Rindu Menyendiri

5 Apr

Saya ingat beberapa waktu lalu saat saya merasa sedih sekali karena begitu banyak orang yang satu per satu pergi meninggalkan saya. Meninggalkan Bandung. Hingga akhirnya saya pun menjadi salah satu orang yang pergi meninggalkan Bandung dan teman-teman lain.

Saat ini saya berada di Depok. Jarang sekali bertemu teman. Beruntung zaman sudah semakin maju sehingga internet bisa terus menghubungkan saya dengan teman-teman saya di mana pun. Namun belakangan ini orang-orang yang terus mengelilingi saya adalah keluarga. Setiap orang berawal dari keluarga dan akan berakhir dari keluarga juga. Bukan hanya bapak, ibu, dan eyang (sesuai dengan postingan saya sebelumnya), tapi ada juga kakak saya, tante saya, abang dan ade sepupu saya. Apalagi dengan adanya eyang di rumah dan dalam keadaan fisik yang tidak begitu baik sehingga banyak keluarga yang menjenguk dan rumah menjadi ramai. Saya senang sekali.

Manusia tidak pernah merasa puas dengan kondisinya. Dan begitu pula saya. Dengan banyaknya keluarga di sekitar saya saat ini, saya justru merindukan waktu-waktu sendiri. Tanpa intervensi dari keluarga dalam mengatur waktu, uang, dan mengambil keputusan-keputusan kecil sehari-hari.

Saya jadi rindu masa-masa ketika saya bisa berlama-lama merenung (atau bengong, beda tipis memang). Tapi ibu mana tidak merasa risih jika ada anak perempuannya, yang sudah semakin beranjak dewasa, hanya diam-diam saja di rumah tanpa melakukan sesuatu yang bisa memberikan nilai tambah bagi rumah. Maksud saya, seharusnya kan anak perempuan belajar mengurus rumah, entah menyapu, merapikan sesuatu, atau coba-coba resep baru di dapur. Sebaiknya anak perempuan yang sudah menginjak usia 20an itu sibuk dan produktif ketika berada di rumah.

Saya juga rindu masa-masa ketika saya bisa sesuka hati memutuskan mau pergi kemana. Entah nonton sendiri, makan di luar sendiri, ke toko buku sendiri, dan hal-hal lain. Tapi bapak mana akan membiarkan anak perempuannya pergi tanpa kejelasan. Sang bapak akan bertanya serinci yang bisa dia tanya. “Mau kemana?”, “Sama siapa?”, “Ngapain aja?”, “Sampai jam berapa?”, “Kesananya naik apa?”, “Nanti pulangnya gimana?”, “Makan apa?”, “Kamu yakin di makanan itu ga ada racunnya?”, “Kalo digangguin tukang ojek gimana?”, dan pertanyaan-pertanyaan yang menurut saya tidak terlalu penting, bahkan tidak masuk akal, untuk ditanyakan. Terkadang saya memang tidak punya alasan tertentu kenapa saya mau pergi ke luar rumah seorang diri saja dan saya hanya bisa jawab, “Ga tau juga sih, Pak. Liat nanti lah. Seenaknya aja gimana. Cuma sedang pengen pergi sendiri aja.” Dan jawaban saya ini otomatis akan memancing amarah bapak. Saya bingung bagaimana menjelaskan bahwa penting untuk saya memiliki waktu-waktu sendiri. Dan itu sesuatu yang tidak bisa diterima oleh bapak saya. Ujung-ujungnya dia akan bilang, “Bapak anterin dan temenin aja kalo gitu!”

Banyak toleransi yang harus terus diberikan dalam menjaga hubungan dengan orang-orang terdekat kita. Egois sekali memang kalau saya mengatakan saya mau ini-itu sesuka hati saya saja. Orang-orang terdekat kita memerlukan alasan yang jelas dan cukup dewasa atas tindakan-tindakan kita. Atau bisa terjadi salah paham, sakit hati, dan berujung pada hubungan yang tidak lagi hangat. Dan satu hal yang perlu terus dipelajari adalah bagaimana mengkomunikasikan secara jelas kondisi kita sendiri kepada mereka. Dan juga belajar mendengarkan dan memahami kondisi mereka. Intinya, belajar meningkatkan kualitas dari komunikasi sehingga satu sama lain bisa saling mengerti.

5 Responses to “Rindu Menyendiri”

  1. batari April 5, 2010 at 9:46 am #

    Egois sekali memang kalau saya mengatakan saya mau ini-itu sesuka hati saya saja — Betuuuul.

    Sekarang ini kondisi ramai dan penuh intervensi seperti yg lo rasakan pasti MENYEBALKAN. tapi tapi tapi ya.. percayalah sendiri itu berkali-kali lipat lebih menyedihkan.
    :)

  2. cryboy April 7, 2010 at 11:32 am #

    tp lebih enag bersama-sama dengan keluarga dr pd menyendiri.,

    kauand mari bertukar link., milik ku :
    nama : Saudara Blog
    url : http://saudarablog.blogspot.com

    setelah kauand pasang tolong beri tahu lewat blog tersebut atau lewat email ku di wildann.hariss@gmail.com

  3. ray rizaldy April 7, 2010 at 5:20 pm #

    tukang ojek kayaknya takut kalo ngeliat aslinya lo wi. keluarkan raunganmu.
    you may use that as an answer to your father :P

  4. echa April 14, 2010 at 10:55 am #

    sbr ya dek, nikmatin aja, kluarga kan g akan slamanya brsama kita, klu krja dluar kota ato married bakal pisah jg. namanya jg orang tua psti gitu ya, kk jg smpet bete bgt, gw udh umur sgini msh aje dtanya2in mcm2 “ha mw kaman kmu?”, “g nyari krja?” giliran udh kerja “g cari yg lbh besar?” blablabla… nikmati dek nikmati…hehehe…

  5. mikha_v April 24, 2010 at 6:30 am #

    Saya ingetin kak sekali lagi deh (kak sudah pernah baca dan komentarin juga): http://azrl.wordpress.com/2010/01/29/anak/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 33 other followers

%d bloggers like this: