You are currently browsing the category archive for the 'kuliah' category.
Melalui masa-masa perkuliahan memang bukan hal yang mudah. Tugas demi tugas. Ujian demi ujian. Presentasi demi presentasi. Sampai akhirnya di puncak ada yang namanya Tugas Akhir. Tidak semua orang melewati tahap Tugas Akhir ini dengan lancar. Ada saja yang menjadi penghambat sehingga segala rencana tentang kelulusan pun jadi berantakan.
Pada postingan kali ini, saya mau memberikan apresiasi saya sebesar-besarnya untuk teman-teman yang sudah dengan berhasil melewati tahap Tugas Akhir dan akhirnya bisa sidang sehingga memperoleh gelar Sarjana.

Elisa Julietta Magdalena Sirait, S.T.
Walau tidak jadi wisuda Juli tapi akhirnya semua permasalahan tugas Sistem Logistik, dengan dosen SNB, terselesaikan juga. Wisuda Oktober, Iet!!
Sindy Allrani, S.T.
Triple A!! Maaf di saat-saat terakhir itu gw tidak bersama lo, but you did it!
Ivan Kristianto Singgih, S.T.
Maaf gw ga dateng sidang lo, Van. Walau lagi di Depok, tapi gw mengirimkan malaikat-malaikat untuk melindungi lo dari serangan para dosen penguji, hehehe.
Sotardodo Lambok Ruth Naibaho, S.T.
TA+Sidang+Revisi yang kejar-kejaran sama jadwal pulang ke Bali. Akhirnya semuanya selesai, Spa
. Tinggal berenang-berenang aja kan di sana, hahhaha.
Putri Rine Anggreini, S.T.
Maaf Anggi, gw ga bisa dateng sidang lo
. Ada tante gw waktu itu. Terimakasih juga untuk dukungan lo di wall facebook gw
. Jadi gimana Total?
Silvia Rahmawati, S.T.
Silvi.. No more menginap di LSP ya. Tapi tetep semangat, Sil. Kejar S2 lo. Sekarang bikin tesis deh.
Rebecca Carolina Simanjuntak, S.T.
Gagal sidang? Hahahha.. Udah lah ya, Bek. Gelar S.T. udah ditangan sekarang. Tinggal cari calon suami gubernur aja
Daniel Sanjaya, S.T.
Teman PTI (nol) gw. Teman jogging. Teman yang sangat perfeksionis. Akhirnya sidang juga ya, Dan. You deserve the best. Doakan saya menyusul.
Muhamad Daud Fahreza, S.T.
Sang pembuka kunci pertama LIPO. Selamat ya, Daud
Sekar Arrum, S.T.
Ibu Kordas udah lulus duluan, huhuhuu. Selamat ya Arrum. Hidup Single But Not Available!!
Isabelle Aranditha, S.T.
Shireen, poni sensasional dan fenomenal. Selamat, Bel
Ga ada lagi temen poni-poni-an gw, hiks.
Karinidya Ristiniati, S.T.
Rin, employee engagement akhirnya tamat juga ya. Doakan saya masih berjuang dengan corporate identity, hehhehe. Jadi sarjana jangan jadi penulis puisi ya, Rin. Hehhehe.
Novi Kumala Sari, S.T.
Nov, beres Nov kuliah. Akhirnya lulus juga. Ditunggu undangannya buat yang di bulan Februari. Salamku buat yayang lo
Agung Hikmat, S.T.
Siaware membawa lo jadi sarjana, Gung? Ah tau gitu gw ikutan Siaware
Andhika Puji Daniswara, S.T.
Danis, sarjana nih. Jangan lupa printer LIPO dikembalikan ke tempatnya semula ya. Hahahha..
Wilson Eddi Wijaya, S.T.
Jagoan finance kita akhirnya lulus juga. Kerjasama lo dengan Pak Pamoedji baik juga ternyata, Son. Makasi buat nasihat-nasihat bisnisnya, Bos.
Alia Fariza, S.T.
Alia sidang juga. Akhirnya sarjana juga. Selamat ya, Al!
Nawaf Abdullah, S.T.
Waf, bawa pulang kebanggaan gelar sarjana ITB mu ke Bangil ya.
Ajeng Dwi Intan, S.T.
Ajeng, selamat ya!! Maaf ga bisa dateng sidangnya.
M. Arfah D, S.T.
Sebelas semester akhirnya dilalui, Arf. Sarjana, Fah, dari teknik lingkungan. Jangan jadi wartawan ya. Hahahha..
