You are currently browsing the category archive for the 'share house' category.
Category Archive
Tanda Kasih Sindy
June 20, 2009 in dapur, share house, with friends | 6 comments
Masakan kali ini tidak berasal dari dapur buatan saya, tapi dapurnya Sindy. Setidaknya masih dalam naungan yayasan Share House. Sindy adalah guru memasak saya yang terkenal, paling tidak seantero keluarga besar Teknik Industri ITB.
Setiap orang punya caranya sendiri-sendiri mengungkapkan rasa kasihnya kepada orang yang dikasihinya tersebut. Seperti Sindy, ia menunjukkan perasaan sayangnya dengan membuatkan masakan untuk sang pacar, Iqbal. Tebak berapa kenaikan berat badan yang dialami sang pacar? 11 kilogram dalam 5 bulan. Sindy memang luar biasa, two thumbs up!

Foto Sindy bersama Iqbal
Hari ini adalah tepat peringatan 11 bulan sejak mereka resmi jadi pasangan muda-mudi (*halah). Dan Sindy membawakan Iqbal sarapan berupa pasta fusili dengan topping daging cincang pedas. Tidak lengkap tanpa hiasan pemanis, telur dadar dan baso ikan pun melengkapi sarapan pagi itu.

Foto Sindy dengan boneka sapi pemberian Iqbal dan sarapan pasta fusili spesial
Girls love flowers. Boys love food.
Jadi beruntunglah para pria yang memiliki pasangan wanita jago memasak. Dan beruntunglah para wanita yang memiliki pasangan pria jago merangkai bunga (???). Hahahhaa…
Happy 11 months anniversary!!
Buat Sindy dan Iqbal… Cheeeeerrss!!
New Recipe:Beefelicious ala Share House
April 9, 2009 in dapur, share house, tertawa, with friends | 6 comments
Jumat kemaren saya tiba-tiba mau memasak. Malamnya ibu menelpon dan berkata, “Kamu tuh satu rumah sama orang jago masak, mbok ya belajar masak yang agak-agak rumit dong. Masa kerjaannya kalo di rumah cuma bikin dessert aja.”
Jadilah pagi-pagi di hari Jumat, saya meminta kesediaan teman saya, Sindy, untuk mengajari memasak. Bahan yang ada di rumah saat itu cuma daging sapi dan beberapa bumbu dasar, seperti bawang merah dan bawang putih juga beberapa bumbu rahasia lain. Dengan beberapa instruksi dari sang pengajar memasak dan dengan tangan saya yang amatir dalam memasak ini, jadilah menu baru daging sapi khas “Share House”.


Penampakannya luar biasa cantik kan?
Rasanya juga dong! Dibuktikan dengan foto teman saya, Iet. Dia terlihat sangat menikmati Beefelicious ala Share House ini.

