Manglayang menyisakan kesan bagi kami. liat gunungnyaaaBagaimana bisa tidak terkesan? Kami dihadapkan dengan kondisi yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Perpustakaan Pusat ITB, titik awal perjalanan kami. Saksi bisu semangat dan sedikit keraguan saya dan Ruth, sebagai dua wanita yang tersisa. Di perpustakaan ini juga, teman-teman pria kami berjanji untuk menjagai saya dan Ruth di gunung nanti :)

Ada kami, tujuh orang, dalam tim pendakian kali ini. Rega, Octa, David, Ruth, Kiki, Ferry, dan saya. Dengan Kiki sebagai The Chief. Kami lah orang-orang yang memutuskan untuk mengukir perjalanan hidup kami dengan sedikit pelajaran berharga di Manglayang.

Sebelumnya kami semua pernah melakukan pendakian ke Gunung Tangkuban Perahu, sebuah pengalaman luar biasa. Bahkan sebagian dari kami pernah mendaki Gunung Lawu, gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa. “Apalah arti Manglayang?” Ketinggiannya bahkan tidak lebih dari Tangkuban Perahu. Anggaplah seperti pendakian hiburan yang sekedar mengakrabkan hubungan pertemanan yang kami jalin. Simply thing.

Banyak canda gurau yang membuat awal perjalanan ini menyenangkan. Saya sendiri tidak banyak berharap dari pendakian kali ini. Saya pikir keadaannya tidak akan jauh bebeda dari Tangkuban Perahu. jadilah saya tidak mempersiapakan diri untuk menerima sesuatu yang spesial di perjalanan nanti.

di damriBerawal dari perjalanan Bandung-Jatinangor dengan bus Damri, nothing special. Kemudian kami naik ojek sampai ke kaki gunung. Bagian ini sudah agak menggila. Ojek yang kami naiki harus melewati jalan berbatu. Batu kecil dan batu besar. Bukan hanya itu, ojek kami melalui jalan menanjak dan menurun yang curam. Bisa bayangkan naik ojek melalui tanjakan dan turunan curam dengan batu-batu kecil dan besar itu? Kalau saya sih takuuuuuuuuuut banget!! Kami membayar ketakutan itu dengan dua belas ribu rupiah saja. Ada yang mau coba?

Di kaki gunung, kami mendapat informasi bahwa ada dua puncak di gunung ini. Sebut saja Puncak Satu dan Puncak Dua. Dengan Puncak Dua lebih tinggi dari Puncak Satu. Ada dua jalur. Jalur Satu, jalur yang sering dilalui para pendaki lain, menuju Puncak Satu kemudian Puncak Dua. Dan Jalur Dua, jalur yang lebih sulit dan langsung menuju Puncak Dua. Ibu pedagang pemilik warung kecil di kaki gunung menginfromasikan bahwa pendakian melalui Jalur Dua hanya memerlukan waktu dua jam saja.

keren bangeettKami akhirnya memutuskan untuk melalui Jalur Dua, dengan Rega di posisi paling depan sebagai pembuka jalan. Saya sendiri, mencoba belajar percaya dengan Octa. Dari belakang saya terdengar banyak tawa. Cukup untuk membuat saya tetap bersemangat.

Medan yang kami lalui semakin aneh-aneh saja. Licin. Basah. Sungai. Batu. Tapi saya tetap menikmati setiap langkah kaki saya sambil membayangkan suatu puncak yang akan kami taklukan nanti. Banyak persimpangan yang kami temui. Sama seperti hidup, kita selalu dihadapkan dengan pilihan-pilihan dan kita tidak pernah tahu sebelumnya apa yang akan kita temui di pilihan yang telah kita ambil. Gambling! Untungnya bukan bagian saya yang menentukan jalan mana yang akan kami tempuh saat itu. Saya pasrah dan percaya dengan teman-teman saya ;)

Kami sudah berjalan cukup lama sepertinya. Kami naik sekitar pukul lima sore plus beberapa menit. Detik demi detik terlalui dan hari makin gelap. Senter pun dinyalakan.

Ternyata alam di Manglayang lebih menantang dari Tangkuban Perahu. Kami terus berjalan menanjak. Tidak ada jalan datar. Tidak ada santai. Buat saya, ini menantang dan menyenangkan sekali. Inilah yang namanya kejutan. Sampai akhirnya kami berada di suatu titik balik pendakian ini.

