You are currently browsing the category archive for the 'life' category.
Setiap manusia pasti kecewa saat dihadapkan pada kenyataan yang jauh di luar rencananya. Setelah kuliah S1, saya berencana untuk melanjutkan S2 ke luar negeri. Kemudian bekerja di perusahaan multinasional dengan jenjang karir yang baik. Merintis bisnis sejak dini untuk income di masa pensiun. Hm..saya mau punya suami yang romantis dan tegas. Dua anak saja cukup dan (tolong) tidak kembar! Berlibur bersama keluarga keliling Eropa. Mengunjungi Disney Land di seluruh dunia. Dan segala rencana lain.
Rancangan manusia memang baik walau seringkali tidak realistis. Bahkan mereka yang mempunyai perencanaan yang baik pasti mengalami sedikit penyelewengan dalam daftar rencananya.
Tapi yang terjadi dalam hidup ini bukanlah rancangan kita. Melainkan rancangan Tuhan!
Rancangan manusia memang dibuat untuk mencapai masa depan yang baik. Tapi jika kenyataan yang terjadi tidak masuk dalam rancangan yang pernah kita buat, bukan berarti dunia kiamat. Justru karena yang terjadi tidak sesuai dengan rancangan kita, masa depan kita akan luar biasa baik. Karena yang sedang terjadi dalam hidup kita adalah rancangan yang dibuat oleh Tuhan. Penguasa alam semesta!
Merry Christmas! Enjoy Xmas With Your Lovely Fam and Friends!
Special note for my lovely friend, Elisa. God is the right place to rely on. Trust in His plans! He is good!!
Setelah percakapan ilmiah dan semangat dari Karinidya. Menonton (kembali) video “Catatan Kecil Tentang Persahabatan”. Bantuan nyata dari Elisa. Mengingat (kembali) suatu percakapan elektronik di hari Sabtu siang. Mengagumi (kembali) keajaiban-keajaiban yang pernah terjadi. Serta hari ini yang diawali dengan sedikit kata-kata dari kitab Mazmur dan Nehemia. Saya bertekad di dalam hati, pikiran, dan doa, untuk menjalani hari-hari ke depan dengan semangat penuh.
Terutama untuk TA!! PANTANG PESIMIS! PANTANG MELOW! PANTANG MENYERAH!
Ada teman. Di sini atau pun di sana. Ada keluarga yang selalu di hati saya. Mereka terus mendukung saya dan berdoa buat saya. Jika saya tetap dengan mental cepat putus asa. Berlambat-lambat dalam berpikir dan bertindak. Saya cuma hanya akan berakhir menjadi seseorang yang mengecewakan. Banyak orang yang percaya saya bisa melewati semua ini dengan indah. Banyak orang yang menaruh harapannya pada pundak saya. Saatnya meneguhkan hati. Menguatkan lengan. Menetapkan langkah.
Sayang, kamu wanita kuat dan tangguh!
-Saya menulis ini dengan tabel Excel yang berisi data dari 280 responden, tabel SPSS 16, LISREL, file word TA, dan jurnal-jurnal dalam bentuk PDF di hadapan saya. Bersama dengan kertas-kertas berserakan, dua laptop stand by, buku SPSS, buku Structural Equation Modeling, buku Multivariate Analysis-nya Hair, buku Walpole, buku Sekaran, dan buku-buku tentang Organizational Behavior di sekitar saya. Juga playlist “hiphiphura”.-
SAATNYA BEKERJA KERAS!! Tuhan bersamamu!
Saya lelah hidup dalam bayang-bayang. Saya lelah terus merasa terkepung. Saya mau melihat cahaya mentari dan kerlap-kerlip bintang.
Ketika Tuhan membiarkan saya dikelilingi kegelapan, hal itu semata-mata untuk membuat saya belajar untuk mencari keindahan dari wujud Tuhan itu sendiri. Ketika Tuhan membiarkan saya jatuh berkali-kali. Dan kemudian jatuh lagi. Dan lagi. Lagi. Bangun untuk kembali jatuh lagi. Saya lagi-lagi percaya hal itu hanya untuk membuat saya merasakan kekuatan sejati dariNya.
Kalian boleh percaya, boleh tidak. Beberapa orang mengenal saya sebagai wanita yang sering menangis. Kalian boleh bilang saya cengeng. Atau lemah. Atau rapuh. Tapi saya belajar mencari kekuatan di setiap ketidakberdayaan saya. Ketika saya tidak lagi kuat dan air mata mengalir dengan leluasa, saya hanya bisa menutup mata dan membiarkan bayangan ini kembali. Saya akan tenggelam di samudera air mata saya sendiri. Lemah dan tidak berdaya. Saya akan sangat lelah mencari pertolongan. Mencoba menggapai kebebasan untuk melihat keindahan langit. Inilah bayangan yang selalu muncul, sejak saya masih kecil, ketika saya merasa sangat sedih, kecewa atau putus asa. Kalian boleh bilang saya gila. Sakit jiwa. Schizophrenia.
