Beberapa minggu terakhir ini kegiatan di Taboo didominasi dengan menggambar. Selain karena baru saja diadakan pameran menggambar anak-anak, saat ini anak-anak Taboo punya guru menggambar baru
Colors everywhere. Bunga berwarna-warni. Pemandangan berwarna-warni. Pelangi berwarna-warni.
Saat ini saya tidak akan cerita tentang bunga. Walau bunga adalah salah satu ciptaan Tuhan yang paling saya kagumi. Saat ini saya akan bicara tentang pelangi.
Mejikuhibiniu adalah kata-kata yang identik dengan pelangi. Merah. Jingga. Kuning. Hijau. Biru. Nila. Ungu. *tolong bantu saya menggambarkan seperti apa itu warna “nila“.
Beberapa hari ini saya menyebutkan hari-hari saya dengan warna. Hari ini kuning cerah karena banyak orang-orang ramah di sekitar saya dan membuat saya dengan hati senang menyapa dengan senyum setiap orang yang saya temui. Hari lain adalah biru karena teduh sekali, hari dimana Tuhan seperti sedang mengajak saya merenung dan menghayati setiap langkah yang sudah dilalui. Hari satunya lagi merah, full of energy, semangat membara. Hari yang lain bisa menjadi ungu, merasa puas diri dan kesuksesan menyapa. Atau hijau, hari yang tepat untuk istirahat, creambath dan maskeran sendiri di rumah sambil menikmati kesendirian dengan rasa puas.
Terkadang hari saya putih. Maunya bengong. Mengkhayal sendiri. Non value added activities.
Terkadang hari saya hitam. Dipenuhi masalah yang tak terpecahkan. Tidak bisa menjadi diri sendiri. Tidak ada jalan keluar. Buntu!
Terkadang hari saya abu-abu. Saat hidup tidak ada tujuan dan gairah. Rutinitas cuma jadi kebiasaan yang membosankan. No spirit.
Tapi Tuhan mengirimkan pelangi saat Nuh dan rombongan sedang dalam banjir besar. Pelangi adalah suatu tanda perjanjian antara Tuhan dan Nuh bahwa, “sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah laig, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi.” (Kejadian 9:11).
Aku jadi teringat pelangi yang selalu muncul sesaat setelah hujan mengguyur bumi. Hujan akan selalu datang. Terkadang hanya berupa rintik-rintik gerimis kecil. Tapi bisa jadi dalam bentuk badai besar. Tapi tidak akan ada lagi air bah yang menyengsarakan dan membinasakan. Dan setelah hujan itu berhenti, selalu datang pelangi sebagai tanda Tuhan menepati janjiNya.
Sama dengan hidup ini. Masalah akan tetap mengguyur hari-hari. Saat tertentu masalah datang seperti badai besar. Tapi masalah yang datang tidak akan sampai menenggelamkanmu dan membuatmu kehilangan harapan. Pelangi Tuhan, yaitu penghiburan dan pertolongan dari Yang Maha Pengasih itu, akan memberi warna pada hari-hari yang kusam itu.
Pelanginya berwarna-warni. Me.Ji.Ku.Hi.Bi.Ni.U. Warna-warna penuh emosi dan gairah. Sekarang aku sedang terus memenuhi hari-hariku dengan warna-warni itu. Jangan sampai lembar kehidupan ini masih ada warna putihnya. Aku mau mengisinya dengan mimpi-mimpi besar lainnya.







3 comments
Comments feed for this article
June 24, 2009 at 3:16 pm
retno
Dwi kulihat km punya gaya tulisan yang berbeda, coba masukkan ke majalah rohani brani gak?
June 25, 2009 at 11:01 am
dwihutapea
wah mba…ngeri kaliiiii…..!!!!
June 27, 2009 at 11:30 am
KeffiKarina
sipppoo,,
masukkin ajha mbak..
aku setuju..
hehehehehe
^^