Rega mulai tidak yakin dengan pilihannya. Medan yang kami hadapi semakin sulit dan berbahaya. Beberapa opsi dihadapkan. Turun dan melalui jalur satu lagi atau terus ke atas. Octa tetap mencoba mendaki dengan posisi merayap. Dia mencoba terus untuk bisa naik dan kemudian merosot. Octa, yang ambisius, trus naik dan lagi-lagi merosot, berkali-kali. Entah apa yang dia rasakan. Kalau saya mungkin sudah frustrasi. Saya sendiri merasa sedih karena tidak tahu harus bantu apa selain memberikan dukungan dan semangat. Tempat saya berdiri pun sebenarnya tidak terlalu aman. Fortunately, ada batang pohon tempat saya bisa melingkarkan tangan saya di sana. Akhirnya Octa memutuskan untuk melepaskan carrier bag nya dan dia berhasil naik tanpa merosot. Rega dan Octa bertukar peran. Octa mencari jalan di depan. Kami, sisanya, menunggu!

Penantian kami diisi dengan sedikit gurauan. Kiki, The Chief, yang paling banyak melontarkan kata-kata lucu. Sangat membantu mengurangi ketegangan saat itu. Tiba-tiba.. Duk… duk…

Batu-batu mulai meluncur dari atas. Rega berteriak, “AWAS BATU!!”

Ini titik awal perasaan saya, akan keoptimisan berada di puncak, mulai luntur. Harap-harap cemas apakah masih memungkinkan untuk berdiri di atas puncak. Ini yang saya sebut dengan “Kesedihan.” Sedih karena kehilangan harapan.

Batu-batu terus meluncur ke bawah seperti sedang berlomba-lomba siapa yang akan sampai di bawah terlebih dahulu. Mereka masuk jurang dan entah kemana perginya. Meninggalkan kami di sini. Semakin Tegang. Dan terus menanti.

Saya berdoa. Seorang diri. Dalam hati saja. Semoga tidak ada yang terluka. Semoga ada jalan keluar. Siapa lagi yang bisa saya harapkan saat ini kalau bukan Sang Empunya Gunung ini?

Duk.. duk.. duk… Gerombolan batu itu datang lagi menyerang. TAK!! Senter saya dihantamnya. TAK!! Lutut saya pun diserangnya. OUUUCH!! Sakit. Dan hampir saja batu-batu itu mengenai kepala Ferry. Untung saja ada kayu yang menghalangi.

Kiki mulai terlihat panik. Dia tidak mau mengambil resiko ada nyawa yang hilang di tempat ini. Kiki mulai menegaskan kalau kembali turun adalah pilihan terbaik yang seharusnya kami ambil, walaupun Octa berkata kira-kira lima meter lagi dia akan mencapai puncak. Perkataan Octa cukup menggiurkan memang. Saya maunya sampai ke puncak. Dan puncak itu tidak jauh lagi. Tapi apa saya yakin mau mempertaruhkan nyawa teman saya atau mungkin nyawa saya sendiri? Saya berperang dengan diri sendir sampai akhirnya diputuskan untuk turun. Yaah.. mau apa lagi? Saya harus ikut turun dengan terpaksa.

Perjalanan turun pun bukan hal yang mudah. Kondisi sudah gelap. Jalanan licin. Dan saya TIDAK SUKA MAIN PEROSOTAN!!

