You are currently browsing the category archive for the 'moody' category.
Saya punya kawan. Namanya Hari.
Sayang sekali usianya hanya mencapai 24 jam dan kemudian nyawanya hilang melayang. Belum lagi 6-8 jam dihabiskan untuk tidur. Jadi total saya bertemu dan menikmati waktu bersama Hari hanya sekitar 16 jam.
Nah, jadilah produktif di 16 jam bersama Hari. Sebelum matahari terbenam, langit menjadi gelap, dan bintang-bintang datang berkedip-kedip. Saatnya untuk mengatakan pada Hari, “Goodnight and Goodbye,” karena esok akan datang Hari yang lain. Dengan karakter yang berbeda.
Ayo tetap semangat!
Tetap ceria menyambut hari ini!
Jadilah bagian yang menyenangkan dan berkesan untuk hari ini. Karena dia tidak akan pernah kembali lagi.
Waktu-waktu ini terasa berat buat saya.
Tanpa inspirasi apa pun untuk sekedar meletakkan satu kalimat dalam blog ini. Lagi, saya mau katakan, “Lord, don’t play on me, please.” Untuk kesekian kali aku merasa hidupku ini seperti permainan yoyo. I’m on the lowest level. I’m on the highest level. Up and down!
Mari tersenyum. Langkah cukup mudah untuk sedikit meringankan keresahan.
I need time to break for a moment.
I need space.
Could you give me some?
Minggu ini minggu penuh senyum dan perenungan buat saya. Senyum saya beralasan, karena begitu banyak kejadian yang menyenangkan. Perenungan saya pun beralasan, karena aktivitas ini memang selalu datang sebulan sekali saat emosi sedang berfluktuasi.
Perenungan saya datang setiap kali sisi melankolis saya ini mendominasi. Berpikir hal-hal terlalu terperinci. Bahkan yang tidak perlu saya pikirkan pun, jadi saya pikirkan dengan serius. Kali ini perenungan saya membawa saya kepada perasaan kehilangan. Kenapa bisa pikiran ini yang tiba-tiba muncul? Karena lagu yang saya dengar bolak-balik selama tiga hari ini adalah Time To Say Goodbye, yang dipopulerkan oleh Andrea Bocelli. A great song, I love it!
Kehilangan, buat saya, adalah kondisi ditinggal pergi. Bisa tiba-tiba atau telah direncanakan. Bisa karena suatu hubungan yang rusak, pergi ke tempat yang jauh, atau meninggal dunia.
Kalau karena ditinggal pergi ke tempat yang jauh, masih ada kemungkinan untuk bisa bertemu lagi. Entah bulan depan, tahun depan, atau sepuluh tahun lagi, pasti masih ada kesempatan untuk bertemu lagi. Apalagi di zaman modern seperti sekarang. Internet bisa didapatkan di mana pun. Jadi berpisah karena jarak tidak lagi menjadi masalah besar. Walau tetap saja, interaksi secara langsung pasti lebih berkesan dan menyenangkan.
Kehilangan seseorang karena suatu hubungan yang rusak adalah kejadian yang cukup menyedihkan. Bisa karena putus dengan kekasih. Perceraian suami dan istri. Bertengkar dengan sahabat. Atau meninggalkan rumah orang tua karena mau kawin lari dengan pria dari suku seberang
Awalnya hari-hari diwarnai dengan senyumnya (bisa kekasih, sahabat, suami, istri, atau orang tua). Dengan amarahnya. Dengan nasihatnya. Dengan semangatnya. Jam-jam dilalui bersama orang yang dikasihi itu melalui interaksi yang penuh kehangatan. Tapi siapa yang tahu kalau hubungan yang paling mesra sekali pun bisa rusak kalau tidak ada yang mau mengalah dan merendahkan diri. Kehilangan orang yang biasanya mengisi hari-hari karena kekerasan hati sendiri adalah hal yang menyakitkan buat saya. Makanya saya berusaha keras untuk menjaga setiap hubungan yang pernah saya jalin. Saya takut sekali kalau ada hubungan yang rusak karena keegoisan saya.