Kiki Fernando Saragih, S.T.
Tragedi kemalingan di H-1 sidang ga membuat lo patah semangat ya, Bang. Udah sarjana. Gih pulang ke Siantar, bawa oleh-oleh gelar sarjana buat keluarga ![]()
Tidak lupa untuk teman dan sepupuku dari Universitas lain.


Vini Ratnasari, S.Ked. dan Ade Sari Nauli Sitorus, S.Ked.
Teruskan perjuangan koas kalian. Raih profesi dokter secepatnya. Jadi dokter yang baik. Jangan money-oriented

Untuk teman-teman yang masih berjuang.. Tetap Semangat!! Waktunya akan tiba kalian bergelar sarjana juga.
Dan untuk saya juga!!

Saya mendapat banyak quote keren hari ini. Masing-masing quote punya makna mendalam untuk saya. Bahkan rumus dari The Coca Cola Company pun memberikan saya pelajaran khusus hari ini.
If you don’t have ideas about the future, or want to be a part of it, you have already lost. (No Name)
In calm waters, everyone is a good sailor. (Margaret Riis)
Thinking differently from the outset often leads to the most original results. (Henrik Ibsen)
Nothing great was ever achieved without enthusiasm. (Ralph Waldo Emerson)
A people who feel the calling are the strongest force on earth. (Bjornstjerne Bjornson)
The leader is the wave that pushes the ship forward. (Leo Tolstoy)
Are you one who watches?
Or intervenes?
Or who looks away, and steps aside…
(Friedrich Nietzsche)
Mission+Commitment=Focus
Focus+Action=Results
(The Coca Cola Company)
Sampai akhirnya hari “quote” saya ini ditutup dengan membaca paragraf di bawah ini. Yup, paragraf yang cukup jelas menjabarkan apa sebenarnya yang akan saya bicarakan di Tugas Akhir Sarjana saya.
Consumers are not robots. They don’t simply buy products, they buy attitudes as well. They want to know who is behind the products that they buy. They want to know the company. They want to know what you think. And the better your company communicates its attitudes, the stronger you will becoma. (Jesper Kunde)
Dari pernyataan itu lah Tugas Akhir Sarjana saya berangkat. Dan pertanyaan untuk Tugas Akhir saya adalah,
“How to make external positioning (the market’s view of the company) and the internal culture (the company’s view itself) come into harmony?”
Because, when external positioning and internal culture come into harmony, the easier it is for the company to consolidate its chosen market position. The more harmony there is between external positioning and internal culture, the stronger the company’s personality will be.
I will write my last assignment about Corporate Personality. Corporate Religion. Corporate Soul. CORPORATE IDENTITY!!
If there is anyone who is expert about this topic, just call me, let’s discuss it together and have a relaxing afternoon tea with me
Luar biasa, saya menulis tiga postingan dalam satu hari. Terlalu banyak cerita manis pada hari ini yang tidak kuat saya tahan sendiri. Selamat menikmati cerita dan pelajaran di hidup saya hari ini, Sabtu, 20 Juni 2009.
Salah satu sahabat saya, Dwi Arryma Niza aka Nise, maju sidang Tugas Akhir sarjana pada hari ini.
Saya, walau hanya menonton tapi, DEG-DEG-AN setengah mati!!
Waktu latihan sidang kemarin, bahkan sampai tadi pagi-pagi. Nise terbata-bata. Nada suaranya datar. Saya kuatir dia gugup dan blank saat presentasi hari ini.
Namun presentasi tugas akhirnya berjalan lancar. Bapak Suprayogi dan Ibu Rajesri Govindaraju selaku dosen penguji memberikan pertanyaan yang cukup mendasar dan membuat Nise terdiam. Bingung. Untungnya Pak Arie Samadi (biasa kami panggil Pak Cok), sebagai dosen pembimbing, mengarahkan Nise untuk sanggup menjawab pertanyaan demi pertanyaan. Saya was-was dan panik sendirian.
Sidang berlangsung kurang lebih dua jam. Saya tidak tega melihat teman saya itu dibantai. Saya cuma bisa bantu doa dari tempat saya duduk dan melihat saat itu.
Akhirnya sidang selesai. Nilai dibacakan. Nise, sahabat saya, dapat triple A!!
Saya bangga! Senang! Terharu!!
