya hari ini, Sabtu, 20 Juni 2009.

Salah satu sahabat saya, Dwi Arryma Niza aka Nise, maju sidang Tugas Akhir sarjana pada hari ini.

Saya, walau hanya menonton tapi, DEG-DEG-AN setengah mati!!

Waktu latihan sidang kemarin, bahkan sampai tadi pagi-pagi. Nise terbata-bata. Nada suaranya datar. Saya kuatir dia gugup dan blank saat presentasi hari ini.

Namun presentasi tugas akhirnya berjalan lancar. Bapak Suprayogi dan Ibu Rajesri Govindaraju selaku dosen penguji memberikan pertanyaan yang cukup mendasar dan membuat Nise terdiam. Bingung. Untungnya Pak Arie Samadi (biasa kami panggil Pak Cok), sebagai dosen pembimbing, mengarahkan Nise untuk sanggup menjawab pertanyaan demi pertanyaan. Saya was-was dan panik sendirian.

Sidang berlangsung kurang lebih dua jam. Saya tidak tega melihat teman saya itu dibantai. Saya cuma bisa bantu doa dari tempat saya duduk dan melihat saat itu.

Akhirnya sidang selesai. Nilai dibacakan. Nise, sahabat saya, dapat triple A!!

Saya bangga! Senang! Terharu!!

Nise, selamat kawan! Gw bangga sama lo, Nis! Selamat menempuh hidup baru yang lebih keras di luar sana. Doakan gw yang masih berkutat dengan TA. Senang menjadi bagian dari kehidupan lo di kampus ini :) . Makasi juga untuk pelajaran berharga yang udah lo bagi ke gw. Kalau manusia adalah makhluk sosial. Dan kesuksesan tidak diraih dari kejeniusan, tapi dari kerja keras.

Cheeeeerss for Nise!!!

Pagi ini saya membantu ibu memasak. Hanya memasak masakan rumah yang ga ribet dengan bumbu ini-itu.

Dan saya dapat pelajaran menarik pagi ini. Saya baru tahu alasan kenapa daun bawang disebut daun “BAWANG”. Hal itu karena saat mengirisnya, mata kita menjadi perih. Memiliki sifat yang sama ketika kita mengiris bawang (merah). Pelajaran yang sangat berharga untuk hari ini.

Hahahhaaa :)

Pagi ini saya buka-buka folder “Gambar” di Baby Charlotte. Isinya file-file gambar dari pacarnya teman saya, Iqbal, dan mantan redaktur artistik Boulevard pada masa saya, Giovani Haryadi. Dan sebagian dari hasil hunting gambar-gambar keren di situs National Geography

Saya menemukan foto-foto yang cukup membuat saya senyum-senyum sendiri.

Enjoy!!

kelinci hitam dikucilkan

beruang angkat tangan

beruang tutup mata

anjing sayang kucing

beruang tidur dan anaknya

kucing dan anak ayam

burung jatuh cinta

puppies and flower, baguuus!!

harimau bermain2

Binatang punya caranya sendiri untuk mengungkapkan perasaannya. Senang. Bingung. Sedih. Atau pun lapar. Yang pasti semuanya unik dan menarik. Saya biasanya sih mengungkapkan perasaan cukup dengan menulis dan menangis saja. Hehehe…

Sayang sekali binatang-binatang ini tidak bisa menulis. Kalau bisa, mereka pasti punya banyak cerita menakjubkan.

Sudahlah, kekaguman ini hanya buat Tuhan saja yang menciptakan dunia begitu indahnya.

GLEK!!

Ini adalah bagian kedua dari gumpalan nasi yang harus saya telan. Menyebalkan sekali. Waktu makan siang tadi, saya menelan duri. Sudah tiga gelas air putih saya teguk habis tapi duri ini tidak mau pergi juga. Hampir saya putus asa sampai berharap Gery Chocolatos bisa membantu. Pikiran yang bodoh :(

Cukup sudah bicara tentang duri dalam daging itu. Saat ini saya mau menulis tentang sesuatu yang penting sedikit serius hingga membuat saya hampir tidak percaya. Yang pastinya tidak berhubungan sedikit pun dengan duri.