Terakhir adalah kehilangan karena orang tersebut meninggal dunia. Meninggalkan dunia ini. Tidak ada lagi untuk selamanya. Bahkan berharap dia akan kembali pun hanya akan membuatmu gila. Kehilangan tipe ini bukan karena kesalahan dia. Atau kesalahan saya. Atau anda. Atau siapa pun. Ini kedaulatan Tuhan (kecuali bunuh diri pastinya). Jadi memang tidak ada yang bisa disalahkan. Tapi membayangkan kondisi ini menimpa saya suatu hari nanti, cukup membuat saya membiarkan air mata ini mengalir bebas. Jika orang-orang terdekat saya harus pergi untuk selamanya. Tidak bisa disentuh lagi. Tidak bisa dipeluk. Atau dicium lagi. Tidak bisa berbincang lagi. Tidak bisa tertawa bersama. Dan bercanda bersama. Ini akan menjadi salah satu titik paling menyedihkan buat saya. Jika harus kehilangan Bapak, Ibu, atau Kakak saya. Keluarga terdekat. Atau anggota keluarga lain. Atau saat kehilangan sahabat-sahabat saya. Orang-orang yang pernah membantu saya melalui hari-hari yang berat dan menikmat kesenangan bersama.
Atau, apabila di masa depan nanti, jika saya tidak punya orang tua lagi dan sahabat-sahabat saya sudah pergi ke negeri antah berantah. Dan ketika itu, saya harus kehilangan suam isaya (Halaah!! Menikah saja belum. Tapi seriusan, hal ini saya pikirkan sampai mendalam sekali), pasti saya tidak tau lagi mau hidup seperti apa. Saya tidak sanggup kehilangan suami, saya pikir. Lebih baik dia yang kehilangan saya nanti (Ini pikiran yang super duper egois memang, tapi saya cuma berpikir sepertinya saya tidak sanggup kalau harus hidup tanpa orang yang bisa memanjakan
).
Yah, apapun kondisi kehilangan yang akan saya hadapi nanti, saya masih punya Tuhan, yang akan hadir melalui orang-orang lain yang akan Dia tempatkan di sisi saya untuk menggantikan mereka-mereka yang telah pergi. Jadi kalau saya kehilangan suami pertama, apakah Tuhan akan menempatkan seorang suami kedua buat saya? Hahahaa…
Yang pasti Tuhan akan menggantikan sang suami tercinta dengan kehadiran anak-anak yang lucu
(Tulisan ini dibuat dengan penuh penyesalan. Penyesalan kenapa saya bisa sampai memikirkan hal yang begitu menyedihkan ini.)
Beberapa minggu terakhir ini kegiatan di Taboo didominasi dengan menggambar. Selain karena baru saja diadakan pameran menggambar anak-anak, saat ini anak-anak Taboo punya guru menggambar baru
Colors everywhere. Bunga berwarna-warni. Pemandangan berwarna-warni. Pelangi berwarna-warni.
Saat ini saya tidak akan cerita tentang bunga. Walau bunga adalah salah satu ciptaan Tuhan yang paling saya kagumi. Saat ini saya akan bicara tentang pelangi.
Mejikuhibiniu adalah kata-kata yang identik dengan pelangi. Merah. Jingga. Kuning. Hijau. Biru. Nila. Ungu. *tolong bantu saya menggambarkan seperti apa itu warna “nila“.
Beberapa hari ini saya menyebutkan hari-hari saya dengan warna. Hari ini kuning cerah karena banyak orang-orang ramah di sekitar saya dan membuat saya dengan hati senang menyapa dengan senyum setiap orang yang saya temui. Hari lain adalah biru karena teduh sekali, hari dimana Tuhan seperti sedang mengajak saya merenung dan menghayati setiap langkah yang sudah dilalui. Hari satunya lagi merah, full of energy, semangat membara. Hari yang lain bisa menjadi ungu, merasa puas diri dan kesuksesan menyapa. Atau hijau, hari yang tepat untuk istirahat, creambath dan maskeran sendiri di rumah sambil menikmati kesendirian dengan rasa puas.