Mau? Mau? Mau?
Perubahan Pola Hidup
December 19, 2008 in dwihut, merenung, share house, with friends | 2 comments
Saat ini jam tiga kurang lima menit di jam dinding “share house”.
Entah kenapa saya tidak merasakan kantuk sama sekali. Sungguh perubahan pola hidup yang dahsyat. Biasanya saya adalah orang pertama yang tidur ketika belajar bersama teman-teman. Namun, saat ini ada tujuh teman saya tergeletak lemas di sekitar saya. Tenang saja, mereka semua masih dalam keadaan hidup dan bernafas :p
Sambil membaca handout kuliah dan textbook kuliah Perancangan Tata Letak Pabrik, mata kuliah yang akan di-ujian-kan hari ini juga jam 7 pagi. Teringat segala kesibukan di kampus yang disebabkan oleh 3 sks kuliah ini. Memang alokasinya hanya 3 sks tapi bebannya seperti sks seumur hidup. Fotunately, semuanya akan segera diakhiri hari ini juga. Fiiiuuhh!!
Kembali bicara tentang perubahan pola hidup. Penyebab utama perubahan pola hidup saya adalah tuntutan kuliah yaitu tugas-tugas yang amat sangat banyak sekali. Sebenarnya saya bukan tipe penikmat hidangan kopi karena penyakit mag yang saya derita. Tapi bahkan tanpa kopi pun saya bisa bertahan sampai pagi ini. Walau sebenarnya saya sudah tidur “ayam”tadi selama satu jam. Selain itu, karena kurang tidur saya jadi mudah sekali untuk berada dalam kondisi yang namanya “masuk angin”.
Para dosen mengatakan bahwa kondisi seperti inilah yang nanti akan kami hadapi nanti di dunia kerja. Saya merasa kondisi yang saya alami sekarang terlalu padat, tanpa tidur yang cukup, makan tak teratur, kurang waktu untuk menghibur diri. Kalau saya, memilih bekerja yang tidak harus seperti itu. Hidup saya tidak mau saya habiskan untuk hal-hal fana yang akan berakhir di masa pensiun saya nanti. Saya ingin memiliki cukup waktu untuk berpikir dan melakukan sesuatu hal yang besar. Saya tidak minta banyak kok, saya minta cukup saja.
Share House
August 6, 2008 in melankolis, merenung, share house, with friends | 5 comments
Tahun ajaran baru 2008/2009 merupakan tahun ajaran terakhir saya di kampus tercinta ITB. Yah..semoga saja!!! Akan banyak tugas menanti, deadline, dan dikejar-kejar perasaan (dan tentunya pertanyaan dari orang-orang di sekitar saya, terutama orang tua) untuk cepat-cepat beres Tugas Akhir dan akhirnya bisa sidang. Namun di tahun terakhir ini, saya memutuskan untuk pindah dari kost saya yang lama di Jalan Pelesiran untuk mengontrak rumah di Dago bersama sahabat-sahabat saya (Sindy dan Iet). Alasan utamanya karena saya adalah seseorang yang tidak bisa merasa sendirian dan kesepian. Hanya karena masalah itu saja, saya merasa menjadi orang paling malang yang pernah ada. Dengan mengontrak rumah bersama saya harap bisa mendapat banyak hiburan dari sahabat-sahabat saya itu. Rumah kontrakan kami itu terdiri dari ruang depan, kamar mandi, dapur, gudang, dan satu kamar yang akan kami jadikan tempat sakral nantinya. Jadi kami akan tidur bersama di ruang depan. Seru sekali, sleepover party every night!!!
Waktu di kost yang lama, saya tidak punya televisi. Awalnya memang saya tidak suka nonton TV. Saya lebih memilih baca buku (biasanya sih novel) daripada nonton TV. Ternyata beban kuliah dan segala kegiatan di kampus membuat saya hampir tidak punya waktu untuk membaca novel dan menonton TV adalah aktivitas menghibur paling praktis yang akhirnya saya sadari. Jadi karena saya tidak punya TV di kost, saya senang karena salah satu sahabat saya yang mengontrak bersama ada yang membawa TV. Akhirnya bisa update soal gosip dan berita kriminal terbaru. Bicara soal fasilitas bukan hanya TV saja, sahabat saya yang satu lagi punya hobi memasak. Tidak heran kalau dia punya peralatan masak yang lengkap, sebut saja kompor, blender, mixer, dan pernak-pernik kecil lain. Saya jadi tidak perlu beli makan di luar dan kemilan. Sahabat saya itu pasti akan menyediakannya, hehehee.
Tapi dibalik semua kesenangan yang nampaknya akan mengubah hidup saya lebih ceria, saya menyadari ada satu hal yang selama ini mengusik saya. Saya tidak akan punya privasi lagi. Waktu masih kost dulu, saat saya sedang cek-cok dengan sahabat-sahabat saya itu atau dengan orang lain, saya masih punya kamar pribadi tempat saya menyendiri dan mencurahkan seluruh perasaan saya. Nah…sekarang, saya sadar saya akan kehilangan hal tersebut.
Namun setelah saya pikir matang-matang, saya justru merasa tertantang untuk tinggal bersama. Bukan lagi karena kesenangannya, tapi karena pelajaran berharga yang akan saya dapatkan nantinya. Contohnya, kalau saya sedang emosi (atau biasa disebut marahan) dengan salah seorang dari sahabat saya, saya harus berani menghadapi kondisi tersebut, tidak lagi dengan melarikan diri ke kamar dan menangis atau marah sendirian. Paling tidak saya akan belajar untuk menghadapi emosi saya dan berpikir dengan bijaksana apakah emosi ini harus dikendalikan atau diperlihatkan.
Satu kenyataan lagi yang saya sadari yaitu bahwa rumah ternyaman bukanlah bangunan dengan segala fasilitas atau kondisi yang serba menyenangkan. Tapi rumah ternyaman adalah hati kita masing-masing. Apabila kita bisa mengendalikan emosi kita dan tahu harus berbuat yang benar dengan bijaksana, maka kembali ke hati sendiri adalah hal paling nyaman. Jadi saya harap saya akan sampai ke titik tidak lagi butuh kamar untuk alasan privasi, karena saya punya hati yang memiliki ruang lebih besar untuk mencurahkan dan menyimpan segala bentuk kesenangan, kesedihan, kemarahan, dan kepuasan saya. Terimakasih Tuhan untuk anugerah hati yang telah Kau berikan.
Jadi saya akan namakan rumah kontrakan kami itu dengan “Share House”, karena kami akan saling membagi apapun yang kami miliki, terutama pelajaran berharga dalam hidup. Pelajaran tentang mengendalikan diri dan emosi, menghargai orang lain lebih lagi, kebijaksanaan kapan harus mengalah dan memaksa, dan yang paling penting berpikir untuk mencari setiap solusi untuk kepentingan bersama.







Comment