Nise, selamat kawan! Gw bangga sama lo, Nis! Selamat menempuh hidup baru yang lebih keras di luar sana. Doakan gw yang masih berkutat dengan TA. Senang menjadi bagian dari kehidupan lo di kampus ini
. Makasi juga untuk pelajaran berharga yang udah lo bagi ke gw. Kalau manusia adalah makhluk sosial. Dan kesuksesan tidak diraih dari kejeniusan, tapi dari kerja keras.
Cheeeeerss for Nise!!!
GLEK!!
Ini adalah bagian kedua dari gumpalan nasi yang harus saya telan. Menyebalkan sekali. Waktu makan siang tadi, saya menelan duri. Sudah tiga gelas air putih saya teguk habis tapi duri ini tidak mau pergi juga. Hampir saya putus asa sampai berharap Gery Chocolatos bisa membantu. Pikiran yang bodoh
Cukup sudah bicara tentang duri dalam daging itu. Saat ini saya mau menulis tentang sesuatu yang penting sedikit serius hingga membuat saya hampir tidak percaya. Yang pastinya tidak berhubungan sedikit pun dengan duri.
Besok hari Senin. Hari pertama di minggu terakhir saya, duduk di bangku kuliah. WOW!! Setelah menjalani tahun demi tahun menjadi mahasiswa Teknik Industri di ITB ini, akhirnya saya mencapai minggu terakhir berkuliah juga. Well, just ignore my last assignment (TA). It makes me sick!!

Saat ini saya mau meningat masa ketika saya memasuki institut terbaik bangsa ini. Bangga dan puas waktu itu. Siapa sangka seorang “saya” bisa masuk kampus ini? Siapa sangka juga, ternyata saya bisa mengikuti kuliah dengan baik tanpa harus melewati ancaman di-DO (drop out). Walaupun harus tertatih-tatih melewati ujian demi ujian, tugas demi tugas, dan kaderisasi demi kaderisasi
“Senang” ketika melihat nilai A di transkrip. “Bernafas lega” ketika ada nilai B. Dan “Sudahlah” ketika muncul nilai C di sana. Dan semester ke semester pasti dilalui dengan banyak berkata, “Sudahlah.”
Saya juga teringat perang batin yang terjadi setiap mau masuk kelas. Ketika diri ini bertemu yang namanya “kemalasan”, “ngantuk”, “mau jalan-jalan aja”, dan alasan-alasan juga pembenaran-pembenaran lain. Tangan ini sudah cukup banyak menggoreskan tanda tangan di lembar absen itu. Dan akhirnya saya mampu melewati perang batin itu dengan selalu lolos absen 80%. Walau seringkali yang dilakukan di dalam kelas hanyalah bergosip, bengong, dan sesekali tidur.
Di awali dengan Pengantar Teknik Industri di tingkat satu disertai dengan UTS-UTS di setiap hari rabu sore. Disusul dengan praktikum dengan tugas pendahuluan dan laporan yang menyebalkan dari mata kuliah Material Teknik dan Proses Manufaktur di tingkat dua. Belum lagi ditambah dengan praktikum Logika Pemrograman. Tingkat tiga yang hectic dengan praktikum dan laporan PTI-nya, Perancangan Alat Bantu, praktikum Rangkaian Elektrik dan Elektronika, Otomasi, dan kuliah-kuliah ekonomi yang mulai bermunculan. Tingkat empat ditutup dengan manis oleh Simulasi Komputer dan juga kesibukan memuncak dari Perancangan Tata Letak Pabrik aka PLO (Plant LayOut).
Segala kesibukan itu akan berakhir. Perasaan was-was mengejar deadline, konflik dengan teman, dan kurang tidur karena mengerjakan tugas pun akan berakhir. Perang batin “masuk atau tidak masuk kelas” juga akan berakhir. Ya, berakhir di minggu ini.
