Pagi ini saya terbangun dengan semangat membara. Semangat 45. Siap berjuang menghadapi penjajahan yang bernama Tugas Akhir aka skripsi. Hal yang membuat saya merasa tidak merdeka akhir-akhir ini. Melangkah sedikit, teringat TA. Bicara sedikit, teringat TA. Apalagi saat berdoa, lagi-lagi TA!!

Saat semangat ini sedang memuncak. Berada di titik amplitudo tertinggi. Tiba-tiba…
MATI LAMPU!!

Laptop saya dengan kondisi batere yang drop ini langsung mati mendadak. Ugh! Mau marah. Tapi marah sama siapa? Jadi saya memutuskan untuk tenang dan mengambil langkah cepat untuk langsung menuju perpustakaan kampus.

Here I am!!
Alone. In silence. I feel empty.

Setelah berusaha mengerjakan apa yang bisa saya kerjakan dengan those TA stuff, saya memutuskan untuk menulis saja. Daripada bengong. Atau melamun. Atau berkhayal. Yang nantinya cuma berujung ketiduran. Lebih baik saya asah kemampuan menulis saya dan kecepatan mengetik saya :P

Hari ini mau menulis tentang EMPTINESS. Sunyi sepinya ruangan besar ini membuat saya memikirkan arti dari kekosongan. Kosong berarti tidak ada. Kosong tidak berarti nol. Merasa kosong adalah merasa hampa.

Setiap orang pasti pernah merasa kosong. Merasa kosong buat saya yaitu ketika saya tidak punya harapan. Hidup tanpa sesuatu yang mau diraih. Ketika hidup hanya tentang keputusasaan. Hidup tanpa orang-orang yang mendukung. Tanpa orang-orang yang peduli. Tanpa seseorang yang bisa dicari ketika dibutuhkan.

Tapi saya tidak pernah lagi merasa kosong.

Ceritanya begini, saat ruang hati ini sedang kosong, waktu itu ada pribadi-pribadi baik hati yang datang dan membawa karpet lembut dan hangat sambil meletakkan sofa besar bunga-bunga di sudut ruang hati saya itu. Datang lagi mereka dengan meja kayu kecil dan rangkaian bunga sederhana dengan vas mungilnya. Tanpa diundang, datang lagi sekelompok besar orang memperindah ruang hati saya dengan perapian dan hiasan malaikat di atasnya. Kemudian datanglah Dia, dengan kue-kue kecil dan sebotol champagne. Menemani saya bersenda gurau. Merayakan hal-hal yang sudah saya raih sambil minum champagne. Mendengarkan dan menghapus air mata saya. Berdansa bersama.

Kekosongan ruang hati saya berubah jadi kehangatan yang tak tergantikan. Bukan karena karpet lembut dan hangat atau sofa besar bunga-bunga. Bukan juga karena api di perapian yang meletup-letup genit. Bukan juga karena warna-warni rangkaian bunga sederhana di dalam vas mungil. Tapi karena Dia yang mau hadir untuk sekedar menghabiskan waktu bersama. Tak peduli dengan air mata saya. Tak peduli dengan kegilaan saya.

KehadiranNya membuat saya memiliki harapan. Harapan yang tidak akan hilang walau barang-barang dalam ruangan itu sudah tua dan rusak.