Saya terbangun pagi ini, pukul 03.30, dengan Sindy, sahabat saya di kampus, terbaring di sebelah saya di rumah kontrakan bersama kami, share house.
Saya terbangun pagi itu, tahun lalu, dengan buku-buku bergeletakan dan laptop masih menyala. Ampun!
Saya terbangun pagi itu, 4 tahun lalu, seorang diri di kamar kost yang terasa asing buat saya. Tanpa ibu yang menyiapkan sarapan atau bapak yang mengelus-elus kepala atau seorang kakak untuk dicium.
Saya terbangun pagi itu, 5 tahun lalu, dengan ambisi. Atau obsesi, saya tidak tahu. Dengan cita-cita yang tidak bisa ditampung pikiran sendiri dan membuat saya berenergi besar.
Saya terbangun pagi itu, 6 tahun lalu, dengan air mata. Sembab. Bengkak. Tanpa gairah.
Saya terbangun pagi itu, 9 tahun lalu, namun masih sempat berguling-guling malas di atas tempat tidur. Dengan gejolak-gejolak aneh dalam diri saat memikirkan apa yang akan terjadi sore nanti.
Saya terbangun pagi itu, 10 tahun lalu, dengan status baru. Monkey in love!
Saya terbangun pagi itu, 11 tahun lalu, dengan kesadaran bahwa I’m one of the best 3 student in this school. I made you proud, Dad! Did you expect me more?
Saya terbangun pagi itu, 13 tahun lalu, dengan penyesalan besar. Kenapa aku harus memiliki rambut keriting? Kenapa aku berkacamata? Kenapa aku berkulit hitam? Krisis identitas!
Saya terbangun pagi itu, 16 tahun lalu, dengan gairah besar bersama seragam merah putih baru.
Saya terbangun pagi itu, 18 tahun lalu, dengan keceriaan seorang anak yang lugu. Hari ini ikut karnaval, Yeyyy!!
Entah bagaimana kondisi saya ketika bangun pagi di esok hari.
Atau bulan depan, saat tinggal sedikit teman yang tersisa di kota Bandung tercinta ini.
Atau tahun depan, saat saya sudah menjadi karyawan entah di perusahaan apa.
Atau lima tahun ke depan, saat saya mengandung seorang bayi atau sepasang bayi kembar :p.
Atau sepuluh tahun ke depan, saat saya harus memikirkan sarapan apa yang akan saya berikan kepada suami dan anak-anak.
Atau lima puluh tahun ke depan, saat bahkan saya sudah lupa siapa saya.
Saya pernah terbangun dengan kondisi ceria, bersemangat, bergairah, sedih, sibuk, penuh penyesalan, merasa dicintai, dikuasai kemalasan, seorang diri, dan banyak lagi. Pagi yang saya lalui berwarna. Terkadang indah. Terkadang suram.
Saya membuka mata untuk pertama kali, siang itu, 21 Februari 1987, dengan kasih setia dari Bapa dan janji dari-Nya bahwa rahmat-Nya tidak akan habis, selalu baru setiap pagi.
GOD’s loyal love couldn’t have run out, his merciful love couldn’t have dried up. They’re created new every morning. How great your faithfulness!
Lamentations 3:22-23







12 comments
Comments feed for this article
October 3, 2009 at 2:37 am
mikha_v
Selamat ulang tahun, Lho
October 4, 2009 at 10:10 pm
lovetodraw
Tulisan yang…
..
amat dalam…
bahkan hanya dari satu kata sehari-hari, dan cenderung tidak terlalu bermakna ‘wah’, yaitu PAGI saja, Dwi telah berhasil menyusun paragraf demi paragraf yang membantu saya pribadi memandang pada tiap pagi dengan pengertian bahwa..
“bahkan tiap pagi yang baru itu, sesungguhnya adalah bentuk anugrah terus menerus Pencipta pada kita, bahkan jika kebanyakan orang sudah terlalu menganggap biasa hal itu “pagi, tidur, bangun pagi lagi, besok pagi, pagi hari berikutnya, bla..bla..”. Tidak!
Semua itu tidak pernah menjadi sesuatu yang biasa sehingga mengurangi nilai ucapan syukur yang seharusnya tetap berkumandang nyaring di tiap ‘pagi’ yang kita masuki.
Mari memasuki pagi dengan bibir yang berisikan pujian pada kebesaran Sang Khalik yang terlalu kasih pada kita!
October 5, 2009 at 5:59 am
Silvia Rahmawati
fans sejati blog lo gw wi..semangaaat sayang..saya mau ngineppp doonk..emang paling oke deh nginep di share house..
October 6, 2009 at 10:17 am
dwihutapea
@mikha: masi lama, Mik..hahahhaa
@bang tigor: you’ve got the point!!
@silvi: maaci cayang..mwwhhh..cinih nginep..:)
October 8, 2009 at 6:04 am
gerry napitupulu
teryata tidak ada sesuatu yang benar-benar baru di dunia ini ya wi..
kita harus bangun pagi juga tiap hari,
melakukan rutinitas setiap hari,
melakukan sesuatu yang semua orang sudah pernah lalui sebelumnya,
Tidak ada sesuatu yang benar-benar baru di bawah teriknya matahari
(Pengkotbah)
Tapi yang selalu baru di dalam hidup kita adalah kasih karunia dariNya.
Semangat buat TA mu wi..
October 10, 2009 at 10:29 am
soulharmony
berkunjung
October 11, 2009 at 12:28 pm
petra
postingannya keren bangeeeeeeet ^_^
October 11, 2009 at 3:29 pm
dwihutapea
@bang gerry : trimakasi bang gerry sudah mampir dan ngasih komen
@soulharmony : silakan!! glad to meet new friend…
@petra : trimakasiiii….
October 15, 2009 at 11:57 am
ray rizaldy
touched.
but waks, dikau pacaran dari umur 13 tahun. hahaha
October 16, 2009 at 8:30 pm
petra
in love khan bukan berarti pacaran
just kidding
November 2, 2009 at 2:59 am
ivansinggih
bener wi, ntar bbrp tahun lagi bakal jadi apa ya kita? hehehe….
semua yang kita lalui sptnya berlalu begitu aja…. waktu emang cepet berlalu…. bagaimanapun, yang lalu tetaplah masa lalu, let’s face our future!! =))
November 20, 2009 at 3:53 pm
bodohsatva
hmmm…
mengetuk hati membuka mata pikiran…
nice…