Besok hari Senin. Hari pertama di minggu terakhir saya, duduk di bangku kuliah. WOW!! Setelah menjalani tahun demi tahun menjadi mahasiswa Teknik Industri di ITB ini, akhirnya saya mencapai minggu terakhir berkuliah juga. Well, just ignore my last assignment (TA). It makes me sick!!

kulker

Saat ini saya mau meningat masa ketika saya memasuki institut terbaik bangsa ini. Bangga dan puas waktu itu. Siapa sangka seorang “saya” bisa masuk kampus ini? Siapa sangka juga, ternyata saya bisa mengikuti kuliah dengan baik tanpa harus melewati ancaman di-DO (drop out). Walaupun harus tertatih-tatih melewati ujian demi ujian, tugas demi tugas, dan kaderisasi demi kaderisasi ;)

“Senang” ketika melihat nilai A di transkrip. “Bernafas lega” ketika ada nilai B. Dan “Sudahlah” ketika muncul nilai C di sana. Dan semester ke semester pasti dilalui dengan banyak berkata, “Sudahlah.”

Saya juga teringat perang batin yang terjadi setiap mau masuk kelas. Ketika diri ini bertemu yang namanya “kemalasan”, “ngantuk”, “mau jalan-jalan aja”, dan alasan-alasan juga pembenaran-pembenaran lain. Tangan ini sudah cukup banyak menggoreskan tanda tangan di lembar absen itu. Dan akhirnya saya mampu melewati perang batin itu dengan selalu lolos absen 80%. Walau seringkali yang dilakukan di dalam kelas hanyalah bergosip, bengong, dan sesekali tidur.

praktikum material teknikDi awali dengan Pengantar Teknik Industri di tingkat satu disertai dengan UTS-UTS di setiap hari rabu sore. Disusul dengan praktikum dengan tugas pendahuluan dan laporan yang menyebalkan dari mata kuliah Material Teknik dan Proses Manufaktur di tingkat dua. Belum lagi ditambah dengan praktikum Logika Pemrograman. Tingkat tiga yang hectic dengan praktikum dan laporan PTI-nya, Perancangan Alat Bantu, praktikum Rangkaian Elektrik dan Elektronika, Otomasi, dan kuliah-kuliah ekonomi yang mulai bermunculan. Tingkat empat ditutup dengan manis oleh Simulasi Komputer dan juga kesibukan memuncak dari Perancangan Tata Letak Pabrik aka PLO (Plant LayOut).

Segala kesibukan itu akan berakhir. Perasaan was-was mengejar deadline, konflik dengan teman, dan kurang tidur karena mengerjakan tugas pun akan berakhir. Perang batin “masuk atau tidak masuk kelas” juga akan berakhir. Ya, berakhir di minggu ini.

empat labtekSaya rasa saya akan merindukan masa-masa ini. Masa ketika menjadi mahasiswa dengan segala bentuk suka dan dukanya. Masa ketika teman menjadi anugerah terindah yang pernah dimiliki. Masa ketika pulang larut malam bukanlah hal yang tabu. Masa pengejaran dan pembentukan konsep diri. Masa nonton film hasil download-an dari rileks. Masa nge-net gratisan di kampus karena selalu pinjam AI3 teman (I’m so sorry guys), Masa makan di KBL, kantin Tambang, Barak, Borju, Bengkok, dan GKU Barat dengan ibu-ibu kasir yang jutek. Bahkan makan di Gelap Nyawang dan Kantin di Gerbang Belakang. Masa pegel-pegel karena terlalu lama mengetik di depan laptop. Masa-masa LPJ (Laporan Pertanggungjawaban). Masa duduk-duduk di Sunken Court. Masa-masa rapat-merapat di eks UPT Olahraga lantai dua, tepatnya di Boulevard si Unit Miskin. Masa jualan Tabloid Mahasiswa paling oke di kampus. Masa foto-foto di Jonas. Masa curhat-curhatan di selasar empat labtek. Masa bikin modul dan periksa tes awal di ruang seminar Studio Manajemen-LIPO. Masa ketika saya banyak sekali berdoa karena untuk melewati banyak hal tersebut saya perlu sesuatu untuk membuat kaki saya tetap teguh berdiri.

kelas4 hufflepuff

pmk2005

Fiuuhh!! Masa demi masa memang akan berlalu. Dan saya merasa bersyukur kalau Teknik Industri, Unit Jurnalisme Boulevard, Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK), Keluarga Mahasiswa Teknik Industri (MTI), Paduan Suara Mahasiswa (PSM), dan Laboratorium Inovasi dan Pengembangan Organisasi (LIPO) boleh menjadi bagian dari kenangan saya di kampus ini, Institut Teknologi Bandung.

menatap masa depan..hehehe

Itu saja yang mau saya tulis saat ini. Cukup serius kan? Perasaan saya campur aduk. Sampai-sampai duri dalam daging itu sudah entah kemana perginya.

Manglayang menyisakan kesan bagi kami. liat gunungnyaaaBagaimana bisa tidak terkesan? Kami dihadapkan dengan kondisi yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Perpustakaan Pusat ITB, titik awal perjalanan kami. Saksi bisu semangat dan sedikit keraguan saya dan Ruth, sebagai dua wanita yang tersisa. Di perpustakaan ini juga, teman-teman pria kami berjanji untuk menjagai saya dan Ruth di gunung nanti :)

Ada kami, tujuh orang, dalam tim pendakian kali ini. Rega, Octa, David, Ruth, Kiki, Ferry, dan saya. Dengan Kiki sebagai The Chief. Kami lah orang-orang yang memutuskan untuk mengukir perjalanan hidup kami dengan sedikit pelajaran berharga di Manglayang.

Sebelumnya kami semua pernah melakukan pendakian ke Gunung Tangkuban Perahu, sebuah pengalaman luar biasa. Bahkan sebagian dari kami pernah mendaki Gunung Lawu, gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa. “Apalah arti Manglayang?” Ketinggiannya bahkan tidak lebih dari Tangkuban Perahu. Anggaplah seperti pendakian hiburan yang sekedar mengakrabkan hubungan pertemanan yang kami jalin. Simply thing.

Banyak canda gurau yang membuat awal perjalanan ini menyenangkan. Saya sendiri tidak banyak berharap dari pendakian kali ini. Saya pikir keadaannya tidak akan jauh bebeda dari Tangkuban Perahu. jadilah saya tidak mempersiapakan diri untuk menerima sesuatu yang spesial di perjalanan nanti.

di damriBerawal dari perjalanan Bandung-Jatinangor dengan bus Damri, nothing special. Kemudian kami naik ojek sampai ke kaki gunung. Bagian ini sudah agak menggila. Ojek yang kami naiki harus melewati jalan berbatu. Batu kecil dan batu besar. Bukan hanya itu, ojek kami melalui jalan menanjak dan menurun yang curam. Bisa bayangkan naik ojek melalui tanjakan dan turunan curam dengan batu-batu kecil dan besar itu? Kalau saya sih takuuuuuuuuuut banget!! Kami membayar ketakutan itu dengan dua belas ribu rupiah saja. Ada yang mau coba?

Di kaki gunung, kami mendapat informasi bahwa ada dua puncak di gunung ini. Sebut saja Puncak Satu dan Puncak Dua. Dengan Puncak Dua lebih tinggi dari Puncak Satu. Ada dua jalur. Jalur Satu, jalur yang sering dilalui para pendaki lain, menuju Puncak Satu kemudian Puncak Dua. Dan Jalur Dua, jalur yang lebih sulit dan langsung menuju Puncak Dua. Ibu pedagang pemilik warung kecil di kaki gunung menginfromasikan bahwa pendakian melalui Jalur Dua hanya memerlukan waktu dua jam saja.

keren bangeettKami akhirnya memutuskan untuk melalui Jalur Dua, dengan Rega di posisi paling depan sebagai pembuka jalan. Saya sendiri, mencoba belajar percaya dengan Octa. Dari belakang saya terdengar banyak tawa. Cukup untuk membuat saya tetap bersemangat.

Medan yang kami lalui semakin aneh-aneh saja. Licin. Basah. Sungai. Batu. Tapi saya tetap menikmati setiap langkah kaki saya sambil membayangkan suatu puncak yang akan kami taklukan nanti. Banyak persimpangan yang kami temui. Sama seperti hidup, kita selalu dihadapkan dengan pilihan-pilihan dan kita tidak pernah tahu sebelumnya apa yang akan kita temui di pilihan yang telah kita ambil. Gambling! Untungnya bukan bagian saya yang menentukan jalan mana yang akan kami tempuh saat itu. Saya pasrah dan percaya dengan teman-teman saya ;)

Kami sudah berjalan cukup lama sepertinya. Kami naik sekitar pukul lima sore plus beberapa menit. Detik demi detik terlalui dan hari makin gelap. Senter pun dinyalakan.

Ternyata alam di Manglayang lebih menantang dari Tangkuban Perahu. Kami terus berjalan menanjak. Tidak ada jalan datar. Tidak ada santai. Buat saya, ini menantang dan menyenangkan sekali. Inilah yang namanya kejutan. Sampai akhirnya kami berada di suatu titik balik pendakian ini.