Tapi inilah saya. Manusia dungu dan bodoh. Lemah dan rapuh.
Kalau kalian melihat saya sampai saat ini bisa berjalan tegak. Tersenyum ceria. Membagi kehangatan. Berkata tentang masa depan. Atau optimisme. Saya cuma bisa bilang, “Praise the Lord!” Karena saya cuma manusia dungu dan bodoh! Karena saya cuma hidup dengan mengandalkan kekuatan dariNya. Karena saya hidup cuma dengan memegang janjiNya. Karena Dia di dalamku dan aku didalam Dia. Karena pada kenyataannya, saya tidak bisa berbuat apa pun.
Ketika saat ini Dia memerintahkan saya untuk bertahan, saya cuma bisa berpegang pada iman.
Beberapa hari ini saya terlibat pembicaraan menarik dengan teman-teman wanita saya. Tentang betapa tidak terasanya tahun-tahun yang sudah dilalui. Terutama mengingat usia kami yang semakin matang (22 tahun_red) dan dalam hitungan kurang lebih 4-5 tahun lagi, pernikahan akan menjadi topik utama kehidupan kami. Yah, semua memang terlihat alami. Mulai dari anak-anak menuju remaja kemudian dewasa. Mulai dari masuk SMA, kuliah, kerja dan menikah. Pada umumnya setiap manusia melewati masa-masa itu.
But I’m not ready yet. Being a wife. Being a mother. No! BIG NO!!
Saya masih merindukan masa lompat-lompatan sewaktu datang ke Pentas Seni SMA saya, Carasel 68. Saya masih mau mengulanginya lagi. Saya masih mau kebebasan untuk tertawa-tawa ketika menonton atau membaca komik Sinchan. Saya masih mau teriak-teriak geje waktu bermain di wahana Dunia Fantasi. Saya masih mau karaoke lagu-lagu hip-hop terbaru dan bergaya bak anak muda asyik masa kini. Saya masih mau pulang larut malam karena menghabiskan semalam suntuk bermain kartu atau sekedar ber-haha-hihi dengan teman-teman. Saya mau tetap memakai kaos oblong dan celana jeans ketika berpergian.
Masalahnya, 4 atau 5 tahun itu adalah waktu yang singkat. Seperti ketika saya pertama kali mengikuti ospek di kampus hingga saat ini, saya (hampir) lulus sebentar lagi. Empat tahun setengah hanya seperti kedipan mata saja. Dan dalam kedipan mata berikutnya, saya sudah siap dengan baju pengantin, undangan, dan perencanaan bersama dokter untuk melakukan cara KB terbaik.
Mengambil komitmen “menikah” adalah hal yang sangat krusial buat saya. Jika salah memilih pekerjaan, masih bisa mengundurkan diri dan cari pekerjaan lain. Kalau sulit mencari pekerjaan lagi, masih banyak cara lain untuk menghasilkan uang (halal). Tapi menikah adalah keputusan untuk menjadi isteri seumur hidup dan (jika Tuhan berbaik hati mengaruniakan keturunan pada saya) menjadi ibu seumur hidup. Menjadi isteri berarti tunduk dan taat pada suami. Menjadi ibu berarti menjadi teladan dan bersabar dengan anak-anak. Menyerah sebagai isteri dan sebagai ibu tidak ada dalam kamus kehidupan dan pengetahuan saya. Jadi apa pun yang terjadi, saya tidak bisa mundur dari komitmen menikah. Jadi saya harus berpikir keras dan mempertimbangkan dengan serius untuk hal yang satu ini.
Siapkah saya ketika masa-masa itu tiba? Siapkah saya melepaskan hal-hal di masa muda yang (kemungkinan besar) tidak dapat saya lakukan lagi?
Siapkah kamu?
Saya punya ketakutan. Everyone does. Saya takut Januari 2010 belum juga bisa sidang. Saya takut ketika harus dihadapkan kepada situasi sulitnya mendapatkan pekerjaan. Saya takut tidak bisa menikmati pekerjaan saya nantinya. Saya takut kondisi menghalangi saya untuk mengejar dan mencapai mimpi-mimpi utama saya.
Kamu juga pasti memiliki ketakutan. Entah sama dengan saya atau kamu memiliki ketakutanmu sendiri. Yang jelas, adalah sesuatu yang manusiawi untuk menjadi takut. Karena pada dasarnya kita hanyalah manusia yang terbatas. Banyak hal yang tidak bisa kita perbuat, walau kita merasa sudah berbuat banyak. Banyak hal yang tidak bisa kita mengerti, walau kita merasa sudah menjadi yang terhebat. Kita, sebagai manusia, hanyalah makhluk yang fana.
Begitulah. Kita semua pasti memiliki ketakutan. Untuk seorang atlit lari, masa ketika harus menderita kaki terkilir adalah kondisi yang cukup menakutkan. Untuk seorang yang ambisius dengan karir, masa ketika promosi sulit sekali didapatkan dan begitu banyak kompetitor dalam karir adalah masa yang menakutkan. Untuk seorang mahasiswa yang ingin cepat-cepat lulus, masa ketika dosen pembimbing sulit sekali dihubungi dan tidak menjadi koperatif adalah masa yang menakutkan. Yah akhirnya, kita menjadi takut dengan dampak yang bisa diakibatkan dari masa-masa tersebut.