Saya rasa saya akan merindukan masa-masa ini. Masa ketika menjadi mahasiswa dengan segala bentuk suka dan dukanya. Masa ketika teman menjadi anugerah terindah yang pernah dimiliki. Masa ketika pulang larut malam bukanlah hal yang tabu. Masa pengejaran dan pembentukan konsep diri. Masa nonton film hasil download-an dari rileks. Masa nge-net gratisan di kampus karena selalu pinjam AI3 teman (I’m so sorry guys), Masa makan di KBL, kantin Tambang, Barak, Borju, Bengkok, dan GKU Barat dengan ibu-ibu kasir yang jutek. Bahkan makan di Gelap Nyawang dan Kantin di Gerbang Belakang. Masa pegel-pegel karena terlalu lama mengetik di depan laptop. Masa-masa LPJ (Laporan Pertanggungjawaban). Masa duduk-duduk di Sunken Court. Masa-masa rapat-merapat di eks UPT Olahraga lantai dua, tepatnya di Boulevard si Unit Miskin. Masa jualan Tabloid Mahasiswa paling oke di kampus. Masa foto-foto di Jonas. Masa curhat-curhatan di selasar empat labtek. Masa bikin modul dan periksa tes awal di ruang seminar Studio Manajemen-LIPO. Masa ketika saya banyak sekali berdoa karena untuk melewati banyak hal tersebut saya perlu sesuatu untuk membuat kaki saya tetap teguh berdiri.


Fiuuhh!! Masa demi masa memang akan berlalu. Dan saya merasa bersyukur kalau Teknik Industri, Unit Jurnalisme Boulevard, Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK), Keluarga Mahasiswa Teknik Industri (MTI), Paduan Suara Mahasiswa (PSM), dan Laboratorium Inovasi dan Pengembangan Organisasi (LIPO) boleh menjadi bagian dari kenangan saya di kampus ini, Institut Teknologi Bandung.

Itu saja yang mau saya tulis saat ini. Cukup serius kan? Perasaan saya campur aduk. Sampai-sampai duri dalam daging itu sudah entah kemana perginya.
“Menulis sebuah Tugas Akhir (skripsi) harus seperti membangun rumah. Tidak sekedar menumpuk bata merah tapi harus membentuk dinding, tidak sekedar menumpuk kayu tapi harus merupakan atap.”
Itulah sekutip kalimat dari kuliah Tugas Akhir 1 yang disampaikan oleh Pak Iwan. Tahun ini saya berniat untuk menyelesaikan semua urusan akademis saya di kampus tercinta, Institut Teknologi Bandung ini. Juli 2009 adalah target wisuda saya.
Agak sedikit pusing mengahadapi hari-hari pra-mengerjakan TA. Bingung topik. Bingung perusahaan. AAArrrrGGGhhhh!!!!! Jadi ragu kalau saya mampu lulus di bulan Juli
Setelah kemarin berbincang bersama Pak Cok (TMA Arie Samadi) dengan Elisa, Gita, Ivan, dan Tety juga, saya justru semakin bingung dan merasa ini bagian paling berat dan rumit. Tapi mau tidak mau, ini harus dilewati supaya bisa keluar dari kampus ini lewat pintu Sabuga.
Sore hari kemarin, 27 Agustus 2008, di ruang kuliah 9307, gedung FTI, kampus ITB. Saya belajar tentang Kewirausahaan dan Pengembangan Entreprise atau disingkat menjadi KPE, yang dibawakan oleh Pak Joko.
Saya belajar bahwa setiap wirausahawan harus memiliki kompetensi sebagai berikut :
- kemampuan menekan pengeluaran dan liabilitas
- kemampuan memupuk pemasukan dan aset
Sementara itu, gambar di bawah ini akan menunjukkan suatu pengembangan kompetensi entrepreneur.
Selama ini, kebanyakan rakyat Indonesia dididik untuk menjadi Employee (E) atau pegawai yang rajin. Sekian banyak biaya yang dikeluarkan orang tua untuk menyekolahkan, dengan harapan kelak anak tersebut dapat menjadi pegawai di suatu perusahaan bonafit dengan gaji terbilang besar. Namun, sayang sekali hanya sebagian kecil dari rakyat Indonesia yang bisa menghasilkan uang banyak lewat jalur ini. Ada kenyataan pahit yang saya ketahui, yaitu bahwa jika kita memilih jalur E ini, kita tidak bisa menjadi pegawai yang money oriented. Kenapa?
untung = pendapatan – biaya
Pendapatan bersifat minimasi. Setiap perusahaan pasti memikirkan bagaimana cara meminimasi gaji pegawainya. Sedangkan biaya bersifat maksimasi. Jadi kapan kita bisa menabung dan memupik aset?
Sementara itu, jalur Self Employee (S) biasanya ditempuh oleh orang-orang yang memiliki skill, seperti dokter, akuntan, artis, dan lain-lain. Contohnya, Tukul menghasilkan Rp 40 juta per hari, Inul Daratista menghasilkan Rp 12 juta per lagu. Sayangnya, apabila anda sakit dan orderan tidak ada lagi, maka yang anda hasilkan adalah 0 (zero). Multilevel Marketing merupakan pekerjaan pada jalur S.