Rega mulai tidak yakin dengan pilihannya. Medan yang kami hadapi semakin sulit dan berbahaya. Beberapa opsi dihadapkan. Turun dan melalui jalur satu lagi atau terus ke atas. Octa tetap mencoba mendaki dengan posisi merayap. Dia mencoba terus untuk bisa naik dan kemudian merosot. Octa, yang ambisius, trus naik dan lagi-lagi merosot, berkali-kali. Entah apa yang dia rasakan. Kalau saya mungkin sudah frustrasi. Saya sendiri merasa sedih karena tidak tahu harus bantu apa selain memberikan dukungan dan semangat. Tempat saya berdiri pun sebenarnya tidak terlalu aman. Fortunately, ada batang pohon tempat saya bisa melingkarkan tangan saya di sana. Akhirnya Octa memutuskan untuk melepaskan carrier bag nya dan dia berhasil naik tanpa merosot. Rega dan Octa bertukar peran. Octa mencari jalan di depan. Kami, sisanya, menunggu!

Penantian kami diisi dengan sedikit gurauan. Kiki, The Chief, yang paling banyak melontarkan kata-kata lucu. Sangat membantu mengurangi ketegangan saat itu. Tiba-tiba.. Duk… duk…

Batu-batu mulai meluncur dari atas. Rega berteriak, “AWAS BATU!!”

Ini titik awal perasaan saya, akan keoptimisan berada di puncak, mulai luntur. Harap-harap cemas apakah masih memungkinkan untuk berdiri di atas puncak. Ini yang saya sebut dengan “Kesedihan.” Sedih karena kehilangan harapan.

Batu-batu terus meluncur ke bawah seperti sedang berlomba-lomba siapa yang akan sampai di bawah terlebih dahulu. Mereka masuk jurang dan entah kemana perginya. Meninggalkan kami di sini. Semakin Tegang. Dan terus menanti.

Saya berdoa. Seorang diri. Dalam hati saja. Semoga tidak ada yang terluka. Semoga ada jalan keluar. Siapa lagi yang bisa saya harapkan saat ini kalau bukan Sang Empunya Gunung ini?

Duk.. duk.. duk… Gerombolan batu itu datang lagi menyerang. TAK!! Senter saya dihantamnya. TAK!! Lutut saya pun diserangnya. OUUUCH!! Sakit. Dan hampir saja batu-batu itu mengenai kepala Ferry. Untung saja ada kayu yang menghalangi.

Kiki mulai terlihat panik. Dia tidak mau mengambil resiko ada nyawa yang hilang di tempat ini. Kiki mulai menegaskan kalau kembali turun adalah pilihan terbaik yang seharusnya kami ambil, walaupun Octa berkata kira-kira lima meter lagi dia akan mencapai puncak. Perkataan Octa cukup menggiurkan memang. Saya maunya sampai ke puncak. Dan puncak itu tidak jauh lagi. Tapi apa saya yakin mau mempertaruhkan nyawa teman saya atau mungkin nyawa saya sendiri? Saya berperang dengan diri sendir sampai akhirnya diputuskan untuk turun. Yaah.. mau apa lagi? Saya harus ikut turun dengan terpaksa.

Perjalanan turun pun bukan hal yang mudah. Kondisi sudah gelap. Jalanan licin. Dan saya TIDAK SUKA MAIN PEROSOTAN!!

Kami harus turun dengan cara merosot. OH NOO!! Jurang entah di kiri atau kanan. Ketakutan saya memuncak. Saya takut merosot dan salah jalan. Entah logis atau tidak pikiran saya saat itu. Yang pasti saya harus akui bahwa pikiran saya sudah tidak sehat lagi. Perasaan saya berkecamuk. Hasrat untuk berdiri di puncak masih besar. Dan saya bukannya berjalan ke atas menuju puncak itu tapi justru terus merosot ke bawah. OUT OF OUR PLAN! Menjauh dari bayangan pertama akan gunung ini. NO SUNRISE ANYMORE! Saya kecewa dalam hati sambil terus mengikuti instruksi untuk tetap merosot. Saya juga menyesal karena tidak pamit ke orang tua sebelum naik gunung ini. Maaf teman-teman, saya cuma pamit ke kakak saya. Menurut saya itu sama saja. Tapi saya menyesal sekali. Saya membayangkan kejadian terburuk yang bisa saya alami di gunung ini. Di kegelapan malam di dalam hutan ini, hati saya pun meredup semakin kelam. Saya ingin di tempat ini saja sampai matahari datang. Kegelapan saat itu sungguh membuat saya takut. Saya ingin mengatakan hal ini kepada teman-teman yang lain. Saya ingin jujur tentang perasaan saya saat ini. Tapi di lain pihak, saya tidak mau menjadi orang yang merepotkan. Saya tetap ikuti semua instruksi sementara hati saya masih kacau balau. Entah bagaimana mencurahkan kegalauan hati saya ini. Saya mau menangis. Tapi tidak bisa. Saya tidak mau diberi cap “si cengeng.” Saya mulai bertengkar dengan air mata saya, “Tolong ditahan dulu. Jangan sekarang!”