Untuk sang atlit lari, dia kemungkinan besar tidak akan bisa berlari lagi. Untuk sang pengejar karir, dia kemungkinan besar tidak akan naik jabatan sampai masa pensiun. Untuk sang mahasiswa, dia kemungkinan besar akan diundur lagi kelulusannya. Manusia menjadi takut saat harapan-harapannya mulai terlihat tidak mungkin.
Manusia hanya bisa berharap dan melakukan yang terbaik.
Tapi berharap pada siapa? Berharap pada kekuatan diri sendiri hanya akan melelahkanmu. Berharap pada orang lain hanya akan mengecewakanmu. Berharap pada hal yang bersifat sementara (harta, karir, kekuasaan, kecantikan) pada akhirnya nanti akan habis dan hilang juga. Saya sedang belajar berharap pada Tuhan, sosok yang tak terbatas. Tak terbatas kuasaNya. Tak terbatas jalan pikiranNya.
Saya juga sedang belajar untuk tidak menjadi tinggi hati dengan pencapaian-pencapaian saya selama ini, karena kerja keras yang bisa mengantarkan saya sampai kepada pencapaian-pencapaian itu hanyalah anugerah dari Tuhan saja. Saya hanya mau bermegah karena saya memiliki Tuhan yang memberikan begitu banyak pertolongan setiap saat, membalut luka-luka kekecewaan saya, dan mengubah ketakutan saya menjadi pengharapan.
He is the answer!
Seperti judulnya…
Yup, saya punya RAHASIA BESAR!! Untuk sesuatu, yang saat ini, hanya saya dan Tuhan yang tahu. Disamping dua orang teman dekat saya yang sudah saya sumpah untuk tidak mengatakan ke siapa pun (cross your heart!).
Saya (dan Tuhan) akan melakukan sesuatu yang besar. Hahahhaa. Sesuatu yang saat ini masih seperti mimpi. Yang saat ini hanya seperti kapas-kapas beterbangan. Tapi sesuatu yang saya yakini (dan imani) akan terjadi.
Sesuatu yang akan membuat setiap individu semakin menghayati suatu anugerah yang bernama “relationship“. Dengan temanmu. Sahabatmu. Dengan keluargamu. Dengan ayah atau ibumu. Kakek atau nenekmu. Kakak atau adikmu. Dengan rekan kerjamu. Dengan para pengajarmu. Dengan tetanggamu. Dengan kekasihmu. Dengan tim olahragamu. Atau kelompok belajarmu. Atau geng shoppingmu. Atau hubungan yang terjalin karena belas kasihan yang muncul darimu untuk anak-anak jalanan. Para yatim piatu. Para lanjut usia. Korban bencana. Dan segala hubungan lain yang ada.
Yang saya miliki sekarang hanya semangat dan Tuhan.
Jadi.. Tetap semangat! Kamu berjalan bersama Tuhan!
Kawan-kawanku, saya angkat topi untuk kesuksesan yang bisa kalian raih. Saya terharu karena melihat suatu mimpi yang berubah jadi kenyataan.
Kita pernah tertawa bersama untuk humor-humor ringan dan crunchy. Kita pernah tertunduk bersama untuk renungan-renungan singkat tentang hidup ini dan tentang Tuhan. Saya pernah menangis dan itu hanya karena saya merasa aman menangis bersama kalian. Kita pernah menjadi sangat emosional saat membenturkan prinsip-prinsip hidup, saat karakter saling bergesekan.
Saya pernah merasa sangat nyaman bersama kalian. Tapi asal kalian tahu, saya juga pernah merasa sangat terganggu berada di tengah-tengah kalian. Waktu-waktu singkat bersama kalian ini terasa indah. Terimakasih pernah menjadi bagian indah dalam hidup saya. Kehadiran kalian semata-mata hanya untuk membuat saya semakin merasakan kebaikan Tuhan. Mari sama-sama terus memandang kepada Dia karena Dia tidak pernah kehabisan cara untuk membuat kamu semua merasa bahagia. Dan “Tetap Setia!”. Kalian cuma perlu tahu, ada orang-orang yang juga berjuang di tempat yang berbeda. Berjuang untuk tetap setia (Rega Kristian Sinulingga di kaki Gunung Manglayang, 25 April 2009).
Kesenangan dan segala kebersamaan itu berakhir juga. Untuk sementara waktu. Hingga 10 tahun lagi, bersama keluarga tercinta
Cheers!!
Untuk kesuksesan kita bersama!!
Ditulis dengan rasa haru yang besar untuk Ruth Naibaho dan Rebecca Carolina. Juga untuk Ferry Martho Pangaribuan. Serta Kiki Fernando Saragih, Sarah Rainy, dan Laura Sihaloho, yang sudah lebih dulu pergi berkelana.










Comment