Postingan kali ini lagi-lagi akan bercerita tentang Sindy. Bukan dengan Iqbal, tapi dengan saya.

Saya dan Sindy mulai berteman di hari pertama kami ada di kampus Gajah. Pertama kali kami memakai jas almamater ITB di Sabuga. Diawali dengan pembicaraan ringan sejarah kami bisa terdampar di jurusan Teknik Industri ini.

Saat ini, tak terasa sudah hampir genap empat tahun kami berteman. Tapi setelah saya sadari, Sindy bukan sekedar teman buat saya. Tapi sahabat.

Di jurusan yang memiliki mahasiswa sebanyak 192 orang itu, kami terus berada di kelas yang sama bagaimana pun pembagian kelasnya dilakukan. Saat pembagian kelas dibedakan berdasarkan NIM genap dan ganjil, kami sama-sama berada di kelas ganjil. NIM saya 13405151 dan NIM Sindy 13405157. Saat kelas dibagi menjadi 4 berdasarkan urutan NIM dari awal sampai akhir, kami sama-sama berada di kelas 4 (rentang NIM 13405151-13405192). Saat kelas dibagi menjadi 3, berdasarkan urutan NIM 1 kelas 1, NIM 2 kelas 2, NIM 3 kelas 3, NIM 4 kembali lagi ke kelas 1, dan seterusnya, saya dan Sindy berada (lagi-lagi) di kelas yang sama. Karena NIM saya dan Sindy memiliki sisa = 1 jika dibagi dengan angka 3. (Bisa dipahami ga bagian ini?)

Bosan bertemu terus dengan Sindy? Terkadang! Tapi kami tanpa terasa terus saling membantu. Bahkan kami terus berada di kelompok tugas yang sama. Puncaknya di kelompok mata kuliah PLO yang dalam satu kelompok hanya terdiri dari dua orang saja. Saya dan Sindy lagi-lagi jadi soulmate. Bahkan sejak tingkat 4 ini, kami jadi housemate. Setiap hari saya harus bertemu dengan Sindy.

Malam kemarin, di kedai McDonald, lokasi Simpang Dago, pukul 6.30-7.40 malam, menu McFlurry Milo dan McFlurry Coffee Crunch.

Kami beromantis ria. Membicarakan persahabatan yang terjadi ini. Saya beberapa kali cemburu dengan pacar-pacar yang pernah menjadi kekasih hati Sindy. Sindy juga beberapa kali cemburu dengan teman-teman saya di beberapa unit kegiatan mahasiswa yang saya ikuti.

Dan kami tetap mempunyai satu rahasia yang tidak kami ceritakan sampai sekarang satu sama lain. Sindy kesal karena saya tidak pernah memberitahunya mengenai pujaan hati saya ketika saya masih di tingkat 3. Saya kesal karena Sindy tidak pernah memberitahu saya berapa berat badannya.

Walau banyak cek-cok, perbedaan pendapat, bahkan ada pertengkaran. Tapi saya senang bisa mengenal teman Sunda saya ini, Sindy Allrani.

Persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu.

Saya harap persahabatan yang kami jalin ini bisa memberikan perubahan positif pada diri kami masing-masing.