Kami harus turun dengan cara merosot. OH NOO!! Jurang entah di kiri atau kanan. Ketakutan saya memuncak. Saya takut merosot dan salah jalan. Entah logis atau tidak pikiran saya saat itu. Yang pasti saya harus akui bahwa pikiran saya sudah tidak sehat lagi. Perasaan saya berkecamuk. Hasrat untuk berdiri di puncak masih besar. Dan saya bukannya berjalan ke atas menuju puncak itu tapi justru terus merosot ke bawah. OUT OF OUR PLAN! Menjauh dari bayangan pertama akan gunung ini. NO SUNRISE ANYMORE! Saya kecewa dalam hati sambil terus mengikuti instruksi untuk tetap merosot. Saya juga menyesal karena tidak pamit ke orang tua sebelum naik gunung ini. Maaf teman-teman, saya cuma pamit ke kakak saya. Menurut saya itu sama saja. Tapi saya menyesal sekali. Saya membayangkan kejadian terburuk yang bisa saya alami di gunung ini. Di kegelapan malam di dalam hutan ini, hati saya pun meredup semakin kelam. Saya ingin di tempat ini saja sampai matahari datang. Kegelapan saat itu sungguh membuat saya takut. Saya ingin mengatakan hal ini kepada teman-teman yang lain. Saya ingin jujur tentang perasaan saya saat ini. Tapi di lain pihak, saya tidak mau menjadi orang yang merepotkan. Saya tetap ikuti semua instruksi sementara hati saya masih kacau balau. Entah bagaimana mencurahkan kegalauan hati saya ini. Saya mau menangis. Tapi tidak bisa. Saya tidak mau diberi cap “si cengeng.” Saya mulai bertengkar dengan air mata saya, “Tolong ditahan dulu. Jangan sekarang!”

David berteriak dari bawah, “Ayo Dwi! Merosot lagi! Perosotannya panjang lho!” Kemudian saya berkata, “Emang harus merosot ya?” Dan teman-teman menyemangati, “Iya Dwi! Ayo!” Lalu saya merosot. Sampai di bawah, saya sudah di tahan oleh David. Ada Ruth disana. Dan saya berkata, “Gw boleh nangis ga?” Dan bendungan yang saya tahan-tahan itu pun pecah. Ya.. Saya akhirnya membuang air mata itu. Hati ini lega. Serangkaian pemikiran dan kegalauan hati saya itu selesai hanya lewat air mata.

Ruth memeluk saya. David membesarkan hati saya. Saya merasa dibangun kembali semangatnya. Kiki memimpin dan kami berdoa bersama. Ok! Saya siap melanjutkan perjalanan ini. Saya pun sudah mendapatkan kerelaan hati karena sudah tidak mungkin bisa sampai puncak.

Kami terus berjalan turun hingga berada di daerah yang lapang dan datar. Dan tiba-tiba, Rega mengalami keseleo. Lengkap sudah pelajaran untuk kami semua.

Beberapa mulai membangun tenda. Saya membersihkan diri kemudian membantu Ruth dan Rega memasak. Saat itu sudah hampir pukul sebelas malam. Kami bersyukur bisa makan sarden, nasi, indomie telur, tempe goreng, dan timun malam itu. Saya bersyukur bisa melihat wajah teman-teman saya. Mereka semua bernyawa. Kami cerita-cerita hingga larut malam tentang harapan kami sepuluh tahun ke depan.

Malam itu ditutup dengan harapan-harapan baru. Harapan besar tentang diri kami sendiri sepuluh tahun ke depan. Tapi saya pribadi mulai mempersiapkan diri akan kondisi apa pun yang mungkin akan saya temui dalam perjalanan mencapai harapan saya itu. Entah akan tercapai atau tidak. Sama persis dengan pengalaman kami dalam pendakian Manglayang ini.

Kami bermalam dan tidur di tenda malam itu. Kami bangun setelah matahari bersinar terang. di tendaEntah kenapa, saya sangat bersyukur pagi itu dengan apa pun kondisi saya dan teman-teman dan apa pun yang sudah kami capai. Kami menghabiskan sisa-sisa waktu yang ada dengan saling membagikan pelajaran yang kami peroleh dari pendakian kali ini. Tentang kesombongan. Keangkuhan. Sok jago. Kerendahan hati. Kepercayaan. Kerelaan. Kesetiaan. Saling mendukung. Saling menjaga. Dan harapan.

Saya belajar untuk meletakkan mereka semua di hati saya. Di dalam kotak berlabel, “SAHABAT.” Saya tidak akan pernah tahu apa yang akan saya temui nanti. Mereka bisa saja akan mengecewakan saya di kemudian hari. Mereka bisa saya membuat saya sedih. Akan ada banyak kejadian di antara mereka dan saya. Tapi saya mau belajar BERANI untuk PERCAYA.

sahabatSaya mau mengutip sebaris lirik dari lagu berjudul Surrender yang dipopulerkan oleh Float. Suatu grup musik dalam negeri sendiri.

“Chi trova un amico, trova un tesoro.”

Diambil dari pepatah Italia yang artinya, “One who finds a friend, finds a treasure.”