David berteriak dari bawah, “Ayo Dwi! Merosot lagi! Perosotannya panjang lho!” Kemudian saya berkata, “Emang harus merosot ya?” Dan teman-teman menyemangati, “Iya Dwi! Ayo!” Lalu saya merosot. Sampai di bawah, saya sudah di tahan oleh David. Ada Ruth disana. Dan saya berkata, “Gw boleh nangis ga?” Dan bendungan yang saya tahan-tahan itu pun pecah. Ya.. Saya akhirnya membuang air mata itu. Hati ini lega. Serangkaian pemikiran dan kegalauan hati saya itu selesai hanya lewat air mata.

Ruth memeluk saya. David membesarkan hati saya. Saya merasa dibangun kembali semangatnya. Kiki memimpin dan kami berdoa bersama. Ok! Saya siap melanjutkan perjalanan ini. Saya pun sudah mendapatkan kerelaan hati karena sudah tidak mungkin bisa sampai puncak.

Kami terus berjalan turun hingga berada di daerah yang lapang dan datar. Dan tiba-tiba, Rega mengalami keseleo. Lengkap sudah pelajaran untuk kami semua.

Beberapa mulai membangun tenda. Saya membersihkan diri kemudian membantu Ruth dan Rega memasak. Saat itu sudah hampir pukul sebelas malam. Kami bersyukur bisa makan sarden, nasi, indomie telur, tempe goreng, dan timun malam itu. Saya bersyukur bisa melihat wajah teman-teman saya. Mereka semua bernyawa. Kami cerita-cerita hingga larut malam tentang harapan kami sepuluh tahun ke depan.

Malam itu ditutup dengan harapan-harapan baru. Harapan besar tentang diri kami sendiri sepuluh tahun ke depan. Tapi saya pribadi mulai mempersiapkan diri akan kondisi apa pun yang mungkin akan saya temui dalam perjalanan mencapai harapan saya itu. Entah akan tercapai atau tidak. Sama persis dengan pengalaman kami dalam pendakian Manglayang ini.

Kami bermalam dan tidur di tenda malam itu. Kami bangun setelah matahari bersinar terang. di tendaEntah kenapa, saya sangat bersyukur pagi itu dengan apa pun kondisi saya dan teman-teman dan apa pun yang sudah kami capai. Kami menghabiskan sisa-sisa waktu yang ada dengan saling membagikan pelajaran yang kami peroleh dari pendakian kali ini. Tentang kesombongan. Keangkuhan. Sok jago. Kerendahan hati. Kepercayaan. Kerelaan. Kesetiaan. Saling mendukung. Saling menjaga. Dan harapan.

Saya belajar untuk meletakkan mereka semua di hati saya. Di dalam kotak berlabel, “SAHABAT.” Saya tidak akan pernah tahu apa yang akan saya temui nanti. Mereka bisa saja akan mengecewakan saya di kemudian hari. Mereka bisa saya membuat saya sedih. Akan ada banyak kejadian di antara mereka dan saya. Tapi saya mau belajar BERANI untuk PERCAYA.

sahabatSaya mau mengutip sebaris lirik dari lagu berjudul Surrender yang dipopulerkan oleh Float. Suatu grup musik dalam negeri sendiri.

“Chi trova un amico, trova un tesoro.”

Diambil dari pepatah Italia yang artinya, “One who finds a friend, finds a treasure.”

But I am like an olive tree flourishing in the house of God; I trust in God’s unfailing love for ever and ever. I will be like a well-watered garden, like a spring whose waters never fail.

Blog Stats

  • 13,728 hits

My Mood

My Unkymood Punkymood (Unkymoods)

Flowers

sunflower

passion flower

red flower

hand flower

bucket flower

More Photos

Calendar

December 2009
M T W T F S S
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.

Pages