Terkadang hari saya putih. Maunya bengong. Mengkhayal sendiri. Non value added activities.
Terkadang hari saya hitam. Dipenuhi masalah yang tak terpecahkan. Tidak bisa menjadi diri sendiri. Tidak ada jalan keluar. Buntu!
Terkadang hari saya abu-abu. Saat hidup tidak ada tujuan dan gairah. Rutinitas cuma jadi kebiasaan yang membosankan. No spirit.
Tapi Tuhan mengirimkan pelangi saat Nuh dan rombongan sedang dalam banjir besar. Pelangi adalah suatu tanda perjanjian antara Tuhan dan Nuh bahwa, “sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah laig, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi.” (Kejadian 9:11).
Aku jadi teringat pelangi yang selalu muncul sesaat setelah hujan mengguyur bumi. Hujan akan selalu datang. Terkadang hanya berupa rintik-rintik gerimis kecil. Tapi bisa jadi dalam bentuk badai besar. Tapi tidak akan ada lagi air bah yang menyengsarakan dan membinasakan. Dan setelah hujan itu berhenti, selalu datang pelangi sebagai tanda Tuhan menepati janjiNya.
Sama dengan hidup ini. Masalah akan tetap mengguyur hari-hari. Saat tertentu masalah datang seperti badai besar. Tapi masalah yang datang tidak akan sampai menenggelamkanmu dan membuatmu kehilangan harapan. Pelangi Tuhan, yaitu penghiburan dan pertolongan dari Yang Maha Pengasih itu, akan memberi warna pada hari-hari yang kusam itu.
Pelanginya berwarna-warni. Me.Ji.Ku.Hi.Bi.Ni.U. Warna-warna penuh emosi dan gairah. Sekarang aku sedang terus memenuhi hari-hariku dengan warna-warni itu. Jangan sampai lembar kehidupan ini masih ada warna putihnya. Aku mau mengisinya dengan mimpi-mimpi besar lainnya.
Sejujurnya saat ini banyak sekali hal-hal yang mengganggu pikiran saya. Dan banyak hal-hal yang meresahkan hati saya.
Tapi entah kenapa saya kehilangan kata-kata untuk menggambarkannya.
Yang saya tahu..
Ada Bahagia di sini.. saat ini…
Cukup sudah!
Hari ini saya over-HAPPY
Entah kenapa saya seperti meraih semangat yang selama ini saya cari-cari. Entah karena bertemu dosen pembimbing TA kemarin atau karena mood yang memang sedang naik turun mencapai amplitudo maksimum dan minimumnya.
Hari ini saya over-EXCITED
Entah karena hari-hari belakangan ini mulai sibuk kembali, seperti masa-masa dulu ketika bahkan saya tidak punya waktu kosong untuk bengong-bengong. Entah karena saya semakin merasakan banyak orang di sekitar saya yang menyayangi dan memperhatikan saya lebih dari saya sendiri.
Hari ini saya FULL OF ENERGY
Siap menghadapi hari yang berat ini. Siap menghadapi tanggung jawab yang diberikan. Siap tersenyum dan berbagi kebahagiaan. Bahkan siap menerima setiap sakit hati dan kekecewaan kemudian mengisi lubang kesakitan tersebut dengan damai sejahtera dan kesadaran akan kasih yang Ia berikan dari hari ke hari.
Saya merasa SEMPURNA hari ini
dwi-ketikakuterbangunpagipagisekali-4.30subuh-
danmerasakanhalhalpositifitu-senang:)-terimakasihTuhan
I’m in BAD MOOD. Really!
Don’t talk too much. I don’t want to hear anything.
Hey… MAD COW DISEASE…
Just go away from me!!








Comment