Di awal kuliah, dosen saya mengajak para mahasiswa untuk berimajinasi dan menargetkan berapa aset yang ingin dimiliki di usia tertentu (biasanya digunakan acuan saat masa pensiun). Pada umumnya setiap orang ingin punya mobil pribadi, satu atau dua seharga Rp 400 juta minimal per mobil, rumah seharga sekian miliar, dan barang-barang lain. Namun, apabila kita kalkulasikan masa hidup sampai titik pensiun dan gaji yang biasanya didapatkan dari kerja sebagai pegawai, terlihat sulit sekali untuk dapat mencapai angka yang diinginkan tersebut. Maka jalur yang dapat ditempuh adalah menjadi Businessman (B). Pengertian dari bisnis sendiri adalah “anda memiliki sistem dan orang akan bekerja untuk anda”. Maka tindakan mulia yang anda lakukan adalah memberikan lapangan pekerja bagi orang lain, hitung-hitung mengurangi tanggungan pemerintah akan orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan. Kunci dari menjalankan bisnis adalah kesabaran dan ketekunan yang tinggi. Inilah jalur yang menjanjikan untuk anda dapat menuju kebebasan finansial. Tahap selanjutnya adalah menjadi Investor (I), pada tahap ini uang yang anda miliki kurang lebih Rp 500 juta. Kalau belum ada, dosen saya mengatakan “cari saja calon mertua yang bersedia membiayai,” nice joke
Deposito sendiri adalah tahap menjadi investor yang bisa disebut masih level playgroup.
Jalur E dan S merupakan fungsi dari fisik, apabila anda sudah tua maka anda akan sampai tahap tidak sanggup menjalankan semuanya lagi. Sedangkan B dan I merupakan fungsi dari rezeki, tinggal bagaimana anda mengelolanya saja.
Gambar disamping ini merupakan cara untuk membuat target dalam hidup anda untuk mencapai kebebasan finansial (titik X). Dari setiap poin yang ada, yaitu E, S, B, dan I, anda menginginkan berapa jumlah rupiah yang anda dapatkan nanti dari setiap jalur.
Hanya perlu diingat bahwa “Life is irreversable,” jadi jangan menyesal di kemudian hari tentang keputusan yang anda ambil saat ini
Jadi untuk teman-teman semua, mari jadi produsen, jangan konsumen saja. Saya juga masih belajar dan mencari-cari peluang kok
Hari Sabtu minggu lalu akhirnya gw ke Depok, kotaku yang tercinta. Hanya untuk sekedar mengurus masalah Kerja Praktek. Niat banget memang. Tapi gw ga mau main-main lagi soal kuliah. Apalagi karier masa depan. Kalau bisa masuk perusahaan bonafit terus dapet jodoh disitu… Nah itu dia yang dicari. Kalo uda dapet gw bisa mengundurkan diri dan jadi ibu rumah tangga yang baik hati.
Lalu keputusan dari perjalanan ke Depok memberikan hasil kalo gw akan mengambil topik tentang human resources buat KP nanti. Dan seketika itu juga gw memutuskan untuk masuk LIPO. Hahahahaaa….
Jam 11 malam di rumah kontrakan sahabat gw tercinta, Sindy, gw memutuskan membuat CV, Essay, dan persyaratan lain dengan expresss. Jam 3 dini hari gw lelah dan memutuskan tidur. ZZZzzz.
Bangun jam stengah delapan, sementara semua persyaratan harus dikumpul jam stengah sepuluh. Alhasil gw merepotkan sahabat gw yang kecil, Dita, gw telpon-telponin (kalo dia bilang, lebih tepatnya itu gw “menteror”), gw yang panik membuat si Dita panik juga. Hueghueghueg. Gw ga mandi pagi itu. Jam 9.11 si Dita ngabarin kalo jalan Taman Sari macet. Jadi lah gw naek ojek. Gw bayar 3000 namun sang abang ojek bilang “kurang”…dia minta 5000. Tapi ga gw kasih soalnya gw lagi ga peduli ama dia…sedang panik dan sangat tergesa-gesa.
Skarang gw lelah..jenuh..cape..
Mau menyerah saja rasanya…
Doakan saya agar tetap semangat ya!!










Comment